Post 1
Suasana di jalan itu tampak lengang. Tak seorang pun mau mengumpankan dirinya pada matahari yang masih tampak bersinar terik. Apalagi di saat puasa seperti sekarang. Padahal petang hari sudah membayang. Menggeser posisi siang yang sering kali membuat anak-anak kecil yang baru belajar, membatalkan puasanya. Dengan alasan yang pada umumnya, letih sehabis bermain di siang hari.
Tetapi tidak untuk gadis itu. Sinar matahari yang menghujamnya dari belakang, tidak menyurutkan niat gadis itu untuk terus berjalan. Mengikuti bayangannya yang terus menuntun gadis itu menyusuri pinggiran jalan itu. Sesekali tangannya mengusap peluh pada wajahnya, dengan ujung jilbab bewarna putih yang engah dipakainya. Setelahnya, jari-jari gadis tersebut kembali memegang tali ranselnya.
Bian. Begitulah gadis itu akrab disapa. Masih menduduki bangku kelas 2 SMA, di sebuah SMA Negri yang hanya satu-satunya di Kecamatan tersebut. Di bulan Ramadhan, sekolah Bian tetap memberlakukan proses PBM seperti biasa. Hanya saja, jam pulang sekolah lebih dipercepat dari jadwal harian. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan Rohis bagi yang berminat. Sedangkan pesantren Ramadhan diadakan pada hari Jum'at dan Sabtu, wajib diikuti oleh semua siswa.
Acara Rohislah yang menyebabkan Bian pulang lambat dari yang seharusnya. Ia memang sengaja. Walaupun teman-teman dekatnya tidak ada yang ikut serta. Tak apalah, begitu ucap Bian kala itu. Biarlah ia sendiri. Toh disana ia juga akan mendapat teman juga kan? Daripada ia di rumah menunggu waktu berbuka tanpa melakukan apa-apa. Ah, benar-benar membosankan.
Langkah gadis itu sontak memelan tepat ketika ia sudah berada di sebuah jembatan, lantas berhenti. Ia termenung sesaat, lalu bergerak lambat ke arah besi pinggiran jembatan itu. Matanya menatap lurus ke sungai kecil dibawahnya. Walaupun hujan jarang turun, tapi air sungai itu masih tetap jernih. Tampak pula gerombolan ikan-ikan kecil berenang sesukanya. Hati Bian sedikit mencelos saat menatapi ikan-ikan tersebut. Kekecewaan yang sedari tadi dilupakannya, mendadak muncul lagi. Ikan-ikan itu sejak dilahirkan selalu bersama-sama, apalagi di bulan puasa seperti ini, pikirnya (....) Gadis itu menghela napas, sudahlah.. Kebanyakan mengeluh, yang ada pahala puasanya berkurang, batinnya. Lalu dengan gontai ia melanjutkan perjalanannya.
***
Bian tidak mendapat jawaban, saat mengucapkan salam sewaktu masuk rumah. Kemana orang rumahnya? Gadis itu meneruskan langkahnya kebelakang. "Pasti Mbak Fany di dapur," tebak Bian dalam hati. Benar saja. Ia mendapati seorang wanita muda -Mbak Fany- yang sedang asik dengan benda-benda dihadapannya.
"Mbak Fany..." sapa Bian pelan, tidak bermaksud mengejutkannya.
Yang dipanggil menoleh. Terlebih dahulu ia melempar senyuman pada sepupunya itu, "eh, Bian. Kamu sudah pulang?"
Bian mengangguk singkat. " Umm.. Ibu.. Ibu hari ini nggak pulang lagi, Mbak?"
Fany bisa menangkap wajah sendu Bian yang tersirat jelas. Lalu ia tersenyum lagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis didepannya, "tadi waktu Mbak pulang sekolah, Ibu datang. Cuma buat ngambil pakaian. Kata Ibu, rombongan pengajiannya ada acara buka bersama di Desa tetangga, sekaligus tarawih dan nginap disana juga." Wanita yang menjadi Guru honor Sekolah Dasar di Desa Bian itu menjelaskan panjang lebar. Melihat ekspresi sama di wajah Bian, ia buru-buru melanjutkan setelah sebelumnya melirik jam yang tergantung di dinding sebelahnya, "masih 10 menit lagi buat Ashar. Mendingan kamu mandi dulu deh, Bi." ujarnya seraya tersenyum, lalu berbalik lagi menekuni masakannya.
Bian tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera ke kamarnya dan melaksanakan apa yang disarankan oleh sepupunya tersebut.
Masih ada beberapa menit untuk Bian Tadarus sebelum ia sholat Ashar. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu. Ia selalu menyempatkan untuk membaca Al-Qur'an, baik itu sebelum atau sesudah sholat. Setelah menunaikan kewajibannya tersebut, Bian beranjak ke ruang tamu rumahnya. Tangannya memegang novel yang tempo hari dipinjammya di perpustakaan sekolah. Novel tersebut dibukanya. Tapi matanya tidak mengarah kesana, masih mengawang seperti seharian ini. Sehingga ia tidak menyadari Fany yang sudah duduk disampingnya.
"Kamu nggak ikut ngabuburit bareng teman-temanmu, Bi?" Fany membuka suara.
Bian menggeleng, lalu ia -berpura-pura- mengalihkan perhatian pada novelnya. Fany tersenyum kecil karena ulah Bian tersebut.
"Kamu kangen ya Bi, sama Ayah dan Ibu?"
Kali ini Bian tidak merespon. Tanpa menjawab pun, Bian yakin kalau Fany sangat tahu jawabannya. Kekecewaan nya terasa menyesakkan lagi. Bahkan sekarang ingin dikeluarkannya dalam bentuk emosi.
"Mbak mengerti perasaan kamu. Seharusnya di bulan puasa seperti sekarang mereka dirumah. Tapi itulah tuntutan pekerjaan, Bi. Bahkan Ibu, di bulan Ramadhanlah beliau yang sering banyak acara. Yah, begitulah keadaannya."
Tetapi tidak untuk gadis itu. Sinar matahari yang menghujamnya dari belakang, tidak menyurutkan niat gadis itu untuk terus berjalan. Mengikuti bayangannya yang terus menuntun gadis itu menyusuri pinggiran jalan itu. Sesekali tangannya mengusap peluh pada wajahnya, dengan ujung jilbab bewarna putih yang engah dipakainya. Setelahnya, jari-jari gadis tersebut kembali memegang tali ranselnya.
Bian. Begitulah gadis itu akrab disapa. Masih menduduki bangku kelas 2 SMA, di sebuah SMA Negri yang hanya satu-satunya di Kecamatan tersebut. Di bulan Ramadhan, sekolah Bian tetap memberlakukan proses PBM seperti biasa. Hanya saja, jam pulang sekolah lebih dipercepat dari jadwal harian. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan Rohis bagi yang berminat. Sedangkan pesantren Ramadhan diadakan pada hari Jum'at dan Sabtu, wajib diikuti oleh semua siswa.
Acara Rohislah yang menyebabkan Bian pulang lambat dari yang seharusnya. Ia memang sengaja. Walaupun teman-teman dekatnya tidak ada yang ikut serta. Tak apalah, begitu ucap Bian kala itu. Biarlah ia sendiri. Toh disana ia juga akan mendapat teman juga kan? Daripada ia di rumah menunggu waktu berbuka tanpa melakukan apa-apa. Ah, benar-benar membosankan.
Langkah gadis itu sontak memelan tepat ketika ia sudah berada di sebuah jembatan, lantas berhenti. Ia termenung sesaat, lalu bergerak lambat ke arah besi pinggiran jembatan itu. Matanya menatap lurus ke sungai kecil dibawahnya. Walaupun hujan jarang turun, tapi air sungai itu masih tetap jernih. Tampak pula gerombolan ikan-ikan kecil berenang sesukanya. Hati Bian sedikit mencelos saat menatapi ikan-ikan tersebut. Kekecewaan yang sedari tadi dilupakannya, mendadak muncul lagi. Ikan-ikan itu sejak dilahirkan selalu bersama-sama, apalagi di bulan puasa seperti ini, pikirnya (....) Gadis itu menghela napas, sudahlah.. Kebanyakan mengeluh, yang ada pahala puasanya berkurang, batinnya. Lalu dengan gontai ia melanjutkan perjalanannya.
***
Bian tidak mendapat jawaban, saat mengucapkan salam sewaktu masuk rumah. Kemana orang rumahnya? Gadis itu meneruskan langkahnya kebelakang. "Pasti Mbak Fany di dapur," tebak Bian dalam hati. Benar saja. Ia mendapati seorang wanita muda -Mbak Fany- yang sedang asik dengan benda-benda dihadapannya.
"Mbak Fany..." sapa Bian pelan, tidak bermaksud mengejutkannya.
Yang dipanggil menoleh. Terlebih dahulu ia melempar senyuman pada sepupunya itu, "eh, Bian. Kamu sudah pulang?"
Bian mengangguk singkat. " Umm.. Ibu.. Ibu hari ini nggak pulang lagi, Mbak?"
Fany bisa menangkap wajah sendu Bian yang tersirat jelas. Lalu ia tersenyum lagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis didepannya, "tadi waktu Mbak pulang sekolah, Ibu datang. Cuma buat ngambil pakaian. Kata Ibu, rombongan pengajiannya ada acara buka bersama di Desa tetangga, sekaligus tarawih dan nginap disana juga." Wanita yang menjadi Guru honor Sekolah Dasar di Desa Bian itu menjelaskan panjang lebar. Melihat ekspresi sama di wajah Bian, ia buru-buru melanjutkan setelah sebelumnya melirik jam yang tergantung di dinding sebelahnya, "masih 10 menit lagi buat Ashar. Mendingan kamu mandi dulu deh, Bi." ujarnya seraya tersenyum, lalu berbalik lagi menekuni masakannya.
Bian tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera ke kamarnya dan melaksanakan apa yang disarankan oleh sepupunya tersebut.
Masih ada beberapa menit untuk Bian Tadarus sebelum ia sholat Ashar. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu. Ia selalu menyempatkan untuk membaca Al-Qur'an, baik itu sebelum atau sesudah sholat. Setelah menunaikan kewajibannya tersebut, Bian beranjak ke ruang tamu rumahnya. Tangannya memegang novel yang tempo hari dipinjammya di perpustakaan sekolah. Novel tersebut dibukanya. Tapi matanya tidak mengarah kesana, masih mengawang seperti seharian ini. Sehingga ia tidak menyadari Fany yang sudah duduk disampingnya.
"Kamu nggak ikut ngabuburit bareng teman-temanmu, Bi?" Fany membuka suara.
Bian menggeleng, lalu ia -berpura-pura- mengalihkan perhatian pada novelnya. Fany tersenyum kecil karena ulah Bian tersebut.
"Kamu kangen ya Bi, sama Ayah dan Ibu?"
Kali ini Bian tidak merespon. Tanpa menjawab pun, Bian yakin kalau Fany sangat tahu jawabannya. Kekecewaan nya terasa menyesakkan lagi. Bahkan sekarang ingin dikeluarkannya dalam bentuk emosi.
"Mbak mengerti perasaan kamu. Seharusnya di bulan puasa seperti sekarang mereka dirumah. Tapi itulah tuntutan pekerjaan, Bi. Bahkan Ibu, di bulan Ramadhanlah beliau yang sering banyak acara. Yah, begitulah keadaannya."
Komentar
Posting Komentar