Gadis Angin Dan Lelaki Perutuk Hujan
Aku menguap lagi. Huah… rasanya tak terhitung berapa kali aku melirik jam dinding sambil menahan kantuk. Ocehan Guru di depan seakan menjadi lagu pengiring tidurku. Menyebalkan! Pelajaran terakhir di kelas ku adalah Sejarah. Sebenarnya bukan pelajaran yang kubenci sih. Tapi, dalam situasi sekarang, sama saja memasukkan Sejarah kedalam daftar pelajaran yang kumusuhi.
Ah, Bu Marini masih saja mendongengkan manusia masa lampau yang hidup di hutan. Tidakkah beliau sadar, kami sudah sangat bosan dengan penjelasannya? Oh sepertinya aku salah, bukan kami sekelas yang tidak suka, hanya beberapa orang saja, yah, hanya beberapa. Eh, benarkah? Dengan malas kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Hei… semua manusia dalam kelas ini seolah terhipnotis oleh penuturan kata-kata Bu Marini. Lihatlah bahkan aku tak menangkap satu kali pun kedipan di mata mereka. Semua perhatian tertuju pada Guru itu.
Masih 15 menit lagi sebelum bel pulang, dan pasti terasa lama bagiku di tengah kebosanan ini. Yeah… sejarah sangat menyiksaku saat ini. Lagipula di zaman modern sekarang, kita tidak perlu lagi kan hidup berpindah-pindah di hutan? Toh sekarang orang nomaden dengan cara modern. Lalu buat apa di pelajari?
Lamat-lamat kurasakan semilir angin bertiup. Ini salah satu keuntunganku duduk disamping jendela. Di waktu seperti saat ini angan selalu bertiup menemaniku menunggu sampai habis jam pelajaran. Menyenagkan memang. Tapi tidak untuk saat ini, hembusannya begitu membuaiku agar segera memasuki dunia mimpi. Aku menguap lagi.
TEETT… TEEETTT…
Aku tersentak, rasa kantukku hilang seketika. Haha, berakhir juga kebosanan ini. Seisi kelas juga agak gaduh. Tampaknya mereka sudah kembali dari dunia fantasi versi Bu Marini.
“Anak-anak, jangan sampai lupa dengan pesan Ibu tadi. Pahami lagi tentang kehidupan manusia purba, berburu, meramu, dan bercocok tanam. Minggu depan kita ulangan! Sekian terima kasih.” ujar Guru itu seraya meninggalkan kelas. Teman-tamanku satu persatu juga keluar, masih sangat antusias membicarakan topic barusan. Tinggallah aku yang masih mematung di tempat. Minggi depan ulangan? Ah, gara-gara serangan kantuk tadi, aku jadi tidak tahu-menahu berita sepenting itu. Bahkan aku sempat-sempatnya mengutuk Sejarah di tengah pelajaran tadi. Sudalah… Masih ada waktu seminggu lagi. Cepat-cepat ku kemasi alat tulis dan segera beranjak dari sini.
Di luar kelas aku disambut oleh angin yang tekanannya lebih tinggi daripada di kelas tadi. Membuat rambutku sedikit berkibar. Aku berhenti di depan pintu kelas. Sekedar mengamati para murid yang juga baru keluar kelas. Sebagian besar menuju arah parkiran, sebagian lagi berjalan kearah gerbang. Lalu, aku turut berjalan kearah gerbang, melewati beberapa rumpun bunga matahari yang meliuk-liuk karena angin.
Masih banyak siswa yang berkeliaran di luar gerbang. Menunggu jemputan kurasa. Aku terus berjalan, sambil sedikit beramah-tamah dengan para siswa yang kukenali. Rumahku memang tidak jauh dari sekolah. Setiap berangkat maupun pulang sekolah, aku selalu berjalan kaki. Kadang aku berangkat atau pulang bersama teman-teman ku. Tapi aku lebih suka berjaln sendiri. Apalagi saat pulang sekolah seperti ini, berjalan bersama angin yang tak henti-hentinya berhembus dari tadi. Yeah, memang sekarang lagi musimnya berangin, dan puncaknya dari siang sampai sore. Wow, momen yang tak kan aku lewatkan. Sangat menyejukkan ditengah terik matahari seperti ini. Kata orang, angin bertiup saat cuaca panas dapat membuat kulit kering. Masa bodohlah… toh aku tidak pernah memperdulikan itu.
Angin bertiup sedikit lebih kencang dari yang sebelumnya. Membuat beberapa daun-daun pohon berjatuhan. Pemandangan ini membuatku membayangkan suatu tempat. Ah ya, tempat itu! Rasanya aku tak sabar untuk kesana.
***
Napasku sedikit terengah setelah melalui jalan menanjak kecil tadi. Selebihnya aku tinggal menyusuri jalan setapak kecil yang sudah sangat kuhafal, melewati beberapa pohon yang tumbuh sembarang, dan… Yap! Sampailah aku di bukit kecil ini. Sebuah pondok kecil tidak berdinding, beratapkan ijuk telah menyambutku di ujung sana aku menghampirinya, dan seperti biasa, duduk bersandar di salah satu tonggaknya. Menikmati angi yang selalu setia berhembus disini.
Hampir setiap hari aku mengunjungi bukit ini. Caraku melepas kepenatan dan melupakan sejenak tugas sekolah yang kerap membuatku pusing. Tidak jarang aku membawa tugas kesini. Hasilnya? Keterpesonaanku pada apa yang disuguhkan oleh tempat ini membuatku selalu saja mengabaikan tugas-tugasku. Jangan heran. Aku memang pemalas.
Di depanku sekarang, terhampar sawah-sawah yang luasnya tidak sanggup kuhitung. Tak sedikit pula pondok-pondok seperti yang kutempati ini tersebar disana. Sebagian besar padi yang masih hijau yang tumbuh. Membentang seperti pemardani hijau saja. Tampak juga beberapa petak sawah yang padinya telah menguning , siap dipanen. Sangat kontras diantara pemandangan serba hijau ini. Di beberapa tempat bahkan sudah dipanen. Menyisakan bidang kosong dengan beberapa tumpukan jerami disana –sini. Di sebelah kiriku bukit-bukit memanjang sampai keujung sana. Seolah-olah membentengi hamparan sawah dari arah barat. Sementara itu, sungai kecil turut meramaikan membelah area persawahan dan mengikuti jalur bukit-bukit sampai bertemu muaranya. Dari kejauhan seperti tali perak panjang berkilauan tertimpa sinar matahari. Dan masih banyak keindahan lainnya yang diperlihatkan oleh tempat ini.
Terlihat beberapa anak sedang memainkan layang-layang di petak sawah yang telah dipanen. Yah, disaat angin bertiup seperti ini banyak yang menerbangkan layang-layang . berbagai jenis dan beragam warna layang-layang terbang berlatarkan langit biru cerah dan gumpalan-gumpalan awan seperti salju. Tapi, tampaknya sekarang awan kelabulah yang berada diantara layang-layang itu. Angi menghalaunya mendekati awan kelabu yang lebih besar. Sepertinya akan hujan. Layang-layang disana masih tetap melayang, mencoba menantang angin untuk membuktikan siapa yang terhebat.
Angin bertiup lebih kencang. Membuat daun-daun di sekitarku lebih banyak berguguran. Sudah seperti pada waktu musim gugur saja. Langit pun sudah sedikit gelap. Dipenuhi oleh awan-awan hitam yang siap menumpahkan air yang dikandungnya. Benar saja. Di kejauhan sana sudah mulai titik-titik air. Semakin mendekat dan akhirnya sampai pada tempatku. Masih dalam bentuk bulir-bulir air yang sebentar lagi akan membentuk formasi hujan lebat.
Mataku tertumpu pada seseorang disana. Laki-laki yang memakai topi vedora tengah bersandar di salah satu pohon, mengemasi ranselnya dan beberapa barang berserak di sekitarnya. Tak tahukah dia hujan akan semakin deras? Dengan ragu aku meneriakinya, “hei! Hujannya tambah lebat! Cepat kesini berteduh!”
Kulihat reaksinya tidak menunjukkan apa-apa. Oh mungkin teriakanku tidak terdengar olehnya. Biarlah, kan yang akan basah dia juga. Apa peduliku? Dugaanku salah. Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, ternyata dia berjalan ke arahku , lebih tepatnya ke pondok ini untuk berteduh. Wajahnya menunjukan kekesalan, dan dengan kasar ia menghempaskan dirinya di bagian lain pondok ini. Kudengar ia masih sempat berujar, “mengapa tiba-tiba hujan sih?!” Ada apa dengan orang ini?
Hujan bertambah lebat. Untung saja atap ijuk ini tidak basah, dan masih tetap melindungi kami dari ribuan air hujan yang turun ke bumi. Layang-layang yang tadinya masih terlihat, kini tidak tampak sama sekali. Mungkin sudah hilang di telan hujan, atau anak-anak itu sudah membubarkan diri. Aku menatap lurus ke depan, tidak memperdulikan laki-laki yang masih berkutat dengan bawaannya tadi. Di tengah hujan lebat seperti ini, pemandangan sekitar menjadi serba putih. Tak kalah memikatnya dengan keadaan yang sebenarnya.
Kulihat mengeluarkan barang bawaannya. Sebuah buku gambar sederhana dengan beberapa peralatan untuk mengambar lainnya. Ia membalik-balik lembar demi lembar buku itu dengan kasar.
“Kamu kesini mau melukis?” tanyaku sedikit ragu padanya.
“ Sebenarnya iya. Tapi hujan ini menghalangiku.” jawabnya sedikit jutek tanpa menoleh sedikit pun kearahku.
Aku mengerutkan kening mendengar jawabannya yang menurutku tak masuk akal. Bukankah di tengah hujan seperti ini ia bisa melukis? Tak ada salahnya kan? Lagian hujan juga menambah keindahan objek yang akan di gambarnya.
“ Ehm, kenapa menyalahkan hujan. Hujan itu indah, bunyi rerintiknya bisa menghasilkan ritme yang begitu indah. Coba lihat pemandangan didepanmu. Semuanya serbah putih. Sangat indah bukan? Kurasa hujan juga bisa menghasilkan sebuah inspirasi untuk melukis.” Aku memberikan sedikit opini tentang hujan sambil terus memandang rintik- rerintik air yang terus menetes dari atas atap ijuk itu.
Melihat ia diam, aku meneruskan menceramahinya, “Aku sebenarnya tak terlalu mengagumi hujan, tujuanku kesini hanya untuk menikmati angin. Dan baru sekarang aku menyaksikan pemandangan di tengah hujan seperti ini. Dan kamu tahu? Hujan membuat segalanya tampak lebih indah.”
“Bukankah angin yang membawa hujan? Sering kali angin mengiring awan awan hitam yang berujung hujan lebat dan manusia pun seringkali mengeluh karenanya. Lalu kenapa kamu malah menyukainnya?” ia bertanya kembali.
“Benar, tapi coba rasakan semilir angin membuat tumbuhan bergoyang. Karena angin bisa menggugurkan daun-daun. Angin juga membantu penyerbukan bukan? Jika tidak ada angin maka tumbuhan tak akan bisa berkembang. Sehingga bisa menghasilkan serumpun bunga yang begitu indah. Juga tak akan ada padi padi yang mengunging tanpa bantuan angin sehingga ia bisa berisi. Dan jika tak ada angin ku rasa kamu juga tak bisa melukis pemandangan alam dibawah sana.” Paparku panjang sambil menatap pemandanan persawahan yang tengah menguning yang ditutupi dengan tetesan air hujan dari atas bukit ini.
Aku meliriknya sekilas. Aku rasa ia membenarkan kata-kataku tadi. Buktinya ia tidak membantahku lagi. Yah, baguslah.. setidaknya ia tidak memandang sesuatu dari satu sisi saja. Ah… mengingat aku baru saja menceramahinya, aku merasa geli sendiri. Darimana pula aku mendapat kemampuan tiba-tiba seperti tadi. Hujan sudah mereda. Hanya gerimis-gerimis tipis yang bersisa.
“Umm.. maaf, sepertinya sudah sore. Dan hujan juga sudah reda. Aku mau pulang dulu.” kataku memecah sejenak kebisuan yang kembali tercipta.
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku turun dari pondok ini dan berjalan menyusuri jalan yang menuntunku menuju rumah. Baru lima langkah, aku berbalik.
“Oh iya, namaku Dania.” entah mendapat dorongan dari mana sehingga aku memberitahukan namaku. Terserah apa katanya. Kemudian aku kembali melanjutkan perjalananku.
***
Titik air hujan masih bersisa di sepanjang jalan rumput yang kulalui. Cukup memberi jejak-jejak basah di kakiku. Hari ini aku datang sedikit berbeda dari jadwalku biasanya. Hujan yang mengguyur sejak tadi siang, tidak membuatku absen mengunjungi bukit ini, yah walaupun sudah sore sehabis hujan reda.
Aku berjalan ke arah pondok sana. Tidak heran mendapatinya selalu saja sepi tanpa berpenghuni. Siapa lagi yang akan membuang-buang waktu di pondok itu selain aku?
Tapi tunggu... ada sesuatu disana. Sebuah kertas berukuran besar tergeletak di atas lantai pondok itu. Aku mendekatinya dan meraih kertas itu. Didominasi oleh gambar pemandangan alam seperti bukit-bukit dan persawahan. Yang menjadi perhatianku adalah gambar seorang gadis duduk dengan kaki menjuntai dari lantai pondok yang didudukinya, tengah memandang tetesan-tetesan air hujan yang membasahi setiap tempat di gambar itu. Walaupun tidak diwarnai, aku bisa melihat pemandangan serba putih yang tersuguh disekeliling gadis tersebut. Dan aku tahu, siapa yang membuat gambar itu. Eh, tidak hanya gambar itu. Sebuah kertas berukuran lebih kecil juga ada disana. Berisikan beberapa baris kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan.
Aku tahu ia pasti datang
Bersama semilir angin yang memberi ketenangan
Dia bukan malaikat yang di utus Tuhan untuk selalu menyebar kebaikan
Tapi setidaknya dia telah memberiku sedikit perubahan
Membenarkan bahwa hujan tidak selalu datang menghadirkan kekecewaan
Merubah pandanganku tatkala aku merutuki tetesan-tetesan dari langit itu
Sekarang aku tahu, bahwa...
Hujan itu indah
Hujan itu irama alam yang dirindukan
Menarilah dalam hujan untuk merasakan keindahan
Keindahan yang bukan hanya dapat dilihat, tapi juga dapat dirasakan
Fabian
*****
-End-
Ah, Bu Marini masih saja mendongengkan manusia masa lampau yang hidup di hutan. Tidakkah beliau sadar, kami sudah sangat bosan dengan penjelasannya? Oh sepertinya aku salah, bukan kami sekelas yang tidak suka, hanya beberapa orang saja, yah, hanya beberapa. Eh, benarkah? Dengan malas kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Hei… semua manusia dalam kelas ini seolah terhipnotis oleh penuturan kata-kata Bu Marini. Lihatlah bahkan aku tak menangkap satu kali pun kedipan di mata mereka. Semua perhatian tertuju pada Guru itu.
Masih 15 menit lagi sebelum bel pulang, dan pasti terasa lama bagiku di tengah kebosanan ini. Yeah… sejarah sangat menyiksaku saat ini. Lagipula di zaman modern sekarang, kita tidak perlu lagi kan hidup berpindah-pindah di hutan? Toh sekarang orang nomaden dengan cara modern. Lalu buat apa di pelajari?
Lamat-lamat kurasakan semilir angin bertiup. Ini salah satu keuntunganku duduk disamping jendela. Di waktu seperti saat ini angan selalu bertiup menemaniku menunggu sampai habis jam pelajaran. Menyenagkan memang. Tapi tidak untuk saat ini, hembusannya begitu membuaiku agar segera memasuki dunia mimpi. Aku menguap lagi.
TEETT… TEEETTT…
Aku tersentak, rasa kantukku hilang seketika. Haha, berakhir juga kebosanan ini. Seisi kelas juga agak gaduh. Tampaknya mereka sudah kembali dari dunia fantasi versi Bu Marini.
“Anak-anak, jangan sampai lupa dengan pesan Ibu tadi. Pahami lagi tentang kehidupan manusia purba, berburu, meramu, dan bercocok tanam. Minggu depan kita ulangan! Sekian terima kasih.” ujar Guru itu seraya meninggalkan kelas. Teman-tamanku satu persatu juga keluar, masih sangat antusias membicarakan topic barusan. Tinggallah aku yang masih mematung di tempat. Minggi depan ulangan? Ah, gara-gara serangan kantuk tadi, aku jadi tidak tahu-menahu berita sepenting itu. Bahkan aku sempat-sempatnya mengutuk Sejarah di tengah pelajaran tadi. Sudalah… Masih ada waktu seminggu lagi. Cepat-cepat ku kemasi alat tulis dan segera beranjak dari sini.
Di luar kelas aku disambut oleh angin yang tekanannya lebih tinggi daripada di kelas tadi. Membuat rambutku sedikit berkibar. Aku berhenti di depan pintu kelas. Sekedar mengamati para murid yang juga baru keluar kelas. Sebagian besar menuju arah parkiran, sebagian lagi berjalan kearah gerbang. Lalu, aku turut berjalan kearah gerbang, melewati beberapa rumpun bunga matahari yang meliuk-liuk karena angin.
Masih banyak siswa yang berkeliaran di luar gerbang. Menunggu jemputan kurasa. Aku terus berjalan, sambil sedikit beramah-tamah dengan para siswa yang kukenali. Rumahku memang tidak jauh dari sekolah. Setiap berangkat maupun pulang sekolah, aku selalu berjalan kaki. Kadang aku berangkat atau pulang bersama teman-teman ku. Tapi aku lebih suka berjaln sendiri. Apalagi saat pulang sekolah seperti ini, berjalan bersama angin yang tak henti-hentinya berhembus dari tadi. Yeah, memang sekarang lagi musimnya berangin, dan puncaknya dari siang sampai sore. Wow, momen yang tak kan aku lewatkan. Sangat menyejukkan ditengah terik matahari seperti ini. Kata orang, angin bertiup saat cuaca panas dapat membuat kulit kering. Masa bodohlah… toh aku tidak pernah memperdulikan itu.
Angin bertiup sedikit lebih kencang dari yang sebelumnya. Membuat beberapa daun-daun pohon berjatuhan. Pemandangan ini membuatku membayangkan suatu tempat. Ah ya, tempat itu! Rasanya aku tak sabar untuk kesana.
***
Napasku sedikit terengah setelah melalui jalan menanjak kecil tadi. Selebihnya aku tinggal menyusuri jalan setapak kecil yang sudah sangat kuhafal, melewati beberapa pohon yang tumbuh sembarang, dan… Yap! Sampailah aku di bukit kecil ini. Sebuah pondok kecil tidak berdinding, beratapkan ijuk telah menyambutku di ujung sana aku menghampirinya, dan seperti biasa, duduk bersandar di salah satu tonggaknya. Menikmati angi yang selalu setia berhembus disini.
Hampir setiap hari aku mengunjungi bukit ini. Caraku melepas kepenatan dan melupakan sejenak tugas sekolah yang kerap membuatku pusing. Tidak jarang aku membawa tugas kesini. Hasilnya? Keterpesonaanku pada apa yang disuguhkan oleh tempat ini membuatku selalu saja mengabaikan tugas-tugasku. Jangan heran. Aku memang pemalas.
Di depanku sekarang, terhampar sawah-sawah yang luasnya tidak sanggup kuhitung. Tak sedikit pula pondok-pondok seperti yang kutempati ini tersebar disana. Sebagian besar padi yang masih hijau yang tumbuh. Membentang seperti pemardani hijau saja. Tampak juga beberapa petak sawah yang padinya telah menguning , siap dipanen. Sangat kontras diantara pemandangan serba hijau ini. Di beberapa tempat bahkan sudah dipanen. Menyisakan bidang kosong dengan beberapa tumpukan jerami disana –sini. Di sebelah kiriku bukit-bukit memanjang sampai keujung sana. Seolah-olah membentengi hamparan sawah dari arah barat. Sementara itu, sungai kecil turut meramaikan membelah area persawahan dan mengikuti jalur bukit-bukit sampai bertemu muaranya. Dari kejauhan seperti tali perak panjang berkilauan tertimpa sinar matahari. Dan masih banyak keindahan lainnya yang diperlihatkan oleh tempat ini.
Terlihat beberapa anak sedang memainkan layang-layang di petak sawah yang telah dipanen. Yah, disaat angin bertiup seperti ini banyak yang menerbangkan layang-layang . berbagai jenis dan beragam warna layang-layang terbang berlatarkan langit biru cerah dan gumpalan-gumpalan awan seperti salju. Tapi, tampaknya sekarang awan kelabulah yang berada diantara layang-layang itu. Angi menghalaunya mendekati awan kelabu yang lebih besar. Sepertinya akan hujan. Layang-layang disana masih tetap melayang, mencoba menantang angin untuk membuktikan siapa yang terhebat.
Angin bertiup lebih kencang. Membuat daun-daun di sekitarku lebih banyak berguguran. Sudah seperti pada waktu musim gugur saja. Langit pun sudah sedikit gelap. Dipenuhi oleh awan-awan hitam yang siap menumpahkan air yang dikandungnya. Benar saja. Di kejauhan sana sudah mulai titik-titik air. Semakin mendekat dan akhirnya sampai pada tempatku. Masih dalam bentuk bulir-bulir air yang sebentar lagi akan membentuk formasi hujan lebat.
Mataku tertumpu pada seseorang disana. Laki-laki yang memakai topi vedora tengah bersandar di salah satu pohon, mengemasi ranselnya dan beberapa barang berserak di sekitarnya. Tak tahukah dia hujan akan semakin deras? Dengan ragu aku meneriakinya, “hei! Hujannya tambah lebat! Cepat kesini berteduh!”
Kulihat reaksinya tidak menunjukkan apa-apa. Oh mungkin teriakanku tidak terdengar olehnya. Biarlah, kan yang akan basah dia juga. Apa peduliku? Dugaanku salah. Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, ternyata dia berjalan ke arahku , lebih tepatnya ke pondok ini untuk berteduh. Wajahnya menunjukan kekesalan, dan dengan kasar ia menghempaskan dirinya di bagian lain pondok ini. Kudengar ia masih sempat berujar, “mengapa tiba-tiba hujan sih?!” Ada apa dengan orang ini?
Hujan bertambah lebat. Untung saja atap ijuk ini tidak basah, dan masih tetap melindungi kami dari ribuan air hujan yang turun ke bumi. Layang-layang yang tadinya masih terlihat, kini tidak tampak sama sekali. Mungkin sudah hilang di telan hujan, atau anak-anak itu sudah membubarkan diri. Aku menatap lurus ke depan, tidak memperdulikan laki-laki yang masih berkutat dengan bawaannya tadi. Di tengah hujan lebat seperti ini, pemandangan sekitar menjadi serba putih. Tak kalah memikatnya dengan keadaan yang sebenarnya.
Kulihat mengeluarkan barang bawaannya. Sebuah buku gambar sederhana dengan beberapa peralatan untuk mengambar lainnya. Ia membalik-balik lembar demi lembar buku itu dengan kasar.
“Kamu kesini mau melukis?” tanyaku sedikit ragu padanya.
“ Sebenarnya iya. Tapi hujan ini menghalangiku.” jawabnya sedikit jutek tanpa menoleh sedikit pun kearahku.
Aku mengerutkan kening mendengar jawabannya yang menurutku tak masuk akal. Bukankah di tengah hujan seperti ini ia bisa melukis? Tak ada salahnya kan? Lagian hujan juga menambah keindahan objek yang akan di gambarnya.
“ Ehm, kenapa menyalahkan hujan. Hujan itu indah, bunyi rerintiknya bisa menghasilkan ritme yang begitu indah. Coba lihat pemandangan didepanmu. Semuanya serbah putih. Sangat indah bukan? Kurasa hujan juga bisa menghasilkan sebuah inspirasi untuk melukis.” Aku memberikan sedikit opini tentang hujan sambil terus memandang rintik- rerintik air yang terus menetes dari atas atap ijuk itu.
Melihat ia diam, aku meneruskan menceramahinya, “Aku sebenarnya tak terlalu mengagumi hujan, tujuanku kesini hanya untuk menikmati angin. Dan baru sekarang aku menyaksikan pemandangan di tengah hujan seperti ini. Dan kamu tahu? Hujan membuat segalanya tampak lebih indah.”
“Bukankah angin yang membawa hujan? Sering kali angin mengiring awan awan hitam yang berujung hujan lebat dan manusia pun seringkali mengeluh karenanya. Lalu kenapa kamu malah menyukainnya?” ia bertanya kembali.
“Benar, tapi coba rasakan semilir angin membuat tumbuhan bergoyang. Karena angin bisa menggugurkan daun-daun. Angin juga membantu penyerbukan bukan? Jika tidak ada angin maka tumbuhan tak akan bisa berkembang. Sehingga bisa menghasilkan serumpun bunga yang begitu indah. Juga tak akan ada padi padi yang mengunging tanpa bantuan angin sehingga ia bisa berisi. Dan jika tak ada angin ku rasa kamu juga tak bisa melukis pemandangan alam dibawah sana.” Paparku panjang sambil menatap pemandanan persawahan yang tengah menguning yang ditutupi dengan tetesan air hujan dari atas bukit ini.
Aku meliriknya sekilas. Aku rasa ia membenarkan kata-kataku tadi. Buktinya ia tidak membantahku lagi. Yah, baguslah.. setidaknya ia tidak memandang sesuatu dari satu sisi saja. Ah… mengingat aku baru saja menceramahinya, aku merasa geli sendiri. Darimana pula aku mendapat kemampuan tiba-tiba seperti tadi. Hujan sudah mereda. Hanya gerimis-gerimis tipis yang bersisa.
“Umm.. maaf, sepertinya sudah sore. Dan hujan juga sudah reda. Aku mau pulang dulu.” kataku memecah sejenak kebisuan yang kembali tercipta.
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku turun dari pondok ini dan berjalan menyusuri jalan yang menuntunku menuju rumah. Baru lima langkah, aku berbalik.
“Oh iya, namaku Dania.” entah mendapat dorongan dari mana sehingga aku memberitahukan namaku. Terserah apa katanya. Kemudian aku kembali melanjutkan perjalananku.
***
Titik air hujan masih bersisa di sepanjang jalan rumput yang kulalui. Cukup memberi jejak-jejak basah di kakiku. Hari ini aku datang sedikit berbeda dari jadwalku biasanya. Hujan yang mengguyur sejak tadi siang, tidak membuatku absen mengunjungi bukit ini, yah walaupun sudah sore sehabis hujan reda.
Aku berjalan ke arah pondok sana. Tidak heran mendapatinya selalu saja sepi tanpa berpenghuni. Siapa lagi yang akan membuang-buang waktu di pondok itu selain aku?
Tapi tunggu... ada sesuatu disana. Sebuah kertas berukuran besar tergeletak di atas lantai pondok itu. Aku mendekatinya dan meraih kertas itu. Didominasi oleh gambar pemandangan alam seperti bukit-bukit dan persawahan. Yang menjadi perhatianku adalah gambar seorang gadis duduk dengan kaki menjuntai dari lantai pondok yang didudukinya, tengah memandang tetesan-tetesan air hujan yang membasahi setiap tempat di gambar itu. Walaupun tidak diwarnai, aku bisa melihat pemandangan serba putih yang tersuguh disekeliling gadis tersebut. Dan aku tahu, siapa yang membuat gambar itu. Eh, tidak hanya gambar itu. Sebuah kertas berukuran lebih kecil juga ada disana. Berisikan beberapa baris kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan.
Aku tahu ia pasti datang
Bersama semilir angin yang memberi ketenangan
Dia bukan malaikat yang di utus Tuhan untuk selalu menyebar kebaikan
Tapi setidaknya dia telah memberiku sedikit perubahan
Membenarkan bahwa hujan tidak selalu datang menghadirkan kekecewaan
Merubah pandanganku tatkala aku merutuki tetesan-tetesan dari langit itu
Sekarang aku tahu, bahwa...
Hujan itu indah
Hujan itu irama alam yang dirindukan
Menarilah dalam hujan untuk merasakan keindahan
Keindahan yang bukan hanya dapat dilihat, tapi juga dapat dirasakan
Fabian
*****
-End-
Komentar
Posting Komentar