The Doom Enigma -part 1-
“Kat akan baik-baik saja. Kamu harus percaya itu, Chia,” tukasku seraya menggenggam kedua tangan halus Chia, berusaha menguatkan salah satu teman yang kukenal sejak awal masuk asrama itu. Air mata Chia masih menetes. Kesedihan masih terpeta jelas di wajahnya.
Entah untuk keberapa kali aku menarik sebuah tissue wajah dari tempatnya lalu menggunakannya untuk menghapus air mata yang berjejak di pipi Chia. Gadis itu terus saja menangis sejak beberapa jam lalu. Ya, Chia, sahabat terbaikku selain Kat, memang sangat terguncang dengan kecelakaan tragis yang menimpa Kat tadi pagi. Kat yang telah memutuskan untuk keluar dari asrama tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi saat hendak menyebrang di jalan raya depan asrama kami. Beruntung Tuhan masih melindunginya. Kat masih bisa bertahan meskipun hingga malam ini ia masih belum sadarkan diri. Kat mengalami koma.
Satu jam yang lalu aku dan Chia baru saja kembali dari rumah sakit tempat Kat dilarikan setelah mengalami musibah pagi ini. Sulit sekali mengajak Chia kembali ke asrama saat berada di rumah sakit tadi. Chia berkeras ingin menunggu hingga Kat kembali mendapatkan kesadarannya. Akan tetapi, kekhawatiranku yang besar akan keselamatan kami membuatku harus memaksa Chia untuk kembali. Aku takut kalau-kalau aku dan Chia akan menjadi korban berikutnya jika kami terus berlama-lama berada di luar asrama.
Ya, korban berikutnya. Para siswa menyebutnya dengan istilah itu. Tidak seorang pun tahu penyebabnya tapi hampir seluruh siswa yang memutuskan untuk keluar justru menemui akhir hidup mereka setelahnya. Yang terakhir sebelum tragedi yang dialami Kat adalah kemarin, saat bus yang membawa rombongan siswa yang ingin keluar sekolah mengalami kecelakaan dan akhirnya menewaskan seluruh penumpang bus tersebut.
Hal itu yang membuatku masih bertahan di sekolah dan asrama ini. Sebenarnya posisiku dan semua siswa yang masih memilih bertahan bagai memakan buah simalakama. Kami yang bertahan tentu saja terus dihantui rasa takut. Bangunan asrama dan sekolah yang kabarnya dulu merupakan sebuah rumah sakit kini menjadi semakin tampak angker saja. Sejak ditemukan mayat Angel, siswi kelas sebelas –sama sepertiku–, yang meninggal di dalam sebuah mobil yang tertimpa pohon tumbang di area parkir sekolah, tidak seorang siswa pun yang berani lagi untuk melewati area tersebut. Berada di asrama ini membuat kami terus merinding ketakutan tetapi kami tidak memiliki keberanian yang cukup untuk keluar dari sekolah ini. Kami tidak mau menjadi korban berikutnya.
Mengerikan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan kami saat ini.
“Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Kat? Bagaimana kalau Kat sampai…?” Tiba-tiba Chia berteriak histeris. Tangisnya semakin pecah.
Aku langsung memeluk tubuh Chia yang bergetar. Aku mulai turut larut dalam tangisannya. “Aku juga mengkhawatirkan Kat. Aku juga sedih, Chia. Tapi kita tidak boleh lemah di saat Kat justru butuh kekuatan dari kita. Kita doakan semoga Tuhan selalu melindunginya,” tukasku.
Chia melepaskan pelukanku. Di sela isakannya, dengan terbata ia berkata, “ta… tapi aku… takut, Fy! Aku… takut!”
“Chia, masih ada aku di sini. Selama kita bersama-sama, kamu tidak perlu merasa takut,” balasku sambil menghapus air mata Chia lagi. Aku lalu menyunggingkan senyum. Aku ingin Chia percaya bahwa kami akan baik-baik saja di sini. Aku yakin bahwa selama kami bersama, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
Lima belas menit kemudian emosi Chia mulai terkendali. Aku menyuruhnya untuk tidur di kamarku saja malam ini, menempati tempat tidur Kat. Chia tampaknya sudah sangat kelelahan hari ini. Tidak lama setelah aku memakaikannya selimut, ia tertidur, membawa semua kesedihannya terlelap. Aku pun langsung naik ke tempat tidurku. Aku berharap saat terjaga besok pagi, aku dan Chia memiliki kekuatan yang lebih untuk menghadapi hari-hari kami berikutnya di asrama ini.
*****
Malam ketiga setelah kecelakaan yang menimpa sahabatku, Kat. Dari tempat tidurku, aku bisa melihat Chia sudah tertidur. Aku tersenyum lega melihat temanku itu bisa tertidur pulas malam ini. Dalam tidurnya kemarin, Chia terus saja meracau macam-macam. Aku yakin ia mengalami mimpi buruk walaupun ia sama sekali tak menceritakan itu padaku.
Chia masih sangat terpukul. Sepanjang hari, gadis yang biasanya paling banyak tertawa diantara aku dan Kat, selalu saja melamun. Aku tahu bahwa ini adalah salah satu saat tersulit baginya. Ia telah kehilangan Dea, teman sekamarnya yang ikut meninggal dalam kecelakaan bus yang membawa rombongan siswa waktu itu. Sekarang ia nyaris saja kehilangan sahabat terbaik kami, Kat.
Aku terus berusaha meyakinkan Chia untuk tetap bertahan di sekolah ini. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Sama sekali tidak ingin.
Malam ini, lagi-lagi, aku kembali sulit untuk berangkat tidur. Jujur saja, sebenarnya aku agak takut untuk memejamkan mataku. Aku takut mimpi itu kembali. Aku takut seseorang berkursi roda dengan kaca tertancap di punggungnya itu kembali datang dalam tidurku. Gadis itu sudah tiga kali menyambangi mimpiku dan aku tak mau malam ini akan genap menjadi yang keempat kalinya.
Pertanyaan besar menggantung di benakku sejak pertama aku memimpikan hal aneh itu. Siapa gadis itu? Itu hanya sekadar mimpi atau…? Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu asrama ini yang merupakan rumah sakit?
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Memikirkan semua itu sepertinya benar-benar menghilangkan selera tidurku. Bahkan sekarang aku mulai terusik oleh rasa penasaranku. Gudang asrama, yang masih saja dibicarakan oleh banyak siswa. Aku sempat mendengar bahwa kematian Angel ada hubungannya dengan gudang asrama yang berada di ujung lorong asrama di lantai satu. Kabarnya, sehari sebelum kematiannya, entah dengan tujuan apa gadis malang itu telah masuk ke dalam gudang yang selama ini terkenal angker di kalangan siswa. Memang, selama dua tahun tinggal di asrama ini aku belum pernah mendengar seorang pun masuk ke gudang angker itu. Jangankan masuk, aku malah belum pernah melintasi lorong depan gudang itu sama sekali. Ya, aku memang gadis yang penakut.
Namun, di dalam mimpiku, aku bermaksud menuju gudang itu sebelum akhirnya aku berada di ruangan yang memertemukanku dengan si gadis berkursi roda.
Atau aku harus benar-benar mendatangi gudang itu untuk menjawab rasa ingin tahuku? Tetapi… apakah aku berani? Apakah aku bisa seberani Angel?
Aku menutup rapat risleting jaket berwarna abu-abu milikku hingga setinggi dada. Aku lalu meraih handphone-ku dan kudapati waktu sudah menunjukkan pukul 00.15. Aku masih di atas tempat tidurku dan selimut tebal masih menutupi kaki-kakiku yang kedinginan. Kutarik nafas panjang dan entah dari mana tetapi kemudian keberanian muncul dalam diriku dan membuatku menurunkan kedua kakiku menapaki lantai kamar yang ternyata sangat dingin. Aku beranjak membuka laci meja yang ada di sebelah kiri tempat tidurku dengan perlahan sampai hampir tak menimbulkan suara sama sekali. Dengan meraba-raba, kudapati sebuah benda yang aku cari.
Menit berikutnya, dengan berjalan mengendap-ngendap keluar kamar, aku sudah berada di lorong asrama. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, aku lalu menuruni tangga menuju lantai satu. Anak-anak tangga yang biasanya kulalui hanya dalam hitungan detik dengan berlari karena terburu-buru, sekarang menjadi terasa sangat panjang. Aku terus mengarahkan cahaya dari senter yang kuambil di laci tadi ke depan untuk menuntun langkahku menuju gudang. Lorong yang kulalui terasa semakin menyeramkan saja dengan penerangannya yang redup. Tambahan lagi ini sudah tengah malam. Tak kutemukan seorang pun melintasi lorong asrama selain bayanganku sendiri.
Entah hanya perasaanku saja atau memang nyatanya suasana asrama malam ini sangat mencekam. Menurutku, sebenarnya tidak hanya saat hari gelap saja suasana asrama ini menjadi tampak mengerikan. Lebih tepatnya sejak kematian Angel, siang dan malam berada di asrama ini sering membuatku bergidik ngeri. Padahal sih, tidak beralasan juga. Toh Angel meninggal bukan di dalam asrama, melainkan di area parkir sekolah yang letaknya tepat di sebelah kiri asrama.
Aku meneguk ludahku. Ya ampun… aku jadi teringat dengan gadis malang itu! Teringat dengan Angel yang terakhir kali kulihat. Gambaran mayat Angel yang ditemukan di dalam mobil minggu lalu sempat membuatku tidak bisa menikmati makananku selama beberapa hari. Mengenaskan. Kepala gadis itu pecah akibat tekanan dari batang pohon besar yang menimpanya. Wajah cantik Angel yang sudah beberapa kali muncul sebagai cover salah satu majalah remaja terkenal tampak berlumuran darah karena beberapa serpihan kaca mobil tepat mengenai wajahnya. Serpihan kaca yang menancap itu membuat wajahnya rusak hingga Angel agak sulit dikenali saat awal mayatnya ditemukan.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, berusaha menepis bayangan mayat Angel yang tiba-tiba saja kembali menyusupi pikiranku. Yang benar saja! Di tengah malam seperti ini dan dalam perjalanan menuju gudang angker, bisa-bisanya aku membayangkan hal yang justru semakin membuatku merinding.
Yap! Sekarang aku tepat berada di depan pintu gudang asrama yang semakin ramai diperbincangkan oleh penghuni Cleotirta. Aku kemudian meraih gagang pintu itu dengan tanganku yang mulai gemetar. Gagang pintu itu terasa sangat dingin. Eh? Aku baru menyadari sesuatu. Gudang ini pasti terkunci. Bagaimana caranya aku bisa masuk?
Aku tersentak oleh gerakan tanganku sendiri pada gagang pintu yang sedari tadi masih kusentuh. Ternyata perkiraanku salah. Gudang ini tidak terkunci!
Aku menghembuskan nafas panjang. Entahlah aku harus senang atau justru takut mendapati pintu ruangan yang katanya angker ini tidak terkunci. Aku lalu berusaha menenangkan diriku. Beberapa detik lagi aku akan membuka pintu yang sekarang masih tertutup rapat ini dan segera tahu apa yang ada di dalamnya. Dengan amat perlahan, aku menggerakkan tangan kananku, membuat pintu itu mengayun terbuka tanpa suara berdecit sama sekali.
Aku kemudian mengarahkan cahaya senterku ke dalam ruangan gelap yang menyambutku setelah pintu tadi terbuka.
“Aaaaaaaaaa!!!!!!!!”
Senter di tanganku jatuh, aku terlonjak kaget.
“Si… si… siapa kamu?” tanyaku tergagap pada sosok berbaju putih yang baru saja kulihat dengan bantuan senter yang kujatuhkan tadi.
Aku memang tidak dapat melihat sosok itu lagi karena tak sempat mengambil senterku yang terjatuh tetapi aku tahu ia sedang berjalan menghampiriku. Aku bisa merasakan gerakannya dan suara langkah kakinya yang mendekat.
“Jangan mendekat!!”
To be continue..
By: Ririn Riantini (kelompok 3)
Entah untuk keberapa kali aku menarik sebuah tissue wajah dari tempatnya lalu menggunakannya untuk menghapus air mata yang berjejak di pipi Chia. Gadis itu terus saja menangis sejak beberapa jam lalu. Ya, Chia, sahabat terbaikku selain Kat, memang sangat terguncang dengan kecelakaan tragis yang menimpa Kat tadi pagi. Kat yang telah memutuskan untuk keluar dari asrama tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi saat hendak menyebrang di jalan raya depan asrama kami. Beruntung Tuhan masih melindunginya. Kat masih bisa bertahan meskipun hingga malam ini ia masih belum sadarkan diri. Kat mengalami koma.
Satu jam yang lalu aku dan Chia baru saja kembali dari rumah sakit tempat Kat dilarikan setelah mengalami musibah pagi ini. Sulit sekali mengajak Chia kembali ke asrama saat berada di rumah sakit tadi. Chia berkeras ingin menunggu hingga Kat kembali mendapatkan kesadarannya. Akan tetapi, kekhawatiranku yang besar akan keselamatan kami membuatku harus memaksa Chia untuk kembali. Aku takut kalau-kalau aku dan Chia akan menjadi korban berikutnya jika kami terus berlama-lama berada di luar asrama.
Ya, korban berikutnya. Para siswa menyebutnya dengan istilah itu. Tidak seorang pun tahu penyebabnya tapi hampir seluruh siswa yang memutuskan untuk keluar justru menemui akhir hidup mereka setelahnya. Yang terakhir sebelum tragedi yang dialami Kat adalah kemarin, saat bus yang membawa rombongan siswa yang ingin keluar sekolah mengalami kecelakaan dan akhirnya menewaskan seluruh penumpang bus tersebut.
Hal itu yang membuatku masih bertahan di sekolah dan asrama ini. Sebenarnya posisiku dan semua siswa yang masih memilih bertahan bagai memakan buah simalakama. Kami yang bertahan tentu saja terus dihantui rasa takut. Bangunan asrama dan sekolah yang kabarnya dulu merupakan sebuah rumah sakit kini menjadi semakin tampak angker saja. Sejak ditemukan mayat Angel, siswi kelas sebelas –sama sepertiku–, yang meninggal di dalam sebuah mobil yang tertimpa pohon tumbang di area parkir sekolah, tidak seorang siswa pun yang berani lagi untuk melewati area tersebut. Berada di asrama ini membuat kami terus merinding ketakutan tetapi kami tidak memiliki keberanian yang cukup untuk keluar dari sekolah ini. Kami tidak mau menjadi korban berikutnya.
Mengerikan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan kami saat ini.
“Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Kat? Bagaimana kalau Kat sampai…?” Tiba-tiba Chia berteriak histeris. Tangisnya semakin pecah.
Aku langsung memeluk tubuh Chia yang bergetar. Aku mulai turut larut dalam tangisannya. “Aku juga mengkhawatirkan Kat. Aku juga sedih, Chia. Tapi kita tidak boleh lemah di saat Kat justru butuh kekuatan dari kita. Kita doakan semoga Tuhan selalu melindunginya,” tukasku.
Chia melepaskan pelukanku. Di sela isakannya, dengan terbata ia berkata, “ta… tapi aku… takut, Fy! Aku… takut!”
“Chia, masih ada aku di sini. Selama kita bersama-sama, kamu tidak perlu merasa takut,” balasku sambil menghapus air mata Chia lagi. Aku lalu menyunggingkan senyum. Aku ingin Chia percaya bahwa kami akan baik-baik saja di sini. Aku yakin bahwa selama kami bersama, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
Lima belas menit kemudian emosi Chia mulai terkendali. Aku menyuruhnya untuk tidur di kamarku saja malam ini, menempati tempat tidur Kat. Chia tampaknya sudah sangat kelelahan hari ini. Tidak lama setelah aku memakaikannya selimut, ia tertidur, membawa semua kesedihannya terlelap. Aku pun langsung naik ke tempat tidurku. Aku berharap saat terjaga besok pagi, aku dan Chia memiliki kekuatan yang lebih untuk menghadapi hari-hari kami berikutnya di asrama ini.
*****
Malam ketiga setelah kecelakaan yang menimpa sahabatku, Kat. Dari tempat tidurku, aku bisa melihat Chia sudah tertidur. Aku tersenyum lega melihat temanku itu bisa tertidur pulas malam ini. Dalam tidurnya kemarin, Chia terus saja meracau macam-macam. Aku yakin ia mengalami mimpi buruk walaupun ia sama sekali tak menceritakan itu padaku.
Chia masih sangat terpukul. Sepanjang hari, gadis yang biasanya paling banyak tertawa diantara aku dan Kat, selalu saja melamun. Aku tahu bahwa ini adalah salah satu saat tersulit baginya. Ia telah kehilangan Dea, teman sekamarnya yang ikut meninggal dalam kecelakaan bus yang membawa rombongan siswa waktu itu. Sekarang ia nyaris saja kehilangan sahabat terbaik kami, Kat.
Aku terus berusaha meyakinkan Chia untuk tetap bertahan di sekolah ini. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Sama sekali tidak ingin.
Malam ini, lagi-lagi, aku kembali sulit untuk berangkat tidur. Jujur saja, sebenarnya aku agak takut untuk memejamkan mataku. Aku takut mimpi itu kembali. Aku takut seseorang berkursi roda dengan kaca tertancap di punggungnya itu kembali datang dalam tidurku. Gadis itu sudah tiga kali menyambangi mimpiku dan aku tak mau malam ini akan genap menjadi yang keempat kalinya.
Pertanyaan besar menggantung di benakku sejak pertama aku memimpikan hal aneh itu. Siapa gadis itu? Itu hanya sekadar mimpi atau…? Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu asrama ini yang merupakan rumah sakit?
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Memikirkan semua itu sepertinya benar-benar menghilangkan selera tidurku. Bahkan sekarang aku mulai terusik oleh rasa penasaranku. Gudang asrama, yang masih saja dibicarakan oleh banyak siswa. Aku sempat mendengar bahwa kematian Angel ada hubungannya dengan gudang asrama yang berada di ujung lorong asrama di lantai satu. Kabarnya, sehari sebelum kematiannya, entah dengan tujuan apa gadis malang itu telah masuk ke dalam gudang yang selama ini terkenal angker di kalangan siswa. Memang, selama dua tahun tinggal di asrama ini aku belum pernah mendengar seorang pun masuk ke gudang angker itu. Jangankan masuk, aku malah belum pernah melintasi lorong depan gudang itu sama sekali. Ya, aku memang gadis yang penakut.
Namun, di dalam mimpiku, aku bermaksud menuju gudang itu sebelum akhirnya aku berada di ruangan yang memertemukanku dengan si gadis berkursi roda.
Atau aku harus benar-benar mendatangi gudang itu untuk menjawab rasa ingin tahuku? Tetapi… apakah aku berani? Apakah aku bisa seberani Angel?
Aku menutup rapat risleting jaket berwarna abu-abu milikku hingga setinggi dada. Aku lalu meraih handphone-ku dan kudapati waktu sudah menunjukkan pukul 00.15. Aku masih di atas tempat tidurku dan selimut tebal masih menutupi kaki-kakiku yang kedinginan. Kutarik nafas panjang dan entah dari mana tetapi kemudian keberanian muncul dalam diriku dan membuatku menurunkan kedua kakiku menapaki lantai kamar yang ternyata sangat dingin. Aku beranjak membuka laci meja yang ada di sebelah kiri tempat tidurku dengan perlahan sampai hampir tak menimbulkan suara sama sekali. Dengan meraba-raba, kudapati sebuah benda yang aku cari.
Menit berikutnya, dengan berjalan mengendap-ngendap keluar kamar, aku sudah berada di lorong asrama. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, aku lalu menuruni tangga menuju lantai satu. Anak-anak tangga yang biasanya kulalui hanya dalam hitungan detik dengan berlari karena terburu-buru, sekarang menjadi terasa sangat panjang. Aku terus mengarahkan cahaya dari senter yang kuambil di laci tadi ke depan untuk menuntun langkahku menuju gudang. Lorong yang kulalui terasa semakin menyeramkan saja dengan penerangannya yang redup. Tambahan lagi ini sudah tengah malam. Tak kutemukan seorang pun melintasi lorong asrama selain bayanganku sendiri.
Entah hanya perasaanku saja atau memang nyatanya suasana asrama malam ini sangat mencekam. Menurutku, sebenarnya tidak hanya saat hari gelap saja suasana asrama ini menjadi tampak mengerikan. Lebih tepatnya sejak kematian Angel, siang dan malam berada di asrama ini sering membuatku bergidik ngeri. Padahal sih, tidak beralasan juga. Toh Angel meninggal bukan di dalam asrama, melainkan di area parkir sekolah yang letaknya tepat di sebelah kiri asrama.
Aku meneguk ludahku. Ya ampun… aku jadi teringat dengan gadis malang itu! Teringat dengan Angel yang terakhir kali kulihat. Gambaran mayat Angel yang ditemukan di dalam mobil minggu lalu sempat membuatku tidak bisa menikmati makananku selama beberapa hari. Mengenaskan. Kepala gadis itu pecah akibat tekanan dari batang pohon besar yang menimpanya. Wajah cantik Angel yang sudah beberapa kali muncul sebagai cover salah satu majalah remaja terkenal tampak berlumuran darah karena beberapa serpihan kaca mobil tepat mengenai wajahnya. Serpihan kaca yang menancap itu membuat wajahnya rusak hingga Angel agak sulit dikenali saat awal mayatnya ditemukan.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, berusaha menepis bayangan mayat Angel yang tiba-tiba saja kembali menyusupi pikiranku. Yang benar saja! Di tengah malam seperti ini dan dalam perjalanan menuju gudang angker, bisa-bisanya aku membayangkan hal yang justru semakin membuatku merinding.
Yap! Sekarang aku tepat berada di depan pintu gudang asrama yang semakin ramai diperbincangkan oleh penghuni Cleotirta. Aku kemudian meraih gagang pintu itu dengan tanganku yang mulai gemetar. Gagang pintu itu terasa sangat dingin. Eh? Aku baru menyadari sesuatu. Gudang ini pasti terkunci. Bagaimana caranya aku bisa masuk?
Aku tersentak oleh gerakan tanganku sendiri pada gagang pintu yang sedari tadi masih kusentuh. Ternyata perkiraanku salah. Gudang ini tidak terkunci!
Aku menghembuskan nafas panjang. Entahlah aku harus senang atau justru takut mendapati pintu ruangan yang katanya angker ini tidak terkunci. Aku lalu berusaha menenangkan diriku. Beberapa detik lagi aku akan membuka pintu yang sekarang masih tertutup rapat ini dan segera tahu apa yang ada di dalamnya. Dengan amat perlahan, aku menggerakkan tangan kananku, membuat pintu itu mengayun terbuka tanpa suara berdecit sama sekali.
Aku kemudian mengarahkan cahaya senterku ke dalam ruangan gelap yang menyambutku setelah pintu tadi terbuka.
“Aaaaaaaaaa!!!!!!!!”
Senter di tanganku jatuh, aku terlonjak kaget.
“Si… si… siapa kamu?” tanyaku tergagap pada sosok berbaju putih yang baru saja kulihat dengan bantuan senter yang kujatuhkan tadi.
Aku memang tidak dapat melihat sosok itu lagi karena tak sempat mengambil senterku yang terjatuh tetapi aku tahu ia sedang berjalan menghampiriku. Aku bisa merasakan gerakannya dan suara langkah kakinya yang mendekat.
“Jangan mendekat!!”
To be continue..
By: Ririn Riantini (kelompok 3)
Komentar
Posting Komentar