The Light Become Shine
Berada di antara orang-orang
hebat membuat kita hebat juga, bukan? Ada atau tidaknya kau mengukir prestasi,
kau akan tetap dianggap karena kau termasuk kedalam lingkaran tersebut. Tapi,
benarkah begitu? Apa jadinya jika kau adalah satu-satunya orang yang tergolong
lemah, tapi kau berada diantaranya? Apa kau akan tetap tampak? Seperti setitik
cahaya diantara ribuan sinar.
.
.
Ini
adalah Hogwarts bertahun-tahun setelah rezim baru. Bertahun-tahun setelah
Perang Hogwarts yang memberikan dampak besar dan perubahan yang tidak terlalu
kentara di dunia sihir. Yah, perubahan ke arah yang lebih baik tidak masalah,
bukan?
Mereka
menyebutnya dengan WHU—Wizard of Hogwarts University. Hogwarts di zaman modern,
zaman saat sekarang ini. Dengan Profesor Rowena Ravenclaw sebagai Kepala
Sekolah.
Namaku
Ran Stompson. Sudah tiga tahun aku bersekolah di sekolah sihir Hogwarts ini.
Sekarang, aku memasuki tahun keempat sebagai penyihir. Selama tiga tahun ini
pulalah aku mengenal seluk-beluk Hogwarts beserta para penghuninya. Yah, meski
kuakui tidak semua tempat aku jelajahi dan hanya beberapa wizard yang kukenal
disini. Artinya? Aku belum terlalu memahami Hogwarts.
Sejak
menginjakkan kaki disini, aku ditempatkan di Asrama Gryffindor. Tempat para
penyihir berjiwa ksatria dan berani berkumpul. Tempat berdiamnya murid-murid
yang menurutku hebat pada zaman dahulunya. Sebut saja Harry Potter—The Boy Who
Lived, atau Albus Dumbledore—penyihir hebat sepanjang masa, dan masih banyak
penyihir-penyihir handal lainnya.
Tentu
saja aku sangat senang terseleksi sebagai murid Gryffindor. Apalagi dari dulu
keturunan Stompson selalu berada di Gyrffindor. Impianku dari dulu menginjakkan
kaki di Asrama Gryffindor. Seperti orang tua-ku, para
sepupuku, dan semua yang bermarga Stompson.
***
Aku
mengemasi buku-buku pelajaranku dengan cepat. Lalu tergesa-gesa turun dari
ruang rekreasi Gryffindor menuju Aula Besar untuk makan siang. Cacing-cacing di
perutku rupanya mendesakku agar makan secepatnya. Hei, para cacing! Tak tahukah
kalian bahwa jarak dari Common Room ke Great Hall cukup jauh—
BRUKK!!
Aku
terhuyung di anak tangga terakhir, dan sukses menabrak seorang siswi yang
kebetulan lewat. Oh, bagus sekali Ran! Terima kasih buat kalian para cacing
untuk kesialanku hari ini! Jeritku dalam hati.
“Maaf,
aku tidak sengaja,” ujar siswi itu dengan suara lembutnya. Dia membantuku
memungut buku-bukuku yang berhamburan karana insiden barusan.
Hei!
Bukankah aku yang menabraknya? Kenapa dia yang minta maaf?
“Ti-tidak,
ini salahku. Ma-maafkan aku,” ucapku terbata. Aku sangat malu untuk sekedar
melihat wajahnya.
“Ah,
tidak apa. Aku juga tadi tidak melihatmu,” gadis itu tersenyum ramah sambil
menyodorkan buku-bukuku yang dipungutnya.
Aku
mengambilnya, mendongakkan kepalaku sambil tersenyum canggung. Ah, ternyata
orang yang kutabrak adalah siswi Slytherin yang kuketahui bernama Bebe Pucey.
“Te-terima
kasih atas bantuannya,” ujarku membungkukkan badan. “Sekali lagi maaf,” sambungku
lirih.
“Ah,
jangan dipikirkan,” gadis itu kembali terseyum ramah. “Sudah ya, aku pergi
dulu. Sampai jumpa!” katanya berlalu sambil melambaikan tangannya.
Aku
masih termangu menatap kepergiannya. Selain cantik, dia ternyata sangat baik.
“Kau
terlambat Ran!”
Suara
Breviar Weasley yang pertama kudengar saat aku bergabung bersama para wizard
Gryffindor yang tengah menyantap makan siang mereka. Aku mengacuhkannya. Dengan
terburu-buru aku mengisi piringku dengan semua makanan yang dapat kujangkau,
dan cepat-cepat memakannya—yah, aku memang sangat lapar.
“Haha
pelan-pelan, Ran. Apa kau berniat menghabiskan semuanya dalam sekejap?” kali
ini Mita Creevey mengomentariku, ia
terkikik geli melihat cara makanku.
“Awkuh
swudah swangwat lawphaar,” jawabku dengan mulut penuh. Aku kembali menyantap makananku.
Kali
ini tidak hanya Mita, tapi hampir semuanya menertawakanku. Ikky Jonhson yang
duduk di samping kananku sampai memukul-mukul meja karena kegelian melihatku.
Bahkan siswa tingkat 7 Roxas Jordan dan kekasihnya—Willa Vane yang duduk agak
jauh dari kami juga ikut tertawa. Ugh! Apa begitu memalukannya aku?
“Ran,
lebih baik kau cepat habiskan makananmu. Lima belas menit lagi kelas mantramu
akan dimulai. Kau tidak ingin terlambat kan?” suara khas Joulie Stompson
menengahi kikikan pelan mereka. Aku hanya mengangguk pelan. “Par a pengagumku
yang sangat aku cintai, Joulie pamit ya. Kita bertemu di ruang rekreasi sehabis
makan malam. Dadah~” gadis itu melenggang pergi seraya nyengir lebar diiringi
teriakan “Huuu!” dari kawan-kawanku. Yah, semua orang disini tahu tingkah
Joulie yang belagak seperti seorang idola. Tapi menurutku dengan tingkahnya
itu, dia dapat menghidupkan suasana.
Hebat!
“Oh
tidak! Vandy kemana sih?” Maretha Longbottom yang duduk di seberangku tiba-tiba
berdiri. Ia mengecek jam tangannya kembali. “Ah, dia benar-benar merepotkan!”
gerutunya kemudian. “Teman-teman, aku harus pergi dulu mencari Vandy,” setelah
mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan kami yang terbengong-bengong
melihat tingkahnya. Rifvandy Stompson—kami lebih suka memanggilnya Vandy—adalah
pacar Maretha. Cowok itu memiliki kebiasaan muncul atau menghilang secara
tiba-tiba. Tentu saja Maretha yang sering panikan itu kelimpungan saat dia
berulah.
Aku
kembali meneruskan menghabiskan makananku.
***
Kelas
Mantra Profesor Elleine sudah berjalan kurang lebih empat puluh lima menit yang
lalu. Aku menguap pelan di bangku barisan kedua dari belakang. Selalu saja
begini. Aku tidak dapat mengikuti pelajaran mantra dengan baik—karena aku
sangat lemah dalam bidang ini. Aku menguap lagi. Haaah~
Di
depan sana, Duo Diggory—Dicky Diggory dan Eka Diggory—sedang menunjukan
kebolehan mereka dalam mengucapkan matra. Eka mengarahkan tongkat sihirnya
sambil mengucapkan mantra pada Dicky, dan Dicky dengan cekatan menangkalnya.
Selanjutnya secara bersamaan mereka saling membungkuk memberi hormat—pertanda
bahwa mereka menyudahi aktraksinya dengan indah, seperti dalam duel saja.
Seketika tepuk tangan membahana di ruangan ini. Benar-benar hebat.
“Sangat
bagus, Dear!” puji Profesor Elleine seraya bertepuk tangan juga. Kedua Diggory
itu kembali ke bangku mereka dengan senyuman puas. “Selanjutnya, Prita Lovegood
dan Ran Stompson!” Guru Mantra itu memamerkan senyum manisnya kepada seluruh
makhluk dalam ruangan ini.
Suara
khas Profesor Ell membuatku tersentak. Tu-tunggu! Ran Stompson? Oh, tidak! Ini
mimpi buruk! Mana mungkin aku yang tidak tahu apa-apa ini yang selanjutnya akan
maju? TIDAK! Ini suatu kesalahan! Atau, apakah ada Ran Stompson lain di kelas
ini? Ayolah.. siapapun tolong aku!
Kulihat
Prita sudah maju ke depan. Ia memain-mainkan tongkat sihir di tangannya. Ia
tersenyum lebar kearahku. Ah, semakin membuatku panik saja. Sekali lagi aku
melayangkan pandangan ke seluruh sudut kelas, berharap ada murid yang mau
menggantikanku untuk maju. Tidak mungkin! Aku bangkit dari bangkuku, dan
berjalan perlahan-lahan ke depan. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Ayo
Ran.. kau harus tenang. Aku sibuk merapal kata-kata itu dalam otakku.
“Baiklah,
salah seorang dari kalian mulai dengan mengarahkan mantra kalian pada lawan,
sebaliknya yang lainnya menangkal—bukan balas menyerang. Setelah kalian yakin
bisa, lanjutkan dengan duel ringan seperti yang telah dilakukan teman-teman
kalian tadi. Ingat, harus mantra yang kalian pelajari hari ini. Silakan mulai!”
tegas Profesor Elleine.
Aku
membiarkan Prita lebih dahulu memulai—bukan apa-apa, sudah kukatakan aku
benar-benar payah dalam pelajaran ini. Gadis di depanku ini meluncurkan mantra
‘Expelliarmus’ padaku, dan hanya aku sangkal dengan ’Protego’. Lalu—
Great!
Alarm di meja Profesor berbunyi menandakan waktu pelajaran habis. Oh, thanks
God! Kau menyelamatkan hidupku! Aku bersorak-sorak dalam hati. Rasanya ingin
kupeluk alarm merah kecil itu. Heh, jangan gila Ran! Ujar sebuah suara dalam
kepalaku. Aku mengabaikan. Rasanya seperti mendapat kiriman sekarung galleon saja.
Tanpa
di komando, aku dan Prita kembali ke bangku masing-masing. Kami bergegas
membereskan peralatan kami masing-masing dengan sedikit ribut. Yah, seperti
inilah suasana saat pelajaran usai.
“Jangan
lupa mengerjakan tugas kalian, dan kumpulkan paling lambat minggu depan saat
pelajaran mantra. Silakan kalian keluar dengan tertib. Good afternoon, Class!”
kata Proffessor Ell kembali ke ruangan pribadinya.
“Afternoon
Prof!” balas kami serempak—dan berhamburan untuk keluar kelas.
***
Aku
duduk di sofa merah dekat perapian di sudut ruang rekreasi Gryffindor. Tanganku
sibuk membolak-balik buku ramuan di pangkuanku—tapi percayalah, tak sedikitpun
penjelasan dari buku ini masuk ke kepalaku. Aku tidak heran. Bukannya aku
memang payah dalam semua pelajaran di Hogwarts ini? Kutolehkan kepalaku
memandang setiap sudut ruangan ini. Semuanya berjalan seperti yang
seharusnya.
Di
tengah-tengah ruangan terlihat beberapa siswa tingkat 1 yang sedang
bergerombol. Mereka membentuk lingkaran kecil tak beraturan dengan dua orang
siswa tingkat 2—Kurt Potter dan Tom Johnson—berada di pusatnya. Masing-masing
dari mereka memegang sebuah notes dan pena bulu—sibuk mencatat yang dituturkan
oleh Kurt dan Tom. Mereka sangat bersemangat sekali. Berkali-kali tampak Len
Jordan mengacungkan pena bulunya kepada kedua bocah tersebut—entahlah, mungkin
gadis itu ingin bertanya.
Agak jauh
dari gerombolan itu, beberapa siswi perempuan juga larut dalam kegiatan mereka.
Joulie Stompson, Ikky Johnson, Maretha Longbottom, Lieann Vane, Mita Creevey,
Irma Stompson, Rara Longbottom dan dua orang siswi kelas tiga yang aku lupa
namanya saling melempar lelucon. Selanjutnya, mereka tertawa bersama-sama.
Berbeda dengan seorang gadis yang duduk berselonjor di dinding. Siswi tingkat 6
bernama Risa Granger itu sangat serius membaca buku di tangannya. Disebelahnya,
Mey Creevey dan Sitha Creevey juga melakukan hal yang sama. Yah, mereka
terkenal rajin diantara siswa-siswi Gryffindor.
Lain lagi
dengan dua orang siswa tingkat akhir Roxas Jordan dan Kyo Albus Potter yang
duduk tidak jauh dari Risa, Mey dan Sitha. Entah apa yang mereka kerjakan—yang
pasti tidak berhubungan dengan yang namanya ‘belajar’. Ah, bukannya mereka
sebentar lagi akan mengadapi ujian akhir—NEWT? Tiba-tiba saja Willa Vane mendekati
kedua orang tersebut dengan berkacak pinggang. Entah apa yang dilakukannya,
tapi berhasil membuat kedua cowok itu membubarkan diri—dan buru-buru menarik
salah satu buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja di dekat situ.
“Murid
kelas tujuh sudah seharusnya mempersiapkan diri untuk ujian akhir, bukan?!”
tukas Willa dengan sedikit jengkel.
Kelompok
cowok-cowok di seberang ruangan menertawakan Roxas dan Kyo. Begitu juga dengan
para gadis-gadis yang juga ikut bersorak. Dalam sekejap, suasana menjadi ramai
karena saling menertawai. Yah, begitulah suasana disini setiap malam. Hampir
tidak pernah sepi. Karena semua orang dapat berbaur dengan akrab satu sama lain
dan menghangatkan suasana. Kecuali aku. Haaaah~
Aku
menundukkan kepala. Memakukan seluruhnya pandanganku pada halaman buku yang
sedari tadi kupegang. Tiba-tiba aku merasa sesak. Apakah aku pantas berada
disini bersama mereka? Aku jarang sekali menggabungkan diri bersama mereka. Kebodohanku
dalam akademik rupanya menular pada kemampuanku untuk bersosialisasi. Aku
benar-benar payah! Seingatku, belum pernah satupun aku melakukan sesuatu yang
baik untuk asrama ini. Hanya pengurangan point yang bisa aku sumbangkan karena
kebodohan dan kecerobohanku selama tiga tahunku disini.
“Hei,
Ran!”
Sapaan
ringan dan tepukan pelan di pundakku menyadarkanku. Aku mengangkat wajah dan
mendapati gadis cantik yang seangkatan denganku—Rizza Weasley, tersenyum
kearahku.
“Kau
sedang apa?” katanya melirikku—bukuku—sejenak. “Wah, rajin sekali kau belajar
dalam suasana heboh seperti ini,” sambungnya seraya mendudukkan diri di
sebelahku. Rizza mengalihkan pandangannya ke arah mereka yang masih heboh
bersama.
“A-ah,
tidak,” jawabku pelan. “Aku sangat tidak berbakat dalam pelajaran ramuan,
karena itu aku harus membaca lebih, bukan?” aku melempar senyum canggung kearahnya.
Bohong!
Aku sama sekali tidak berniat menghafal rentetan kata-kata dalam buku ini. Sudah
kubilang kan, meskipun berjam-jam aku membaca, otakku sulit untuk mencernanya.
Jadi, buku ini hanya kamuflase saja, batinku. Sungguh menyedihkan.
“Kau
sendiri sedang apa?” tanyaku balik.
Gadis
itu kembali tersenyum. Kemudian menjawab, “aku baru saja selesai mengecat pajangan
koleksiku,” ia mengayunkan jari-jari lentiknya kearah beberapa pajangan
berbentuk Putri Duyung yang tampak mengilap di bawah sinar lampu. Aku menoleh
kearah yang ditunjuknya. Pajangan-pajangan yang entah terbuat dari apa
itu—karena aku tidak tahu—sangat cantik. Aku mengangguk sekilas dan tersenyum
tulus—bahkan disaat begini aku tidak tahu caranya menyenangkan hati orang.
Betapa menyedihkannya kau Ran! Gadis itu balas tersenyum—berseri-seri.
Kuberi tahu suatu hal, Rizza sangat menyukai
segala sesuatu tentang wanita cantik berekor ikan tersebut. Bahkan menurut
gadis-gadis disini, dia sangat ingin bertemu dengan Merpeople di dasar Danau
Hitam. Mungkin kamarnya dipenuhi dengan pernak-pernik tentang Putri Duyung.
Tiba-tiba
lubang lukisan terbuka, dua orang orang masuk kedalam. Seketika kehebohan
terhenti melihat siapa yang datang—walaupun masih menyisakan ocehan pelan.
Bagas Potter—siswa tingkat 6 yang merupakan Seeker sekaligus Kapten Quidditch
Gryffindor—bersama Profesor Elleine Flitwick—Kepala Asrama Gryffindor yang juga
Guru Mantra—berjalan pelan ke tengah ruangan.
“Mengapa
jam segini kalian belum juga tidur?” tanya Profesor Ell sambil menoleh sekilas
pada jam dinding bercorak merah dan emas yang tergantung diantara pintu masuk
kamar anak laki-laki dan kamar anak perempuan.
Aku
turut melirik kesana, ya memang sudah agak malam rupanya.
“Ah,
sedikit bersenang-senang bersama tidak apa kan Prof?” Lee Jordan menyahut
diantara kerumunan cowok-cowok, lalu ia ber-high five dengan Leon Longbottom
yang duduk di sebelahnya. Anak-anak tingkat satu yang masih berada di ruangan
ini mengangguk-anggukkan kepala mereka dengan serius. Bagas sudah mendudukan
dirinya di salah satu sofa dekat situ. Ia melepas jubah seragamnya yang masih
terpasang.
Melihat
ini Guru Mantra itu tersenyum, “tidak apa memang. Tapi sebaiknya kalian masuk
kamar, karena jam malam sudah hampir habis.”
Siswa-siswi
kelas satu langsung berhamburan ke kamar mereka masing-masing, saling
menggumamkan ‘selamat malam’ acuh tak acuh.
“Ah,
hampir saja terlupa,” Prof Ell yang tadinya akan keluar, berbalik lagi
menghadap kami. “Besok sore semua Tim Inti Quidditch berkumpul di lapangan,
kita akan menyeleksi calon Keeper untuk pertandingan sebulan lagi. Rifvandy
Stompson, Ikky Johnson dan Ran Stompson persiapkan diri kalian!” sambungnya
sambil melirik kami bertiga bergantian. “Silakan kalian masuk kamar, saya
keluar dulu. Good night all..”
Setelah
Profesor Elleine keluarpun aku masih sibuk mencerna ucapannya tadi. Aku? Salah
seorang calon Keeper yang akan diseleksi? Haha ini pasti sebuah kesalahan. Di
darat saja aku sering kena sial karena kecerobohanku, apalagi di udara?
Tu-tunggu!
Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku mencoba menelisik kembali memoriku
beberapa hari kebelakang. Dan tiba-tiba sebuah ingatan menghantamku telak.
Sapu
terbang—Quidditch— Lapangan hijau—Pengumuman—Kantor Profesor Ell— Surat
pendaftaran jadi.. Keeper?
Oh
tidak! Kau sendiri kan yang memberikan kertas pendaftaran itu pada Profesor
Elleine, Ran? Mencoba peruntungan terbang di atas sapu—begitu kan katamu
seminggu yang lalu, apa kau lupa? Lagi-lagi sebuah suara di dalam kepalaku
menjawabnya. Aku tak dapat berpikir lagi.
Suara-suara
siswa-siswi yang beranjak ke ranjang mereka masing-masing, menyadarkanku. Rupanya
Rizza sudah tidak di sampingku lagi—kapan dia pergi? Akupun mengikuti mereka.
Kuraih buku ramuanku yang masih terbuka, dan cepat-cepat berjalan melewati
beberapa murid—semoga saja pikiranku kembali jernih saat aku terbangun pagi
nanti.
***
Cuaca
sangat cerah sore ini. Langit birunya bersih, dengan gumpalan-gumpalan awan
putih seolah menegaskan hari ini adalah hari yang indah. Sangat cocok untuk
latihan Quidditch, bukan?
Quidditch.
Rasanya ketakutanku bertransformasi menjadi ‘kata sembilan huruf’ itu, semenjak
pengumuman tadi malam. Aku benar-benar tak habis pikir—mengapa aku begitu
bodohnya sampai terpikir buat mendaftar segala? Ah, sudahlah.. terima saja
nasib yang sudah menunggumu Ran.
Aku
sangat gugup—tentu saja. Memang ini bukan pertama kalinya aku berada di atas
sapu. Tapi, fakta bahwa aku sekarang sedang terbang tepat di dapan tiga gawang Quidditch—membuatku
frustasi. Ini benar-benar sebuah bencana! Aku mengeratkan peganganku pada
tangkai sapu.
Profesor
Elleine sendiri yang menjadi wasit. Dengan Bagas sebagai Seeker sekaligus
Kapten. Risa, Roxas dan Joulie pada posisi Chaser. Willa dan Maretha memegang
Beater. Mereka terbang meliuk-liuk di tengah lapangan—saling lempar dan
mengayunkan tongkat pemukul untuk menghantam bola Bludger yang mendekat.
Di
barisan penonton, Rifvandy duduk dengan tenangnya, menantikan gilirannya untuk
berada di posisiku sekarang. Ikky tidak dapat hadir sore ini. Entah kenapa,
tiba-tiba cewek itu sudah terbaring di atas tempat tidurnya siang tadi. Katanya
sih, sakit perut karena salah makan. Dengan begitu, seleksi kami diulang besok
lusa—dengan catatan hari ini tetap diadakannya seleksi, sekalipun hanya satu yang
dapat hadir.
Tiba-tiba
saja sebuah Bludger terbang ke arahku—Risa yang memegang Quaffle juga meluncur
hampir bersisian dengan Bludger itu. Oh, apa yang harus aku lakukan? Jika aku
menghindari bola hitam itu, berarti aku membiarkan Quaffle masuk dengan mulusnya
di tangan Risa—dan jika aku tetap bertahan menghalangi gadis itu, sama saja
membiarkan tubuhku dihantam Budger. Geez!
Dengan
bodohnya aku tetap berada diposisi semula dan merentangkan kedua tanganku—aku
tak dapat berpikir lagi! Dalam sekejap, bola merah itu lolos melalui gawang
bundar itu—dan untung saja Bludger melintas hanya berjarak beberapa senti dari
bahuku.
“Konsentrasi
Raaann!!” teriak Bagas dari atas sana. Dia sudah dari tadi meneriaki semua
pemain.
Aku
menelan ludah. Jantungku seolah mau melompat keluar saking gugupnya. Hampir
saja aku celaka gara-gara Bludger tadi. Aku benar-benar frustasi sekarang. Semua
daftar kecerobohanku berkelebatan dalam pikiranku. Menyadarkan bahwa aku sama
sekali tidak pantas berada atas sapu ini. Tuhan, jangan biarkan aku mengacaukan
mereka untuk kali ini.. tanganku masih berpegangan erat pada ujung sapu. Aku
memejamkan mata dan menggeleng kuat-kuat—mencegah cairan bening yang mulai
menyeruak dikedua mataku.
***
Aku
berlari dan terus berlari. Berlari secepat yang aku bisa. Berlari sampai rasanya
kedua kakiku mati rasa. Aku sudah tidak peduli lagi dengan sapu terbang dan permainan
yang kutinggalkan begitu saja—untung waktuku bermain sudah habis. Tak peduli
dengan napasku yang sekarang terasa putus-putus. Yang sekarang kupikirkan,
bagaimana aku dapat mencapai kamarku dangan cepat.
Haruskah
selalu seperti ini? Harus akukah yang selalu membuat semuanya kacau seperti
ini? Apakah memang takdirku menjadi seorang penyihir yang
gagal?
Sesak dalam dadaku semakin menjadi-jadi.
Mencengkram jantungku kuat-kuat dan membuatnya seolah tak bisa merasa. Lebih perih
dari kakiku yang berlari tanpa henti. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya—mencoba
membagi rasa sakit ini pada udara. Tapi aku tak bisa. Suaraku tertahan di
tenggorokan, tak mampu mencapai permukaan. Cairan hangatlah yang kurasa
menuruni pipiku—bodoh! Tolong jangan menangis disini. Kumohon, mata..
berhentilah memproduksi liquid bening ini.
Pandanganku mulai mengabur lantaran air
mataku terus mengalir. Tanganku mengusapnya kasar—membuatku tak memerhatikan
ujung koridor ini berbelok ke kanan, dan rasanya aku menabrak seseorang. Aku
mengacuhkannya dan terus berlari sampai aku memanjat lubang lukisan.
“Sid, kau tidak apa-apa?” samar-samar aku
mendengar suara gadis—mungkin dia teman orang yang barusan aku tabrak.
Ruang rekreasi nyaris kosong saat aku
melewatinya. Untungnya akal sehatku masih berjalan, sehingga aku tak berniat
membanting pintu kamarku sekeras-kerasnya. Aku terduduk disisi ranjang. Sesak
itu lagi! Kembali aku sulit untuk bernapas, seperti ada ribuan Dementor yang
menyedot udara sekitarku—seluruh tubuhku seolah mati rasa. Membuatku tak dapat
menngecap secuil harapan yang mungkin masih tersisa. Mulutku mengatup-membuka
mencoba memunculkan suara—hanya isakan pelan yang mampu dihasilkannya.
Tuhan.. mengapa aku tidak terlahir sebagai
Squib saja? Aku sungguh tidak tahan jika terus-terusan begini. Menjadi penyihir,
tapi sama sekali tidak mempunyai bakat—yang lebih parah, mereka juga merasakan
dampak dari semua kebodohanku. Mengapa harus aku?
Air mataku tumpah diluar kendali. Aku tak
berniat lagi menghentikannya. Menangislah.. bawalah semua sesak ini turun sampai
habis tak bersisa.
***
Aku terbangun besok paginya saat matahari
sudah mulai naik. Ah, aku kesiangan. Untungnya hari ini adalah akhir pekan,
jadi tidak ada pelajaran sepanjang hari. Aku bangkit dengan malas-malasan.
Rasanya tidak ingin turun ke Aula Besar—tapi apa boleh buat? Perutku
keroncongan minta diisi, dan tadi malam aku juga melewatkan makan malam. Haaah~
Perkiraanku Great hall sudah sepi ternyata
salah. Masih banyak siswa berkeliaran saat aku turun untuk sarapan. Cuaca di
luar memang tidak bersahabat—kurasa itu penyebab mereka tak ingin meninggalkan
kastil sepagi ini.
Aku mengeratkan sweater marun bermotif
kotak-kotak yang kupakai, dan melangkah kearah meja yang ditempati anak-anak
Gryffindor. Akupun mulai menyantap makanan dengan diam.
Kebanyakan dari semua siswa disini telah
menyelesaikan sarapan mereka. Lebih banyak yang berkumpul untuk sekedar
mengobrol dari pada berkutat dengan buku atau tugas mereka. Di dua meja di
depanku—meja Ravenclaw, tiga saudara Belby—Nuvha, Arvina dan Jessica—dikerubungi
oleh murid-murid dari tingkat satu atau dua. Bahkan ada yang membawa kamera
segala—yah, mereka bertiga memang siswi paling populer di Hogwarts.
Tiba-tiba berbagai jenis burung hantu
beterbangan ke dalam aula. Membawa surat, maupun paket buat para pemiliknya.
Burung hantu-ku yang berjenis Angry Owl berhenti tepat diatasku, menjatuhkan
sebuah amplop bewarna putih tulang. Aku mendapat surat! Dari siapa? Orang
tua-ku telah mengirim tiga hari yang lalu—rasanya tak mungkin kalau dari rumah.
Aku membukanya dengan perlahan. Sebuah surat pendek dengan tulisan rapat-rapat
dan rapi.
Kepada,
Miss
Ran Stompson, Gryffindor.
Temui
saya di kantor pribadi saya setelah makan siang.
Profesor
Elleine Flitwick
***
Aku melangkah takut-takut saat melewati
pintu kantor Profesor Elleine. Disana, Guru Mantra itu duduk menanti
kedatanganku.
“Silakan duduk, Ran,” ia mempersilakanku
sambil tersenyum. Aku mengangguk gugup, jantungku berdegup dua kali lebih
cepat. Apakah aku akan diadili?
“Kau tahu tujuanku memanggilmu kesini,
Ran?” aku menggeleng takut-takut. Kepala Asrama Gryffindor itu kembali tersenyum. “Aku
tahu kau sedang bermasalah. Nah, ungkapkanlah.. mungkin aku bisa membantumu.”
Aku tidak dapat berbicara. Tercabik antara
terharu dan malu sekali. Apa aku begitu transparan sehingga Profesor Ell tahu
masalahku?
“Sa-saya..” aku bingung mau mengatakan apa.
Kalau aku diam saja, berarti aku menyia-nyiakan kebaikan guru di depanku ini. Tapi aku
sungguh malu—melibatkannya dengan masalah bodohku. “Prof, apakah saya boleh bertanya?” walaupun
sedikit heran dengan pertanyaan tiba-tibaku, guru itu mengangguk dan tersenyum.
“Menurut Anda, mengapa Topi Seleksi
menempatkan saya di Gryffindor?” aku sedikit terkejut dengan pertanyaan yang aku lontarkan.
Aku juga tidak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian mengungkapkannya.
Profesor Elleine terdiam sejenak. “Tentu
saja dia melihat bakatmu di Gryffindor, bukan?” Ia tersenyum sekilas, “Topi
Seleksi menempatkanmu karena dia tahu kau mampu—”
“Benarkah begitu?” aku memotong ucapannya, “tapi
Anda tahu saya sama sekali tidak berbakat, Prof!” aku mengucapkannya dengan
suara agak tinggi. Hei Ran! Sadarkah kau sedang berbicara dengan seorang guru?
“Anda tahu sedikitpun saya tidak berguna untuk Gryffindor—sekedar berbaur
bersama merekapun tidak bisa! Bahkan, saya tidak pantas ditempatkan di Hufflepuff,
Ravenclaw, Slytherin sekalipun!” pikiranku bertindak di luar kendali. Aku tidak
bisa mencegahnya keluar begitu saja dari mulutku. Rasanya aku ingin menangis
lagi.
“Ran, kau dengarkan aku!” Prof Ell berkata
sedikit tegas. “Topi Seleksi belum pernah salah menempatkan murid-murid di
Hogwarts. Sekalipun murid itu ragu akan kemampuannya, tapi Topi seleksi
mampu membaca semuanya—ia melihat ke dalam hati seseorang saat ia dipakaikan pada kepala orang
yang akan diseleksinya. Jadi, sekalipun kau merasa tidak pantas
berada diantara para genius Ravenclaw, atau orang-orang pekerja keras seperti
Hufflepuff, atau bersama orang cerdik Slytherin, maupun ksatria seperti Gryffindor, Topi Seleksi telah
menentukan takdirmu. Tergantung bagaiman cara kau menunjukkan bakat Gryffindor yang
ada dalam dirimu.”
Aku tak mampu merespon apa-apa. Perkataan
Profesor Elleine serasa embun sejuk yang mengalir ke kepalaku—turun ke hatiku dan
menghanyutkan seluruh
sesak dan ketakutan yang selama ini tertanam dalam tubuhku.
“Nah,
kau sudah mengerti maksudku Ran?” lagi-lagi ia tersenyum, “sekarang kau
kembalilah ke teman-temanmu, belajarlah untuk menganggap mereka sebagai
saudaramu sendiri. Karena mereka semua benar-benar saudaramu kalau kau tidak
terus-terusan menghindar,” ia menepuk pundakku sekilas.
Aku
mengangguk, lalu bangkit dan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Terima
kasih, Prof Ell.
***
“Raaaann Ikkkkyy cepaaatt! Jangan
kalian biarkan Bagas berceramah hanya kerena kalian terlambat ke lapangan!” suara
Joulie Stompson bergaung di ruang rekreasi sebelum kemudian gadis itu keluar
dari lubang luikisan dan berlarian disepanjang koridor.
Aku dan Ikky tidak membalas—tidak ingin berteriak dengan
kondisi kami juga berpacu mengikuti jejaknya menuju lapangan.
Yah,
semua yang dikatakan Profesor Elleine kemarin benar. Sudah sepantasnya aku
menganggap mereka semua keluarga, bukan?—karena mereka benar-benar berarti.
Aku
teringat dengan burung hantu-ku yang tadi pagi aku utus mengirim surat. Apakah
dia sudah kembali ya?
“Riga,
kau antar ini, ya?” aku mengusap-usap kepalanya setelah mengikatkan surat di
kakinya.
Profesor Elleine,
Terima kasih telah mengajarkanku apa itu memahami
dan menyayangi.
Ran Stompson
.
.
Walaupun cahaya itu hampir redup, bukan tidak mungkin baginya untuk
bersinar. Sekalipun kau merasa lemah, tugasmu adalah menemukan sesuatu yang
berharga dalam dirimu, dan membawanya kepermukaan. Karena kau ditempatkan
diantara orang-orang hebat, berarti kau harus membuktikan bahwa dirimu hebat
juga, bukan?
The Light
Become Shine (c) Me
Hogwarts—Harry
Potter (c) J.K. Rowling
Wizard
of Hogwarts University (c) Profesor Rowena Ravenclaw
All
character in story (c) Profesor and Wizard of WHU
lumayan jugaa Fun Fiction nyaa.... :D
BalasHapusperanku lumayan banyak xD
tp, kenapa pas pemilihan keeper saya nya sakit perut...
malu maluin... -_____- xD