Jalanan Belakang Sekolah


Aku melangkah berlahan, menyusuri jalan setapak kecil dengan berjalan asal-asalan. Tidak peduli dengan sampah, kotoran atau benda-benda asing yang tidak diinginkan menyapa sepatuku dan pikiranku hanya memunculkan satu kalimat aku harus sampai dirumah! Tapi sepertinya sel-sel sarafku tidak bekerja dengan baik seluruh tubuhku menolak untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh otakku. Tetap saja aku bejalan lambat-lambat dan asal-asalan. Sepertinya ragaku lebih berpihak kepada hatiku yang keadaannya seperti alunan badai dilautan. Tidak senang dengan ini aku mulai menyesali diriku sendiri. Kenapa pagi tadi aku menolak lagi untuk dijemput pulang sekolah oleh Gabriel kakakku dan bodohnya aku malah menuruti hatiku untuk berjalan sendiri di jalan setapak kecil ini seperti yang kulakukan setiap pulang sekolah.

Baru tiga bulan yang lalu aku resmi menjadi siswa kelas X disebuah SMA negri dan satu bulan belakangan aku menemukan jalan setapak ini. Jalanan kecil di belakang sekolahku yang biasa dijadikan jalan pintas menuju rumahku. Selama itu pulalah aku menolak untuk dijemput pulang oleh kak Gabriel saat ia mengantarku ke sekolah. Ya karena kak Gabriel yang berkuliah di Universitas yang tidak jauh dari sekolahku. Ia bertugas mengantarkanku dulu sebelum ia ke kampusnya. Aku merasa hanya akulah yang melewati jalan ini ketika usai sekolah. Pada saat sedikit sekali siswa yang masih berkeliaran dilingkungan sekolah. Entah kenapa aku selalu pulang paling akhir diantara kawan-kawan sekelasku. Padahal anggota piket selalu menjalankan tugasnya saat pulang sekolah. Tapi tetap saja aku yang paling terlambat meninggalkan kelas. Mungkin karena aku lebih terdahulu menyapa tanaman-tanaman di kebun kecil di belakang kelas dan berniat berlama-lama disana. Atau sekedar membaca novel disebuah bangku kecil dig bawah pohan rindang yang tumbuh disamping kelasku. Entahlah tapi aku benar-benar menikmati kesendirianku menjelang setiap detik perjalalanku di jalan setapak kecil dibelakang sekolahku..

            Tapi tidak peduli saat ini. Aku benar-benar tidak dapat menikmati perjalannaku ini. Pemandangan indah dengan bukit-bukit di kejauhan, tarian rumpun padi karena ditiup angin, dedauanan pohon-pohin dengan semak-semak yang melambai-lambai kepada siapa saja, serta bunga-bunga liar dengan segala keindahan yang dimilikinya tidak mampu meredakan kegalauan hatiku. Semilir angin yang menyejukan, juga tidak membantu mengusir kalimat yang sedari tadi menempeli pikiranku. Semua itu tetap saja tidak menarik hatiku untuk berhenti sejenak menikmati ciptaan Tuhan yang indah ini.

            Aku tetap berjalan dengan langkah gontai. Sama sekali tidak bersemangat, seperti para domba yang kehilangan selera makan melihat hamparan rumput kering terhidang untuk mereka. Seketika aku menghentikan langkahku. Sekarang semangat itu benar-benar telah lenyap dari tubuhku. Otakku sudah tidak bisa mengendalikan tubuhku untuk  berusaha cepat mendapati rumahku. Seketika itu pula pikiranku terahlikan. Dipengaruhi gemuruh dihatiku, mengantarkan pikiranku pada kejadian di kelas tadi. Peristiwa tidak menyenangkan hatiku pada saat pelajaran Bahasa Indonesia tadi. Kami disuruh menyampaikan sebuah artikel di depan kelas. Artikel yang bertemakan tentang fenomena atau kejadian alam sekitar maupun angkasa luar. Giliran Sivia tampil aku mulai merasakan perasaan tidak karuan dalam diriku. Seketika perasaan itu menjadi nyata bersamaan saat Sivia menyebutkan judul artikel yang dibacakannya. Judul yang berbeda tapi dengan topic yang sama: “ Fenomena The Crop Circle”
            Sivia menjelaskan dengan sangat baik dan lancar. Seisi kelas terhipnotis dengan penuturannya. Tidak seperti penampilanku setelahnya. Penampilanku yang dari awal sudah canggung. Memperparah penampilanku ketengahnya, hingga saat pembacaan judul dan menjelaskan isinya. Bisik-bisik tidak enak ditangkap oleh telingaku. Yah,, sama seperti yang ku duga. Mereka pasti sedang membicarakan ku atau bahkan mengejeku sebagai siswa yang tidak kreatif. Karena artikelku sama dengan punya sivia dan kebetulan ia tampil lebih dahulu daripada aku. Tentu saja mereka tudak akan terkesan dengan penampilanku. Dibandingkan dengan penampilan Sivia yand !*) derajat berbanding terbalik denganku. Sivia adalah salah seorang Public Speaker terbaik di sekolah tidak hanya itu kecantikannya juga mengantarkan ia untuk menjadi salah satu anggota OSIS yang berperan penting dalam organisasi itu. tidak heran karena semua itu ia juga menyebet gelar siswa populer bersama siswa siswi lainnya di sekolah. Sedangkan aku? Jangankan untuk dikenal oleh warga dan kawan-kawan sekelas saja aku tidak terlalu akrab. Karena aku lebih suka berlindung pada kesendirianku. Dan entah kenapa aku menghabiskan kesendirianku setelah kejadian itu dengan menangis pelan di bangku bawah pohon langgananku. Karena aku menganggap kesendirian sudah cukup bagiku.
Kejadian itu cukup membuatku kecewa pada Sivia. Padahal dia tidak salah pada insiden tersebut. Tapi entah kenapa hatiku mulai menganggap tidak enak dan kekagumanku pada kemampuannya luntur seketika. Didukung oleh teman-teman sekelasku karena pristiwa itu.

            Angin bertiup berlahan tapi cukup untuk menghadirkan kesejukan. Menerpa tubuhku, menerbangkan pikiranku yang menjadi sumber kecamuk dihatiku bersama debu-debu yang melayang ringan di udara. Pandanganku berahli pada pohon-pohon didepanku. Daun-daunya bergoyang dengan damai. Tidak sedikit pula dari daun-daun itu melayang-layang anggun di udara dan mendarat dengan baik ditanah. Angin tadi telah menambah sedikit kecepatannya. Membuat daun-daun yang belum waktunya gugur dipaksa untuk meningalkan cabang-cabang kecil pohon-pohon itu, tempat dimana mereka tumbuh.  Aku tidak tahu mungkin saat ini pandangan ku kacau. Karenanya aku merasa benci pada daun-daun yang berguguran itu. padahal guguran daun itulah salah satu yang bisa  membuatku terpesona menatapnya disini setiap harinya. Tapi aku iri pada daun-daun itu sekarang Aku merasa daun-daun itu dengan sengaja memperlihatkan bahwa ia sudah bebas dari induknya dan bersenang senang dibuai angin.

“eemm….” Sebuah suara dibelakangku membutarkan pikiranku tenteng daun daun itu.

Aku membalikan badan, mendapati sesorang laki-laki yang tengah berdiri sambil tersenyum kearahku. Ia menenakan seragam yang sama sepertiku. Putih abu-abu dengan terselempang di bahu kirinya. Aku menatapnya sambil berfikir heran kenapa dia juga tahu jalan ini. Aku merasa hanya aku yang tahu jalan pintas ini. Eh… tunggu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi siapa ya?

“hmmm…hai aku Mario Stevano dati kelas XI IA” ujarnya lagi binggung karena aku masih diam melihatnya. Kali ini ia memperkenalkan dirinya.
Oh ya kak Mario, aku baru ingat dia adalah anggota OSIS yang jadi panitia MOS waktu aku pertama kali masuk dulu.

“ohh….hai, kak…aku Ashila kelas X.2” kataku seraya tersenyum

“ohh….Ashila ya?” ia bertanya

Aku mengangguk, lalu kuputuskan untuk bertanya kepadanya, pertanyaan yang tadi terlintas dibenakku saat melihatnya.

“kakak tahu jalan ini juga?”

“ya”

“tapi kok aku nggak pernah liat ya?” tanyaku lagi-lagi hati hati

“aku sering kok liat kamu jalan disini, tapi kamu jalannya jauh di depan dan aku jauh dibelakang, hehe… ” ia tertawa lagi

“oohhh…” jawabku singakat, berarti masih ada orang yang berlama-lama bahkan lebih lama lagi menghabiskan waktu pulang sekolah selain aku.

“mungkin karena kamu berhenti agak lama disini, jadinya kita ketemu deh!” katanya bersuara lagi. “kamu suka tempat ini?” lagi-lagi ia yang bersuara. Menggantikan aku yang lebih banyak diam.

“ suka kak, suka banget malah!” jawabku “kalo kakak suka?” ya mungkin ngobrol dengan kak Mario bisa melupakan permasalahanku, lagipula aku takut dibilang tidak sopan pada kakak kelas.

“sama, aku suka tempat ini dari dulu, karena tempat ini, ng… maksudku lapangan kecil dan sawah itu tempat bermainku sejak kecil.”

Aku menoleh pada tempat yang ditunjuk kak Mario, lapangan kecil dan sawah yang ditumbuhi padi. Sebenarnya itu bukan lapangan kecil, tapi itu sawah yang sudah kering, disekelilingnya banyak semak semak dan bunga bunga liar dan mungkin itulah yang menyebabkannya dianggap sebagai lapangan kecil daripada sawah yang tidak terpakai.

“sama sakali tidak menarik ya? bermain di tanah tandus” kak Mario berbicara lagi. Mungkin saat ini benar benar putus asa karena aku kemabali diam.

“ tidak juga ” kataku, “malah lebih asyik daripada menghabiskan waktu dikamar buat baca buku, sangant membosankan” aku membayangkan yang selama ini kulakukan sebagai pengganti masa bermainku.

“ baca buku kan bikin pinter,  tambah pengetahuan dan wawasan daripada lari lari nggak jelas di sawah? ”

“yaah.. kalo pinter, aku nggak bakalan sekolah di sini kali! Pasti aku dapat beasiswa keluar negri, dimana gitu….hehehe…” kataku sedikit narsis.

Kak Mario tertawa mendengarku.

“lagian aku bacanya bukan buku pelajaran kak, kalo nggak novel ya komik mana mungkin bisa pintar, tetap aja bego ” sambungku

“hahaha… iya ya…”

“ oh ya kak, apa aja yang kakak lakukan waktu main-main disini?” kataku penasaran

“eemmm, banyak! Main layangan, main bola, kejar kejaran pokoknya main apa aja deh!”
“wahh… Asyik dong! Aku mulai tertarik’

“hehe..iya.” ia nyengir ” bahkan waktu itu aku sama teman teman pernah malem malem disini bakar jagung sambil liat bintang” sambungnya

“bintang?” kata ku cepat

“iya, bintang! Liat bintang dilapangan terbuka, wah beda banget deh liatnya, karna nggak ada penghalangnya sama sekali, lebih jelas dan merasa lebih dekat aja dengan mereka” ia tersenyum mengingat kenangan masa kecil yang tadi dibilang tidak menarik.

Aku diam, berusaha membayangkan yang baru saja di ucapkan kak Mario. Pasti sangat menyenangkan, pikirku. Mengingat aku menatap bintang hanya melalui jendela kamarku saja.

“ngomong-ngomong soal bintang, kamu tau nggak kenapa bintang tidak bersinar di siang hari?” tanyanya.

Aku menggeleng diam.

“sebenarnya bintang itu bersinar setiap saat. Namun jaraknya yang sangat jauh dari bumi ke matahari yang juga merupakan bintang. Maka cahaya bintang di siang hari dikalahkan oleh cahaya matahari, yang lebih dekat ke bumi” ia menjelaskan panjang lebar.

Mulanya, aku tertarik untuk mendengarkan menjelasan kak Mario tapi makin lama makin sulit ku pahami.

“berat banget kajiannya kak…” ujarku polos

Ia tertawa ”itu pelajaranku di IPA, hehehe, sedikit berbagi ilmu”
‘ yehh.. dasar anak IPA” aku ikut tertawa

”tapi kamu ngertikan?”

“enggak”

“yaah… percuma deh aku jelasin panjang lebar”

“hehehhhee…” aku nyengir, “jelasin lagi dong kak”pintaku.

“nggak usah deh! Kayaknya kamu nggak bakal nagkap juga, hahaha” katanya, ia mulai melangkah.

“ya udah….” Giliran aku yang ingin benar-benar memahami penjelasannya.

Eh, ia malah mengejekku dan ia  hanya memercikkan cengiran lebarnya.

“udah ya, aku mau pulang dulu, udah agak sorean nih! “ Ia benar benar mulai beranjak meninggalkanku.

“oh, ya shill, tunjukan bahwa bintang itu bisa lebih hebat dari matahari, ya!” katanya lagi, ia melambaikan tangannya kearahku dan tersenyum. Kali ini aku benar benar mengerti ucapannya.

“daaah… Shila…” teriaknya sebelum berbalik menyusuri jalan setapak itu mendahuluiku.

Aku masih mematung menatapnya, yang menghilang dari kejauhan. Angin bertiup kembali. Kali ini terasa menyejukkan bagiku. Ia menjatuhkan lagi daun daun pohon, daun daun itu seperti tadi mereka begitu menikmati buaian angin. Jatuh bergoyang goyang menimpaku, bersamaan dengan seberkas cahaya matahari sore yang menembus daun pohon yang menyilaukan mataku. Aku tersentak seperti baru sadar dari pengaruh hipnotis kata-kata terakhir kak Mario kembali terdengar ditelingaku. Seakan angin yang berhembus baru saja mendatangkannya. Sekarang aku tahu sepenuhnya maksud dari perkataan itu.

“makasih kak..” ujarku sambil tersenyum, berharap angin akan menyampaikannya pada kak Mario

Aku beranjak dari tempatku, dengan penuh semangat aku melangkah. Sel sel sarafku sudah bekerja dengan baik, menerima perintah yang baru saja di perintahkan otakku. Kabut hitam yang tadi menyelimuti hatiku berlahan lahan menghilang entah karena fikiranku yang sudah normal, atau entah karena apa. Yang jelas aku tidak ada niat untuk memikitkannya
***
Aku tersenyum senang karena baru saja berhasil mempresentasikan  tugas geografiku di depan kelas. Aku memakai tema pengelolaan lingkungan. Senyumku semakin lebar, karena teman temanku termasuk Sivia bertepuk tangan dengan semangatnya saat aku tampil tadi. Ya karena kata kata kak Mario. Aku berusahaa untuk menarik diri dari penguruan kesendirianku. Sejujurnya sekarang aku tidak merasa canggung lagi setelah mengakrabkan diri dengan teman temanku.

Bintang itu berhak bersinar terang dan menghiasi langit dengan kerlap kerlipnya yang indah melebihi matahari. Dan aku sudah membuktikan itu kak, kataku dalam hati.

Komentar