The Doom Enigma -part 3-
*****
“I… i… itu, a… ap… pa?” tanya Chia gemetaran. Gadis manis itu mencengkram tanganku kuat. Aku pun bertanya-tanya, itu apa?
Sivia menyorotkan senternya ke depan, ke arah benda yang terlihat mengayun itu dengan cairan kental yang menetes ke lantai yang kami pijak. Mata kami semua membulat, itu…
“Kucing!?”kaget Shilla. Kami semua tertegun. Ya ampun… kucing liar berwarna putih bersih itu berlumuran darah. Bulu putihnya kini berwarna merah pekat. Parahnya lagi, jantung yang nampak masih segar keluar dari tubuhnya dan… jantung itu masih berdenyut! Mengerikan! Belum lagi organ lainnya yang terurai keluar dari tubuh kucing itu. Darah tak henti-hentinya mengucur dari hewan malang itu.
Aku menelan ludahku. Siapakah yang tega membunuh makhluk se-adorable itu?
“Ify!! Balik! Aku takut!!”lirih Chia sambil memeluk lenganku erat. Aku hanya meringis ke arah Via yang sedang menatapku dengan tatapan bertanya.
Tap. Tap. Tap.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan sepatu yang menyentuh lantai. Suara itu menghentikan aktifitas kami hingga hanya suara nafas memburu yang terdengar di telinga kami.
Tap. Tap. Tap.
Aku meneguk ludahku kasar. Shilla terlihat merapat padaku sedangkan Chia yang ada di samping kiriku makin erat memeluk lenganku. Tiba-tiba Sivia menyeret tubuhku ke suatu tempat.
Tap. Tap. Tap.
Suara itu semakin dekat. Aku melihat Sivia sedang menutup matanya, entah sedang apa.
“Mr. Jonathan!”ucapnya dengan suara berbisik. Aku mengerutkan dahi. Mr. Jonathan? Penjaga sekolah yang masih muda itu? Mau apa dia malam-malam ke ruangan ini?
Tap.
Suara langkah kaki itu berhenti. Sepertinya ia sudah sampai tujuan. Dengan perlahan aku mendekatkan mataku ke celah-celah pintu yang menutupi kami berempat. Mr. Jonathan terlihat sedang menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, gelagatnya…. terlihat mencurigakan!
“Fy, apa?”
Entah itu bisikan siapa, aku hanya menggeleng tak tahu. Mata beningku masih menangkap sosok Mr. Jonathan yang kini sedang mendekati mayat kucing itu. Lalu… ia mengambil kucing itu? Hah!? Buat apa? Apa ini semua….
“Jebakan buat kita!”cetus Sivia tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku ke belakang untuk melihat Sivia yang sedang tersenyum yakin. Jebakan? Apa jangan-jangan… Mr. Jonathan itu….
*****
Lagi – lagi, aku bangun kesiangan. Ah! Iya, pasti ini efek berkeliaran malam-malam. Chia terlihat sudah menungguku di depan pintu kamarku. Gaya bossy-nya muncul –melihat jam dan jalanan koridor asrama bergantian plus menghentakkan kaki kanan tak sabaran.
Aku meraih tasku lalu berlari menemui Chia.
“Sorry, hehe….”
“Sudah berapa kali kamu telat? Ish!”gerutunya. Aku hanya membalasnya dengan cengiran khasku. Kemudian kami berjalan beriringan menuju kelas. Seperti biasa, koridor asrama dan sekolah mulai sepi, yah! Pasti para siswa sudah berhambur menuju kelas masing-masing. Terkecuali aku dan Chia.
Di tengah perjalanan menuju kelas, aku mendengar suara seperti cangkul yang beradu dengan tanah. Ah! Pasti khayalanku saja,
“Via!”
Aku menengok kesamping, ternyata Chia sudah berlari menuju Sivia. Gadis itu entah sedang apa sedari tadi. Ia tampak mengangkat dagunya, untuk melongok sesuatu sepertinya.
“Lihat apa, Vi?”tanyaku heran.
“Ada suara seperti orang sedang menggali tanah!”jawabnya. Nah! Iya, kan? Aku tak salah, bukan?
“Aku mau ke sana. Kalian mau ikut?” tawar Via kepada aku dan Chia. Aku hanya mengangkat bahu, menyatakan ‘terserah’ sedangkan Chia menjawab, “yang penting bolos ada temannya ini, hehe….”
Akhirnya, kami bertiga berjalan beriringan menuju ke asal suara itu. Tiba-tiba Sivia mengerem. Aku dan Chia pun otomatis menghentikan langkah kami. Kemudian kami bersembunyi di balik pohon beringin.
“Mr. Jonathan!”pekik Sivia tertahan.
“Tuh kan! Aku bilang juga apa!”timpal Chia yang sepertinya mencoba menyindirku karena perdebatan semalam, yang memperdebatkan tentang rahasia misteri sekolah ini yang sepertinya didalangi oleh Mr. Jonathan. Aku memutar bola mataku, “terserah kamu!”
Mr. Jonathan mengangkat cangkul itu tinggi-tinggi lalu membenturkannya dengan tanah hingga membuat lubang pada tanah tersebut. Kami terus melihatnya dengan seksama. Lelaki bertubuh ceking itu terlihat mendekat ke arah kami, menuju tempat kami bersembunyi lebih tepatnya. Kami pun langsung rusuh, berusaha mencari tempat bersembunyi lainnya.
Sreek!
Aku melirik ke arah bawah, ternyata Mr.Jonathan mengambil kantong plastik yang ada di depan pohon. Kami bertiga menghembuskan nafas. Untung kantong plastiknya di depan pohon. Kalau di balik pohon, apa jadinya kami?
Sivia menutup matanya. Semenit kemudian ia membuka matanya kembali. “Isi kantong plastik itu kucing yang semalam. Feeling aku tidak enak, Fy! Sepertinya… Shilla….”
*****
Kami berlari menuju gudang. Ah! Shilla… sedang apa lagi gadis itu di gudang?
Aku menubruk pintu tanpa mengurangi kecepatan lariku. Suara terjebam berbunyi ketika pintu kayu itu bertumbuk dengan tembok. Eh! Itu dia, Shilla.
“Shilla!”seru Chia sembari berlari menuju gadis itu. Sedangkan aku dan Sivia masih terdiam di ambang pintu. Sebentar… ada yang aneh dengan gudang ini!
Tes. Tes.
Eh!? Apa itu? Aku terbelalak. Itu…. darah!? Iya! Darah! Warna merahnya, itu merah darah!
Aku dan Via saling berpandangan, lalu mata kami mengarah ke atas, ke langit-langit gudang ini.
Tes.
Setetes darah menetes kembali. Aku menelan ludah dengan berat. Di atas sana, ada sebuah tangan yang menjuntai, darah segar masih saja mengalir hingga ke kuku jari tangan yang akhirnya tertarik gravitasi.
“Shill, sudah baikan? Yuk! Lagipula, kenapa kamu ke sini?”
“Aku tidak tahu, Chia. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk ke sini!”jawabnya.
Ya! Aku mendengar jawaban Shilla. Oke! Ini cukup menjawab pertanyaanku tentang mengapa-Shilla-ada-disini? Aku melirik ke arah Via. Gadis itu tersenyum.
“Halusinasi dan tipuan.”
Aku mengabaikan gumaman tak jelas dari Via, anak indigo itu. Seperti biasa, pikirku. Kemudian aku kembali melihat Chia sedang membalikkan badannya sambil membantu Shilla berdiri.
Tes. Satu tetes darah lagi.
“Kyaaaa!!”Chia langsung berlari ke arah kami berdua, sedangkan Shilla hanya berjalan pelan.
“I…itu apa, Fy…? Huhuhu… hiks!” Aku mengangkat kepala Chia yang sedang memelukku. Ya, dia menangis.
“Itu darah tiruan!”gumam Via seraya mencolek tetesan darah yang telah berkubang di lantai, kemudian ia menjilatnya.
“Pewarna, lagipula itu sepertinya boneka!”lanjutnya yakin. Aku memandang tangan itu lagi. Ya! Memang terlihat nyata tapi terlalu kaku untuk ukuran mayat manusia. Tiba-tiba Shilla datang dengan membawa tongkat panjang. Ia langsung menyogok tangan itu dan…
Bruk.
“Aaaa!”
Benda itu terjatuh, yang dibarengi pula dengan pekikan keras dari Chia. Aku bernafas lega. Bukan tangan asli, itu hanya boneka tangan manusia. Sivia mengambil potongan tangan itu lalu mengarahkannya padaku.
“Ini tiruan! Ahahaa….”
“Siapa sih yang jahil?”sungut Chia seraya menghapus air matanya. Aku tertawa kecil. Dasar penakut! batinku.
Tap.
“Siapa yang berteriak? Kenapa kalian di sini?”
Kami berempat terdiam, suara bariton itu milik…
Mr. Jonathan.
*****
Aku menggosok wastafel dengan sikat, jengkel. Sial! Kami dihukum oleh Mr.Jonathan karena telah membolos. Chia dan Shilla gaduh di dalam toilet, karena mereka kebagian membersihkan kloset. I-yuh!
Sivia yang dapat jatah mengepel lantai, malah asyik memandang cermin, dengan tatapan kosong.
“Udah, Vi… kerja dulu!”peringatku tanpa mengalihkan pandanganku dari wastafel putih yang mulai menguning itu.
“Di samping kamu….”
Deg. Sejenak aku merasakan jantung berhenti berdetak. Aku mengangkat kepala, menatap Sivia lalu tertawa kecil.
“Ada apa?”
“Perempuan, memakai seragam Cleotirta, berambut panjang, dia… bilang sesuatu,”lirihnya.
Alisku bertaut. Sudah dijamin, anak indigo itu selalu bertingkah aneh.
“Angel? Apa?” tanya Sivia ke… Angel? Aku menegakkan tubuhku lalu menengok ke kanan dan ke kiri.
“Angel? Mana, Vi?”
Tiba-tiba Sivia mengambil cutter dari tas selempangnya lalu mendekatkan benda tajam itu ke jari telunjuknya hingga darah segar miliknya mulai keluar.
“Eh!? Mau apa, Vi?” tanyaku khawatir. Sivia bergeming. Gadis itu malah sibuk menulis di cermin.
“I… ni... buk… bukan… sa… lah... para… han... tu? Maksudnya?” tanyaku kebingungan. Sivia meraih tissue dari tasnya lalu melihat hasil ‘karyanya’ di cermin dan tersenyum yakin.
“Ini hanya…. teror!”
*****
Malamnya, kami memutuskan menuju kamar Mr. Jonathan untuk mencari clue. Tak sopan, ya? Hah!? Persetan dengan itu! Sepertinya Mr.Jonathan sering keluar malam. Ya! Sejenis makhluk nocturnal mungkin?
Karena senter Chia dan Sivia kehabisan daya baterainya, akhirnya penerangan kami hanya dua senter dan satu lilin. Ya! Paling tidak, jalan yang kami lalui tak terlalu gelap. Oh iya! Shilla kenapa tidak ikut ya malam ini? Ah! Mungkin dia kelelahan.
Aku memutar kenop pintu kamar Mr. Jonathan perlahan-lahan. Terbuka! Bodoh sekali penjaga sekolah itu! Kenapa kamarnya tak dikunci? Sivia pun mulai meraba-raba tembok untuk mencari
saklar lampu.
Ceklek.
Gelap.
Ceklek. Ceklek.
Masih gelap.
“Lampunya rusak!”ucap Via sambil mulai berjalan mengelilingi kamar Mr.Jonathan dengan penerangan seadanya.
Aku pun juga mulai mencari. Sasaranku sekarang pada laci meja yang ada di samping kasur Mr.Jonathan. Aku menarik pegangan laci itu. Ternyata ada sebuah kantong plastik. Aku lalu membuka isi kantong plastik itu. Isinya ada empat benda yang berbeda: sebotol sirup jagung, sebotol pewarna makanan berwarna merah, sebungkus tepung kanji, dan sebotol pewarna makanan berwarna biru.
Tanda tanya besar mulai tercipta di otakku, bahan-bahan ini seperti…. cara membuat darah?
“AAAAA!!”
Karena terburu-buru, aku mengambil salah satu dari keempat benda itu lalu menatap Sivia dan Chia bergantian.
“SHILLA!”
Kami pun langsung berlari keluar. Tentunya tak lupa merapikan kamar Mr.Jonathan. Di koridor, tak sengaja Chia menabrak tukang kebun asrama dan sekolah kami, Mr. Alvin.
“Maaf,” lirihnya ketakutan.
Aku mendecak kesal. Akhirnya, dengan terpaksa aku menarik tangan Chia setelah Mr.Alvin pergi.
“Eh! Fy, aku menemukan kertas!!”teriak Chia kemudian, tapi aku abaikan. Karena apa? Karena yang aku pikirkan cuma satu!
Shilla.
Akhirnya, kami sampai di depan kamar Shilla. Dengan nafas yang terengah-engah, aku mencoba mendorong pintu kayu kamar Shilla perlahan, tak terkunci! Sepertinya ada yang masuk
sebelum kami. Aku mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Cahaya bulan yang memasuki celah-celah kamar Shilla menjadi penerangan utama kami. Di mana alat penerangan yang kubawa tadi? Oh iya! Aku pasti meninggalkannya tadi, sedangkan Chia dan Sivia pasti reflek menjatuhkan benda itu.
Aku kembali serius melihat sesuatu yang ada didalam kamar Shilla. Sejenak, tengkuk leherku serasa meremang. Ada… bayangan berbentuk manusia yang bergoyang. Bayangan bergoyang itu…
“Shilla?”
*****
To be continue..
By: Indria Persittamaia (kelompok 3)
“I… i… itu, a… ap… pa?” tanya Chia gemetaran. Gadis manis itu mencengkram tanganku kuat. Aku pun bertanya-tanya, itu apa?
Sivia menyorotkan senternya ke depan, ke arah benda yang terlihat mengayun itu dengan cairan kental yang menetes ke lantai yang kami pijak. Mata kami semua membulat, itu…
“Kucing!?”kaget Shilla. Kami semua tertegun. Ya ampun… kucing liar berwarna putih bersih itu berlumuran darah. Bulu putihnya kini berwarna merah pekat. Parahnya lagi, jantung yang nampak masih segar keluar dari tubuhnya dan… jantung itu masih berdenyut! Mengerikan! Belum lagi organ lainnya yang terurai keluar dari tubuh kucing itu. Darah tak henti-hentinya mengucur dari hewan malang itu.
Aku menelan ludahku. Siapakah yang tega membunuh makhluk se-adorable itu?
“Ify!! Balik! Aku takut!!”lirih Chia sambil memeluk lenganku erat. Aku hanya meringis ke arah Via yang sedang menatapku dengan tatapan bertanya.
Tap. Tap. Tap.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan sepatu yang menyentuh lantai. Suara itu menghentikan aktifitas kami hingga hanya suara nafas memburu yang terdengar di telinga kami.
Tap. Tap. Tap.
Aku meneguk ludahku kasar. Shilla terlihat merapat padaku sedangkan Chia yang ada di samping kiriku makin erat memeluk lenganku. Tiba-tiba Sivia menyeret tubuhku ke suatu tempat.
Tap. Tap. Tap.
Suara itu semakin dekat. Aku melihat Sivia sedang menutup matanya, entah sedang apa.
“Mr. Jonathan!”ucapnya dengan suara berbisik. Aku mengerutkan dahi. Mr. Jonathan? Penjaga sekolah yang masih muda itu? Mau apa dia malam-malam ke ruangan ini?
Tap.
Suara langkah kaki itu berhenti. Sepertinya ia sudah sampai tujuan. Dengan perlahan aku mendekatkan mataku ke celah-celah pintu yang menutupi kami berempat. Mr. Jonathan terlihat sedang menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, gelagatnya…. terlihat mencurigakan!
“Fy, apa?”
Entah itu bisikan siapa, aku hanya menggeleng tak tahu. Mata beningku masih menangkap sosok Mr. Jonathan yang kini sedang mendekati mayat kucing itu. Lalu… ia mengambil kucing itu? Hah!? Buat apa? Apa ini semua….
“Jebakan buat kita!”cetus Sivia tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku ke belakang untuk melihat Sivia yang sedang tersenyum yakin. Jebakan? Apa jangan-jangan… Mr. Jonathan itu….
*****
Lagi – lagi, aku bangun kesiangan. Ah! Iya, pasti ini efek berkeliaran malam-malam. Chia terlihat sudah menungguku di depan pintu kamarku. Gaya bossy-nya muncul –melihat jam dan jalanan koridor asrama bergantian plus menghentakkan kaki kanan tak sabaran.
Aku meraih tasku lalu berlari menemui Chia.
“Sorry, hehe….”
“Sudah berapa kali kamu telat? Ish!”gerutunya. Aku hanya membalasnya dengan cengiran khasku. Kemudian kami berjalan beriringan menuju kelas. Seperti biasa, koridor asrama dan sekolah mulai sepi, yah! Pasti para siswa sudah berhambur menuju kelas masing-masing. Terkecuali aku dan Chia.
Di tengah perjalanan menuju kelas, aku mendengar suara seperti cangkul yang beradu dengan tanah. Ah! Pasti khayalanku saja,
“Via!”
Aku menengok kesamping, ternyata Chia sudah berlari menuju Sivia. Gadis itu entah sedang apa sedari tadi. Ia tampak mengangkat dagunya, untuk melongok sesuatu sepertinya.
“Lihat apa, Vi?”tanyaku heran.
“Ada suara seperti orang sedang menggali tanah!”jawabnya. Nah! Iya, kan? Aku tak salah, bukan?
“Aku mau ke sana. Kalian mau ikut?” tawar Via kepada aku dan Chia. Aku hanya mengangkat bahu, menyatakan ‘terserah’ sedangkan Chia menjawab, “yang penting bolos ada temannya ini, hehe….”
Akhirnya, kami bertiga berjalan beriringan menuju ke asal suara itu. Tiba-tiba Sivia mengerem. Aku dan Chia pun otomatis menghentikan langkah kami. Kemudian kami bersembunyi di balik pohon beringin.
“Mr. Jonathan!”pekik Sivia tertahan.
“Tuh kan! Aku bilang juga apa!”timpal Chia yang sepertinya mencoba menyindirku karena perdebatan semalam, yang memperdebatkan tentang rahasia misteri sekolah ini yang sepertinya didalangi oleh Mr. Jonathan. Aku memutar bola mataku, “terserah kamu!”
Mr. Jonathan mengangkat cangkul itu tinggi-tinggi lalu membenturkannya dengan tanah hingga membuat lubang pada tanah tersebut. Kami terus melihatnya dengan seksama. Lelaki bertubuh ceking itu terlihat mendekat ke arah kami, menuju tempat kami bersembunyi lebih tepatnya. Kami pun langsung rusuh, berusaha mencari tempat bersembunyi lainnya.
Sreek!
Aku melirik ke arah bawah, ternyata Mr.Jonathan mengambil kantong plastik yang ada di depan pohon. Kami bertiga menghembuskan nafas. Untung kantong plastiknya di depan pohon. Kalau di balik pohon, apa jadinya kami?
Sivia menutup matanya. Semenit kemudian ia membuka matanya kembali. “Isi kantong plastik itu kucing yang semalam. Feeling aku tidak enak, Fy! Sepertinya… Shilla….”
*****
Kami berlari menuju gudang. Ah! Shilla… sedang apa lagi gadis itu di gudang?
Aku menubruk pintu tanpa mengurangi kecepatan lariku. Suara terjebam berbunyi ketika pintu kayu itu bertumbuk dengan tembok. Eh! Itu dia, Shilla.
“Shilla!”seru Chia sembari berlari menuju gadis itu. Sedangkan aku dan Sivia masih terdiam di ambang pintu. Sebentar… ada yang aneh dengan gudang ini!
Tes. Tes.
Eh!? Apa itu? Aku terbelalak. Itu…. darah!? Iya! Darah! Warna merahnya, itu merah darah!
Aku dan Via saling berpandangan, lalu mata kami mengarah ke atas, ke langit-langit gudang ini.
Tes.
Setetes darah menetes kembali. Aku menelan ludah dengan berat. Di atas sana, ada sebuah tangan yang menjuntai, darah segar masih saja mengalir hingga ke kuku jari tangan yang akhirnya tertarik gravitasi.
“Shill, sudah baikan? Yuk! Lagipula, kenapa kamu ke sini?”
“Aku tidak tahu, Chia. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk ke sini!”jawabnya.
Ya! Aku mendengar jawaban Shilla. Oke! Ini cukup menjawab pertanyaanku tentang mengapa-Shilla-ada-disini? Aku melirik ke arah Via. Gadis itu tersenyum.
“Halusinasi dan tipuan.”
Aku mengabaikan gumaman tak jelas dari Via, anak indigo itu. Seperti biasa, pikirku. Kemudian aku kembali melihat Chia sedang membalikkan badannya sambil membantu Shilla berdiri.
Tes. Satu tetes darah lagi.
“Kyaaaa!!”Chia langsung berlari ke arah kami berdua, sedangkan Shilla hanya berjalan pelan.
“I…itu apa, Fy…? Huhuhu… hiks!” Aku mengangkat kepala Chia yang sedang memelukku. Ya, dia menangis.
“Itu darah tiruan!”gumam Via seraya mencolek tetesan darah yang telah berkubang di lantai, kemudian ia menjilatnya.
“Pewarna, lagipula itu sepertinya boneka!”lanjutnya yakin. Aku memandang tangan itu lagi. Ya! Memang terlihat nyata tapi terlalu kaku untuk ukuran mayat manusia. Tiba-tiba Shilla datang dengan membawa tongkat panjang. Ia langsung menyogok tangan itu dan…
Bruk.
“Aaaa!”
Benda itu terjatuh, yang dibarengi pula dengan pekikan keras dari Chia. Aku bernafas lega. Bukan tangan asli, itu hanya boneka tangan manusia. Sivia mengambil potongan tangan itu lalu mengarahkannya padaku.
“Ini tiruan! Ahahaa….”
“Siapa sih yang jahil?”sungut Chia seraya menghapus air matanya. Aku tertawa kecil. Dasar penakut! batinku.
Tap.
“Siapa yang berteriak? Kenapa kalian di sini?”
Kami berempat terdiam, suara bariton itu milik…
Mr. Jonathan.
*****
Aku menggosok wastafel dengan sikat, jengkel. Sial! Kami dihukum oleh Mr.Jonathan karena telah membolos. Chia dan Shilla gaduh di dalam toilet, karena mereka kebagian membersihkan kloset. I-yuh!
Sivia yang dapat jatah mengepel lantai, malah asyik memandang cermin, dengan tatapan kosong.
“Udah, Vi… kerja dulu!”peringatku tanpa mengalihkan pandanganku dari wastafel putih yang mulai menguning itu.
“Di samping kamu….”
Deg. Sejenak aku merasakan jantung berhenti berdetak. Aku mengangkat kepala, menatap Sivia lalu tertawa kecil.
“Ada apa?”
“Perempuan, memakai seragam Cleotirta, berambut panjang, dia… bilang sesuatu,”lirihnya.
Alisku bertaut. Sudah dijamin, anak indigo itu selalu bertingkah aneh.
“Angel? Apa?” tanya Sivia ke… Angel? Aku menegakkan tubuhku lalu menengok ke kanan dan ke kiri.
“Angel? Mana, Vi?”
Tiba-tiba Sivia mengambil cutter dari tas selempangnya lalu mendekatkan benda tajam itu ke jari telunjuknya hingga darah segar miliknya mulai keluar.
“Eh!? Mau apa, Vi?” tanyaku khawatir. Sivia bergeming. Gadis itu malah sibuk menulis di cermin.
“I… ni... buk… bukan… sa… lah... para… han... tu? Maksudnya?” tanyaku kebingungan. Sivia meraih tissue dari tasnya lalu melihat hasil ‘karyanya’ di cermin dan tersenyum yakin.
“Ini hanya…. teror!”
*****
Malamnya, kami memutuskan menuju kamar Mr. Jonathan untuk mencari clue. Tak sopan, ya? Hah!? Persetan dengan itu! Sepertinya Mr.Jonathan sering keluar malam. Ya! Sejenis makhluk nocturnal mungkin?
Karena senter Chia dan Sivia kehabisan daya baterainya, akhirnya penerangan kami hanya dua senter dan satu lilin. Ya! Paling tidak, jalan yang kami lalui tak terlalu gelap. Oh iya! Shilla kenapa tidak ikut ya malam ini? Ah! Mungkin dia kelelahan.
Aku memutar kenop pintu kamar Mr. Jonathan perlahan-lahan. Terbuka! Bodoh sekali penjaga sekolah itu! Kenapa kamarnya tak dikunci? Sivia pun mulai meraba-raba tembok untuk mencari
saklar lampu.
Ceklek.
Gelap.
Ceklek. Ceklek.
Masih gelap.
“Lampunya rusak!”ucap Via sambil mulai berjalan mengelilingi kamar Mr.Jonathan dengan penerangan seadanya.
Aku pun juga mulai mencari. Sasaranku sekarang pada laci meja yang ada di samping kasur Mr.Jonathan. Aku menarik pegangan laci itu. Ternyata ada sebuah kantong plastik. Aku lalu membuka isi kantong plastik itu. Isinya ada empat benda yang berbeda: sebotol sirup jagung, sebotol pewarna makanan berwarna merah, sebungkus tepung kanji, dan sebotol pewarna makanan berwarna biru.
Tanda tanya besar mulai tercipta di otakku, bahan-bahan ini seperti…. cara membuat darah?
“AAAAA!!”
Karena terburu-buru, aku mengambil salah satu dari keempat benda itu lalu menatap Sivia dan Chia bergantian.
“SHILLA!”
Kami pun langsung berlari keluar. Tentunya tak lupa merapikan kamar Mr.Jonathan. Di koridor, tak sengaja Chia menabrak tukang kebun asrama dan sekolah kami, Mr. Alvin.
“Maaf,” lirihnya ketakutan.
Aku mendecak kesal. Akhirnya, dengan terpaksa aku menarik tangan Chia setelah Mr.Alvin pergi.
“Eh! Fy, aku menemukan kertas!!”teriak Chia kemudian, tapi aku abaikan. Karena apa? Karena yang aku pikirkan cuma satu!
Shilla.
Akhirnya, kami sampai di depan kamar Shilla. Dengan nafas yang terengah-engah, aku mencoba mendorong pintu kayu kamar Shilla perlahan, tak terkunci! Sepertinya ada yang masuk
sebelum kami. Aku mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Cahaya bulan yang memasuki celah-celah kamar Shilla menjadi penerangan utama kami. Di mana alat penerangan yang kubawa tadi? Oh iya! Aku pasti meninggalkannya tadi, sedangkan Chia dan Sivia pasti reflek menjatuhkan benda itu.
Aku kembali serius melihat sesuatu yang ada didalam kamar Shilla. Sejenak, tengkuk leherku serasa meremang. Ada… bayangan berbentuk manusia yang bergoyang. Bayangan bergoyang itu…
“Shilla?”
*****
To be continue..
By: Indria Persittamaia (kelompok 3)
Komentar
Posting Komentar