Bluebell's Story
Gadis itu berlari
disepanjang koridor. Sesekali diucapkannya kata maaf pada beberapa orang yang
hampir ditabraknya. Membuat ia harus menerima teriakan kesal dari beberapa
orang diantara mereka. Tapi gadis itu mengacuhkannya. Tetap saja ia berlari
seraya menggumamkan satu kata yang tercetus di otaknya berkali-kali. Tempat
tujuannya.
Di ujung koridor,
ia berbelok kekiri lalu melewati deretan pohon Mahoni yang tumbuh
berjajar. Dan berjalan beberapa meter ke
depan lagi, ia sampai. Di pintu masuk ia menghentikan larinya, ikut
berdesak-desakan dengan para siswa-siswi yang ingin memuaskan lapar dan dahaga
mereka. Yah, karena ini jam istirahat, tentu saja kantin menjadi tempat
favorit.
Gadis itu
melangkahkan kakinya ke suatu meja, setelah sebelumnya memastikan orang yang
dicarinya ada disana.
“Ken! Tobi! Lihat
apa yang aku temukan!” ucapnya girang ketika sampai di meja itu. Tangannya
mengangkat sebuah buku tebal bersampul hijau yang sedari tadi dipegangnya,
seolah mengatakan bahwa benda tersebut adalah harta karun yang diincar para
bajak laut.
Bahkan sebelum
kedua laki-laki itu meresponnya, gadis itu telah mendudukkan dirinya di bangku
di depan mereka.
“Kalian tahu? Ini
sangat mengejutkanku. Aku hampir saja tidak mempercayainya. Tapi tentu aku
sangat senang.”
Ken dan Tobi
saling berpandangan. Tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud sahabat
mereka. Gadis itu buru-buru melanjutkan, “buku ini akan menjawab kebingungan
kalian,” gadis itu sibuk membolak-balik buku tebal tersebut. Bahkan ia
mengabaikan Ken dan Tobi yang semakin bingung oleh ulah gadis itu.
“Ah ya, ini dia!
Ken, Tobi lihat! Ini yang akan aku tunjukan pada kalian,” ujarnya kemudian.
Tangannya menyodorkan buku dengan halaman terkembang ke depan Ken dan Tobi,
tampak tersenyum puas. Halaman itu menampilkan sebuah gambar bunga bewarna biru
keunguan. Kelopaknya kecil-kecil seperti bunga lonceng. Ada pula beberapa baris
penjelasan di bawah gambar tersebut.
“Hyacinthoides non-scripta? Bunga Bluebell?” Ken buka suara, menuntut
penjelasan perempuan di depannya. Sementara Tobi mengangguk-angguk membenarkan.
“Kalian tidak
tahu?” gadis itu malah balik bertanya.
“Maksud kami, ada
apa dengan bunga itu Lunaaa?” sahut Tobi kesal. Tak habis pikir dengan
sepupunya itu yang bersikap tidak wajar. Begitu juga Ken. Tampak sekali
kejengkelan terpeta di wajahnya.
Sekali lagi Luna
mengabaikan tanggapan kedua sahabatnya. Masih dengan semangat dan senyum
lebarnya, ia menjelaskan kepada mereka, “Aku baru saja menemukan bunga ini. Tadi
Miss Lily menyuruhku mengantarkan bibit bunga pada Mr. Robin, rupanya sekolah
baru saja membeli beberapa bunga lagi. Salah satunya Bunga Bluebell ini. Haaa..
Kupikir aku tak akan pernah melihat bunga ini secara lansung. Karena sangat
langka dan dilindungi tentu saja.”
“Lalu?”
“Tentu saja ini
kesempatan bagus. Kalau sampai aku bisa menemukan bunga ini, bahkan hutannya—”
seperti tersadar akan kelupaan sesuatu, tiba-tiba saja gadis itu menepuk
jidatnya, “ah, aku lupa menanyakan tempatnya!” Luna memekik tertahan. “Ayo
temani aku kembali ke Rumah Kaca itu! kurasa kalian juga harus melihatnya,”
sambungnya lagi. Ia bergegas menutup bukunya, lalu buru-buru menarik tangan Ken
dan Tobi.
“Hei, jangan
tarik-tarik dong!” seru Tobi.
“Bahkan aku belum
menghabiskan makananku!” timpal Ken kesal. Ia menepis tangan Luna.
“Oh, ayolah..
Sebelum jam isirahat benar-benar habis. Dan biasanya kau juga selalu menyisakan
makan siangmu Ken,” sindir Luna sambil melirik mie goreng Ken yang bersisa di
piringnya.
“Lalu kau pikir
sekarang aku juga akan menyisakannya juga? Huh! Kau salah Luna!” ketus Ken.
“Jangan
mengada-ngada Ken! Aku tahu kau hanya beralasan saja. Ayo! Kau juga Tobi, tinggalkan
saja minumanmu itu!” gadis itu juga menarik Tobi yang tengah menyeruput jusnya.
Kedua laki-laki
itu hanya mengerutu sambil berjalan mengekori Luna. Yah, saat sifat bossy gadis
itu mulai muncul, kedua sahabatnya itu tidak ada yang akan menolak.
“Hei.. Cepat
sedikit dong jalannya!” Luna berbalik menghadap kedua laki-laki itu.
“Kenapa dari tadi
kau jadi tukang perintah sih?!” balas Ken.
“Memangnya mengapa
kau sangat ngotot memperlihatkan bunga itu?” ucap Tobi setelah
menyamai langkahnya dengan Luna. Disebelahnya Ken masih berwajah masam.
“Yeah.. Aku tahu
kau tidak akan sampai hati membentak sepupu tercintamu itu,” cibir Ken tepat di
telinga Tobi. Ia melirik Luna yang sudah berbinar-binar, jelas sekali tak sabar
ingin bercerita pada kedua laki-laki itu.
“Sudahlah.. Kau
tahu kan, kalau sedikit saja ia diacuhkan?” jawab Tobi pelan.
“Maksudmu, ia akan
mendiami kita selama seminggu lagi? Haha menggelikan!”
“Kalian sebenarnya
ingin tahu tidak sih? Dari tadi hanya bisik-bisik berdua saja!” kata Luna
kesal, sadar bahwa ia satu-satunya tidak dianggap disana.
Ken hanya memutar
bola matanya kesal. Sedangkan Tobi menyengir sambil menggaruk tengkuknya,
“hehe, maaf.. Jadi, apa yang ingin kau katakan?” katanya.
Luna kembali
tersenyum sumringah. Dengan semangatnya ia memulai cerita pada mereka, “kalian
tahu kan mitos tentang bunga Bluebell?” melihat kedua sahabatnya itu diam, Luna
buru-buru melanjutkan, “dalam mitos itu, kelopak Bunga Bluebell yang seperti
lonceng itu merupakan tempat tinggal para peri. Pada saat bunga Bluebell
bermekaran, Hutan Bluebell akan seperti karpet biru keunguan. Pada waktu itu,
para peri keluar untuk berpesta. Akan terlihat sayap-sayap mereka yang
berkilauan diatas hamparan padang Bluebell yang luas itu. Waah.. pasti akan
sangat indah, aku jadi ingin melihatnya..”
Ken dan Tobi
terbengong-bengong mendengar penjelasan Luna. Bukannya takjub akan ceritanya,
tapi sebaliknya, sangat heran dengan tingkah gadis itu yang tidak sewajarnya.
“Dan kau percaya
dongeng itu?” tanya Tobi.
“Ya, tentu saja.
Bukankah hutan Bluebell benar-benar ada?” tanggap Luna.
“Kau bukan bocah
berumur tujuh tahun lagi Luna, yang masih percaya dengan peri, sihir, negri
dongeng atau semacamnya.” sambung Ken.
“Tiga belas tahun
tidak terlalu tua untuk percaya dengan hal-hal seperti itu, bukan?” lagi-lagi
Luna membela diri.
“Tapi kita sudah
Grade dua, tidakkah kau malu karena masih bertingkah layaknya anak kecil?”
“Tidak ada
larangan untuk menyukai dongeng, bahkan untuk orang dewasa sekalipun!”
“Huh! Terserah kau
sajalah..” ujar Ken menyerah.
Selanjutnya,
mereka menghabiskan sisa perjalanan singkat itu dengan diam.
“Halo Luna, Ken,
Tobi..” sapa Mr. Robin kepada tiga siswa tersebut saat mereka sudah sampai.
Pria yang bertugas merawat tumbuhan di Rumah Kaca itu sedang menyemaikan
beberapa bibit. Mungkin bibit bunga yang diantarkan Luna tadi.
“Halo Mr. Robin..”
sahut ketiganya kompak.
“Ada perlu apa
kalian kesini?” tanyanya.
“Oh, tidak.. Kami
kesini hanya untuk melihat-lihat,” jawab Luna. “Umm, Mr. Robin, bolehkah kami
melihat bunga yang baru datang tadi?”
“Bunga yang baru
datang? Ohh.. silahkan kalian melihatnya. Di ujung sana, dekat bunga-bunga yang
baru tumbuh.” jelas Mr. Robin sambil menunjuk ke pojok ruangan. Luna bergegas
ke tempat yang ditunjuk, sementara Ken dan Tobi mengikuti—setelah dipaksa—dengan
malas-malasan.
“Lihat! Bukankah
ini indah?” ujar Luna tersenyum menunjuk bunga bewarna ungu.
“Itukah Bunga
Bluebell?” tanya Tobi. Dan dijwab dengan anggukan cepat Luna.
“Menurutku bunga
itu biasa saja. Bahkan bunga ini lebih bagus!” Ken beropini sambil menunjuk
bunga bewarna putih disebelah bunga ungu tersebut.
“Gerbera jamesoii. Bunga Daisy?” kata
Luna membaca keterangan nama tertempel di pot bunga yang ditunjuk Ken. “Tunggu
sampai kau melihat Hutan Bluebell!” lanjutnya yakin. Ken hanya mengangkat bahu
tak peduli.
“Jadi, apa yang
ingin kalian lihat?” Mr. Robin telah muncul di belakang mereka.
“Bunga ungu itu,
Mr. Robin!” Tobi menunjuk pot Bluebell. “Luna ngotot ingin memperlihatkannya
pada kami.”
“Oh, Bunga
Bluebell itu? Bunga yang indah bukan?” tampaknya Mr. Robin juga mengagumi bunga
tersebut. Karena mendapat dukungan, Luna memamerkan senyum kemenangan kepada
Ken.
“Mr. Robin,
bolehkah aku tahu dari mana mendapatkan bunga ini?” tanya gadis itu. Tetap tak
peduli pada dua sahabatnya yang kini telah membelalakkan matanya mendengar pertanyaan
Luna.
“Hmm.. Kata
petugas yang mengantar bunga ini, mereka dari Desa Florist. Mungkin Kepala
Sekolah memesannya disana. Saya tidak terlalu tahu tepatnya dimana. Atau,
kalian bisa tanya pada Miss Lily, kudengar dialah yang mengusulkan membeli bunga-bunga
yang baru datang ini..” jelas Mr. Robin.
“Desa Florist?”
“Ya benar. Desa
yang terkenal dengan bunganya itu, letaknya dipinggiran Kota ini. Memangnya ada
apa?” tanyanya lagi.
“Tidak, tidak.. hanya ingin tahu saja Mr. Robin,
hehe.. Terima kasih atas infonya Mr. Robin, kami pamit ke kelas dulu. Ayo!”
Luna berlalu sambil menarik tangan Ken dan Tobi.
“Ugh, kebiasaan
kau asal tarik-tarik!” dengus Tobi. Mereka telah keluar dari Rumah Kaca
tersebut.
“Ehm, firasatku
mengatakan kau akan bertingkah aneh-aneh lagi kan?” tuduh Ken. Ia menatap tajam
kearah Luna.
“Bukan yang
aneh-aneh kok!” jawab Luna tenang, “tapi kau tahu kan apa yang dikatakan Mr.
Robin tadi?”
“Maksudmu?”
“Tempat Bluebell
itu di Desa Florist. Kalian tahu apa artinya?”
“Jangan bilang kau
akan kesana! Demi mencari bunga ungu itu!” sela Ken lagi.
“Memang bukan aku
kok. Tapi kita, bertiga!” Luna berkata mantap.
“Hah? Kau jangan
gila Luna!” sergah Tobi.
“Huh, dasar!
Ternyata ulahmu lebih parah dari perkiraanku,” sungut Ken.
“Haha.. Kalian
terlalu berlebihan! Tidak apa kan, kalau kita pergi kesana? Desa Florist dari
sini dekat kok. Lagipula sudah lama kita tidak kesana, kita bisa pergi akhir
pekan ini..”
“Jangan seenaknya
Luna!”
“Tidak kok. Tobi,
kita bisa mengunjungi Paman dan Bibi kan? Ayolah..” Luna berusaha membujuk
kedua sahabatnya itu.
“Kurasa kau
benar-benar sudah gila! Mana mungkin orang tuamu mengizinkan! Sudahlah..
lupakan saja bunga itu. Mencari bunga itu tidak harus kesana, kau kan bisa
minta bibitnya pada Mr. Robin..” terang Ken.
“Bukan hanya untuk
melihat Bunga itu Ken. Tapi aku juga ingin bertemu dengan para peri itu. Kau
masih ingat tentang mitos itu kan? Kurasa orang tua kita tidak ada masalah
kalau kita kesana. Banyak tempat tinggal untuk kita disana Ken, dan kau tidak
ingin bertemu dengan Kakek dan Nenekmu? Terakhir kalinya kau kesana waktu umur
lima tahun, bukan? Aku dan Tobi saja tahun lalu kesana, masih ingin kembali
lagi. Iya kan Tobi?”
“Kau saja, aku
tidak!” jawab Tobi sekenanya.
“Lihat, sepupumu
saja tidak ingin kesana. Aku juga tidak Luna!” kata Ken.
Tobi membenarkan ucapan
Ken. Sebelum Luna beragumen lagi, ia sudah lebih dulu melanjutkan, “kau
benar-benar percaya mitos itu? Ingat Luna, itu hanya dongeng atau legenda saja!
Tidak ada peri atau sihir di dunia ini. Cerita itu ada Cuma untuk menghibur
saja. Dongeng sebelum tidur bagi anak-anak kecil!”
“Tidak ada
salahnya kan kalau dibuktikan? Aku yakin mitos itu benar. Kalau kalian tidak
mau menemaniku untuk ke hutannya, kalian bisa tunggu di rumah kan? Aku hanya
ingin kalian ikut ke Desanya saja.”
“Terserah..” Tobi
pasrah saja.
“Anak-anak
seumuran kita tidak wajar pergi ke tempat jauh sendiri. Apa kau lupa kita masih
tiga belas tahun?” Ken masih mencoba menggagalkan usaha Luna.
“Dan apa kau lupa,
kau sendiri yang bilang tiga belas tahun itu bukan anak kecil lagi kan?” balas
Luna tersenyum mengejek. Baik Ken maupun Tobi sama-sama tidak menanggapi.
“Diam kuanggap
kalian setuju,” ucap Luna. “Ayo ke kelas..” gadis itu mendahului kedua laki-laki
itu seraya tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada pilihan lain untuk Ken dan
Tobi selain mengikutinya. Mereka menyeberangi lapangan berumput Keukenhof High,
menyisakan perdebatan panjang mereka di pinggir lapangan tersebut.
***
Luna, Ken dan Tobi
akhirnya berangkat ke Desa Florist pada akhir pekan. Tentu saja Luna yang
paling bersemangat dalam perjalanan itu. Mereka kesana dengan kereta api. Dalam
kereta, Luna tak henti-hentinya bercerita apa saja yang ia ketahui tentang
Bunga Bluebell. Ken dan Tobi heran, entah sejak kapan gadis itu begitu
fanatiknya pada bunga, terlebih bunga Bluebell yang baru saja ia melihatnya
secara lansung. Yah, mungkin pengaruh dongeng peri itu terlalu kuat
menghinggapi Luna.
“... Menurut
cerita, kalau kita bisa bertemu dengan para peri itu saat mereka berpesta,
mereka bisa mengabulkan keinginan kita loh.. Peri-peri itu juga katanya
menyebar kebahagiaan pada mereka yang melihatnya. Waah.. Aku jadi tidak sabar!”
Luna terus saja mengoceh pada mereka berdua. Tapi, karena mereka tidak berminat, akhirnya Ken dan Tobi
tertidur selama perjalanan. Dan Luna ikut-ikutan tertidur, sambil memeluk pot
kecil berisi Bunga Bluebell yang ia dapatkan dari Mr. Robin.
***
Setelah tiga jam
dalam kereta, mereka turun di Stasiun Hawley, tidak jauh dari Desa Florist.
Mereka tinggal berjalan kurang lebih selama lima belas menit untuk sampai ke
pemukiman penduduk. Karena mereka sudah dari kecil sering kesana, Luna, Ken dan
Tobi sudah dikenal baik oleh penduduk Desa. Bahkan mereka diantarkan sampai ke
rumah Paman Luna dan Tobi. Yah, selama disana mereka tinggal di rumah Paman
kedua sepupu itu.
“Terima kasih ya
Paman, sudah mau repot-repot mengantarkan kami..” kata Tobi ketika mereka sudah
memasuki halaman rumah.
“Tidak masalah..
Kalian bertiga sudah bagian dari desa ini. Sudah ya, Paman pergi dulu! Salam
pada Paman dan Bibi kalian ya Tobi, Luna..” ujar Pria itu sambil berlalu.
“Ya Paman,
hati-hati..” balas Luna.
Lalu ketiga
sahabat itu masuk ke dalam rumah.
***
Keesokan paginya
Luna, Ken dan Tobi pamit pergi ke hutan. Kedua laki-laki itu akhirnya mau
menemani Luna, entah karena sudah bosan dipaksa, atau karena apa.
“Paman, boleh
tanya sebentar? Bunga ini ada banyak di hutan kan?” Luna bertanya pada salah
seorang petani di pinggir hutan, ia menunjukan Bunga Bulebell dalam pot kecil
yang dibawanya.
“Oh, Bunga
Bluebell? Benar. Kalau tidak salah sekarang mereka sedang bermekaran.”
“Eh, benarkah?
Terima kasih ya Paman..” ucap Luna berseri-seri.
Dan ketiga sahabat
itu melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Setelah berjalan agak jauh mereka
berjalan, mereka suda menemukan hamparan bunga bewarna biru keunguan. Memang
benar, Bunga Bluebell yang sedang bermekaran itu seperti karpet ungu yang
terbentang luas. Sangat indah. Luna, Ken dan Tobi tampak terkagum-kagum.
“Benar kan, apa
yang aku bilang? Hutan Bluebell memang ada!” kata Luna.
“Kami tidak pernah
menyangkal Hutan itu ada Luna,” balas Ken datar.
“Terserah apa
katamu, Ken! Setidaknya sebentar lagi aku akan bertemu dengan peri itu,” jawab
Luna yakin.
“Berdoalah agar
peri itu muncul di hadapanmu!” ujar Ken ketus.
“Sudahlah Luna..
Ayo pulang! Peri itu tidak ada. Menurutku Hutan Bluebell ini merupakan hutan
tua, sudah ada sejak dulu, bukan karena hutan ini tempat tinggal para peri.
Kita suda berjalan sejauh ini, tapi tidak ada tanda-tanda peri itu ada kan?”
Tobi yang dari tadi diam angkat suara.
“Huh! Kalian ribut
terus sih! Mungkin saja peri itu tidak akan muncul kalau kalian berisik!” ucap
Luna kesal.
“Sudah kubilang
kan, teorimu tentang mitos itu tidak benar!” sindir Ken.
Karena tidak
menemukan apa-apa, mereka kembali ke rumah.
***
Malamnya, Luna
tidak bisa tidur memikirkan peri itu. Keinginannya sangat besar untuk bertemu
dengan makhluk bersayap itu. Dan besok, ia akan kembali lagi ke hutan itu.
Walaupun Ken dan Tobi tidak mau menemaninya. Tekadnya sudah bulat. Ia harus
bisa menemui peri-peri itu. Meskipun niatnya sangat kuat, Luna tidak pernah
sadar, bahwa ia tidak akan dapat menemukan para pari di hutan itu. Mungkin
tidak akan pernah. Karena itu semua tidak lebih dari kisah manis saja.
Sebelum semuanya
bangun, Luna pergi mengendap-endap keluar rumah. Secepat mungkin ia berjalan ke
arah hutan tempat Bunga Bluebell tumbuh.
Hutan itu tampak
sunyi. Sepertinya para hewan disana enggan bangun dari peristirahatannya sepagi
ini. Keadaan seperti inilah yang diharapkan Luna. Ia mulai berjalan menyusuri
padang Bluebell itu. Menikmati aromanya yang bercampur dengan embun pagi. Ia
menghampiri setiap rumpun bunganya, menggoyangkan pelan tangkai-tangkai bunga
itu, berharap ada peri yang keluar dari sana.
Tapi, sampai
matahari sudah muncul, Luna masih belum menemukan apa yang dicarinya. Peri itu
tidak menampakkan wujudnya. Yah, karena sebetulnya mereka tidak ada. Luna mulai
resah. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya, karena sejak tadi bergerak
kesana-kemari.
“Mitos itu pasti
benar. Aku yakin peri itu ada!” racaunya. “Ken dan Tobi yang berbohong. Mereka
hanya tidak suka pada dongeng. Aku yakin akan menemukan peri-peri itu!”
Luna berlari-lari
disepanjang padang bunga itu. Ia hampir menangis karena putus asa. Otaknya
meyakinkan bahwa ia harus menemukan peri itu. Hingga akhirnya...
“AAAAAAAA!”
***
“Jadi begitulah
Jane. Peri yang baik itu hanya ada dalam dongeng..” kata seorang gadis pada
bocah kecil di atas tempat tidur. Tampaknya ia baru saja mendongengkan sebuah
cerita.
“Tapi Kak Luna,
Cinderella benar-benar ditolong peri itu kan?” tanya gadis kecil itu.
“Iya benar. Karena
Cinderella itu baik, maka peri itu menolongnya untuk bisa pergi ke pesta dansa.
Tapi itu Cuma dongeng, Jane mengerti kan?” jelas Luna.
“Berarti kalau aku jadi
anak baik, peri itu juga akan menolongku?” lagi-lagi Jane bertanya, meskipun
telah dijelaskan oleh Luna.
“Ng.. Maksud kakak, bukan
begitu.. Tapi—”
“Sudah, sudah.. Lebih
baik Jane tidur ya?” kata seorang remaja laki-laki.
“Ya, baiklah Kak Tobi..
Aku tidur dulu, malam Kak Luna, Kak Tobi, Kak Ken..” gadis kecil itu menyusup
ke balik selimutnya.
“Huaaah.. Adikmu itu
susah sekali dijelaskan Ken,” kata Luna saat mereka sudah keluar dari kamar
Jane. Yah, sudah empat tahun berlalu sejak mereka mencari peri di Desa Florist
waktu itu. Sampai sekarang, mereka bertiga memang bertugas mendongengkan Jane
apabila dia susah tidur. Sebenarnya hanya Luna saja, tapi Ken dan Tobi ikut
menemaninya, karena Jane lah yang minta ketiga sahabat itu harus legkap di
kamarnya.
“Itu gara-gara kau Luna!
Dia juga ikut fanatik pada dongeng-dongeng, karena kau selalu menceritakannya
kisah-kisah ajaib kesukaanmu itu!”
“Iya sih.. Tapi aku kan
tidak menanamkan dalam otaknya, bahwa do-ngeng-i-
tu-nya-ta, kan?!” balas
Luna dengan menekankan tiap suku kata diakhir kalimatnya.
“Sudahlah.. Kalian tidak
bosan berdebat dengan topik itu terus?” Tobi kembali menengahi.
“Kuharap Jane tidak
mengikuti jejak bodohku dulu,” lirih Luna mengabaikan Tobi.
“Nah, sekarang kau
mengaku sadar. Kenapa tidak dari dulu saja? Harus menunggu jatuh di hutan dulu
karena tidak bertemu peri, baru kau percaya ucapanku dan Tobi,” sindir Ken.
“KEN!!!”
-The End-
Komentar
Posting Komentar