Ke Ujung Bahagia

 Suasana di jalan itu tampak lengang. Tak seorang pun mau mengumpankan dirinya pada matahari yang masih tampak bersinar terik. Apalagi di saat puasa seperti sekarang. Padahal petang hari sudah membayang. Menggeser posisi siang yang sering kali membuat anak-anak kecil yang baru belajar, membatalkan puasanya. Dengan alasan yang pada umumnya, letih sehabis bermain di siang hari.

Tetapi tidak untuk gadis itu. Sinar matahari yang menghujamnya dari belakang, tidak menyurutkan niat gadis itu untuk terus berjalan. Mengikuti bayangannya yang terus menuntun gadis itu menyusuri pinggiran jalan itu. Sesekali tangannya mengusap peluh pada wajahnya, dengan ujung jilbab bewarna putih yang engah dipakainya. Setelahnya, jari-jari gadis tersebut kembali memegang tali ranselnya.

Bian. Begitulah gadis itu akrab disapa. Masih menduduki bangku kelas 2 SMA, di sebuah SMA Negri yang hanya satu-satunya di Kecamatan tersebut. Di bulan Ramadhan, sekolah Bian tetap memberlakukan proses PBM seperti biasa. Hanya saja, jam pulang sekolah lebih dipercepat dari jadwal harian. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan Rohis bagi yang berminat. Sedangkan pesantren Ramadhan diadakan pada hari Jum'at dan Sabtu, wajib diikuti oleh semua siswa.

Acara Rohislah yang menyebabkan Bian pulang lambat dari yang seharusnya. Ia memang sengaja. Walaupun teman-teman dekatnya tidak ada yang ikut serta. Tak apalah, begitu ucap Bian kala itu. Biarlah ia sendiri. Toh disana ia juga akan mendapat teman juga kan? Daripada ia di rumah menunggu waktu berbuka tanpa melakukan apa-apa. Ah, benar-benar membosankan.

Langkah gadis itu sontak memelan tepat ketika ia sudah berada di sebuah jembatan, lantas berhenti. Ia termenung sesaat, lalu bergerak lambat ke arah besi pinggiran jembatan itu. Matanya menatap lurus ke sungai kecil dibawahnya. Walaupun hujan jarang turun, tapi air sungai itu masih tetap jernih. Tampak pula gerombolan ikan-ikan kecil berenang sesukanya. Hati Bian sedikit mencelos saat menatapi ikan-ikan tersebut. Kekecewaan yang sedari tadi dilupakannya, mendadak muncul lagi. Ikan-ikan itu sejak dilahirkan selalu bersama-sama, apalagi di bulan puasa seperti ini, pikirnya. Gadis itu menghela napas, sudahlah.. Kebanyakan mengeluh, yang ada pahala puasanya berkurang, batinnya. Lalu dengan gontai ia melanjutkan perjalanannya.

***

Bian tidak mendapat jawaban, saat mengucapkan salam sewaktu masuk rumah. Kemana orang rumahnya? Gadis itu meneruskan langkahnya kebelakang. "Pasti Mbak Fany di dapur," tebak Bian dalam hati. Benar saja. Ia mendapati seorang wanita muda -Mbak Fany- yang sedang asik dengan benda-benda dihadapannya.

"Mbak Fany..." sapa Bian pelan, tidak bermaksud mengejutkannya.

Yang dipanggil menoleh. Terlebih dahulu ia melempar senyuman pada sepupunya itu, "eh, Bian. Kamu sudah pulang?"

Bian mengangguk singkat. " Umm.. Ibu.. Ibu hari ini nggak pulang lagi, Mbak?"

Fany bisa menangkap wajah sendu Bian yang tersirat jelas. Lalu ia tersenyum lagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis didepannya, "tadi waktu Mbak pulang sekolah, Ibu datang. Cuma buat ngambil pakaian. Kata Ibu, rombongan pengajiannya ada acara buka bersama di Desa tetangga, sekaligus tarawih dan nginap disana juga." Wanita yang menjadi Guru honor Sekolah Dasar di Desa Bian itu menjelaskan panjang lebar. Melihat ekspresi sama di wajah Bian, ia buru-buru melanjutkan setelah sebelumnya melirik jam yang tergantung di dinding sebelahnya, "masih 10 menit lagi buat Ashar. Mendingan kamu mandi dulu deh, Bi." ujarnya seraya tersenyum, lalu berbalik lagi menekuni masakannya.

Bian tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera ke kamarnya dan melaksanakan apa yang disarankan oleh sepupunya tersebut.

Masih ada beberapa menit untuk Bian Tadarus sebelum ia sholat Ashar. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu. Ia selalu menyempatkan untuk membaca Al-Qur'an, baik itu sebelum atau sesudah sholat. Setelah menunaikan kewajibannya tersebut, Bian beranjak ke ruang tamu rumahnya. Tangannya memegang novel yang tempo hari dipinjammya di perpustakaan sekolah. Novel tersebut dibukanya. Tapi matanya tidak mengarah kesana, masih mengawang seperti seharian ini. Sehingga ia tidak menyadari Fany yang sudah duduk disampingnya.

"Kamu nggak ikut ngabuburit bareng teman-temanmu, Bi?" Fany membuka suara.

Bian menggeleng, lalu ia -berpura-pura- mengalihkan perhatian pada novelnya. Fany tersenyum kecil karena ulah Bian tersebut.

"Kamu kangen ya Bi, sama Ayah dan Ibu?"

Kali ini Bian tidak merespon. Tanpa menjawab pun, Bian yakin kalau Fany sangat tahu jawabannya. Kekecewaan nya terasa menyesakkan lagi. Bahkan sekarang ingin dikeluarkannya dalam bentuk emosi.

"Mbak mengerti perasaan kamu. Seharusnya di bulan puasa seperti sekarang mereka dirumah. Tapi itulah tuntutan pekerjaan, Bi. Bahkan Ibu, di bulan Ramadhanlah beliau yang sering banyak acara. Yah, begitulah keadaannya."
Namun apa harus mengorbankan bulan puasa yang seharusnya menjadi peluang satu-satunya peluang untuk acara kumpul keluarga. Bian iri pada teman-temannya. Pada ikan-ikan tadi pun juga. Ingin sekali ia meluapkan emosinya sekarang. Jikalau ia tidak ingat masih sedang besuasa. Segera ia beristighfar menenangkan hatinya.

Ayah Bian bekerja di kota. Jarang sekali mendapat libur cuti. Di bulan puasa ini pun tetap juga sama. Lain lagi dengan Ibu Bian. Wanita setengah baya itu sangat aktif dalam kegiatan atau organisasi-organisasi di desanya. Termasuk pengajian yang menjadi acara rutinnya. Sedangkan Bian adalah anak tunggal. Tak jarang ia merasa kesepian di rumah dan Fany yang merupakan keponakan Ayah Bian yang diutus menemani Bian semenjak SMP.

Setelah agak lama keheningan mengisi, Fany berujar lagi, "terkadang Bi, kebahagiaan itu tidak harus menghampiri kita. Tetapi kitalah yang menghadirkan kebahagian pada orang lain, terlebih kepada mereka yang tidak beruntung dan lebih membutuhkan."

Bian tercenung mendengar penuturan Fany tersebut. Tapi ia tidak sepenuhnya paham atas ucapannya.

''Mbak dengar, di Musholla depan anak-anak kecil sering ngumpul-ngumpul pas Ashar. Mereka diajarin banyak hal sama mahasiswi-mahasiswi sini selama Ramadhan. Mendingan kamu juga bantu-bantu disana. Daripada bengong terus sore-sore. Seperti ditinggal ngabuburit aja, hehe..''

Fany tertawa kecil. Tak ayal, Bian juga ikut tertawa mendengar ledekan sepupunya itu. Dalam hati ia sangat bersyukur ia mempunyai sepupu yang banyak memberinya pencerahan.

"Haha, Iya deh Mbak. Besok Bian coba deh, kesana." kata Bian diujung tawanya.

* * *

Bian merasa ragu untuk masuk melewati pintu itu. Agak bimbang juga, mengingat hal ini pertama kali baginya. Cepat-cepat ditepisnya perasaan itu. Toh perbuatan yang akan dilakukannya bukanlah cela.

"Assalamualaikum kak." Sapa Bian, tidak keras pada tiga orang remaja muslimah di dekat pintu masuk. Takut menganggu kosentrasi anak-anak yang masih serius pada seorang gadis berjilbab yang berdiri didepan.

''Waalaikumsalam." koor mereka serempak.

"Silahkan duduk, dik." Gadis berjilbab abu-abu mempersilahkan Bian.

Setelah berterima kasih dan duduk, Bian mulai menjelaskan tujuan ia datang kesini.

"Sebelumnya aku Bian, kelas sebelas di SMA sini kak. Hmm... Gini kak, disini kan setiap sore anak-anak kecil belajar sama kakak-kakak. Kalau aku ikut bantu sekadarnya, boleh kak?"

''Tentu saja boleh dik Bian." ujar salah seorang dari mereka, diangguki dengan senyuman oleh kedua temannya.

"Waah... Syukurlah, sukron kak.." Bian tampak tak bisa menyembunyikan kesenangannya, karena mendapat pengalaman baru baginya.

''Afwan. Mulai besok Dik Bian bisa kesini."

* * *

Sesuai janjinya, Setiap sore Bian datang ke Musholla untuk membantu Mahasiswi-mahasiswi untuk mengajar anak-anak itu. Sekadar berbagi pengalaman pada mereka, atau mengajarkan hal-hal positif.

"Adik-adik... Berpuasa itu selain hukumnya wajib buat umat muslim, puasa juga banyak sekali manfaatnya bagi kita. Salah satunya, dengan berpuasa kita membersihkan diri dari racun-racun yang ada dalam tubuh. Kalau nggak puasa, kita makan dan minum terus tuh. Pastinya banyak racun yang masuk juga. Nah, dengan berpuasa, racun-racun itu. Adik-adik pada nggak mau sakit kan?" tanya Bian diakhir penjelasannya.

Serentak anak-anak itu menjawab, "enggak kaaaakk..."

Beberapa orang Mahasiswi yang sejak tadi ikut hanyut dalam penjelasan Bian, tersenyum senang. Selain membantu mereka, ternyata Bian juga dapat menumbuhkan kecerian pada anak-anak itu.

***

Akhirnya kebahagiaan itu datang juga
Setelah terlebih dahulu membagikan sedikit kebahagiaan

Senja itu terlalu berharga bagi Bian. Seolah tidak ingin melepasnya. Meskipun paginya adalah kemenangan seutuhnya. Hari terakhir puasa. Dan berbuka bersama diadakan di rumah Nenek Bian. Disana semua keluarganya berkumpul. Tentu saja dengan kehadiran Ayah dan Ibunya. Suasananya terasa akrab. Adzan Maghrib berkumandang, semua yang ada disana tersenyum senang. Terlebih lagi Rafi, sepupu Bian yang berjarak satu tahun dibawahnya, melonjak girang.

"Yes! Makan.. Makan.." teriaknya sambil bersiul-siul.

"Eh, kita sholat dulu baru makan, Raf." kata salah seorang paman Bian.

"Yah.. Paman, kenapa nggak makan dulu aja? Lebih baik ingat sholat waktu makan, daripada ingat makan pas kita sholat, hayoo.." ujar Rafi membela diri.

Semua yang ada disitu sontak tertawa. Para sepupunya, termasuk Bian meledeknya.

"Sudah-sudah, kita minum dulu batalin puasa. Terus sholat berjamaah, lalu makan bersama juga." Nenek menengahi. Semua menurut.

Momen yang tak akan dilupakan Bian. Setelah beqbuka, ia bersama sepupunya menyalakan kembang api dihalaman, dilanjutkan dengan takit berkeliling di halaman rumah neneknya dengan obor menyala di tangan masing-masing.

"Alhamdulillah ya Alah.. Andai dulu, engkau menetapkan hatiku dengan keluh kesah, tentu aku tidak akan menikmati kebahagian seperti ini. Terima kasih ya Allah.." Bian mengucap syukur dalam hati.

Komentar