Post 2

Namun apa harus mengorbankan bulan puasa yang seharusnya menjadi peluang satu-satunya peluang untuk acara kumpul keluarga. Bian iri pada teman-temannya. Pada ikan-ikan tadi pun juga. Ingin sekali ia meluapkan emosinya sekarang. Jikalau ia tidak ingat masih sedang besuasa. Segera ia beristighfar menenangkan hatinya.

Ayah Bian bekerja di kota. Jarang sekali mendapat libur cuti. Di bulan puasa ini pun tetap juga sama. Lain lagi dengan Ibu Bian. Wanita setengah baya itu sangat aktif dalam kegiatan atau organisasi-organisasi di desanya. Termasuk pengajian yang menjadi acara rutinnya. Sedangkan Bian adalah anak tunggal. Tak jarang ia merasa kesepian di rumah dan Fany yang merupakan keponakan Ayah Bian yang diutus menemani Bian semenjak SMP.

Setelah agak lama keheningan mengisi, Fany berujar lagi, "terkadang Bi, kebahagiaan itu tidak harus menghampiri kita. Tetapi kitalah yang menghadirkan kebahagian pada orang lain, terlebih kepada mereka yang tidak beruntung dan lebih membutuhkan."

Bian tercenung mendengar penuturan Fany tersebut. Tapi ia tidak sepenuhnya paham atas ucapannya.

''Mbak dengar, di Musholla depan anak-anak kecil sering ngumpul-ngumpul pas Ashar. Mereka diajarin banyak hal sama mahasiswi-mahasiswi sini selama Ramadhan. Mendingan kamu juga bantu-bantu disana. Daripada bengong terus sore-sore. Seperti ditinggal ngabuburit aja, hehe..''

Fany tertawa kecil. Tak ayal, Bian juga ikut tertawa mendengar ledekan sepupunya itu. Dalam hati ia sangat bersyukur ia mempunyai sepupu yang banyak memberinya pencerahan.

"Haha, Iya deh Mbak. Besok Bian coba deh, kesana." kata Bian diujung tawanya.

* * *

Bian merasa ragu untuk masuk melewati pintu itu. Agak bimbang juga, mengingat hal ini pertama kali baginya. Cepat-cepat ditepisnya perasaan itu. Toh perbuatan yang akan dilakukannya bukanlah cela.

"Assalamualaikum kak." Sapa Bian, tidak keras pada tiga orang remaja muslimah di dekat pintu masuk. Takut menganggu kosentrasi anak-anak yang masih serius pada seorang gadis berjilbab yang berdiri didepan.

''Waalaikumsalam." koor mereka serempak.

"Silahkan duduk, dik." Gadis berjilbab abu-abu mempersilahkan Bian.

Setelah berterima kasih dan duduk, Bian mulai menjelaskan tujuan ia datang kesini.

"Sebelumnya aku Bian, kelas sebelas di SMA sini kak. Hmm... Gini kak, disini kan setiap sore anak-anak kecil belajar sama kakak-kakak. Kalau aku ikut bantu sekadarnya, boleh kak?"

''Tentu saja boleh dik Bian." ujar salah seorang dari mereka, diangguki dengan senyuman oleh kedua temannya.

"Waah... Syukurlah, sukron kak.." Bian tampak tak bisa menyembunyikan kesenangannya, karena mendapat pengalaman baru baginya.

''Afwan. Mulai besok Dik Bian bisa kesini."

* * *

Sesuai janjinya, Setiap sore Bian datang ke Musholla untuk membantu Mahasiswi-mahasiswi untuk mengajar anak-anak itu. Sekadar berbagi pengalaman pada mereka, atau mengajarkan hal-hal positif.

"Adik-adik... Berpuasa itu selain hukumnya wajib buat umat muslim, puasa juga banyak sekali manfaatnya bagi kita. Salah satunya, dengan berpuasa kita membersihkan diri dari racun-racun yang ada dalam tubuh. Kalau nggak puasa, kita makan dan minum terus tuh. Pastinya banyak racun yang masuk juga. Nah, dengan berpuasa, racun-racun itu. Adik-adik pada nggak mau sakit kan?" tanya Bian diakhir penjelasannya.

Serentak anak-anak itu menjawab, "enggak kaaaakk..."

Beberapa orang Mahasiswi yang sejak tadi ikut hanyut dalam penjelasan Bian, tersenyum senang. Selain membantu mereka, ternyata Bian juga dapat menumbuhkan kecerian pada anak-anak itu.

***

Akhirnya kebahagiaan itu datang juga
Setelah terlebih dahulu membagikan sedikit kebahagiaan

Senja itu terlalu berharga bagi Bian. Seolah tidak ingin melepasnya. Meskipun paginya adalah kemenangan seutuhnya. Hari terakhir puasa. Dan berbuka bersama diadakan di rumah Nenek Bian. Disana semua keluarganya berkumpul. Tentu saja dengan kehadiran Ayah dan Ibunya. Suasananya terasa akrab. Adzan Maghrib berkumandang, semua yang ada disana tersenyum senang. Terlebih lagi Rafi, sepupu Bian yang berjarak satu tahun dibawahnya, melonjak girang.

"Yes! Makan.. Makan.." teriaknya sambil bersiul-siul.

"Eh, kita sholat dulu baru makan, Raf." kata salah seorang paman Bian.

"Yah.. Paman, kenapa nggak makan dulu aja? Lebih baik ingat sholat waktu makan, daripada ingat makan pas kita sholat, hayoo.." ujar Rafi membela diri.

Semua yang ada disitu sontak tertawa. Para sepupunya, termasuk Bian meledeknya.

"Sudah-sudah, kita minum dulu batalin puasa. Terus sholat berjamaah, lalu makan bersama juga." Nenek menengahi. Semua menurut.

Momen yang tak akan dilupakan Bian. Setelah beqbuka, ia bersama sepupunya menyalakan kembang api dihalaman, dilanjutkan dengan takit berkeliling di halaman rumah neneknya dengan obor menyala di tangan masing-masing.

"Alhamdulillah ya Alah.. Andai dulu, engkau menetapkan hatiku dengan keluh kesah, tentu aku tidak akan menikmati kebahagian seperti ini. Terima kasih ya Allah.." Bian mengucap syukur dalam hati.

Komentar