The Doom Enigma -part 2-
*****
Aku terbangun dari tidurku. Tak diragukan lagi, keringat yang membanjiri seluruh tubuhku adalah efek dari mimpi itu. Ya, kali ini mimpi itu datang genap menjadi keempat kalinya. Kuhembuskan nafas dengan perlahan. Detak jantung yang tidak normal –sudah pasti– pengaruh mimpi tadi, masih terasa. Itu semua membuatku tak bisa lagi melanjutkan tidurku.
Otakku mereview mimpi tadi. Gadis berkursi roda itu masih saja menjadi sumber penasaranku. Tapi kali ini terasa berbeda. Sosok lain juga tiba-tiba muncul dalam pemikiranku, membuatku tak kalah terkejutnya. Angel. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa sekarang saat aku memikirkan gadis berkursi roda itu, aku mengingat Angel? Ada hubungan apa Angel dengan gadis kursi roda itu? Rentetan pertanyaan menyerbuku.
*****
Aku terburu-buru mengenakan kacamataku dan mengecek sekilas pantulan diriku dalam cermin. Selanjutnya aku menyambar tas yang memang sejak tadi malam aku persiapkan di atas meja belajarku dan bergegas menghampiri Chia yang mungkin sudah hampir gila menungguku.
Akibat terjaga tadi malam, aku harus mengecap insomnia singkat dulu. Seperti biasa, sehabis mimpi itu datang, otakku sibuk memikirkannya. Hasilnya? Aku telat bangun dan Chia juga jadi korban terlambat sekolah karena menungguku.
“Kamu sih, Fy! Pakai bangun kesiangan segala, kita jadi telat kan, masuknya.” Chia tak henti-hentinya menggerutu sejak kami meninggalkan kamar tadi.
“Maaf... Chia... ” Hanya dua kata itu yang bisa dilontarkan mulutku.
“Asrama sudah sepi nih, anak-anak sudah pada berangkat semua. Cuma tinggal kita, Fy.” Aku bisa merasakan ketakutan pada ucapan Chia barusan. Sejujurnya aku juga agak merinding sekarang, terlebih saat kami melalui lorong sepi ini.
Kami berjalan tergesa-gesa. Kurasakan keringat dingin pada telapak tangan Chia yang menggenggam tanganku erat. Mungkin ia masih trauma pada kejadian di sini. Apalagi Kat juga menjadi salah satu korbannya. Tepat di ujung lorong, kami berhenti mendadak. Kurasakan genggaman tangan Chia bergetar. Wajahnya tampak sedikit pias. Di sana seorang gadis yang juga memakai seragam seperti kami, berdiri bersandar di dinding sambil menerawang. Dia….
*****
“ Jangan mendekat!“
Percuma. Seberapa pun kerasnya aku untuk menghalanginya, ia tetap mendekatiku. Derap langkahnya semakin jelas bergaung dalam gudang ini.
Tap tap tap.
Langkahnya berhenti dua meter di depanku. Detak jantungku berpacu hebat. Waktu terasa membeku. Aku tak dapat berbicara sedikit pun. Sekadar untuk mengusirnya atau berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan. Lidahku kelu serasa dikenai kutukan ikat lidah. Tubuhku juga kaku. Sejengkal pun aku tak bisa bergerak. Mungkinkah disini akhir hidupku? Akankah aku korban selanjutnya yang ditemukan mati mengenaskan di gudang?
“ Ify?”
DEG! Sosok itu menyebut namaku? Tidak mungkin masih ada orang yang berkeliaran di asrama pada malam selarut ini. Apalagi siswa yang mengenaliku. Mungkinkah itu... Angel?! Karena dia masih penasaran sama gudang ini? Oh, berhentilah berpikiran seperti itu, Fy!
“ Ify?“ ulang sosok itu lagi. Sekujur tubuhku merinding hebat. Jantungku berdetak lebih cepat dari yang sebelumnya.
Tak kusangka, dia malah memungut senterku yang terjatuh tadi. Lalu ia menyorotkan cahayanya padaku, membuatku menyipitkan mata karena silau.
“ Ify, ini aku Sivia,“ ujarnya seraya menyodorkan senter itu padaku.
“ Eh?“
“Iya. Ini aku, Sivia Azizah. Masih anak asrama ini kok.“ Dia mendekatiku, membantuku berdiri dan kembali menyerahkan senter itu.
Huft, lega. Ia bukan hantu atau semacamnya. Aku mengambil senter yang ia serahkan lalu menyorotnya hati-hati. Sivia tersenyum saat cahaya senterku melewati wajahnya.
“Ka… kamu… beneran Sivia?“ tanyaku memastikan.
Ia tertawa pelan, “iya, Ify....” Aku tersenyum malu-malu.
“Apa yang kamu lakukan tengah malam di sini, Fy? Karena penasaran sama peristiwa di Cleotirta? Kalau iya, aku disini juga karena alasan yang sama sepertimu.“
*****
“Fy… dia….“ Chia menunjuk gadis itu takut-takut.
Aku tersenyum lalu menarik tangan Chia untuk mendekatinya.
“Ayo!“ Dia sedikit terkejut dengan kedatangan kami.
“Ify?“
“Hai, Vi!“ balasku. “Kok kamu masih di sini? Udah telat lho!“
“Oh... masih ada sesuatu yang harus kulakukan.“ Sivia tersenyum sekilas.
Aku dan Chia berpandangan. Tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu. Saat bertemu dengannya tempo hari lalu dia juga mengatakan kata-kata yang tak kupahami apa maksudnya.
“Kalian... kenapa terlambat?“ tanyanya.
“Oh, iya!“ Aku menepuk jidat. “Aku kesiangan. Duluan ya, Vi!” ujarku lalu menarik tangan Chia terburu-buru ke luar asrama.
“ Fy, dia Sivia si Indigo itu, kan? Kok kamu kenal dengannya? “ tanya Chia saat kami sedang memasuki gedung sekolah.
“Aduuh... ceritanya nanti deh, kita sudah telat nih!“ Aku dan Chia masih berjalan seperti orang kesetanan.
“Yeh, kita telat juga gara-gara kamu kan?“ cibir Chia
*****
“ ... Anak-anak, saya harap kalian tetap tenang. Tetaplah bertahan di sini. Saya yakin kalian akan selamat. Kalian juga jangan bertindak sembarangan. Usahakan jangan ada yang berkeliaran di sekitar asrama atau pun di lingkungan sekolah selain jam sekolah. Apalagi sampai mendekati tempat-tempat yang tidak diperbolehkan. Ya, itu peringatan dari saya. Setelah ini kalian silakan kembali ke kelas masing-masing dan belajar dengan tenang seperti biasanya.“ Kepala sekolah menutup pidato panjangnya. Kulihat siswa di sekelilingku agak ngeri mendengar pidato tadi, tak terkecuali aku dan Chia. Entah kenapa, larangan kepala sekolah tadi justru menambah rasa penasaranku untuk mencari tahu tentang semua keanehan di Cleotirta.
Semua murid berhamburan menuju kelas masing-masing. Mataku menangkap Sivia yang tengah menatapku juga. Oh, dia masih sempat apel pagi ya? Eh, Sivia menghampiri kami?
“Fy, pikiran kita sama lagi?“ tanyanya langsung setibanya di tempatku dan Chia.
“Hah?“ responku.
“Aku tahu bukan aku saja yang penasaran dengan kejadian di sini. Hmm… kalau kamu mau, kita bisa memulainya nanti malam. Aku tunggu di dekat tangga lantai satu asrama. Bye!“ ujar Sivia seraya berlalu.
Aku terperangah. Kulirik Chia yang tak kalah bingungnya. Aku tahu apa maksud Sivia sekarang. Setidaknya aku tidak sendirian untuk mengobati penasaranku. Sivia ternyata juga punya keinginan yang sama sepertiku, menyelidiki kejadian di Cleotirta.
“Kita ke kelas yuk!“ kataku pada Chia yang masih dalam keadaan yang sama. Aku tersenyum puas mengingat misi yang akan kujalani nanti malam, mengabaikan Chia dengan tanda tanya di otaknya.
*****
Malamnya, pukul 22.00, aku dan Chia turun ke lantai satu. Chia yang sudah kuberitahu –kecuali tentang mimpi itu–, sebenarnya enggan ikut bersamaku. Tapi karena sedikit paksaan dariku, dia akhirnya ikut juga. Daripada dia sendirian di kamar? Sudah pasti dia akan terus mengingat Kat. Aku sebenarnya agak takut juga sih. Tapi rasa penasaran terlalu menguasai diriku. Lagipula aku tidak sendiri melakukan penyelidikan ini.
Asrama sudah sepi. Wajar saja. Sejak peristiwa itu, semua orang sudah sedari matahari terbenam mengurung diri di kamarnya. Terlalu takut untuk berkeliaran. Apalagi di malam hari seperti ini. Aku dan Chia sudah hampir sampai. Kami menuruni tangga di tempat Sivia menunggu. Benar saja, dia sudah berdiri dengan senter di tangannya.
“Sudah lama, Vi?“ tanyaku basa-basi.
“Belum kok. Eh, Chia juga ikut?“ ujarnya saat Sivia melihatku datang tidak sendiri. Chia tampak sedikit terkejut karena Sivia mengetahui namanya. Aku memberi penjelasan melalui tatapanku pada Chia. Tentu saja Sivia tahu. Pikiran lawan bicaranya saja dia bias mengerti. Chia tersenyum canggung pada Sivia.
“Oke, lebih baik kita sekarang segera ke sana,“ kata Sivia setelah beberapa detik hening.
“Gudang?“ tanyaku memastikan.
Sivia mengangguk. Lalu dia mendahului kami berjalan menyusuri lorong ini. Aku dan Chia bergegas mengikutinya. Kami berjalan pelan-pelan. Atas saran Sivia, kami mematikan senter. Karena mungkin saja masih ada yang berkeliaran di asrama, malapetaka jika kami ketahuan. Dengan penerangan seadanya –lampu remang-remang yang dipasang-dilorong ini– dibantu cahaya bulan, kami melanjutkan perjalanan.
Kami hampir sampai di dekat gudang. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki dari arah gudang sana. Apakah ini hanya halusinasiku saja? Tidak. Langkah itu semakin jelas. Aku yakin Chia dan Sivia juga mendengarnya.
“Eh, kalian dengar tidak?“ Chia menghentikan langkahnya. Benar, kan? Suara itu memang ada.
Aku mengangguk. Sivia menajamkan pendengarannya. Sesaat kemudian dia menarik kami ke sudut yang tidak terjangkau cahaya.
“Ada seseorang. Aku tidak tahu dia bertujuan baik atau tidak, yang pasti ia semakin mendekat.“ Sivia berkata sepelan mungkin. Aku merinding seketika, kupastikan Chia juga sama merindingnya. Kudengar langkah itu sangat tergesa-gesa. Hampir berlari seperti dikejar sesuatu. Aku menegang saat sosok itu mendekati kami, dan...
BRUKK.. !!
“Aww..!” pekik seseorang.
Kami terkejut. Itu suara perempuan. Sudah pasti dia pemilik langkah terburu-buru tadi. Dia mungkin tersandung sesuatu dan terjatuh. Kami segera menghampirinya. Sivia menyorotkan lampu senter ke arahnya. Dia terkejut dengan kehadiran kami tiba-tiba.
“Si..si..siapa... kalian?” dia tampak ketakutan.
“Shilla?” ujarku cepat. Ya, aku tahu. Dia adalah Shilla, teman sekelasku.
“I.. Ify? Chia? Dan....“ Ia menatap Sivia dengan wajah bingung.
“Sivia,” ujarku mengerti maksud Shilla.
“Kamu sedang apa, Shil?” tanyaku sambil membantu Shilla bangun.
“Jangan bilang kamu menyelidiki gudang itu,” potong Sivia sebelum Shilla sempat menjawab pertanyaanku tadi.
Seketika wajah Shilla menyiratkan ketakutan. Mungkin ada hubungannya dengan yang baru saja terjadi padanya.
“Aku mohon, bisakah aku tidak memberi tahu kalian di sini? Aku merasa tempat ini tidak aman,” jawab Shilla, mukanya masih terlihat sama takutnya.
“Dan aku yang paling pertama setuju. Lebih baik kita ke kamarku dan Ify sekarang,” cetus Chia cepat.
“Baiklah... ini bisa kita lanjutkan besok,” kata Sivia. “Ayo pergi!” ujarnya memimpin kami.
Kami berjalan tergesa-gesa. Perasaan takut masih melanda kami semua. Terlebih Shilla. Aku melihat ketakutan masih terpeta di wajahnya hingga kami sampai di kamarku. Sivia yang paling belakang menutup pintu kamar. Dia juga menyuruh kami agar tidak terlalu berisik.
“Jadi apa yang ingin kamu beritahu, Shill?” tanya Sivia.
Shilla menghela nafas, “benar, tadi aku memang menyelidiki gudang itu. Karena aku penasaran dengan apa yang ada di sana. Ka.. kalian tahu, kan? A.. Angel meninggal setelah menyelidiki gudang itu? Dan... aku.. aku... ingin tahu apa penyebab kematian Angel berhubungan de..ngan gu..gudang itu..” Shilla terbata-bata saat menceritakannya. Ia hampir tak kuasa menahan tangisnya. Aku mengerti. Dia masih belum bisa menerima kepergian sahabatnya itu.
“Tenang Shil….” Chia mengusap-usap punggung Shilla untuk menenangkannya.
“Aku rasa, kalian sebaiknya menceritakan sesuatu. Mungkin ada hubungannya juga dengan Angel,” kata Sivia tiba-tiba. Ia menatapku dan Shilla. Aku tidak terlalu terkejut dengan setiap perkataannya yang selalu mengundang tanda tanya di pikiranku. Tapi untuk kali ini, aku teringat gadis berkursi roda itu. Mungkinkah mimpi itu yang dimaksud Sivia?
Tidak ada gunanya juga aku menyimpannya sendiri. Bukankah lebih baik aku menceritakannya pada mereka? Aku pun memulai bercerita. Tentang gadis kursi roda yang selalu datang melalui mimpiku juga tentang Angel yang membuatku bingung. Kenapa setiap aku ingat gadis berkursi roda itu, otakku memunculkan nama Angel?
Chia sangat terkejut mendengar ceritaku. Apalagi Shilla. Wajahnya tampak pucat pasi. Berbeda dengan Sivia yang tetap tenang.
“Kalian tahu? Angel juga pernah mendapat mimpi yang sama seperti yang Ify ceritakan,” ucap Shilla setelah berusaha menormalkan dirinya.
“Hah?! Yang benar, Shil?” kataku tak percaya.
Shilla mengangguk, “dia menceritakannya padaku dan dia juga menemukan ini sewaktu di gudang.” Shilla menunjukkan benda yang tidak kusadari telah sedari tadi dipegangnya.
“Diary?” tanya Chia.
“Iya. Dan sebelum sempat kami melihat isinya, Angel sudah meninggal. Sampai sekarang aku belum berani membukanya,” tutur Shilla lagi.
“Kalau begitu, ayo sekarang kita lihat!” kata Sivia.
Shilla menyerahkan diary itu pada Sivia. Sebuah buku bewarna coklat pekat yang sudah lusuh. Sivia menerimanya dan meletakkan diary itu di tengah ranjang. Ia lalu membukanya.
Halaman pertama kosong. Pada halaman kedua, hanya tertulis ‘My Diary’ pada tengah-tengah kertasnya. Barulah pada halaman ketiga, tertulis rangkaian kalimat.
13 April 2001
Dear Diary,
Kamu tahu, Di? Nathan kembali bersikap dingin padaku. Dia menatapku dengan tajam, seolah aku adalah musuhnya. Aku masih belum mengerti salahku padanya. Tapi bagaimana aku bisa menanyakan padanya, Di? Setiap aku ingin mendekatinya, dia langsung menjauh dariku. Aku harus berbuat apa, Di? Apa yang harus kulakukan agar Nathan tidak menjauhiku?
Bantu aku, Di….
Aku ternganga setelah membaca diary itu. Aku pikir isinya tentang sesuatu yang mengerikan, atau apalah. Ternyata, curhatan remaja pada umumnya. Diam-diam kulihat Shilla menghembuskan nafas lega.
“Sepertinya diary ini tidak berbahaya,” kata Chia. Kami mengangguk setuju.
“Lalu, kenapa tadi kamu ketakutan waktu di gudang, Shil?” tanyaku mencoba mengalihkan topik. Rupanya aku salah, karena sekilas wajah Shilla kembali memperlihatkan kecemasan.
“Oh… kalau kamu tidak mau cerita, tidak apa kok, Shil!” seketika aku merasa bersalah padanya.
Shilla menggeleng. “Tenang, Fy! Aku sudah tidak apa-apa kok,” balasnya sambil tersenyum.
“Waktu aku di gudang tadi, aku merasa ada sesuatu yang mengikutiku, membuatku takut untuk masuk ke gudang itu. Makanya tadi aku berlari, sampai jatuh dan bertemu kalian.”
Aku ngeri membayangkannya. Untungnya saat aku ke gudang beberapa hari yang lalu, aku bertemu Sivia. Kalau tidak, aku juga tidak tahu, entah seperti apa nasibku.
“Kalau begitu, pasti ada sesuatu di gudang itu. Mungkin ada hubungannya dengan kejadian di sini,” Sivia menyimpulkan.
“Ya, benar.” Chia menyetujui. Aku mengangguk. Shilla memandang kami satu persatu, dan walau ragu, akhirnya dia mengangguk juga.
“Besok kita selidiki lagi gudang itu. Tapi sebaiknya, kita pergi sore hari. Mungkin dengan begitu kita lebih leluasa di sana,” kata Sivia. “Sekarang, lebih baik kita tidur. Sudah hampir tengah malam,” lanjutnya. Kami pun menyetujui ucapannya. Lalu, Sivia dan Shilla meninggalkan aku dan Chia.
*****
Seperti yang telah disepakati, sore harinya kami kembali menyelidiki gudang itu. Untungnya, tidak ada yang mencurigai kami di sini. Kami berjalan di lorong sepi ini. Suasananya agak berbeda dibandingkan pada malam hari. Sekarang tidak begitu menyeramkan, mungkin karena matahari masih bersinar.
Saat kami melewati tempat kami betemu tadi malam, tiba-tiba Chia menghentikan langkah kami.
“Eh tunggu, lihat itu!” tunjuknya pada sesuatu yang tergeletak di lantai lorong itu.
Kami mendekat. Sehelai kertas tua yang sudah menguning. Sesuatu tertulis disana, dengan tinta bewarna merah, seperti… darah?!
“Tenang. Ini bukan darah,” kata Sivia melihat kami terkejut menyadari tulisan itu. Sivia merentangkan kertas itu diantara kami. Kami membaca tulisannya.
Panjang dan lengang. Keduanya menyatu dalam kebingungan. Mencoba memberikan alasan.
“Menurut kalian, mungkin tidak ini petunjuk?” tanya Shilla.
“Petunjuk? Maksud kamu?” Chia mengernyitkan dahinya menatap Shilla.
“Salah satu petunjuk untuk memecahkan misteri ini. Mungkin kertas ini bisa memberikan jawabannya,” timpalku.
“Tepat!” ujar Shilla.
“Mungkin kalian benar. Ayo kita cari tahu maksud kertas ini!” Sivia mengangguk seraya mengajak kami kembali. Gudang yang tadinya ingin kami selidiki, terpaksa kami tinggalkan sebelum kami memasukinya.
Berkali-kali kami membaca kertas itu, sampai membolak-baliknya segala, juga tidak membuahkan hasil. Tak seorang pun dari kami menemukan titik terangnya.
“Kertas ini menunjukkan apa?” tanyaku frustasi.
“Merujuk pada suatu tempat mungkin?” Sivia sama bingungnya denganku.
“Ah ya, itu dia!” cetus Shilla dengan mata yang berbinar-binar. Kami semua menatapnya. Melihat tatapan kami yang menuntut penjelasan, Shilla melanjutkan, “coba baca deh kalimat pertama, ‘panjang dan lengang’. Itu berarti tempat, kan? Suatu tempat yang lengang dan memanjang. Lalu kalimat kedua, ‘keduanya menyatu dalam kebingungan’. Aku tidak tahu, maksudnya menyatu dalam kebingungan itu, yang pasti tetap saja menunjukan suatu tempat yang berada di dekat kita. Ehm, maksudku, di tengah suasana kita seperti ini, dalam kebingungan.” Shilla mencoba menjelaskan analisisnya.
“Tapi di mana tempatnya?” tanyaku tetap tak bisa memikirkannya, sekalipun telah dijabarkan Shilla.
“Lorong menuju gudang asrama ini?” tebak Sivia.
“Bukan!” bantah Shilla. “Memang sih, lorong ini lengang, tapi tidak begitu sepi, kan? Karena beberapa murid masih berkeliaran di tempat ini. Apalagi kita yang sudah pernah menjelajahinya. Kita tidak menemukan sesuatu, kan kecuali gudang itu? Tapi aku rasa, tetap saja sampai sekarang kita tidak bisa menemukan apa pun di sana.”
“Lalu, dimana?”
“Koridor sepi di sekolah,” jawab Shilla.
“Hah?” ujar kami bersamaan.
“Ya, disana. Di lantai dua. Koridor kelas yang sudah lama tidak terpakai. Jarang ada siswa yang kesana,” kata Shilla mantap.
”Yakin disana, Shil?” tanya Sivia. “Lagipula peristiwa ini kan terjadi di asrama, bukan gedung sekolah.”
“Mungkin karena bukan di sekolah, petunjuknya ada di sana.” Aku menjawab ucapan Sivia.
Shilla mengangguk. “Aku yakin tempatnya di koridor lengang itu.”
“Bukan di koridornya,” potong Chia.
“Eh?” Analisis yang tadi terasa sudah sempurna, disanggah Chia.
“Kalian belum memecahkan arti kalimat ketiga, ‘mencoba memberikan alasan’. Itu berarti ‘panjang dan lengang’ tadi hanya perantara. Ia mencoba menunjukan jalan dimana ‘tempat’ itu berada. Artinya, bukan koridor itu. Tapi tempat setelah koridor lengang itu,” jelas Chia.
“Great!” ucap Sivia.
“Yeah, mantap! Teka-teki ini terpecahkan.” Shilla tersenyum lebar. Aku turut mengangguk.
“Jadi, sekarang kita kesana?” tanyaku. Rasa penasaran itu kembali menghantuiku, tak sabar segera menemukan jawabannya.
“Jangan!” cegah Sivia. “Lebih baik nanti malam. Tidak ada yang curiga. Mungkin juga di sekolah masih ada para guru.”
“Ya, benar!” kata Chia.
Kami memutuskan nanti malam untuk memulainya.
*****
Malam hari, dengan berbekal senter dan kenekatan, kami pergi ke gedung sekolah. Berbeda dengan asrama, sekolah sama sekali tidak ada lampu penerangnya. Agak sedikit menimbulkan takut juga. Terlebih saat kami mulai menjejaki lantai dua. Menyusuri koridor kelas sepi tersebut hingga menemukan ujungnya.
Benar-benar koridor panjang! Di siang hari saja, menyusuri koridor ini mungkin terasa melelahkan. Apalagi malam-malam seperti ini. Gelap gulita dengan suasana mencekam.
Kami sampai di ujung koridor. Dan behenti tepat di… sebuah ruangan!
“Inikah tempatnya?” tanyaku.
“Mungkin iya,” jawab Shilla.
Sivia menyorotkan senternya ke arah ruangan itu. Membaca papan nama yang tertera diatas pintu. Ruang mading.
“Ruang mading?” tanya Chia tidak percaya.
“Mungkin saja. Ruangan ini sepertinya tidak terpakai sama seperti kelas-kelas di koridor ini.” jawab Sivia.
“Ayo kita masuk!” ajakku. Semuanya mengangguk. Kami pun mulai mendekati pintu.
“Ada kuncinya!” seru Shilla girang.
Sivia memutar kunci itu lalu membuka pintunya. Kami masuk bersama-sama, kemudian mengarahkan senter pada ruangan itu dan…
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”
*****
To be continue..
By: Ranti Maretna Huri (kelompok 3)
Aku terbangun dari tidurku. Tak diragukan lagi, keringat yang membanjiri seluruh tubuhku adalah efek dari mimpi itu. Ya, kali ini mimpi itu datang genap menjadi keempat kalinya. Kuhembuskan nafas dengan perlahan. Detak jantung yang tidak normal –sudah pasti– pengaruh mimpi tadi, masih terasa. Itu semua membuatku tak bisa lagi melanjutkan tidurku.
Otakku mereview mimpi tadi. Gadis berkursi roda itu masih saja menjadi sumber penasaranku. Tapi kali ini terasa berbeda. Sosok lain juga tiba-tiba muncul dalam pemikiranku, membuatku tak kalah terkejutnya. Angel. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa sekarang saat aku memikirkan gadis berkursi roda itu, aku mengingat Angel? Ada hubungan apa Angel dengan gadis kursi roda itu? Rentetan pertanyaan menyerbuku.
*****
Aku terburu-buru mengenakan kacamataku dan mengecek sekilas pantulan diriku dalam cermin. Selanjutnya aku menyambar tas yang memang sejak tadi malam aku persiapkan di atas meja belajarku dan bergegas menghampiri Chia yang mungkin sudah hampir gila menungguku.
Akibat terjaga tadi malam, aku harus mengecap insomnia singkat dulu. Seperti biasa, sehabis mimpi itu datang, otakku sibuk memikirkannya. Hasilnya? Aku telat bangun dan Chia juga jadi korban terlambat sekolah karena menungguku.
“Kamu sih, Fy! Pakai bangun kesiangan segala, kita jadi telat kan, masuknya.” Chia tak henti-hentinya menggerutu sejak kami meninggalkan kamar tadi.
“Maaf... Chia... ” Hanya dua kata itu yang bisa dilontarkan mulutku.
“Asrama sudah sepi nih, anak-anak sudah pada berangkat semua. Cuma tinggal kita, Fy.” Aku bisa merasakan ketakutan pada ucapan Chia barusan. Sejujurnya aku juga agak merinding sekarang, terlebih saat kami melalui lorong sepi ini.
Kami berjalan tergesa-gesa. Kurasakan keringat dingin pada telapak tangan Chia yang menggenggam tanganku erat. Mungkin ia masih trauma pada kejadian di sini. Apalagi Kat juga menjadi salah satu korbannya. Tepat di ujung lorong, kami berhenti mendadak. Kurasakan genggaman tangan Chia bergetar. Wajahnya tampak sedikit pias. Di sana seorang gadis yang juga memakai seragam seperti kami, berdiri bersandar di dinding sambil menerawang. Dia….
*****
“ Jangan mendekat!“
Percuma. Seberapa pun kerasnya aku untuk menghalanginya, ia tetap mendekatiku. Derap langkahnya semakin jelas bergaung dalam gudang ini.
Tap tap tap.
Langkahnya berhenti dua meter di depanku. Detak jantungku berpacu hebat. Waktu terasa membeku. Aku tak dapat berbicara sedikit pun. Sekadar untuk mengusirnya atau berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan. Lidahku kelu serasa dikenai kutukan ikat lidah. Tubuhku juga kaku. Sejengkal pun aku tak bisa bergerak. Mungkinkah disini akhir hidupku? Akankah aku korban selanjutnya yang ditemukan mati mengenaskan di gudang?
“ Ify?”
DEG! Sosok itu menyebut namaku? Tidak mungkin masih ada orang yang berkeliaran di asrama pada malam selarut ini. Apalagi siswa yang mengenaliku. Mungkinkah itu... Angel?! Karena dia masih penasaran sama gudang ini? Oh, berhentilah berpikiran seperti itu, Fy!
“ Ify?“ ulang sosok itu lagi. Sekujur tubuhku merinding hebat. Jantungku berdetak lebih cepat dari yang sebelumnya.
Tak kusangka, dia malah memungut senterku yang terjatuh tadi. Lalu ia menyorotkan cahayanya padaku, membuatku menyipitkan mata karena silau.
“ Ify, ini aku Sivia,“ ujarnya seraya menyodorkan senter itu padaku.
“ Eh?“
“Iya. Ini aku, Sivia Azizah. Masih anak asrama ini kok.“ Dia mendekatiku, membantuku berdiri dan kembali menyerahkan senter itu.
Huft, lega. Ia bukan hantu atau semacamnya. Aku mengambil senter yang ia serahkan lalu menyorotnya hati-hati. Sivia tersenyum saat cahaya senterku melewati wajahnya.
“Ka… kamu… beneran Sivia?“ tanyaku memastikan.
Ia tertawa pelan, “iya, Ify....” Aku tersenyum malu-malu.
“Apa yang kamu lakukan tengah malam di sini, Fy? Karena penasaran sama peristiwa di Cleotirta? Kalau iya, aku disini juga karena alasan yang sama sepertimu.“
*****
“Fy… dia….“ Chia menunjuk gadis itu takut-takut.
Aku tersenyum lalu menarik tangan Chia untuk mendekatinya.
“Ayo!“ Dia sedikit terkejut dengan kedatangan kami.
“Ify?“
“Hai, Vi!“ balasku. “Kok kamu masih di sini? Udah telat lho!“
“Oh... masih ada sesuatu yang harus kulakukan.“ Sivia tersenyum sekilas.
Aku dan Chia berpandangan. Tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu. Saat bertemu dengannya tempo hari lalu dia juga mengatakan kata-kata yang tak kupahami apa maksudnya.
“Kalian... kenapa terlambat?“ tanyanya.
“Oh, iya!“ Aku menepuk jidat. “Aku kesiangan. Duluan ya, Vi!” ujarku lalu menarik tangan Chia terburu-buru ke luar asrama.
“ Fy, dia Sivia si Indigo itu, kan? Kok kamu kenal dengannya? “ tanya Chia saat kami sedang memasuki gedung sekolah.
“Aduuh... ceritanya nanti deh, kita sudah telat nih!“ Aku dan Chia masih berjalan seperti orang kesetanan.
“Yeh, kita telat juga gara-gara kamu kan?“ cibir Chia
*****
“ ... Anak-anak, saya harap kalian tetap tenang. Tetaplah bertahan di sini. Saya yakin kalian akan selamat. Kalian juga jangan bertindak sembarangan. Usahakan jangan ada yang berkeliaran di sekitar asrama atau pun di lingkungan sekolah selain jam sekolah. Apalagi sampai mendekati tempat-tempat yang tidak diperbolehkan. Ya, itu peringatan dari saya. Setelah ini kalian silakan kembali ke kelas masing-masing dan belajar dengan tenang seperti biasanya.“ Kepala sekolah menutup pidato panjangnya. Kulihat siswa di sekelilingku agak ngeri mendengar pidato tadi, tak terkecuali aku dan Chia. Entah kenapa, larangan kepala sekolah tadi justru menambah rasa penasaranku untuk mencari tahu tentang semua keanehan di Cleotirta.
Semua murid berhamburan menuju kelas masing-masing. Mataku menangkap Sivia yang tengah menatapku juga. Oh, dia masih sempat apel pagi ya? Eh, Sivia menghampiri kami?
“Fy, pikiran kita sama lagi?“ tanyanya langsung setibanya di tempatku dan Chia.
“Hah?“ responku.
“Aku tahu bukan aku saja yang penasaran dengan kejadian di sini. Hmm… kalau kamu mau, kita bisa memulainya nanti malam. Aku tunggu di dekat tangga lantai satu asrama. Bye!“ ujar Sivia seraya berlalu.
Aku terperangah. Kulirik Chia yang tak kalah bingungnya. Aku tahu apa maksud Sivia sekarang. Setidaknya aku tidak sendirian untuk mengobati penasaranku. Sivia ternyata juga punya keinginan yang sama sepertiku, menyelidiki kejadian di Cleotirta.
“Kita ke kelas yuk!“ kataku pada Chia yang masih dalam keadaan yang sama. Aku tersenyum puas mengingat misi yang akan kujalani nanti malam, mengabaikan Chia dengan tanda tanya di otaknya.
*****
Malamnya, pukul 22.00, aku dan Chia turun ke lantai satu. Chia yang sudah kuberitahu –kecuali tentang mimpi itu–, sebenarnya enggan ikut bersamaku. Tapi karena sedikit paksaan dariku, dia akhirnya ikut juga. Daripada dia sendirian di kamar? Sudah pasti dia akan terus mengingat Kat. Aku sebenarnya agak takut juga sih. Tapi rasa penasaran terlalu menguasai diriku. Lagipula aku tidak sendiri melakukan penyelidikan ini.
Asrama sudah sepi. Wajar saja. Sejak peristiwa itu, semua orang sudah sedari matahari terbenam mengurung diri di kamarnya. Terlalu takut untuk berkeliaran. Apalagi di malam hari seperti ini. Aku dan Chia sudah hampir sampai. Kami menuruni tangga di tempat Sivia menunggu. Benar saja, dia sudah berdiri dengan senter di tangannya.
“Sudah lama, Vi?“ tanyaku basa-basi.
“Belum kok. Eh, Chia juga ikut?“ ujarnya saat Sivia melihatku datang tidak sendiri. Chia tampak sedikit terkejut karena Sivia mengetahui namanya. Aku memberi penjelasan melalui tatapanku pada Chia. Tentu saja Sivia tahu. Pikiran lawan bicaranya saja dia bias mengerti. Chia tersenyum canggung pada Sivia.
“Oke, lebih baik kita sekarang segera ke sana,“ kata Sivia setelah beberapa detik hening.
“Gudang?“ tanyaku memastikan.
Sivia mengangguk. Lalu dia mendahului kami berjalan menyusuri lorong ini. Aku dan Chia bergegas mengikutinya. Kami berjalan pelan-pelan. Atas saran Sivia, kami mematikan senter. Karena mungkin saja masih ada yang berkeliaran di asrama, malapetaka jika kami ketahuan. Dengan penerangan seadanya –lampu remang-remang yang dipasang-dilorong ini– dibantu cahaya bulan, kami melanjutkan perjalanan.
Kami hampir sampai di dekat gudang. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki dari arah gudang sana. Apakah ini hanya halusinasiku saja? Tidak. Langkah itu semakin jelas. Aku yakin Chia dan Sivia juga mendengarnya.
“Eh, kalian dengar tidak?“ Chia menghentikan langkahnya. Benar, kan? Suara itu memang ada.
Aku mengangguk. Sivia menajamkan pendengarannya. Sesaat kemudian dia menarik kami ke sudut yang tidak terjangkau cahaya.
“Ada seseorang. Aku tidak tahu dia bertujuan baik atau tidak, yang pasti ia semakin mendekat.“ Sivia berkata sepelan mungkin. Aku merinding seketika, kupastikan Chia juga sama merindingnya. Kudengar langkah itu sangat tergesa-gesa. Hampir berlari seperti dikejar sesuatu. Aku menegang saat sosok itu mendekati kami, dan...
BRUKK.. !!
“Aww..!” pekik seseorang.
Kami terkejut. Itu suara perempuan. Sudah pasti dia pemilik langkah terburu-buru tadi. Dia mungkin tersandung sesuatu dan terjatuh. Kami segera menghampirinya. Sivia menyorotkan lampu senter ke arahnya. Dia terkejut dengan kehadiran kami tiba-tiba.
“Si..si..siapa... kalian?” dia tampak ketakutan.
“Shilla?” ujarku cepat. Ya, aku tahu. Dia adalah Shilla, teman sekelasku.
“I.. Ify? Chia? Dan....“ Ia menatap Sivia dengan wajah bingung.
“Sivia,” ujarku mengerti maksud Shilla.
“Kamu sedang apa, Shil?” tanyaku sambil membantu Shilla bangun.
“Jangan bilang kamu menyelidiki gudang itu,” potong Sivia sebelum Shilla sempat menjawab pertanyaanku tadi.
Seketika wajah Shilla menyiratkan ketakutan. Mungkin ada hubungannya dengan yang baru saja terjadi padanya.
“Aku mohon, bisakah aku tidak memberi tahu kalian di sini? Aku merasa tempat ini tidak aman,” jawab Shilla, mukanya masih terlihat sama takutnya.
“Dan aku yang paling pertama setuju. Lebih baik kita ke kamarku dan Ify sekarang,” cetus Chia cepat.
“Baiklah... ini bisa kita lanjutkan besok,” kata Sivia. “Ayo pergi!” ujarnya memimpin kami.
Kami berjalan tergesa-gesa. Perasaan takut masih melanda kami semua. Terlebih Shilla. Aku melihat ketakutan masih terpeta di wajahnya hingga kami sampai di kamarku. Sivia yang paling belakang menutup pintu kamar. Dia juga menyuruh kami agar tidak terlalu berisik.
“Jadi apa yang ingin kamu beritahu, Shill?” tanya Sivia.
Shilla menghela nafas, “benar, tadi aku memang menyelidiki gudang itu. Karena aku penasaran dengan apa yang ada di sana. Ka.. kalian tahu, kan? A.. Angel meninggal setelah menyelidiki gudang itu? Dan... aku.. aku... ingin tahu apa penyebab kematian Angel berhubungan de..ngan gu..gudang itu..” Shilla terbata-bata saat menceritakannya. Ia hampir tak kuasa menahan tangisnya. Aku mengerti. Dia masih belum bisa menerima kepergian sahabatnya itu.
“Tenang Shil….” Chia mengusap-usap punggung Shilla untuk menenangkannya.
“Aku rasa, kalian sebaiknya menceritakan sesuatu. Mungkin ada hubungannya juga dengan Angel,” kata Sivia tiba-tiba. Ia menatapku dan Shilla. Aku tidak terlalu terkejut dengan setiap perkataannya yang selalu mengundang tanda tanya di pikiranku. Tapi untuk kali ini, aku teringat gadis berkursi roda itu. Mungkinkah mimpi itu yang dimaksud Sivia?
Tidak ada gunanya juga aku menyimpannya sendiri. Bukankah lebih baik aku menceritakannya pada mereka? Aku pun memulai bercerita. Tentang gadis kursi roda yang selalu datang melalui mimpiku juga tentang Angel yang membuatku bingung. Kenapa setiap aku ingat gadis berkursi roda itu, otakku memunculkan nama Angel?
Chia sangat terkejut mendengar ceritaku. Apalagi Shilla. Wajahnya tampak pucat pasi. Berbeda dengan Sivia yang tetap tenang.
“Kalian tahu? Angel juga pernah mendapat mimpi yang sama seperti yang Ify ceritakan,” ucap Shilla setelah berusaha menormalkan dirinya.
“Hah?! Yang benar, Shil?” kataku tak percaya.
Shilla mengangguk, “dia menceritakannya padaku dan dia juga menemukan ini sewaktu di gudang.” Shilla menunjukkan benda yang tidak kusadari telah sedari tadi dipegangnya.
“Diary?” tanya Chia.
“Iya. Dan sebelum sempat kami melihat isinya, Angel sudah meninggal. Sampai sekarang aku belum berani membukanya,” tutur Shilla lagi.
“Kalau begitu, ayo sekarang kita lihat!” kata Sivia.
Shilla menyerahkan diary itu pada Sivia. Sebuah buku bewarna coklat pekat yang sudah lusuh. Sivia menerimanya dan meletakkan diary itu di tengah ranjang. Ia lalu membukanya.
Halaman pertama kosong. Pada halaman kedua, hanya tertulis ‘My Diary’ pada tengah-tengah kertasnya. Barulah pada halaman ketiga, tertulis rangkaian kalimat.
13 April 2001
Dear Diary,
Kamu tahu, Di? Nathan kembali bersikap dingin padaku. Dia menatapku dengan tajam, seolah aku adalah musuhnya. Aku masih belum mengerti salahku padanya. Tapi bagaimana aku bisa menanyakan padanya, Di? Setiap aku ingin mendekatinya, dia langsung menjauh dariku. Aku harus berbuat apa, Di? Apa yang harus kulakukan agar Nathan tidak menjauhiku?
Bantu aku, Di….
Aku ternganga setelah membaca diary itu. Aku pikir isinya tentang sesuatu yang mengerikan, atau apalah. Ternyata, curhatan remaja pada umumnya. Diam-diam kulihat Shilla menghembuskan nafas lega.
“Sepertinya diary ini tidak berbahaya,” kata Chia. Kami mengangguk setuju.
“Lalu, kenapa tadi kamu ketakutan waktu di gudang, Shil?” tanyaku mencoba mengalihkan topik. Rupanya aku salah, karena sekilas wajah Shilla kembali memperlihatkan kecemasan.
“Oh… kalau kamu tidak mau cerita, tidak apa kok, Shil!” seketika aku merasa bersalah padanya.
Shilla menggeleng. “Tenang, Fy! Aku sudah tidak apa-apa kok,” balasnya sambil tersenyum.
“Waktu aku di gudang tadi, aku merasa ada sesuatu yang mengikutiku, membuatku takut untuk masuk ke gudang itu. Makanya tadi aku berlari, sampai jatuh dan bertemu kalian.”
Aku ngeri membayangkannya. Untungnya saat aku ke gudang beberapa hari yang lalu, aku bertemu Sivia. Kalau tidak, aku juga tidak tahu, entah seperti apa nasibku.
“Kalau begitu, pasti ada sesuatu di gudang itu. Mungkin ada hubungannya dengan kejadian di sini,” Sivia menyimpulkan.
“Ya, benar.” Chia menyetujui. Aku mengangguk. Shilla memandang kami satu persatu, dan walau ragu, akhirnya dia mengangguk juga.
“Besok kita selidiki lagi gudang itu. Tapi sebaiknya, kita pergi sore hari. Mungkin dengan begitu kita lebih leluasa di sana,” kata Sivia. “Sekarang, lebih baik kita tidur. Sudah hampir tengah malam,” lanjutnya. Kami pun menyetujui ucapannya. Lalu, Sivia dan Shilla meninggalkan aku dan Chia.
*****
Seperti yang telah disepakati, sore harinya kami kembali menyelidiki gudang itu. Untungnya, tidak ada yang mencurigai kami di sini. Kami berjalan di lorong sepi ini. Suasananya agak berbeda dibandingkan pada malam hari. Sekarang tidak begitu menyeramkan, mungkin karena matahari masih bersinar.
Saat kami melewati tempat kami betemu tadi malam, tiba-tiba Chia menghentikan langkah kami.
“Eh tunggu, lihat itu!” tunjuknya pada sesuatu yang tergeletak di lantai lorong itu.
Kami mendekat. Sehelai kertas tua yang sudah menguning. Sesuatu tertulis disana, dengan tinta bewarna merah, seperti… darah?!
“Tenang. Ini bukan darah,” kata Sivia melihat kami terkejut menyadari tulisan itu. Sivia merentangkan kertas itu diantara kami. Kami membaca tulisannya.
Panjang dan lengang. Keduanya menyatu dalam kebingungan. Mencoba memberikan alasan.
“Menurut kalian, mungkin tidak ini petunjuk?” tanya Shilla.
“Petunjuk? Maksud kamu?” Chia mengernyitkan dahinya menatap Shilla.
“Salah satu petunjuk untuk memecahkan misteri ini. Mungkin kertas ini bisa memberikan jawabannya,” timpalku.
“Tepat!” ujar Shilla.
“Mungkin kalian benar. Ayo kita cari tahu maksud kertas ini!” Sivia mengangguk seraya mengajak kami kembali. Gudang yang tadinya ingin kami selidiki, terpaksa kami tinggalkan sebelum kami memasukinya.
Berkali-kali kami membaca kertas itu, sampai membolak-baliknya segala, juga tidak membuahkan hasil. Tak seorang pun dari kami menemukan titik terangnya.
“Kertas ini menunjukkan apa?” tanyaku frustasi.
“Merujuk pada suatu tempat mungkin?” Sivia sama bingungnya denganku.
“Ah ya, itu dia!” cetus Shilla dengan mata yang berbinar-binar. Kami semua menatapnya. Melihat tatapan kami yang menuntut penjelasan, Shilla melanjutkan, “coba baca deh kalimat pertama, ‘panjang dan lengang’. Itu berarti tempat, kan? Suatu tempat yang lengang dan memanjang. Lalu kalimat kedua, ‘keduanya menyatu dalam kebingungan’. Aku tidak tahu, maksudnya menyatu dalam kebingungan itu, yang pasti tetap saja menunjukan suatu tempat yang berada di dekat kita. Ehm, maksudku, di tengah suasana kita seperti ini, dalam kebingungan.” Shilla mencoba menjelaskan analisisnya.
“Tapi di mana tempatnya?” tanyaku tetap tak bisa memikirkannya, sekalipun telah dijabarkan Shilla.
“Lorong menuju gudang asrama ini?” tebak Sivia.
“Bukan!” bantah Shilla. “Memang sih, lorong ini lengang, tapi tidak begitu sepi, kan? Karena beberapa murid masih berkeliaran di tempat ini. Apalagi kita yang sudah pernah menjelajahinya. Kita tidak menemukan sesuatu, kan kecuali gudang itu? Tapi aku rasa, tetap saja sampai sekarang kita tidak bisa menemukan apa pun di sana.”
“Lalu, dimana?”
“Koridor sepi di sekolah,” jawab Shilla.
“Hah?” ujar kami bersamaan.
“Ya, disana. Di lantai dua. Koridor kelas yang sudah lama tidak terpakai. Jarang ada siswa yang kesana,” kata Shilla mantap.
”Yakin disana, Shil?” tanya Sivia. “Lagipula peristiwa ini kan terjadi di asrama, bukan gedung sekolah.”
“Mungkin karena bukan di sekolah, petunjuknya ada di sana.” Aku menjawab ucapan Sivia.
Shilla mengangguk. “Aku yakin tempatnya di koridor lengang itu.”
“Bukan di koridornya,” potong Chia.
“Eh?” Analisis yang tadi terasa sudah sempurna, disanggah Chia.
“Kalian belum memecahkan arti kalimat ketiga, ‘mencoba memberikan alasan’. Itu berarti ‘panjang dan lengang’ tadi hanya perantara. Ia mencoba menunjukan jalan dimana ‘tempat’ itu berada. Artinya, bukan koridor itu. Tapi tempat setelah koridor lengang itu,” jelas Chia.
“Great!” ucap Sivia.
“Yeah, mantap! Teka-teki ini terpecahkan.” Shilla tersenyum lebar. Aku turut mengangguk.
“Jadi, sekarang kita kesana?” tanyaku. Rasa penasaran itu kembali menghantuiku, tak sabar segera menemukan jawabannya.
“Jangan!” cegah Sivia. “Lebih baik nanti malam. Tidak ada yang curiga. Mungkin juga di sekolah masih ada para guru.”
“Ya, benar!” kata Chia.
Kami memutuskan nanti malam untuk memulainya.
*****
Malam hari, dengan berbekal senter dan kenekatan, kami pergi ke gedung sekolah. Berbeda dengan asrama, sekolah sama sekali tidak ada lampu penerangnya. Agak sedikit menimbulkan takut juga. Terlebih saat kami mulai menjejaki lantai dua. Menyusuri koridor kelas sepi tersebut hingga menemukan ujungnya.
Benar-benar koridor panjang! Di siang hari saja, menyusuri koridor ini mungkin terasa melelahkan. Apalagi malam-malam seperti ini. Gelap gulita dengan suasana mencekam.
Kami sampai di ujung koridor. Dan behenti tepat di… sebuah ruangan!
“Inikah tempatnya?” tanyaku.
“Mungkin iya,” jawab Shilla.
Sivia menyorotkan senternya ke arah ruangan itu. Membaca papan nama yang tertera diatas pintu. Ruang mading.
“Ruang mading?” tanya Chia tidak percaya.
“Mungkin saja. Ruangan ini sepertinya tidak terpakai sama seperti kelas-kelas di koridor ini.” jawab Sivia.
“Ayo kita masuk!” ajakku. Semuanya mengangguk. Kami pun mulai mendekati pintu.
“Ada kuncinya!” seru Shilla girang.
Sivia memutar kunci itu lalu membuka pintunya. Kami masuk bersama-sama, kemudian mengarahkan senter pada ruangan itu dan…
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”
*****
To be continue..
By: Ranti Maretna Huri (kelompok 3)
Komentar
Posting Komentar