Post B

Aku kanget melihat tatapannya padaku. Sedikit... Marah? Yah... Mungkin nasionalisme tingginya tidak suka saat aku berkomentar tadi. Lalu, ia berkata menatap mataku tajam, "Riani, kita sudah kelas 12, tidak seharusnya kita bersikap seperti itu. Tak sadarkah kamu, negara inilah yang menghidupi kita. Tapi apa yang kita balas padanya? Sekedar menghormatinya dengan cara merayakan hari lahirnya saja kita enggan. Aku nggak tau deh, seandainya negara ini belum merdeka. Kita hidup pada waktu itu. Dan aku yakin tidak akan adanya perlindungan dari negara ini." selepas bicara begitu ia berlalu begitu saja. Meninggalkanku yang kembali mematung.

***

Aku sedikit tersentak, nyanyian para anggota paduan suara disana, membuyarkan lamunanku. Kembali kulirik lapangan depan sana. Para anggota paskibra tengah hormat kepada bendera, tatkala sang merah putih itu bergerak keatas ditiangnya. Lagi-lagi kulihat Genta, ia tampak begitu hikmadnya berdiri dengan posisi hormat. Padahal ini baru latihan.

Perasaanku kembali tidak karuan. Rasa kagumku padanya masih sama. Dan rasa bersalahku karena sikapku terhadapnya juga hadir. Ah... Tambah membuat sesak saja. Kualihkan pandanganku pada novel yang sedari tadi kupegang. Novel bercover hitam, tanpa corak sedikitpun. Hanya tulisan 5 cm putih ditengah-tengah cover hitamnya. Novel Genta yang sengaja ia pinjamkan.

***

Setelah insiden dua hari lalu, Genta kembali menemuiku. Anehnya, ia tampak membawa sesuatu ditangannya.

"Riani, mending kamu baca ini deh! Ini novel kesukaanku. Setelah membacanya, aku yakin kamu punya pandangan berbeda deh."

Aku mengernyit mendengar Genta. Apa maksudnya? Tapi tanganku tetap masih meraih novel yang ia sodorkan. Aku mengamati sekilas, lalu mulai berkomentar. "Novel Indonesia?" tanyaku spontan.

"Ya." Dia menjawab mantap. "Nggak akan kalah sama novel-novel terjemahan yang kamu baca deh! Tokoh-tokohnya nggak kalah hebat dari para Raja dan Ratu Narnia. Persahabatan mereka juga sangat erat, mungkin melebihi keakraban Harry, Ron, dan Hermione. Eh iya, satu lagi, mungkin kalau di film kan, pamerannya pasti nggak kalah kerennya dari Skandar keynes atau Edmund-Edmund mu itu." Genta menyindirku yang selalu membangga-banggakan novel maupun film luar negri. Lagi-lagi aku mematung selepas kepergiannya.

***

Aku menghela nafas panjang. Lalu kubalik-balik halaman novel di tanganku ini. Tanganku berhenti di suatu halaman. Halaman yang mampu membekukan pandanganku. Dan kembali mengulang mencermati halaman itu; puncak perjuangan sekelompok anak manusia, yang sangat menjunjung tinggi arti persahabatan. Setelah berhari-hari melakukan pendakian di Gunung Mahameru, akhirnya mereka sampai bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Yah, itulah tujuan mereka pergi kesana. Mengikuti upacara kemerdekaan di tanah tertinggi di Pulau Jawa itu.
Sebuah tepukan pelan dibahuku menghentikan aksiku. Aku mendongak, dan mendapati Genta menyengir lebar padaku. Oh... Ternyata dia sudah selesei latihan rupanya. Kulihat anggota paskibra lainnya berkeliaran mencari tempat istirahat.

"Hei Riani, udah selesai baca novelnya?" tanya Genta, tersenyum.

"Eh, oh.. Hai Genta. Umm.. Udah selesai latihan?" balasku, malah berbalik tanya padanya. Sedikit gugup juga dia menyapaku dengan ramah seperti ini. Ah, mungkin dia sudah melupakan kejadian beberapa hari lalu. Haha baguslah..

"Gimana Ni? Bagus nggak novelnya?" Ia tampaknya tidak sabar untuk mendengar pendapatku.

"Waah.. Kamu juga suka pas bagian itu?" ujarnya lagi saat melirik halaman yang tengah terbuka ditanganku.

"Iya.. Menyentuh banget pas bagian ini! Rasanya ikut merasakan kebanggaan mereka."

"Bener Ni. Terus pas banget bacanya sambil dengerin lagu Bendera-nya Coklat, hehe.." tukas Genta.

"Yeh, emang backsoundnya lagu itu! Liat nih!" timpalku seraya menunjukan halaman itu padanya.

"Oh iya, hehe. Eh, cerita keseluruhannya gimana?" rupanya ia masih menunggu komentarku.

"Ehm, seperti yang kamu duga, buku ini emang bagus, banget malah! Sepertinya aku mulai tertarik baca buku dalam negri, hehe.." jawabku malu-malu.

"Tuh kan, apa aku bilang! Novel bacaanku lebih bermutu daripada novel-novelmu." Hah? Dia menunggu jawabanku hanya untuk menyindir-nyindirku. Huh.. Dasar!

"Iya deh... Aku nggak lagi-lagi menganggap remeh buatan dalam negri deh.." Aku sedikit mengerucutkan bibir. Dan Genta terkikik melihatku. Menyebalkan! "Eh Genta, di 5 cm yang paling keren tokoh Riani deh! Walaupun cewek, dia hebat banget. Bisa naik gunung walau medannya berbahaya."

"Lebih kerenan Genta dong! Dia leader nya. Yang memberi ide petualangan mereka tuh dia.. Yang pasti, kalau nggak ada Genta, nggak bakal seru tuh cerita." Genta juga tidak mau kalah, memuji-muji tokok favoritnya.

"Riani dong! Paling pinter, paling cantik, semuanya deh!" Aku tambah semangat. Begitu juga Genta. Terus mendebatku tentang tokoh-tokoh dalam cerita itu. Yah, begitulah kami, perdebatan panjang kami bisa tiak berujung, seperti sekarang. Dan yang membuatku paling bahagia ialah, dia lagi-lagi membenarkan jika aku salah.

Komentar