Autumn Ran

 
.
.

“Ayolah Al, please..”

Ini mungkin keseratus kalinya aku mendengar kalimat yang sama terlontar dari mulut gadis itu. Entahlah, aku juga tidak berniat menghitungnya. Padahal aku sudah menyumpal telingaku dengan earphone—dan aku tidak tahu mengapa suara melengking gadis yang sedang bersila di ranjangku itu masih saja terdengar oleh telingaku.

Aku melepas penyumbat telingaku, dan memutar kursi belajarku menghadapnya—yang semula memunggunginya.

“Kenapa aku harus membantumu, Myranda?” tanyaku datar.

“Tentu saja karena kau sahabatku, Al,” gadis itu menatapku dengan senyum merekah.

Aku menghela napas, “kau dengarkan aku Myran, diantara kita berdua yang paling mengerti—bahkan menggilai—dunia fashion dan segala tetek bengeknya itu adalah kau. Dan aku adalah Alicia yang jauh dari kata mode ataupun trend. Jadi, kau salah orang meminta bantuanku untuk—”

“Kau pasti bisa membantuku Al—”

“—dan bukankah kau sendiri yang mengejekku sebagai gadis-pecinta-komik-yang-ketinggalan-jaman, eh?” aku tersenyum sinis padanya.

Myranda mengerucutkan bibirnya, “yah Al, masa begitu saja kau marah? Waktu itu aku kan hanya bercanda, hehe..”

“Terserah kau sajalah!” balasku acuh tak acuh.

“Eh? Berarti kau setuju untuk membantuku?”

Haish, gadis ini..

Sebelum aku sempat menjawab, Myranda sudah lebih dulu mengoceh, “aku merasa bosan menampilkan itu-itu saja buat Festival Kota besok. Maka dari itu kau harus membantuku untuk mempersiapkannya. Kau mau ya Al?”

Aku diam saja. Hanya memandanginya dengan ekspresi datar sebelum akhirnya berujar, “memangnya bantuan apa yang bisa aku berikan? Kau tahu aku sama sekali tidak ahli dalam hal itu.”

Gadis itu tersenyum penuh arti, “otakmu tidak hanya berisikan komik kan? Kau pasti bisa menemukan sesuatu yang brilian untukku!”

Hah! Yakin sekali gadis ini?!

“Ayolah..” gadis itu menempelkan kedua tangannya di depan dadanya—memberiku pandangan polos seperti anak kecil yang berharap dikasih permen.

Aku menatapnya gusar. “Oke, oke, akan aku bantu. Tapi aku tidak janji,” balasku pasrah.

“Oh, kau memang sahabatku paling baik, Al!” ujar gadis itu riang seraya melompat-lompat kegirangan. Aku bergidik melihat kelakuannya.

***

Festival Musiman. Yah, itulah penyebab Myranda datang untuk ‘merusuh’ ke kamarku. Gadis itu selalu menjadi peserta tetap festival yang diselenggarakan di kota-ku setiap pergantian musim. Semua peserta festival ini berparade keliling kota dengan mobil ataupun sepeda yang telah dihias sebelumnya. Mereka berparade mengelilingi kota melalui jalan raya, sampai ke pusatnya—taman kota—dan ditutup dengan peragaan busana. Sebagian besar dari peserta ini adalah remaja seusiaku, mereka memamerkan busana trend yang berbeda tiap musimnya—yah, tujuan sebenarnya dari peragaan busana ini adalah untuk mempromosikan pakaian yang akan booming pada hari-hari selanjutnya.

Misalnya pada festival kali ini, pada umumnya busana yang ditampilkan adalah pakaian-pakaian seperti sweater, syal, blouse model turtle neck serta baju dan jaket tebal yang biasanya dijumpai pada musim gugur dan musim dingin. Berbeda dengan musim semi ataupun musim panas. Pakaian berbahan kaos tipis seperti denim, hot pants, mini dress, serta pakaian casual—yang biasanya bermotif floral, tie dye dan spread ink—lah yang banyak bermunculan.

Myranda juga selalu tampil mengikuti mode yang sedang trend saat itu. Yah, sahabatku yang selalu tampil modis itu tak pernah ketinggalan dalam hal fashion. Tapi kenapa dia tiba-tiba merasa bosan dengan semua itu? Dan dia juga mendadak memintaku membantunya menemukan busana yang pas untuk ditampilkan pada festival besok. Apa yang bisa aku lakukan?

Aku menatap lurus keluar jendela di samping meja belajarku. Seharian penuh otakku sibuk memikirkan busana fashion untuk Myranda. Haaaah~ gadis itu selalu melibatkanku dalam hal-hal yang rumit. Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Entah mengapa pandanganku terkunci pada daun-daun yang sedang melayang-layang tertiup angin. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas dikepalaku, dan aku menyambarnya cepat-cepat. Sebelum menguap bersama angin musim gugur. Yeah, itu dia!

Aku segera bangkit dan meraih ponselku yang tergeletak sembarang di meja belajar. Jari-jariku mengetik sebuah pesan singkat.

To: Myranda
Myr, aku sudah menemukan ‘sesuatu’ untuk festivalmu. Besok sore kau datang ke rumahku ya?
Sender: Alicia

***

Myranda datang agak cepat ke rumahku. Dia membuka pintu kamarku dengan tiba-tiba, mengejutkanku yang sedang membaca komik sambil mendengarkan musik—aku terbiasa membaca komik dengan telinga tersumbat earphone.

“Hai Al,” dengan raut tak berdosa dia menyapaku riang seraya melemparkan barang-barang bawaannya ke ranjangku. Lalu, dengan santainya dia duduk di sofa sambil membuka-buka majalah fashion—yang juga dibawanya. Aku melempar pandangan mengutuk padanya.

Aku menutup komik-ku, melemparnya secara asal ke tumpukan komik-komik lainnya. “Baru sekali ini aku lihat kau datang lebih cepat dari waktu perjanjian,” aku menyindirnya seraya melepas earphone.

“Membuat orang lain itu menunggu itu tidak baik Al,” gadis itu menjawab enteng tanpa memandangku—masih membolak balik majalahnya.

Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat kelakuan sahabatku itu. “Oke terserah apa katamu sajalah Myr!” aku menghampirinya ke sofa dan mendudukan diri di seberang gadis itu. “Ah, bukannya tujuanmu kesini untuk membahas busana festivalmu, Myr? Kalau begitu kau harus menyingkirkan majalah dihadapanmu itu.”

“Dengan senang hati!”

Aku tersenyum tipis padanya. Kelihatannya suasana hati gadis ini sedang baik.

“Oke, pertama, untuk festival kali ini kau harus memakai tema yang cocok—dan aku sudah menemukanya untukmu. Aku menamainya Gadis Musim Gugur—”

“Gadis Musim Gugur?” kening gadis itu berkerut dan sebalah alisnya terangkat lantaran bingung. Sebelum kerutan itu terurai, aku buru-buru melanjutkan.

“Tepat! Kau tidak perlu mengikuti model busana yang sedang trend saat ini. Saranku, kau harus mencoba tampil biasa—lebih tepatnya sederhana—tanpa gaun atau sweater dan semacamnya, serta tanpa riasan wajah, make-up, dan riasan rambut seperti biasanya,” Myranda Cuma melongo mendengarku. Aku melanjutkan, “emm kurang lebih seperti ini,” aku menunjukan sebuah ilustrasi halaman novel padanya. Gambar seorang gadis ber-syal dibawah sebuah pohon yang tak ditumbuhi daun—semua daunnya sudah berguguran dan menutupi permukaaan tanah. Gadis dalam ilustrasi itu menatap kosong ke arah ujung jalan yang lengang.

“Kau bercanda Al!” Myranda menatapku tak percaya. “Kau lihat bajunya—lihat! Cuma sebuah dress biasa—”

“Memang sebuah dress biasa,” aku membeonya.

“—mana mungkin aku pakai yang seperti itu?!” pekiknya histeris. “Dan—dan kau lihat sepatunya, oh bahkan aku mengiranya tidak pakai sepatu! Cuma flat shoes tipis—terlalu sederhana Al! Aku.. aku tak bisa memikirkan yang seperti ini,” ia menggeleng-gelengkan kepalanya—sok—dramatis.

“Ish, kau Drama Queen sekali!” ejekku gusar. “Kau memintaku untuk membantumu, dan inilah yang bisa aku lakukan. Aku tak bisa memikirkan merk-merk trend yang biasa kau pakai—dan menurutku kau sesekali harus menjelma sebagai Gadis Musim Gugur—gadis sederhana yang seolah begitu memahami suramnya musim gugur.” 

Myranda memandangiku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi kurasa dia membenarkan saranku bahwa dia harus mencoba sesuatu yang berbeda. Aku terkikik geli dalam hati.

“Err sepertinya aku harus mengikuti apa katamu Al,” katnya sedikit mengeryit. Aku tersenyum lebar. “Tapi aku tidak akan seperti gadis dalam iliustrasi itu! Dia tampak menyedihkan!” dia menambahkan cepat-cepat.

“Nope!” aku mengangguk senang.

“Akan kubuat seluruh kota terpesona pada penampilanku nanti! Hahaha..” ia tertawa-tawa sambil mengangkat tinjunya ke udara. Aih, percaya diri sekali dia!

“Oh! Kita melupakan sesuatu!” tiba-tiba aku berseru, Myranda menoleh kepadaku dengan pandangan bertanya.

“Bunga. Kau harus membawa bunga, Myr! Bukan sebuket bunga warna-warni, tapi kau hanya butuh setangkai bunga untuk melengkapi penampilanmu nanti.”

Walaupun sedikit bingung, dia tetap menggangguk. “Bunga apa tepatnya?”

“Cukup setangkai ran putih—”

“Ran? Bunga ran? Bunga apa itu? Aku tidak tahu bunga macam itu,” ia menyelaku.

“Makanya kau dengar dulu penjelasanku!” gerutuku sebal. “Bunga ini memang jarang terlihat, tapi bunga ran adalah bunga musim gugur, dia memunculkan bunganya hanya di musim gugur sa—“

“Kenapa bukan tulip atau lily saja? Aku lebih suka bunga tulip dibanding—” aku mengangkat sebelah tanganku, mengisyaratkannya untuk diam.

 “—lagi-lagi kau meyelaku! Haaah~” aku menghela napas kesal. Myranda meringis sambil menyengir minta maaf. “Menurutku bunga ini sesuai dengan tema festivalmu. Gadis musim gugur dengan setangkai bunga ran. Haha,” aku tertawa.

“Iya, iyaaa..” Myranda menggembungkan pipinya sebal.

***

Gadis itu berjalan perlahan disepanjang jalan yang dipenuhi dedaunan kering itu. Ujung dress coklat pucat selutut—terbuat dari bahan ringan dan melayang—yang dipakainya itu bergoyang-goyang tertiup angin musim gugur. Sebuah jepit kecil berbentuk daun maple kering tersemat manis dirambutnya yang tergerai babas—yang juga melambai-lambai dibuai angin yang sama. Daun-daun dari pohon disekitarnya berguguran. Melayang-layang anggun sebelum mendarat di tanah, dan akhirnya berhamburan kembali tatkala beradu dengan langkah kaki yang ditutupi dengan sepatu boots beludru bewarna putih tulang itu. Kedua tangan gadis itu menggenggam setangkai bunga (aku dapat menebaknya, itu bunga ran!) yang sudah dikeringkan. Gadis itu masih berjalan lamat-lamat ke arah puluhan remaja peserta peragaan busana festival kota yang berjejer rapi di ujung jalan.

Gadis itu Myranda. Dia menjadi kontestan terakhir yang berjalan memamerkan busana musim gugurnya.

Aku terseyum dibawah pohon elm tempatku menonton festival—sedikit terpisah dari kerumunan orang-orang. Gadis itu benar-benar memesona dalam penampilan sederhana itu. Berbeda dengan Myranda yang selalu tampil modis yang kukenal selama ini.

Yah, dengan kesederhanaan dan tidak berlebihan juga bisa memukau, bukan?

THE END

Komentar