Post A

"Kamu belum mengerti, Riani? Nggak ada alasan buat aku ngak mencintai negara ini. Aku lahir dan dibesarkan di Indonesia. Tumbuh, belajar dan bersosialisasi pun disini. Jadi, yah... Aku merasa apa yang kulakukan ini belum sebanding dengan apa yang diberikan Indonesia padaku ."

Kalimat itu kembali terngiang dikepalaku. Berputar-putar di rongga telingaku, memantulkan gemanya berulang-ulang. Seperti kaset rusak yang diputar.

Lalu mataku beralih pada barisan panjang di lapangan depan sana. Ah, bukan pada mereka, pada anggota paskibra yang tengah latihan seperti biasanya. Tapi lebih tepatnya pada seseorang di barisan sebelah kiri terdepan . Dia. Pemilik ucapan yang masih bertalu-talu di gendang telingaku.

Entah bagaimana perasaanku saat ini. Pandanganku tak beralih darinya. Juga pikiranku, tak henti-hentinya pula mememikirkan sikap dan perbuatannya belakangan ini. Yah, sikapnya yang selalu menceramahiku tentang Indonesia. Begitu besarkah sikap nasionalisme lelaki itu? Sehingga setiap bertemu denganku selalu saja kata-kata Indonesia yang tercetus dari bibirnya.

Aku heran melihatnya kenapa masih mau ikut serta dalam acara untuk memeriahkan kemerdekaan. Seperti paskibra atau lomba-lomba lainnya. Seperti biasa, sekolah kami selalu melaksanakan upacara 17 Agustus di lapangan sekolah. Tidak hanya paskibra , ekskul marching band, paduan suara juga ikut berpatisipasi. Dan dia tergabung dalam anggota paskibra, padahal sekarang ia sudah kelas 12 dan tentu saja kepala sekolah melarang hal itu. Tapi ironisnya dia tetap keukeuh mengikutinya. Untung saja dia termasuk siswa berprestasi sehingga kepala sekolah mengizinkannya.

Namun hal itulah yang membuat aku selalu kagum padanya. Sejak kelas 10 dia selalu aktif dalam berbagai kegiatan, mungkin sejak SMP malah. Aku tidak begitu tahu, karena aku mulai bersahabat dengannya saat baru menginjak kelas 10. Hingga sekarang ia masih tetap aktif dalam berbagai kegiatan.

Sampai pada waktu itu. Sikap jengkelku muncul karena ulahnya. Yang menurutku ia terlalu melebih-lebihkan rasa nasionalismenya.

***

Mataku berkeliling mencari sosok itu. Sepanjang koridor yang kulalui ini. Aku belum menemukan tanda-tanda kehadirannya. Ah iya, pasti disana. Memangnya dimana lagi tempat favoritnya di sekolah ini selain perpustakaan dan laboratorium? Dengan cepat kupacu langkahku kesana.

Dengan sedikit terengah aku sampai. Benar saja, aku melihatnya disana sedang berbicara dengan pembina OSIS. Yah, walaupun sudah tidak memiliki jabatan lagi, dia tetap sering ke ruangan OSIS ini, sekadar berkunjung atau membantu adik kelas dalam musyawarah OSIS.

Aku berjalan pelan mendekatinya. Namun, saat aku hampir mencapainya, tiba-tiba saja perkataannya membuatku mematung. Mengusir niat awalku untuk menghampirinya.

"Saya rasa, kelas 12 harus ikut serta dalam upacara 17 Agustus nanti, Pak. Minimal jadi peserta upacara lah... Kalau tidak, apa dedikasi terakhir kami sebagai pelajar SMA buat negara ini? Justru dihari penting seperti itulah yang tidak boleh disia-siakan." ucapannya barusan membuatku sedikit kesal, entah kenapa.

"Yah, betul juga kata kamu, Genta. Walaupun akan mempersiapkan ujian Nasional, tidak ada salahnya kalian kelas 12 ikut berpatisipasi." Balas guru tersebut seraya menepuk-nepuk pundak Genta. Ia tentu saja tersenyum. Tambah membuatku jengkel saja. Tiba-tiba ia melihatku, "eh, Riani..." sapanya. Aku diam saja. Kemudian kulihat ia berpamitan pada guru itu, lalu mendekatiku dan mengajakku keluar ruangan.

"Ada apa Ni?" tanyanya.

Aku tersadar, niat awalku ingin memamerkan DVD baruku lenyap entah kemana. Percakapannya dengan guru tadi masih membekas dalam memoriku.

"Maksud kamu apa, Genta? Bukankah kita kelas 12 boleh tidak ikut serta dalam upacara nanti? Mengapa kamu malah memaksa kita untuk ikut?" tanyaku langsung beruntun.

"Loh, baguskan kalau kita berpatisipasi? Kita turut menghormati jasa-jasa yang diberikan para pahlawan kita terdahulu." jawabnya.

"Walaupun begitu, tetap saja ngerepotin nantinya. Upacara biasanya kan panas-panasan, dengan banyak yang ikut, tambah banyak juga ntar yang pingsan. Belum lagi haus, keringetan, dan lainnya. Ugh!" sanggahku.

Komentar