The Doom Enigma -part 4-
***
Shilla tak mungkin melakukan ini!! Tak mungkin… tak mungkin!! Tuhan, bangunkan aku dan katakan ini semua hanya mimpi!! Semalam, kami menemukan Shilla atau lebih tepatnya jasad Shilla yang tergantung di langit-langit kamar. Ya… ia bunuh diri. Atau setidaknya, itu hanya anggapan kepala sekolah kami yang sangat sok tahu akan segalanya itu. Bisa kulihat di wajah lelaki paruh baya itu, terdapat kilatan kecemasan dalam matanya. Dia bukannya mengkhawatirkan Shilla, melainkan mengkhawatirkan Cleotirta yang mungkin saja akan segera runtuh bersamaan dengan kepulangan para siswa setelah ini. Memangnya kami tak tahu? Meskipun demikian, tak akan ada siswa yang berani keluar dari asrama ini. Mereka takut… menjadi korban… selanjutnya! Tapi bagaimana dengan Shilla? Apakah dia berusaha keluar dari asrama itu? TIDAK!!! Lantas? Oh ya, aku lupa… ia bunuh diri. Mengapa Shilla?? Mengapa kau bisa melakukan perbuatan sepengecut itu?? Apa mungkin, sang peneror itu mendatanginya malam tadi dan.. Oh, Lord….
“Fy…,” panggil Sivia pelan. Aku tersentak dari lamunanku. Aku menoleh ke arah Sivia. Matanya sembab dan merah. Kurasa ia habis menangis. Ya… kami semua menangis. Shilla adalah siswa yang baik, pintar, dan ramah. Tak heran bila satu sekolah merasa sangat kehilangan atas kepergiannya.
“Yah… paling tidak, mungkin Shilla sedang bersama Angel sekarang,” kataku lirih. Aku menatap ke arah langit biru dari jendela kamarku, berharap Shilla dan Angel muncul di sana dan melambaikan tangan ke arahku. Haha… sinetron sekali bukan?
“Hiks… aku lelah dengan semua ini, Fy! Aku lelah dengan kutukan ini!!” jerit Chia tertahan. Wajahnya ia sumpal dengan bantal di kamar kami. Ya, kami tak perlu sekolah hari ini. Bisa ditebak. Sekarang hari Minggu. Setidaknya hal ini membuatku sedikit lebih baik. Aku tak tahan melihat wajah-wajah kelabu seluruh penghuni sekolah. Melihat Chia dan Sivia saja cukup membuatku gila.
“Aku… ke toilet,” kataku pelan. Tanpa menunggu jawaban dari kedua temanku, aku langsung bergegas pergi menuju toilet yang terletak di samping kamar kami.
“Whuuush….” Bulu kudukku meremang. Toilet ini gelap sekali. Lampunya mati, kurasa. Hah, Sial! Sedikit tergesa aku membuka keran wastafel dan mencuci wajahku, berusaha menghilangkan noda lengket di wajahku. Aku memandang cermin di depanku. Mendadak aku teringat dengan kisah-kisah hantu di cermin. Menampilkan bayangan mereka dan… whush… terbunuhlah aku. Aku merinding ketakutan. Entah kenapa atmosfer toilet ini benar-benar membuatku merinding. Mungkin saja toilet ini adalah markas para hantu itu dan mereka mendadak muncul dan membunuhku. Ah… bodoh!! Apa sih yang kaupikirkan, Fy?
“Krieet….” Bunyi khas derit pintu terdengar saat kubuka pintu toilet yang engselnya mulai berkarat itu dan mungkin dengan sekali tendang pintu itu akan rubuh. Tak mau berlama-lama lagi di depan toilet gelap dan lembab itu, aku segera berlari menuju kamarku. Tapi… hei, ada apa ini? Mengapa kakiku tak dapat berhenti? Kamarku sudah terlewat. Hei! Kakiku membawaku menuju… kamar Shilla??
****
Jantungku berdegup. Kamar Shilla. Ya… di sinilah! Aku melihat ke sekitarku. Kosong, tak ada siapa pun. Perlahan kusentuh pegangan pintu kamar yang tertutup dan… tak terkunci! Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya, aku tidak harus kembali berlari menuju kamarku dengan sia-sia. Aku melangkahkan kakiku memasuki kamar Shilla. Sedikit aneh karena aku belum pernah menjelajah ruangan kosong sendiri seperti sekarang ini, kecuali saat malam itu, malam setelah Kat kecelakaan. Ah ya… bagaimana kabar gadis itu ya?
“Srakk….” Hampir aku menjerit kalau bukan segera melihat seekor tikus yang berlari melewatiku. Kamar Shilla masih berantakan. Ada sedikit bercak darah di sana, membuatku sedikit merinding ketakutan.
“Whuuush….” Semilir angin yang menerobos melewati jendela kembali menerpa wajahku, membuat rambutku sedikit berantakan. Tapi tak kupedulikan itu. Aku sedikit berlutut di depan ranjang Shilla. Ya, tepat di sinilah Shilla menggantung dirinya sendiri. Aku menggigit bibirku keras hingga membuatnya sedikit berdarah. Suasana kamar yang sangat sepi membuat perasaanku tak enak dan ingin segera berlari meninggalkan kamar ini. Tapi segera kuabaikan perasaan itu. aku mencari petunjuk. Ya… mungkin saja sebelum meninggal ia menuliskan sebuah petunjuk. Seperti dalam cerita Harry Potter, saat Hermione menuliskan kata ‘pipa’ sebelum ia membatu. Ah, ya… harapanku sia-sia. Aku tak menemukan apa pun. Oh, hebat! Yang kutemukan hanya diary coklat itu, yang diletakkan dengan hati-hati oleh Shilla di laci mejanya. Aneh. Kurasa ini hanya diary biasa. Mengapa tak ia buang saja diary ini? Kecuali kalau diary ini memiliki kisah yang cukup menarik. Ya… sebenarnya aku tak dapat melihat apa menariknya si Nathan dengan perasaan cemburunya yang meluap-luap itu. Aku hampir membuka halaman pertama diary itu hingga sebuah tangan halus menepuk bahuku.
“Kyaaa...”
“Astaga… kalian mengagetkanku!!” umpatku kesal pada Sivia dan Chia yang sedang terkikik geli di hadapanku.
“Kalian ini, benar-benar deh! Bagaimana kalau aku mati karena terkena penyakit jantung??” kataku sengit sembari membetulkan kacamataku yang sedikit melorot.
“Hehe… maaf deh! Habis kamu tadi kita cari di toilet gak ada. Makanya kita panik dan mencari ke sini,” kilah Chia.
“Menemukan sesuatu??” tanya Sivia. Aku menunjukkan diary itu.
“Hanya ini,” kataku singkat. Kulihat Chia mendesah kecewa.
“Oh iya… aku lupa kertas itu,” kata Chia sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku roknya.
“Hei, kenapa kau tak bilang dari tadi??” gerutuku. Chia merengut.
“Sudah kukatakan kemarin tapi kau tak mendengarnya karena…” Chia tak melanjutkan kata-katanya. Ia menundukkan kepalanya. Chia kembali terisak, dadanya naik turun.
“Ah, sudahlah…. Coba kulihat,” kata Sivia sambil mengambil kertas itu dari tangan Chia sebelum Chia menghancurkannya dengan menggunakannya sebagai tissue.
“Hilangkan rasa yang disebut pembunuh sejati,” gumamku lirih. Aku dan Sivia berpandangan. Kulirik Chia yang tampak kebingungan menatap tulisan itu.
“Rrr… rasa yang membunuh.... Marah??” tebak Chia. Sivia menggeleng.
“Kurasa bukan… err, rasa… sedih??” tebakku. Aku tak pasti juga dengan jawabanku. Ya… terkadang kan orang bisa melukai diri sendiri karena rasa sedih itu.
“Mungkin… rasa ingin tahu?? Well, biasanya orang mati karena rasa ingin tahu mereka. Menyelidiki sesuatu yang tak jelas, seperti kita sekarang,” tutur Sivia.
“Brilian!!!!” seruku dan Chia bersamaan. Tapi kami segera menutup mulut kami, memperkecil kemungkinan kami ditemukan oleh seseorang.
“Lantas… err, kita harus… menghilangkan rasa ingin tahu kita? Dengan kata lain, kita harus berhenti menyelidikki misteri ini??” tanya Chia. Sivia hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Ukh… menyebalkan!!” umpatku marah. Hei, kami sudah sampai sejauh ini. dan mungkin kami sudah hampir terbunuh karena itu. Sekarang, sang pengirim pesan itu dengan enaknya menyuruh kami berhenti? Haha… tak usah ya!!
Baru saja kami akan berdebat mengenai langkah selanjutnya saat suara khas deritan pintu terdengar di telinga kami.
“Krieeeet..”
“Mr. Alvin??” pekik kami tertahan. Mr. Alvin menatap kami galak.
“Kalian… apa yang kalian lakukan di sini??” tanya Mr Alvin dingin. Kami diam saja. Jantungku berdegup.
“Err… mengenang… Shilla…,” jawab Chia. Aku dan Sivia hanya mengangguk tanda setuju dengan alasan Chia. Mr. Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil menghunuskan sapunya, ia membentak-bentak kami seakan kami adalah pencuri berlian milik Ratu Victoria.
“Sekarang, keluar!! Kembali ke kamar kalian!!” serunya. Kami hanya merengut ke arahnya dan berjalan keluar kamar Shilla.
“Dasar tukang kebun bodoh!!” umpat Chia. Aku mengacungkan ibu jariku padanya tanda setuju.
“Ya, lagipula… apa yang dia lakukan di kamar Shilla coba, membersihkan kamarnya?? Bodoh…,” timpalku.
“Ya. Aneh ya, padahal kan ada Matron yang memang bertugas membersihkan sekolah,” kata Sivia. Matron adalah julukan untuk pengawas asrama yang bertugas untuk mengobati siswa, membersihkan kamar siswa dan… ya kau tahulah.
“Huft… jadi, apa yang akan kita lakukan??” tanya Chia. Kami berjalan menyusuri koridor asrama, hampir menuju luar asrama.
“Srak… srak….” Langkahku terhenti. Aku memberi isyarat pada Chia dan Sivia untuk berhenti.
“Apa?” tanya Sivia.
“Sst… dengar!” kataku sambil menempelkan telapak tanganku pada telingaku.
“Srak… srak….”
“Pasti itu si Jona,” kata Chia santai sambil menunjuk ke arah taman sekolah, tepatnya di balik pohon akasia besar.
“Kenapa tak bilang dari tadi, Bodoh!! Ayo sembunyi sebelum ia melihat kita!!” pekikku tertahan. Kami langsung melompat menuju semak-semak.
“Apa yang dia lakukan??” tanya Sivia heran. Aku hanya mengangkat bahu heran. Tubuh Mr. Jonathan tertutup oleh semak-semak di depanku dan aku tak mau ambil resiko ketahuan oleh ‘monster’ itu jika aku sedikit menyembulkan kepalaku. Jarak Mr. Jonathan dan semak-semak tempat persembunyian kami terlalu dekat.
“Ih, nyamuk nakal!” pekik Chia sambil memukul tangannya sendiri.
“Ssst…,” desis Via sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Chia segera membekap mulutnya sendiri sambil menggumamkan kata maaf. Aku menghembuskan napas panjang. Sepertinya percuma kami disini. Percuma juga mengintai kelakuan sinting Mr. Jonathan.
“Sudahlah, kembali saja yuk!” ajakku. Chia dan Sivia mengamini ajakanku, karena selain Mr. Jonathan yang sudah pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya yang entah apa itu –belum kami ketahui–, nyamuk-nyamuk ganas di sana juga sudah mulai menghisap darah kami sehingga menimbulkan benjolan-benjolan merah di tangan kami.
“Tanganku tertusuk duri,” keluh Chia sambil menunjukkan lengannya yang sedikit tergores.
“Rrgh..” Kami berhenti berjalan. Sekali lagi kami saling berpandangan. Jika telingaku tak salah mendengar, aku seperti mendengar suara erangan.
“Jangan…!” Suara itu terdengar lagi. Aku memegang tengkukku halus. Aku lalu melihat berkeliling. Suara itu berasal dari Kantor Mr. Krisna, kepala sekolah kami.
“Ada apa dengan Mr. Krisna??” tanya Chia heran. Sivia hanya diam sambil memandang ruangan itu tajam.
“Hei, Sivia! Kau melihat sesuatu??” tanyaku iseng. Sivia segera tersentak dan menggeleng. Ia mengibaskan poninya gugup.
“Ah, sudahlah… tak usah mengganggu,” kata Sivia sambil berjalan cepat menuju bangunan asrama kami. Aku dan Chia hanya berpandangan heran.
“Mungkin Pak Krisna tidur, lalu dia bermimpi buruk.” kata Chia penuh keyakinan. Aku hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti lalu mengikuti Sivia memasuki asrama.
*****
“Hei, apa mungkin semua itu ulah… Mr. Jonathan?” tanya Chia malam harinya, saat kami semua sedang berkumpul di ruang belajar.
“Sst… kecilkan sedikit volume suaramu!” kataku sambil memukul kepala Chia pelan menggunakan buku science yang sedang kubaca. Chia kembali membekap mulutnya dan tersenyum simpul pada Acha dan Keke yang sedang menatap kami heran.
“Hehe… maafkan aku! Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Chia.
“Yah… mungkin. Bagaimana menurutmu, Vi??” tanyaku pada Sivia yang sedang sibuk dengan tugasnya. Via meletakkan pensil yang sedari tadi ia gunakan untuk mengerjakkan soal-soal matematika dengan asal.
“Mm… ya… dari hasil penyelidikan kita… kulihat memang semua petunjuk mengarah pada Mr. Jonathan,” kata Sivia pelan. Chia menepuk lenganku keras dan menepuk dadanya sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan mengacuhkannya. Perhatianku kembali terfokus kepada Via yang sepertinya akan melanjutkan kata-katanya.
“Tapi….” Belum sempat Sivia melanjutkan kata-katanya, Mr Krisna memasuki ruang belajar. Wajahnya pias seperti ketakutan. Dia berdehem kecil untuk menarik perhatian para siswa.
“Sebaiknya… kalian segera kembali ke kamar kalian,” perintah Mr Krisna. Kami semua mengernyitkan dahi heran. Sekarang masih pukul 19.00 sedangkan waktu tidur masih pukul 21.00.
“Tapi Mister Krisna, bukankah ini lebih cepat dua jam dari waktu tidur kita?” tanya Camilia, salah satu siswa XII.
“Ini perintah!! Cepat bereskan barang-barang kalian dan kembali ke kamar kalian! Tak usah banyak bertanya dan… Cepat!!!” kata Mr Krisna galak. Kami mengeluh dalam hati sambil membereskan barang-barang kami. Aku sendiri membereskan cemilan dan buku-bukuku. Tak lupa kukantungi satu pack kartu yang tadinya ingin kugunakan untuk bermain bersama setelah belajar dengan Chia dan Sivia.
“Huh… sekolah ini benar-benar menyebalkan!” keluh Chia kesal. Aku tersenyum miring membenarkan ucapannya.
“Tahu nggak? Aku rasa petualangan kita seperti dalam novel Harry Potter ya?” kata Chia.
“Kepala sekolah menyebalkan, penjaga sekolah mencurigakan, siswi yang ketakutan… persis Hogwarts saat diteror oleh Voldemort,” lanjutnya lagi.
“Jadi maksudmu, akan ada seorang anak lelaki dengan bekas luka dan sepasang mata hijau cemerlang yang akan menyelamatkan kita di asrama Cleotirta?” tanyaku sedikit meledek.
“Tentu saja tidak! Yang benar saja! Maksudku, penyelamatnya itu adalah… kita!!” tukas Chia sambil merangkul Via dan aku dengan cepat sampai-sampai kakiku terantuk ambang pintu dan hampir terjerembab karenanya.
“Chia, hati-hati!!” omelku. Chia membentuk tangan kanannya menjadi lambang ‘V’ pertanda ia meminta maaf. Aku melengos.
“Hati-hati, Vi!! Sampai jumpa!!” kataku pada Sivia yang beranjak pergi menuju kamarnya. Ya, Sivia memang tidak sekamar dengan kami. Kamarnya terletak di ujung asrama. Tidak terlalu jauh memang. Tapi mungkin sedikit menyeramkan melewati lorong gelap itu sendirian.
“Fyuh… aku lelah, terutama dengan semua kejadian ini,” kata Chia sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
“Tidurlah! Nanti kita terlambat jika kau tak segera tidur,” kataku. Chia mencibir.
“Bukankah kamu yang biasanya membuat kita terlambat?” balasnya. “Tapi, selamat malam!” lanjutnya lagi. Tak berapa lama gadis itu sudah terlelap. Aku memandang wajah Chia yang sedikit samar. Ya, lampu kamar sudah dimatikan dan hanya sinar rembulan yang menerangi kamar ini. Aku terduduk di tepi ranjangku memandangi kertas yang ditemukan Chia kemarin. Huh, apa maksudnya? Menyuruh kami berhenti menyelidiki misteri ini dan menemukan teman kami satu-persatu terbunuh? Ya Tuhan….
“Haah….” Aku menghela napas berat. Andai Kat tidak mengalami kecelakaan. pasti semua akan menjadi lebih baik. Kat, aku rindu…. Tadi aku menelepon orang tua Kat. Ibu Kat bilang bahwa keadaan anaknya sudah membaik. Hanya saja Kat sepertinya mengalami sedikit trauma. Kasihan sekali sahabatku itu!
“Duk.. Duk….” Baru saja akan kupejamkan mataku saat aku mendengar suara ribut dari luar. Aku memandang keluar jendela, sedikit menimbang-nimbang. Apakah aku harus menengok ke sana dan memastikan atau…? Ah sudahlah! Persetan dengan suara itu! Bagaimana jika mendadak sang peneror itu muncul dari balik jendela itu dan… membunuhku?
“Glek….” Aku menelan ludah gemetar. Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Apa mungkin peneror itu ada di luar? Sedang membunuh salah satu siswa di sini dan memakunya di atas pohon. Ah, Ify! Jangan berpikir yang macam-macam! Ini bukan film horor. Meski begitu, aku menyibakkan selimut tipisku dan duduk di tepi ranjangku. Mendadak tenggorokanku kering. Aku mencari-cari sandalku di kolong ranjangku dan berjalan menuju dispenser kecil di pojok ruangan.
“Tok… tok….” Aku melirik pintu kamarku. Tanganku yang tadinya sudah bersiap untuk menyambar gelas mendadak membeku. Jangan-jangan sang peneror itu, yang akan membunuhku atau Chia. Atau lebih parah… kami berdua. Dengan gemetar, aku memegang gagang pintu itu. Logam dingin dari gagang pintu itu terasa menyetrumku.
“Tok… tok….” Sekali lagi pintu diketuk. Aku menarik napas pelan. Berpikir positif Ify…. Mungkin itu bukan sang peneror itu tapi… Mr Jonathan yang…. Uh! Jika itu Mr. Jonathan kenapa tak sebaiknya aku mati saja sebelum penjaga sekolah itu memukulku dengan cangkulnya atau mencongkel kedua mataku dengan linggis berkaratnya itu? Argh….
“Cklek….” Aku memutar gagang pintu kamarku. Sedikit memejamkan mataku dan berdoa semoga dia bukan sang peneror atau pun Mr. Jonathan. Haha… lalu siapa yang kau harapkan Ify? Bloody Mary?
“Ify….” panggilnya. Aku menghembuskan napas lega. Untunglah hanya Sivia. Huh! Untuk apa tadi aku bersikap seperti orang bodoh? Kurasa tadi aku sama bodohnya dengan anak kecil yang mempercayai bahwa ada monster jahat pembunuh anak-anak yang bersarang di giginya.
“Sivia, kau hampir membuatku mati lemas.” bisikku. Sivia hanya meringis sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Maaf, aku hanya… perasaanku tak enak,” gumam Sivia.
“Oh… berarti kau mendengar bunyi gaduh dari luar?” tanyaku. Sivia mengangguk.
“Kau mendengar juga rupanya? Untunglah kau belum tidur,” kata Sivia.
“Mana bisa aku tidur jika sang peneror itu sedang berkeliaran di sekitar asrama dan bisa membunuh kita kapan saja,” kataku.
“Yah, kau mau menyelidiki hal itu kembali? Entahlah… perasaanku mengatakan kita harus menyelidiki hal ini malam ini,” tutur Sivia. Aku mengangguk setuju.
“Tentu saja! Perlukah kita bangunkan Chia?” tanyaku sambil menunjuk Chia yang kelihatannya sedang tertidur lelap.
“Kurasa jangan. Aku tak mau mengganggunya,” jawab Sivia. Aku pergi menuju mejaku, mengambil senter dan sweater abu-abu kesayanganku. Aku lalu kembali menghampiri Sivia.
“Yuk!!” bisikku. Baru saja kami akan menutup kembali kamarku saat suara sengau Chia terdengar dari dalam.
"Hei, kalian mau kemana??” tanya Chia buru-buru berlari ke arah kami. Wajahnya masih terlihat setengah sadar.
“Menyelidiki sekolah ini lagi. Kau mau ikut? Atau sebaiknya kau tidur lagi saja di dalam,” kataku.
“Dan membiarkan Mr. Jonathan masuk ke sini dan membunuhku? Tidak, terima kasih!! Aku Ikut!!” kata Chia tegas.
“Jangan asal menuduh deh! Kan belum tentu Mr. Jonathan adalah sang peneror itu,” tukasku. Chia melengos.
“Oh ya? Apa semua bukti itu belum jelas?” tanya Chia datar.
“Ya, sepertinya aku setuju dengan Chia,” kata Sivia pelan. Chia menjulurkan lidahnya ke arahku setelah mendengar penuturan Sivia.
“Ya baiklah, aku menyerah. Ayo!!” kataku sambil berjalan mendahului mereka.
“Brr… dingin….” keluh Chia sambil memeluk tubuhnya yang masih hanya berbalut piyama biru laut bergambar tengkorak kecil di depannya.
“Salahmu sendiri tidak memakai sweater tadi,” kataku ketus. Chia hanya meringis kecil.
“Aku kan buru-buru….” kilahnya. “Aduh, hati-hati dong, Via,” katanya lagi karena ia menabrak Sivia yang mendadak berhenti.
“Ada apa, Vi?” tanyaku. Perasaanku tak enak, terlebih Sivia berhenti tepat di depan ruangan Mr. Krisna. Sekali lagi terdengar erangan-erangan menyeramkan dari ruangan itu.
“Ada apa sih dengan Mr. Krisna??” tanya Chia was-was. Tubuhnya gemetar ketakutan.
“Mu… mungkin dia bermimpi lagi. Kudengar Mr. Krisna pernah memiliki kenangan buruk. istrinya meninggal secara misterius. Mungkin hal itu membawa trauma yang dalam bagi Mr. Krisna,” jelasku panjang lebar.
“Tak heran istrinya meninggal,” gumam Chia. “Siapa yang tahan memiliki suami seperti itu? Aku pasti sudah bunuh diri dari dulu jika aku menjadi istrinya,” kata Chia menanggapi ucapanku.
“Ssst…. Jangan mengganggu! Ayo pergi!!” kata Sivia sambil kembali pergi, mempercepat langkahnya. Kami mengikutinya, meski sedikit takut, terutama dengan kata-kata “ jangan mengganggu. Seakan-akan Mr. Krisna sedang melakukan ritual aneh seperti yang biasa dilakukan oleh para pemuja setan. Aku kembali merinding. Mungkin karena angin kecil yang berhembus di tengkukku. Dengan cepat kulebarkan langkah kakiku agar berjalan sejajar dengan Sivia.
“Hei, mau kemana kita?” tanyaku. Sivia menunjuk ke arah gudang. Chia memegang tanganku erat.
“Apa kita akan masuk ke dalam gudang?” tanya Chia gemetar. Sivia diam saja. Aku mulai bosan dengan sikap misterius Sivia.
“Ya, mungkin… atau ke kamar….” Sivia tak melanjutkan kalimatnya. Matanya melihat ke arah kamar Mr. Jonathan yang terletak tak terlalu jauh dari gudang itu.
“Ide bagus, sebaiknya kita ke kamar Mr. Jonathan,” kata Chia.
“Aku yakin dia sang peneror itu,” lanjutnya lagi. Ia menggamit lengan Sivia dan mereka berjalan menuju kamar Mr. Jonathan. Tapi tidak denganku, aku hanya memandang mereka dari kejauhan, tepat di depan gudang. Entah mengapa, aku tergoda untuk kembali masuk ke dalam gudang itu. Memberanikan diri, aku mendorong pintu kayu gudang yang sudah mulai lapuk. Tak terkunci. Untunglah.
Perlahan kulangkahkan kakiku menuju gudang. Sedikit terbatuk karena debu yang berterbangan saat tak sengaja aku menyenggol sarang laba-laba di dekat situ. Aku melihat keadaan gudang. Setidaknya tidak terlalu menyeramkan seperti kemarin, tidak ada darah atau pun bagian tubuh manusia palsu yang tertempel di langit-langit.
“Tap… tap…” Aku menengok ke belakang dengan was-was. Entah memang perasaanku saja atau memang benar, sepertinya seseorang sudah menyadari keberadaanku dan mengawasiku. Atau menunggu saat yang tepat saat aku lengah dan menyerangku, menusuk perutku dengan pisau atau menebas kepalaku. Ya ampun Ify, mengapa kau senang sekali membayangkan hal-hal menyeramkan seperti itu di saat seperti ini sih??
Aku menghindari ngengat kecil yang terbang keluar gudang. Huft… untunglah itu hanya ngengat. Tak bisa kubayangkan jika itu kelelawar. Mataku kemudian tertuju pada sebuah kertas kecil di atas meja sekolah yang hampir lapuk dimakan rayap. Aku menyalakan senterku yang memang sengaja tak kunyalakan agar tak terlalu menarik perhatian untuk membaca tulisan itu.
“Sudah kukatakan, buang rasa itu atau kau akan terbunuh. Tunggu ajalmu sebentar lagi!”
Deg!! Jantungku berdegup kencang. Oh God, kenapa aku bersikap sangat sok tahu dengan mengambil jalan dari kedua teman-temanku. Setidaknya bila Mr. Jonathan ada di kamarnya dan bersiap membunuh kami, aku tak sendirian. Kami bisa saling membantu dan melawan Mr. Jonathan. Tapi kini? Aku sendirian. Bagaimana jika sang peneror itu datang dan membunuhku. Atau lebih menyeramkan lagi, sang peneror itu menyiksaku terlebih dahulu lalu menyembunyikan mayatku di balik tembok sehingga aku tak dapat beristirahat dengan tenang. Mama… aku takut!!
“Sudah kukatakan sebelumnya bukan, nona Ify??” Baru aku akan memanjatkan doa kepada Tuhan, suara berat dari depanku sudah datang. Tuhan, inikah malaikat mautku? Keringatku mengalir deras. Aku memejamkan mataku ketakutan.
“Jika kau dan kedua temanmu yang sangat sok tahu itu mengikuti nasihat dariku mungkin sekarang kalian sudah tidur nyenyak di kamar kalian masing-masing,” katanya lagi. Aku gemetar. Terlebih karena aku tak dapat memastikan siapa pemilik suara itu. Kurasa ia menutup mulutnya dengan sapu tangan untuk mengubah suaranya.
“Selamat menemui ajalmu, Nona!!” katanya sambil mengangkat parangnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku, membayangkan rasa sakit yang akan kualami nanti.
“Brukk!!!” Aku terlonjak kaget. Karena orang itu mendadak ambruk, dengan terpal besar yang menimpa tubuhnya.
“We Got It, Vi!!” Aku menghembuskan napas lega melihat Chia yang berseru nyaring sambil ber -high five dengan Sivia.
“Dasar sok tahu!!” kata Chia sambil menoyor kepalaku. Aku tak marah dengan perlakuannya. Hanya meringis dan mengerjapkan mataku, berharap agar air mataku tak segera tumpah. Sivia mengawasi orang itu, kalau-kalau ia terbangun dan menyerang kami.
“Bagaimana kalian bisa disini?” tanyaku.
“Oh, ceritanya panjang,” kata Sivia sambil memandang ke arah sang peneror yang masih terbungkus oleh terpal milik Chia dan Sivia itu.
“Nah, sekarang, mengakulah Mr…!!”
*****
To Be Continued..
By: Audrie Ghaissani (kelompok 3)
Shilla tak mungkin melakukan ini!! Tak mungkin… tak mungkin!! Tuhan, bangunkan aku dan katakan ini semua hanya mimpi!! Semalam, kami menemukan Shilla atau lebih tepatnya jasad Shilla yang tergantung di langit-langit kamar. Ya… ia bunuh diri. Atau setidaknya, itu hanya anggapan kepala sekolah kami yang sangat sok tahu akan segalanya itu. Bisa kulihat di wajah lelaki paruh baya itu, terdapat kilatan kecemasan dalam matanya. Dia bukannya mengkhawatirkan Shilla, melainkan mengkhawatirkan Cleotirta yang mungkin saja akan segera runtuh bersamaan dengan kepulangan para siswa setelah ini. Memangnya kami tak tahu? Meskipun demikian, tak akan ada siswa yang berani keluar dari asrama ini. Mereka takut… menjadi korban… selanjutnya! Tapi bagaimana dengan Shilla? Apakah dia berusaha keluar dari asrama itu? TIDAK!!! Lantas? Oh ya, aku lupa… ia bunuh diri. Mengapa Shilla?? Mengapa kau bisa melakukan perbuatan sepengecut itu?? Apa mungkin, sang peneror itu mendatanginya malam tadi dan.. Oh, Lord….
“Fy…,” panggil Sivia pelan. Aku tersentak dari lamunanku. Aku menoleh ke arah Sivia. Matanya sembab dan merah. Kurasa ia habis menangis. Ya… kami semua menangis. Shilla adalah siswa yang baik, pintar, dan ramah. Tak heran bila satu sekolah merasa sangat kehilangan atas kepergiannya.
“Yah… paling tidak, mungkin Shilla sedang bersama Angel sekarang,” kataku lirih. Aku menatap ke arah langit biru dari jendela kamarku, berharap Shilla dan Angel muncul di sana dan melambaikan tangan ke arahku. Haha… sinetron sekali bukan?
“Hiks… aku lelah dengan semua ini, Fy! Aku lelah dengan kutukan ini!!” jerit Chia tertahan. Wajahnya ia sumpal dengan bantal di kamar kami. Ya, kami tak perlu sekolah hari ini. Bisa ditebak. Sekarang hari Minggu. Setidaknya hal ini membuatku sedikit lebih baik. Aku tak tahan melihat wajah-wajah kelabu seluruh penghuni sekolah. Melihat Chia dan Sivia saja cukup membuatku gila.
“Aku… ke toilet,” kataku pelan. Tanpa menunggu jawaban dari kedua temanku, aku langsung bergegas pergi menuju toilet yang terletak di samping kamar kami.
“Whuuush….” Bulu kudukku meremang. Toilet ini gelap sekali. Lampunya mati, kurasa. Hah, Sial! Sedikit tergesa aku membuka keran wastafel dan mencuci wajahku, berusaha menghilangkan noda lengket di wajahku. Aku memandang cermin di depanku. Mendadak aku teringat dengan kisah-kisah hantu di cermin. Menampilkan bayangan mereka dan… whush… terbunuhlah aku. Aku merinding ketakutan. Entah kenapa atmosfer toilet ini benar-benar membuatku merinding. Mungkin saja toilet ini adalah markas para hantu itu dan mereka mendadak muncul dan membunuhku. Ah… bodoh!! Apa sih yang kaupikirkan, Fy?
“Krieet….” Bunyi khas derit pintu terdengar saat kubuka pintu toilet yang engselnya mulai berkarat itu dan mungkin dengan sekali tendang pintu itu akan rubuh. Tak mau berlama-lama lagi di depan toilet gelap dan lembab itu, aku segera berlari menuju kamarku. Tapi… hei, ada apa ini? Mengapa kakiku tak dapat berhenti? Kamarku sudah terlewat. Hei! Kakiku membawaku menuju… kamar Shilla??
****
Jantungku berdegup. Kamar Shilla. Ya… di sinilah! Aku melihat ke sekitarku. Kosong, tak ada siapa pun. Perlahan kusentuh pegangan pintu kamar yang tertutup dan… tak terkunci! Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya, aku tidak harus kembali berlari menuju kamarku dengan sia-sia. Aku melangkahkan kakiku memasuki kamar Shilla. Sedikit aneh karena aku belum pernah menjelajah ruangan kosong sendiri seperti sekarang ini, kecuali saat malam itu, malam setelah Kat kecelakaan. Ah ya… bagaimana kabar gadis itu ya?
“Srakk….” Hampir aku menjerit kalau bukan segera melihat seekor tikus yang berlari melewatiku. Kamar Shilla masih berantakan. Ada sedikit bercak darah di sana, membuatku sedikit merinding ketakutan.
“Whuuush….” Semilir angin yang menerobos melewati jendela kembali menerpa wajahku, membuat rambutku sedikit berantakan. Tapi tak kupedulikan itu. Aku sedikit berlutut di depan ranjang Shilla. Ya, tepat di sinilah Shilla menggantung dirinya sendiri. Aku menggigit bibirku keras hingga membuatnya sedikit berdarah. Suasana kamar yang sangat sepi membuat perasaanku tak enak dan ingin segera berlari meninggalkan kamar ini. Tapi segera kuabaikan perasaan itu. aku mencari petunjuk. Ya… mungkin saja sebelum meninggal ia menuliskan sebuah petunjuk. Seperti dalam cerita Harry Potter, saat Hermione menuliskan kata ‘pipa’ sebelum ia membatu. Ah, ya… harapanku sia-sia. Aku tak menemukan apa pun. Oh, hebat! Yang kutemukan hanya diary coklat itu, yang diletakkan dengan hati-hati oleh Shilla di laci mejanya. Aneh. Kurasa ini hanya diary biasa. Mengapa tak ia buang saja diary ini? Kecuali kalau diary ini memiliki kisah yang cukup menarik. Ya… sebenarnya aku tak dapat melihat apa menariknya si Nathan dengan perasaan cemburunya yang meluap-luap itu. Aku hampir membuka halaman pertama diary itu hingga sebuah tangan halus menepuk bahuku.
“Kyaaa...”
“Astaga… kalian mengagetkanku!!” umpatku kesal pada Sivia dan Chia yang sedang terkikik geli di hadapanku.
“Kalian ini, benar-benar deh! Bagaimana kalau aku mati karena terkena penyakit jantung??” kataku sengit sembari membetulkan kacamataku yang sedikit melorot.
“Hehe… maaf deh! Habis kamu tadi kita cari di toilet gak ada. Makanya kita panik dan mencari ke sini,” kilah Chia.
“Menemukan sesuatu??” tanya Sivia. Aku menunjukkan diary itu.
“Hanya ini,” kataku singkat. Kulihat Chia mendesah kecewa.
“Oh iya… aku lupa kertas itu,” kata Chia sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku roknya.
“Hei, kenapa kau tak bilang dari tadi??” gerutuku. Chia merengut.
“Sudah kukatakan kemarin tapi kau tak mendengarnya karena…” Chia tak melanjutkan kata-katanya. Ia menundukkan kepalanya. Chia kembali terisak, dadanya naik turun.
“Ah, sudahlah…. Coba kulihat,” kata Sivia sambil mengambil kertas itu dari tangan Chia sebelum Chia menghancurkannya dengan menggunakannya sebagai tissue.
“Hilangkan rasa yang disebut pembunuh sejati,” gumamku lirih. Aku dan Sivia berpandangan. Kulirik Chia yang tampak kebingungan menatap tulisan itu.
“Rrr… rasa yang membunuh.... Marah??” tebak Chia. Sivia menggeleng.
“Kurasa bukan… err, rasa… sedih??” tebakku. Aku tak pasti juga dengan jawabanku. Ya… terkadang kan orang bisa melukai diri sendiri karena rasa sedih itu.
“Mungkin… rasa ingin tahu?? Well, biasanya orang mati karena rasa ingin tahu mereka. Menyelidiki sesuatu yang tak jelas, seperti kita sekarang,” tutur Sivia.
“Brilian!!!!” seruku dan Chia bersamaan. Tapi kami segera menutup mulut kami, memperkecil kemungkinan kami ditemukan oleh seseorang.
“Lantas… err, kita harus… menghilangkan rasa ingin tahu kita? Dengan kata lain, kita harus berhenti menyelidikki misteri ini??” tanya Chia. Sivia hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Ukh… menyebalkan!!” umpatku marah. Hei, kami sudah sampai sejauh ini. dan mungkin kami sudah hampir terbunuh karena itu. Sekarang, sang pengirim pesan itu dengan enaknya menyuruh kami berhenti? Haha… tak usah ya!!
Baru saja kami akan berdebat mengenai langkah selanjutnya saat suara khas deritan pintu terdengar di telinga kami.
“Krieeeet..”
“Mr. Alvin??” pekik kami tertahan. Mr. Alvin menatap kami galak.
“Kalian… apa yang kalian lakukan di sini??” tanya Mr Alvin dingin. Kami diam saja. Jantungku berdegup.
“Err… mengenang… Shilla…,” jawab Chia. Aku dan Sivia hanya mengangguk tanda setuju dengan alasan Chia. Mr. Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil menghunuskan sapunya, ia membentak-bentak kami seakan kami adalah pencuri berlian milik Ratu Victoria.
“Sekarang, keluar!! Kembali ke kamar kalian!!” serunya. Kami hanya merengut ke arahnya dan berjalan keluar kamar Shilla.
“Dasar tukang kebun bodoh!!” umpat Chia. Aku mengacungkan ibu jariku padanya tanda setuju.
“Ya, lagipula… apa yang dia lakukan di kamar Shilla coba, membersihkan kamarnya?? Bodoh…,” timpalku.
“Ya. Aneh ya, padahal kan ada Matron yang memang bertugas membersihkan sekolah,” kata Sivia. Matron adalah julukan untuk pengawas asrama yang bertugas untuk mengobati siswa, membersihkan kamar siswa dan… ya kau tahulah.
“Huft… jadi, apa yang akan kita lakukan??” tanya Chia. Kami berjalan menyusuri koridor asrama, hampir menuju luar asrama.
“Srak… srak….” Langkahku terhenti. Aku memberi isyarat pada Chia dan Sivia untuk berhenti.
“Apa?” tanya Sivia.
“Sst… dengar!” kataku sambil menempelkan telapak tanganku pada telingaku.
“Srak… srak….”
“Pasti itu si Jona,” kata Chia santai sambil menunjuk ke arah taman sekolah, tepatnya di balik pohon akasia besar.
“Kenapa tak bilang dari tadi, Bodoh!! Ayo sembunyi sebelum ia melihat kita!!” pekikku tertahan. Kami langsung melompat menuju semak-semak.
“Apa yang dia lakukan??” tanya Sivia heran. Aku hanya mengangkat bahu heran. Tubuh Mr. Jonathan tertutup oleh semak-semak di depanku dan aku tak mau ambil resiko ketahuan oleh ‘monster’ itu jika aku sedikit menyembulkan kepalaku. Jarak Mr. Jonathan dan semak-semak tempat persembunyian kami terlalu dekat.
“Ih, nyamuk nakal!” pekik Chia sambil memukul tangannya sendiri.
“Ssst…,” desis Via sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Chia segera membekap mulutnya sendiri sambil menggumamkan kata maaf. Aku menghembuskan napas panjang. Sepertinya percuma kami disini. Percuma juga mengintai kelakuan sinting Mr. Jonathan.
“Sudahlah, kembali saja yuk!” ajakku. Chia dan Sivia mengamini ajakanku, karena selain Mr. Jonathan yang sudah pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya yang entah apa itu –belum kami ketahui–, nyamuk-nyamuk ganas di sana juga sudah mulai menghisap darah kami sehingga menimbulkan benjolan-benjolan merah di tangan kami.
“Tanganku tertusuk duri,” keluh Chia sambil menunjukkan lengannya yang sedikit tergores.
“Rrgh..” Kami berhenti berjalan. Sekali lagi kami saling berpandangan. Jika telingaku tak salah mendengar, aku seperti mendengar suara erangan.
“Jangan…!” Suara itu terdengar lagi. Aku memegang tengkukku halus. Aku lalu melihat berkeliling. Suara itu berasal dari Kantor Mr. Krisna, kepala sekolah kami.
“Ada apa dengan Mr. Krisna??” tanya Chia heran. Sivia hanya diam sambil memandang ruangan itu tajam.
“Hei, Sivia! Kau melihat sesuatu??” tanyaku iseng. Sivia segera tersentak dan menggeleng. Ia mengibaskan poninya gugup.
“Ah, sudahlah… tak usah mengganggu,” kata Sivia sambil berjalan cepat menuju bangunan asrama kami. Aku dan Chia hanya berpandangan heran.
“Mungkin Pak Krisna tidur, lalu dia bermimpi buruk.” kata Chia penuh keyakinan. Aku hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti lalu mengikuti Sivia memasuki asrama.
*****
“Hei, apa mungkin semua itu ulah… Mr. Jonathan?” tanya Chia malam harinya, saat kami semua sedang berkumpul di ruang belajar.
“Sst… kecilkan sedikit volume suaramu!” kataku sambil memukul kepala Chia pelan menggunakan buku science yang sedang kubaca. Chia kembali membekap mulutnya dan tersenyum simpul pada Acha dan Keke yang sedang menatap kami heran.
“Hehe… maafkan aku! Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Chia.
“Yah… mungkin. Bagaimana menurutmu, Vi??” tanyaku pada Sivia yang sedang sibuk dengan tugasnya. Via meletakkan pensil yang sedari tadi ia gunakan untuk mengerjakkan soal-soal matematika dengan asal.
“Mm… ya… dari hasil penyelidikan kita… kulihat memang semua petunjuk mengarah pada Mr. Jonathan,” kata Sivia pelan. Chia menepuk lenganku keras dan menepuk dadanya sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan mengacuhkannya. Perhatianku kembali terfokus kepada Via yang sepertinya akan melanjutkan kata-katanya.
“Tapi….” Belum sempat Sivia melanjutkan kata-katanya, Mr Krisna memasuki ruang belajar. Wajahnya pias seperti ketakutan. Dia berdehem kecil untuk menarik perhatian para siswa.
“Sebaiknya… kalian segera kembali ke kamar kalian,” perintah Mr Krisna. Kami semua mengernyitkan dahi heran. Sekarang masih pukul 19.00 sedangkan waktu tidur masih pukul 21.00.
“Tapi Mister Krisna, bukankah ini lebih cepat dua jam dari waktu tidur kita?” tanya Camilia, salah satu siswa XII.
“Ini perintah!! Cepat bereskan barang-barang kalian dan kembali ke kamar kalian! Tak usah banyak bertanya dan… Cepat!!!” kata Mr Krisna galak. Kami mengeluh dalam hati sambil membereskan barang-barang kami. Aku sendiri membereskan cemilan dan buku-bukuku. Tak lupa kukantungi satu pack kartu yang tadinya ingin kugunakan untuk bermain bersama setelah belajar dengan Chia dan Sivia.
“Huh… sekolah ini benar-benar menyebalkan!” keluh Chia kesal. Aku tersenyum miring membenarkan ucapannya.
“Tahu nggak? Aku rasa petualangan kita seperti dalam novel Harry Potter ya?” kata Chia.
“Kepala sekolah menyebalkan, penjaga sekolah mencurigakan, siswi yang ketakutan… persis Hogwarts saat diteror oleh Voldemort,” lanjutnya lagi.
“Jadi maksudmu, akan ada seorang anak lelaki dengan bekas luka dan sepasang mata hijau cemerlang yang akan menyelamatkan kita di asrama Cleotirta?” tanyaku sedikit meledek.
“Tentu saja tidak! Yang benar saja! Maksudku, penyelamatnya itu adalah… kita!!” tukas Chia sambil merangkul Via dan aku dengan cepat sampai-sampai kakiku terantuk ambang pintu dan hampir terjerembab karenanya.
“Chia, hati-hati!!” omelku. Chia membentuk tangan kanannya menjadi lambang ‘V’ pertanda ia meminta maaf. Aku melengos.
“Hati-hati, Vi!! Sampai jumpa!!” kataku pada Sivia yang beranjak pergi menuju kamarnya. Ya, Sivia memang tidak sekamar dengan kami. Kamarnya terletak di ujung asrama. Tidak terlalu jauh memang. Tapi mungkin sedikit menyeramkan melewati lorong gelap itu sendirian.
“Fyuh… aku lelah, terutama dengan semua kejadian ini,” kata Chia sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
“Tidurlah! Nanti kita terlambat jika kau tak segera tidur,” kataku. Chia mencibir.
“Bukankah kamu yang biasanya membuat kita terlambat?” balasnya. “Tapi, selamat malam!” lanjutnya lagi. Tak berapa lama gadis itu sudah terlelap. Aku memandang wajah Chia yang sedikit samar. Ya, lampu kamar sudah dimatikan dan hanya sinar rembulan yang menerangi kamar ini. Aku terduduk di tepi ranjangku memandangi kertas yang ditemukan Chia kemarin. Huh, apa maksudnya? Menyuruh kami berhenti menyelidiki misteri ini dan menemukan teman kami satu-persatu terbunuh? Ya Tuhan….
“Haah….” Aku menghela napas berat. Andai Kat tidak mengalami kecelakaan. pasti semua akan menjadi lebih baik. Kat, aku rindu…. Tadi aku menelepon orang tua Kat. Ibu Kat bilang bahwa keadaan anaknya sudah membaik. Hanya saja Kat sepertinya mengalami sedikit trauma. Kasihan sekali sahabatku itu!
“Duk.. Duk….” Baru saja akan kupejamkan mataku saat aku mendengar suara ribut dari luar. Aku memandang keluar jendela, sedikit menimbang-nimbang. Apakah aku harus menengok ke sana dan memastikan atau…? Ah sudahlah! Persetan dengan suara itu! Bagaimana jika mendadak sang peneror itu muncul dari balik jendela itu dan… membunuhku?
“Glek….” Aku menelan ludah gemetar. Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Apa mungkin peneror itu ada di luar? Sedang membunuh salah satu siswa di sini dan memakunya di atas pohon. Ah, Ify! Jangan berpikir yang macam-macam! Ini bukan film horor. Meski begitu, aku menyibakkan selimut tipisku dan duduk di tepi ranjangku. Mendadak tenggorokanku kering. Aku mencari-cari sandalku di kolong ranjangku dan berjalan menuju dispenser kecil di pojok ruangan.
“Tok… tok….” Aku melirik pintu kamarku. Tanganku yang tadinya sudah bersiap untuk menyambar gelas mendadak membeku. Jangan-jangan sang peneror itu, yang akan membunuhku atau Chia. Atau lebih parah… kami berdua. Dengan gemetar, aku memegang gagang pintu itu. Logam dingin dari gagang pintu itu terasa menyetrumku.
“Tok… tok….” Sekali lagi pintu diketuk. Aku menarik napas pelan. Berpikir positif Ify…. Mungkin itu bukan sang peneror itu tapi… Mr Jonathan yang…. Uh! Jika itu Mr. Jonathan kenapa tak sebaiknya aku mati saja sebelum penjaga sekolah itu memukulku dengan cangkulnya atau mencongkel kedua mataku dengan linggis berkaratnya itu? Argh….
“Cklek….” Aku memutar gagang pintu kamarku. Sedikit memejamkan mataku dan berdoa semoga dia bukan sang peneror atau pun Mr. Jonathan. Haha… lalu siapa yang kau harapkan Ify? Bloody Mary?
“Ify….” panggilnya. Aku menghembuskan napas lega. Untunglah hanya Sivia. Huh! Untuk apa tadi aku bersikap seperti orang bodoh? Kurasa tadi aku sama bodohnya dengan anak kecil yang mempercayai bahwa ada monster jahat pembunuh anak-anak yang bersarang di giginya.
“Sivia, kau hampir membuatku mati lemas.” bisikku. Sivia hanya meringis sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Maaf, aku hanya… perasaanku tak enak,” gumam Sivia.
“Oh… berarti kau mendengar bunyi gaduh dari luar?” tanyaku. Sivia mengangguk.
“Kau mendengar juga rupanya? Untunglah kau belum tidur,” kata Sivia.
“Mana bisa aku tidur jika sang peneror itu sedang berkeliaran di sekitar asrama dan bisa membunuh kita kapan saja,” kataku.
“Yah, kau mau menyelidiki hal itu kembali? Entahlah… perasaanku mengatakan kita harus menyelidiki hal ini malam ini,” tutur Sivia. Aku mengangguk setuju.
“Tentu saja! Perlukah kita bangunkan Chia?” tanyaku sambil menunjuk Chia yang kelihatannya sedang tertidur lelap.
“Kurasa jangan. Aku tak mau mengganggunya,” jawab Sivia. Aku pergi menuju mejaku, mengambil senter dan sweater abu-abu kesayanganku. Aku lalu kembali menghampiri Sivia.
“Yuk!!” bisikku. Baru saja kami akan menutup kembali kamarku saat suara sengau Chia terdengar dari dalam.
"Hei, kalian mau kemana??” tanya Chia buru-buru berlari ke arah kami. Wajahnya masih terlihat setengah sadar.
“Menyelidiki sekolah ini lagi. Kau mau ikut? Atau sebaiknya kau tidur lagi saja di dalam,” kataku.
“Dan membiarkan Mr. Jonathan masuk ke sini dan membunuhku? Tidak, terima kasih!! Aku Ikut!!” kata Chia tegas.
“Jangan asal menuduh deh! Kan belum tentu Mr. Jonathan adalah sang peneror itu,” tukasku. Chia melengos.
“Oh ya? Apa semua bukti itu belum jelas?” tanya Chia datar.
“Ya, sepertinya aku setuju dengan Chia,” kata Sivia pelan. Chia menjulurkan lidahnya ke arahku setelah mendengar penuturan Sivia.
“Ya baiklah, aku menyerah. Ayo!!” kataku sambil berjalan mendahului mereka.
“Brr… dingin….” keluh Chia sambil memeluk tubuhnya yang masih hanya berbalut piyama biru laut bergambar tengkorak kecil di depannya.
“Salahmu sendiri tidak memakai sweater tadi,” kataku ketus. Chia hanya meringis kecil.
“Aku kan buru-buru….” kilahnya. “Aduh, hati-hati dong, Via,” katanya lagi karena ia menabrak Sivia yang mendadak berhenti.
“Ada apa, Vi?” tanyaku. Perasaanku tak enak, terlebih Sivia berhenti tepat di depan ruangan Mr. Krisna. Sekali lagi terdengar erangan-erangan menyeramkan dari ruangan itu.
“Ada apa sih dengan Mr. Krisna??” tanya Chia was-was. Tubuhnya gemetar ketakutan.
“Mu… mungkin dia bermimpi lagi. Kudengar Mr. Krisna pernah memiliki kenangan buruk. istrinya meninggal secara misterius. Mungkin hal itu membawa trauma yang dalam bagi Mr. Krisna,” jelasku panjang lebar.
“Tak heran istrinya meninggal,” gumam Chia. “Siapa yang tahan memiliki suami seperti itu? Aku pasti sudah bunuh diri dari dulu jika aku menjadi istrinya,” kata Chia menanggapi ucapanku.
“Ssst…. Jangan mengganggu! Ayo pergi!!” kata Sivia sambil kembali pergi, mempercepat langkahnya. Kami mengikutinya, meski sedikit takut, terutama dengan kata-kata “ jangan mengganggu. Seakan-akan Mr. Krisna sedang melakukan ritual aneh seperti yang biasa dilakukan oleh para pemuja setan. Aku kembali merinding. Mungkin karena angin kecil yang berhembus di tengkukku. Dengan cepat kulebarkan langkah kakiku agar berjalan sejajar dengan Sivia.
“Hei, mau kemana kita?” tanyaku. Sivia menunjuk ke arah gudang. Chia memegang tanganku erat.
“Apa kita akan masuk ke dalam gudang?” tanya Chia gemetar. Sivia diam saja. Aku mulai bosan dengan sikap misterius Sivia.
“Ya, mungkin… atau ke kamar….” Sivia tak melanjutkan kalimatnya. Matanya melihat ke arah kamar Mr. Jonathan yang terletak tak terlalu jauh dari gudang itu.
“Ide bagus, sebaiknya kita ke kamar Mr. Jonathan,” kata Chia.
“Aku yakin dia sang peneror itu,” lanjutnya lagi. Ia menggamit lengan Sivia dan mereka berjalan menuju kamar Mr. Jonathan. Tapi tidak denganku, aku hanya memandang mereka dari kejauhan, tepat di depan gudang. Entah mengapa, aku tergoda untuk kembali masuk ke dalam gudang itu. Memberanikan diri, aku mendorong pintu kayu gudang yang sudah mulai lapuk. Tak terkunci. Untunglah.
Perlahan kulangkahkan kakiku menuju gudang. Sedikit terbatuk karena debu yang berterbangan saat tak sengaja aku menyenggol sarang laba-laba di dekat situ. Aku melihat keadaan gudang. Setidaknya tidak terlalu menyeramkan seperti kemarin, tidak ada darah atau pun bagian tubuh manusia palsu yang tertempel di langit-langit.
“Tap… tap…” Aku menengok ke belakang dengan was-was. Entah memang perasaanku saja atau memang benar, sepertinya seseorang sudah menyadari keberadaanku dan mengawasiku. Atau menunggu saat yang tepat saat aku lengah dan menyerangku, menusuk perutku dengan pisau atau menebas kepalaku. Ya ampun Ify, mengapa kau senang sekali membayangkan hal-hal menyeramkan seperti itu di saat seperti ini sih??
Aku menghindari ngengat kecil yang terbang keluar gudang. Huft… untunglah itu hanya ngengat. Tak bisa kubayangkan jika itu kelelawar. Mataku kemudian tertuju pada sebuah kertas kecil di atas meja sekolah yang hampir lapuk dimakan rayap. Aku menyalakan senterku yang memang sengaja tak kunyalakan agar tak terlalu menarik perhatian untuk membaca tulisan itu.
“Sudah kukatakan, buang rasa itu atau kau akan terbunuh. Tunggu ajalmu sebentar lagi!”
Deg!! Jantungku berdegup kencang. Oh God, kenapa aku bersikap sangat sok tahu dengan mengambil jalan dari kedua teman-temanku. Setidaknya bila Mr. Jonathan ada di kamarnya dan bersiap membunuh kami, aku tak sendirian. Kami bisa saling membantu dan melawan Mr. Jonathan. Tapi kini? Aku sendirian. Bagaimana jika sang peneror itu datang dan membunuhku. Atau lebih menyeramkan lagi, sang peneror itu menyiksaku terlebih dahulu lalu menyembunyikan mayatku di balik tembok sehingga aku tak dapat beristirahat dengan tenang. Mama… aku takut!!
“Sudah kukatakan sebelumnya bukan, nona Ify??” Baru aku akan memanjatkan doa kepada Tuhan, suara berat dari depanku sudah datang. Tuhan, inikah malaikat mautku? Keringatku mengalir deras. Aku memejamkan mataku ketakutan.
“Jika kau dan kedua temanmu yang sangat sok tahu itu mengikuti nasihat dariku mungkin sekarang kalian sudah tidur nyenyak di kamar kalian masing-masing,” katanya lagi. Aku gemetar. Terlebih karena aku tak dapat memastikan siapa pemilik suara itu. Kurasa ia menutup mulutnya dengan sapu tangan untuk mengubah suaranya.
“Selamat menemui ajalmu, Nona!!” katanya sambil mengangkat parangnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku, membayangkan rasa sakit yang akan kualami nanti.
“Brukk!!!” Aku terlonjak kaget. Karena orang itu mendadak ambruk, dengan terpal besar yang menimpa tubuhnya.
“We Got It, Vi!!” Aku menghembuskan napas lega melihat Chia yang berseru nyaring sambil ber -high five dengan Sivia.
“Dasar sok tahu!!” kata Chia sambil menoyor kepalaku. Aku tak marah dengan perlakuannya. Hanya meringis dan mengerjapkan mataku, berharap agar air mataku tak segera tumpah. Sivia mengawasi orang itu, kalau-kalau ia terbangun dan menyerang kami.
“Bagaimana kalian bisa disini?” tanyaku.
“Oh, ceritanya panjang,” kata Sivia sambil memandang ke arah sang peneror yang masih terbungkus oleh terpal milik Chia dan Sivia itu.
“Nah, sekarang, mengakulah Mr…!!”
*****
To Be Continued..
By: Audrie Ghaissani (kelompok 3)
Komentar
Posting Komentar