The Doom Enigma -part 5-

"Mengakulah, Mr. Jona...." ucap Chia sengit. Ia dan Sivia pun segera membuka terpal yang menutupi tubuh sang peneror itu setelah sebelumnya Sivia menyalakan lampu gudang.

Ketika terpal dibuka, tampak sang peneror itu masih dalam posisi jatuhnya. Ia memakai topeng. Sebenarnya dia siapa? Mr. Jonathan atau bukan?

Lalu Chia berinisiatif untuk membuka topeng itu. Ketika topeng berhasil dibuka kami semua terbelalak kaget.

"Mr. Alvin?! Hah? Bukankah semua bukti dan petunjuk mengarah kepada Mr. Jonathan?" ujar Chia bingung. Bukan Chia saja yang bingung, kami semua bingung.
Ada apa ini sebenarnya?

"Kenapa?! Kalian kaget, hah?! Kalian telah merusak semua rencanaku. Kalian harus mati!" seru Mr. Alvin garang seraya mengayunkan parangnya ke arahku, Sivia, dan Chia.
Kami bertiga menundukkan kepala seolah siap dengan apa yang akan terjadi dan pasrah dengan apa yang akan diperbuat oleh Mr. Alvin kepada kami.

Sekilas kulirik parang yang dipegang oleh Mr. Alvin tersebut. Parang itu semakin mendekat ke arahku yang memang berada paling dekat dengannya.
Dengan pasrah aku menutup kedua mataku dan menerima apa yang akan terjadi.

Parang itu semakin dekat dan dekat. Ketika parang itu siap membunuhku, aku merasa ada yang menghentikan laju parang itu. Ada yang menahan lengan Mr. Alvin. Dia, Mr. Jonathan. Orang yang kami curigai sejak teror asrama Cleotirta terjadi. Dan ternyata, sekarang dialah orang yang menyelamatkan kami dari niat keji Mr. Alvin.

"Hentikan perbuatan kejimu! Aku bisa saja berbalik membunuhmu sekarang juga, Alvin!" seru Mr. Jonathan keras. Dengan cepat, direbutnya parang itu dari tangan Mr. Alvin.

Lalu Mr. Jonathan segera menarik kasar lengan Mr. Alvin agar pergi menjauhi kami. Setelah Mr. Alvin dan Mr. Jonathan pergi, kami semua menghembuskan napas lega. Sang peneror telah tertangkap.

“Tapi kenapa?” Pertanyaanku menghentikan langkah Mr. Jonathan dan Mr. Alvin yang sedang beranjak keluar gudang.

“Ya, kenapa kau melakukan ini, Mr. Alvin?” Tanya Chia serupa denganku.

“Ini semua berawal dari Angel, teman kalian yang sok tahu itu. Dia sudah mengetahui terlalu banyak tentang masa laluku dan Zahra,” jawab Mr. Alvin kemudian.

Masa lalu? Zahra?

Aku mengerutkan dahi. Rasanya nama Zahra tidaklah asing di telingaku. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

“Zahra, pemiik diary yang Angel temukan di gudang maksudmu?”

Ya, Chia benar. Aku menemukan nama Zahra di diary yang kubaca di kamar Shilla beberapa waktu lalu.

“Ternyata Nathan yang ia maksud adalah kau, Mr. Alvin. Alvin Jonathan,” Sivia mengambil kesimpulan.

“Diary? Kalian menemukan diary Zahra? Apa yang ia tulis di sana? Perselingkuhannya dengan Gabriel? Hahaha…. “ Mr. Alvin yang kedua tangannya masih dipegangi kuat oleh Mr. Jonathan, tertawa keras.

“Tidak. Zahra tidak berselingkuh. Di sana ia menulis betapa sedihnya ia karena kau sudah salah paham dengannya,” tukasku mengklarifikassi.

Mr. Alvin terperangah dengan kata-kataku. Ia kelihatan sangat shock.

Tanpa perintah siapa pun, Sivia beranjak keluar gudang. Entah apa yang ia lakukan. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali dengan diary di tangan kanannya.

“Bacalah!” serunya pada Mr. Alvin seraya menyerahkan diary itu.
*****

Kami bertiga saat ini berjalan menuju ruangan Mr. Krisna. Mr. Jonathan menyuruh kami untuk memberi tahu perihal Mr. Alvin kepada kepala sekolah kami itu. Ini memang sudah lewat tengah malam tapi rasanya peristiwa sebesar ini perlu diketahui segera oleh kepala sekolah kami itu.

Aku terhenti tiba-tiba. “Kalian dengar tidak suara erangan itu?” tanyaku pada kedua temanku.

Aku, Sivia, dan Chia pun akhirnya sepakat untuk menyelidiki tentang suara-suara erangan yang berasal dari kamar Mr. Krisna itu. Kami menyelinap masuk ke dalam kamar Mr. Krisna. Ketika sampai di depan kamarnya, kami segera memutar kenop pintu. Dan untungnya, tidak terkunci. Sebuah kesempatan emas bagi kami.

Ceklek. Pintu kamar Mr. Krisna akhirnya terbuka. Kami bertiga melangkah dengan pelan lalu berjalan menuju dalam ruangan Mr. Krisna. Namun, kami terkejut dengan apa yang kami lihat selanjutnya.

Mr. Krisna bersimbah darah! Sepertinya ia memotong urat nadinya dengan pisau saku yang masih tergeletak di sebelahnya.

Sivia segera mengambil pisau itu dan melihatnya dengan seksama. Seakan tahu apa yang terjadi dengan Mr. Krisna, Sivia segera angkat bicara.

"Mungkin saja Mr. Krisna bunuh diri, karena dihantui oleh arwah para murid yang meninggal. Haha," ujarnya seraya terkekeh pelan. Aku dan Chia ternganga seketika. Apa maksudnya? Mr. Krisna? Para murid? Atau dia hanya bercanda saja?

"Apa maksud kamu, Vi?" tanyaku penasaran.

Sivia lalu segera meletakkan pisau saku itu di atas meja. Dan menghela napas panjang. Mungkin saja dia mengetahui tentang misteri kematian Mr. Krisna dan misteri kematian siswa Cleotirta.

"Mungkin saja ini adalah jawaban atas teror yang menghantui Cleotirta, tentang kematian seluruh anak-anak yang keluar dari sini. Sepertinya Mr. Krisna lah penyebabnya," jelas Sivia panjang lebar. Aku dan Chia pun saling menatap bingung.

"Berarti, selama ini yang menyebabkan kematian anak-anak yang keluar dari asrama Cleotirta, adalah Mr. Krisna. Iya, Vi?" tanya Chia. Sepertinya ia masih belum terlalu paham akan akar permasalahan ini. Begitu juga denganku.

Sivia pun hanya diam. Matanya tertuju pada sebuah kertas yang tergeletak diatas tualet meja. Aku pun ikut melihat ke arah yang dilihat Sivia. Aku sedikit menyipitkan mataku agar bisa melihat apa yang tertulis di kertas itu. Sepertinya, tintanya berwarna merah.

Aku melangkah menuju tualet itu dan mengambil kertas tersebut. Aku lalu membaca tulisan yang terdapat di dalamnya.

Maaf.

Hanya itu yang tertulis di dalamnya. Namun, itu ditulis oleh darah. Apa maksudnya? Apa ini ada hubungannya dengan kematian Mr. Krisna, dan kematian para murid? Ah, menurutku itu mustahil.

Lalu aku melihat selembar kertas lagi yang terselip di bawah lampu yang diletakkan di atas meja. Kuambil kertas itu dan membacanya.

Diatasnya tertulis, 'Daftar nama siswa Cleotirta.' Lalu kulihat satu persatu nama yang tertulis di dalamnya.

1. Dea Christa
2. Katherine Amanda
3. Aisya Bella
4. Aqsal Vito Satria

Lalu aku membacanya sampai pada nama terakhir. Zevana Angesti. Semua itu adalah nama siswa yang telah meninggal. Apa ini artinya Mr. Krisna yang membunuh mereka?

"Vi, Chia, apa ya maksud dari semua tulisan ini? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Mr. Krisna dan kematian siswa Cleotirta ya?" ucapku menerka-nerka. Serentak mereka menjawab, "mungkin saja.”

“Tapi kalau menurutku dugaanmu benar deh, Fy! Mr. Krisna membunuh mereka karena ia tidak ingin semakin banyak siswa yang keluar. Itu sih menurut perkiraanku saja lho," tutur Sivia seraya mengambil kertas itu dari genggaman tanganku dan ikut membacanya.

"Tapi kenapa ya, Vi? Kenapa Mr. Krisna melakukan hal itu?" tanyaku penasaran lalu segera mengambil tempat duduk di sebelah tempat tidur Mr. Krisna.

Chia pun menganggukan kepalanya, seakan setuju dan ingin tahu atas jawaban dari pertanyaan yang aku lontarkan tadi.

"Seperti yang kukatakan tadi. Mungkin dia takut lebih banyak siswa yang keluar sehingga Cleotirta menjadi bangkrut. Makanya, dia membunuh semua siswa yang berusaha keluar dari asrama ini," ujar Sivia panjang lebar. Aku dan Chia mengangguk tanda mengerti. Tapi ini hanya kemungkinan. Aku akan berusaha menggali lebih dalam agar bisa menjawab misteri ini.
Aku melihat sesuatu di dalam laci yang -sedikit- terbuka. Sepertinya itu sebuah buku.
Kugapai buku yang tersembunyi di dalam laci tersebut. Lalu kubuka halaman per halaman.
Namun, aku terbelalak kaget ketika melihat halaman ke lima. Di sana ada tulisan Mr. Krisna. Isinya tentang kematian para siswa Cleotirta yang keluar dari asrama. Dan dialah yang membunuh mereka. Ternyata dugaan kami benar. Mr. Krisna lah penyebab semua ini.

"Chi, Vi, coba kalian baca ini!" ujarku seraya meletakkan buku itu pada genggaman tangan Chia. Sama seperti reaksiku tadi, mereka kaget lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan apa yang telah diperbuat oleh kepala sekolah kami tersebut.

"Kita sudah menemukan jawabannya. Semua misteri telah terkuak. Sekarang apa lagi yang harus kita perbuat?" tanya Sivia dengan wajah yang berseri. Mungkin dia sangat senang karena telah berhasil memecahkan semua misteri ini.

Aku lalu kembali melihat ke arah mayat Mr. Krisna. Kasihan juga. Aku pun berinisiatif agar memanggil Mr. Jonathan.

"Kalian semua tunggu di sini, ya! Aku akan memanggil Mr. Jonathan agar ia segera menelepon ambulance," ujarku seraya melangkah dengan cepat. Mereka pun mengangguk.

Aku lalu berjalan dengan tergesa-gesa sambil meremas-remas ujung seragamku. Aku berputar-putar mencari Mr. Jonathan.

Bruk!

Aw, siapa ini? Aku tertabrak seseorang.

Lalu aku menoleh ke belakang dan melihat Mr. Jonathan dengan senyuman khasnya.

"Kenapa? Ada yang bisa saya bantu? Kenapa kalian lama sekali?" tanyanya. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal sama sekali. Tba-tiba bingung bagaimana harus memberitahunya.

"Fy? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi. Aku lalu segera mengutarakan maksudku.

"Begini Mr. Jona, saya dan teman-teman saya masuk ke dalam kamar Mr. Krisna. Kami tahu ini tidak sopan. Kami hanya ingin menyelidiki tentang suara-suara erangan yang seringkali terdengar dari dalam kamar Mr. Krisna. Sesampainya di sana, kami dikejutkan oleh Mr. Krisna yang tergeletak di kasurnya dengan banyak darah yang bercucuran. Menurut kami, dia meninggal karena bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya sendiri. Jadi, saya meminta tolong kepada Mr. Jona supaya menelepon ambulance agar segera membawa Mr. Krisna ke rumah sakit,” tuturku panjang lebar.

Mr. Jonathan pun mengangguk tanda mengerti meskipun awalnya ia kelihatan sangat kaget.
Tak lama kemudian, ia kembali ke hadapanku yang sudah berada di kamar Mr. Krisna lagi.

"Pihak rumah sakit sudah saya telepon, Fy, tinggal ditunggu saja,” ucap Mr. Jonathan singkat. Aku pun segera mengangguk dan berterima kasih padanya.

“Oya, bagaimana dengan Mr. Alvin?” tanya Chia tiba-tiba.

“Kalian tenang saja. Tadi Mr. Alvin sudah menyerahkan diri ke polisi. Ia sendiri yang menelepon polisi setelah selesai membaca diary itu,” jawab Mr. Jonathan. Jawabannya membuat kami bernapas lega.

Setelah ambulance datang, Mr. Jonathan dan para petugas dari rumah sakit segera mengangkut jenazah Mr. Krisna menuju ambulance yang sudah terparkir manis di depan asrama. Mr. Jonathan juga lah yang mengantar jenazah Mr. Krisna ke rumah sakit.
*****

Malam ini, kami semua beserta Mr. Jonathan membicarakan tentang misteri asrama ini.
Dimulai dari segala kecurigaan kami kepada Mr. Jonathan sampai dengan keberhasilan kami memecahkan semua misteri yang bersarang dalam asrama ini.

Mr. Jonathan lalu menceritakan kronologis peristiwa saat Mr. Alvin menyerahkan diri ke polisi. Ternyata di luar dugaan kami. Bukan hanya karena percobaan pembunuhannya padaku, Mr. Alvin juga mengakui tentang pembunuhan yang ia lakukan kepada Zahra, kekasihnya dulu.

"Sebentar, biar aku simpulkan. Jadi, pemilik diary itu, yang namanya Zahra, dia adalah pacarnya Nathan, yang kita kenal sekarang sebagai Mr. Alvin. Lalu Mr. Alvin membunuh Zahra yang duduk di kursi roda karena sakit. Mr. Alvin membunuh Zahra dengan cara menusukkan pecahan kaca yang lumayan besar yang ia tancapkan ke punggung Zahra. Ya Tuhan…. “ Chia menggeleng tak percaya.

"Dan Mr. Alvin menyerahkan diri ke polisi, karena dia dihantui rasa bersalah terhadap Zahra. Makanya ia ingin bertaubat dan memperbaiki serta menata hidupnya kembali," tutur Sivia.

“Berarti, Fy, Zahra adalah gadis yang selalu datang ke mimpi kamu," ujar Sivia kemudian. Seketika, Chia membelalak dan menganga lebar. Aku pun tak jauh berbeda. Ternyata dugaanku benar.

Ditengah perbincangan seru kami, Chia kemudian menanyakan tentang Mr. Krisna kepada Mr. Jonathan.

"Mr. Jona, bagaimana tadi dengan Mr. Krisna? Bagaimana reaksi keluarganya?" tanya Chia kepada Mr. Jonathan yang duduk di sebelah Sivia.

"Keluarganya menangis sejadi-jadinya. Apalagi ibunya. Sudahlah, tak usah dibahas lagi. Semoga ia tenang di sana," ujarnya dengan senyuman khasnya.

Kalau mengingat tentang misteri yang berhasil kami pecahkan, sebenarnya kami merasa bersalah karena tidak sempat meminta maaf kepadanya waktu itu. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf.

"Mr. Jonathan, kami minta maaf ya atas kelakuan kami yan sempat curiga kepadamu. Kami sangat merasa bersalah. Kau mau memaafkan kami kan? Hehe," ucapku mewakilkan Sivia dan Chia. Mereka berdua hanya mengangguk dan melemparkan cengiran kepada Mr. Jonathan yang tengah bersantai seraya meneguk minuman kacang hijaunya.

"Haha. Tidak apa-apa, kok. Alvin memang telah membuat seakan-akan aku pelakunya. Kalian kan dulu belum tahu yang sebenarnya. Yang terpenting, sekarang asrama Cleotirta bebas dari terror," ujarnya dengan santai. Aku, Sivia, dan Chia ikut tertawa juga.

"Apa kubilang, tidak mungkin Mr. Jonathan melakukan terror keji seperti itu. Kalian saja yang tidak mempercayaiku," ucapku menggebu-gebu setelah Mr. Jonathan kembali ke kamarnya. Ya, aku sangat senang karena telah membuktikan kepada mereka, bahwa bukanlah Mr. Jonathan sang peneror tersebut.

"Iya. Aku tahu, kamu benar Fy,” sahut Chia.

"Sudahlah. Tak usah dipikirkan lagi. Kita tidur saja. Aku menumpang tidur disini, ya? Hehe." Sivia menengahi seraya menyeringai lebar. Aku dan Chia pun hanya mengangguk saja.

Kami bertiga segera menutupi badan kami dengan selimut tebal yang tersedia lalu terlelap dengan nyenyak, tanpa ada lagi rasa cemas yang menghantui.

*****

Keesokan harinya, kami bersiap untuk menjenguk Kat. Ketika sampai di rumah sakit, kami langsung menghampiri ibunya dan langsung bertanya tentang keadaan Kat.

"Kat sudah sembuh. Besok juga sudah boleh pulang. Kalau kalian ingin menjenguk, silakan saja! Kat ada di dalam kamar," ujarnya tenang. Dengan senyuman yang lebar, kami menghampiri Kat yang masih terbaring di dalam kamar.

"Bagaimana keadaanmu, Kat? Sudah baikan bukan?” tanyaku begitu melihat Kat. Kat tersenyum mendapati kami datang menjenguknya.

“Oh iya Kat, ternyata Mr. Krisna lah penyebab kematian teman-teman kita. Dan tentang teror Cleotirta, Mr. Alvin lah penyebabnya. Tapi tenang saja, Mr. Alvin telah menyerahkan diri ke polisi dan Mr. Krisna sudah meninggal, Kat," tutur Chia panjang. Saat mendengar kabar bahwa Mr. Krisna telah tiada, Kat langsung terbelalak kaget.

"Maksud kalian?" tanya Kat tidak mengerti. Sivia pun menjelaskan dengan serinci-rincinya. Kat pun mengangguk-angguk.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan Kat, kami pun berpamitan pulang ke asrama.

Dan, kalian tahu? Aku, Sivia, dan Chia melihat Shilla dan Angel sedang bergandengan tangan dan melihat ke arah kami. Mereka melambaikan tangan. Mungkin kalian boleh tidak percaya, tapi itu lah yang kami lihat.

Sekarang, asrama Cleotirta menjadi asrama yang damai seperti dulu. Tak ada lagi teror, pembunuhan dan segala hal yang meresahkan siswa.

Semua misteri telah terpecahkan.
***

-The End-
By:  Alberta Vania Tirani (kelompok 3)

Komentar