Chocophobia [Flashfiction]


“Akh!” 

Pekikan pelan dari seorang gadis bergaung di koridor loker yang lengang itu. Gadis itu menatap ketakutan ke dalam lokernya yang setengah terbuka. Tak ada apa-apa sebenarnya, hanya sebuah benda kotak persegi panjang pipih dibalut kertas kado merah muda dan pita cantik bertengger manis disana—cukup membuat gadis tersebut merinding ditempat. 

Kikikan pelan dibelakangnya menyadarkan gadis tersebut, seketika ia membalikkan tubuhnya menghadap sahabatnya yang tengah membekap mulutnya—menyamarkan tawanya. 

“Sama sekali tidak lucu, Ivanna!” gerutu gadis itu sebal. 

“Jelas-jelas itu sangat lucu bagiku, haha..” kemudian ia tertawa lagi sebelum kemudian melanjutkan, “lagian kau ini, mana ada orang yang begitu takutnya hanya karena sebatang cokelat? Haha—aduh, perutku sampai kram karena tertawa..” gadis yang dipanggil ‘Ivanna’ tadi masih terkekeh sambil memegangi perutnya. 

“Rasain kau!” gadis pemilik loker membanting pintu lokernya keras-keras—melenyapkan sisa tawa di wajah sahabatnya tersebut. 

“E-eh, kau—haaah, begitu saja kau marah. Kau kan tahu aku hanya bercanda, Lils,” Ivanna memasang tampang minta maaf. 

Yang bersangkutan tidak mengacuhkan, ia kembali membuka lokernya, niatnya dari awal ingin meletakkan buku catatannya ke dalam loker terlupakan karena benda manis itu tiba-tiba saja sudah ada disana. Ia merogoh-rogoh tasnya, sesaat kemudian menyorongkan buku catatannya ke dalam loker sempit itu dengan takut-takut, sedapat mungkin tidak menyentuh sebatang cokelat ‘bermasalah’ itu. 

“Kalau aku jadi kau, aku akan sangat bersyukur mendapat kiriman cokelat enak begini setiap hari,” tiba-tiba saja Ivanna berkomentar dibelakangnya dan meraih batangan cokelat itu dari dalam loker Lily. “Aku dengan senang hati menerima ini kalau kau masih tak mau,” cengir gadis itu, lalu tangannya membuat gerakan seakan mau membuka balutan kertas kado pada cokelat tersebut. 

“Hei—jangan!” cegah Lily cepat. 

Ivanna melongo sesaat, melemparkan padangan bingung pada sahabatnya tersebut. “Kenapa Lils? Jangan bilang kau sekarang jadi penyuka cokelat.” 

“Err, maksudku.. cokelat itu bukan punyaku, aku tak mungkin menerima barang dari orang yang tidak aku kenal, bukan? Lagipula aku tetap tak akan memberikannnya padamu!” tukas gadis itu sewot—menutupi kegugupannya. 

“Huu, mungkin saja hari ini kau berubah pikiran,” cibir Ivanna. 

“Tidak akan!” Lily meraih tasnya, dan membukanya lebar-lebar dihadapan Ivanna, “sekarang kau masukkan cokelat itu kesini, aku akan membawa pulang cokelat merepotkan ini!” 

***

Tak ada seorangpun yang tahu fakta tersembunyi dibalik cokelat misterius Lily. Tidak ada yang tahu, dibalik pita yang mengikat batangan cokelat itu selalu tersimpan pesan pendek yang ditulis si pengirim cokelat misterius. Dan kenyataan bahwa Lily sekarang diam-diam menyimpan harap pada cokelat—atau mungkin pada si pengirim?—itu, yang sedikit mengurangi fobianya pada benda manis itu. Ya, tidak ada yang tahu—termasuk Ivanna. 

‘Cokelat itu manis, lebih manis kalau kamu tidak menolak mencobanya. A’ 

Sebaris kalimat pendek yang ditulis pada pita ungu itu membuat Lily tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu bahkan memeluk tali tipis tersebut. Seseorang berinisial A, siapa ya? Lily menerka-nerka siapa gerangan yang mengirim cokelat misterius tersebut. 

“Pasti dia sekelas denganku. Hanya teman-teman sekelas yang tahu aku tidak suka cokelat,” lagi-lagi senyum gadis itu mengembang disela-sela monolognya. “A, a, a, apa mungkin.. Alfan?” 

Satu nama tersebutlah sudah. Seketika Lily merasakan desiran aneh pada hatinya tatkala nama tersebut terlintas dalam benaknya. Alfan, cowok yang seingat Lily pernah memberondonginya dengan segudang pertanyaan kenapa-tak-suka-cokelat, melihat  Lily memekik histeris saat dipaksa teman sekelasnya mencoba brownies cokelat waktu Pekan Budaya lima bulan yang lalu. Saat itu Lily sampai heran dengan kelakuan Alfan, pasalnya cowok itu menurut Lily sudah meyamai bawelnya Ivanna saat menceritakan gosip seputar sekolahan. Lagi-lagi Lily merasakan perasaan asing yang menyenangkan karena memikirkan semuanya—detik itu pula gadis itu merasa wajahnya merona. Alfan, laki-laki yang belakangan ini juga memenuhi pikirannya. 

***

Seorang gadis bersenandung kecil saat berjalan di lorong loker sepi siang itu. Sepertinya suasana hatinya secerah hari di luar sana. Ia berhenti di depan sebuah loker, dan menjulurkan tangan untuk membukanya. Belum sempat jarinya menyentuh pegangan loker tersebut, gadis itu menahan tangannya, seketika jantungnya berdebar-debar. Sebuah cokelat terbungkus cantik lagi-lagi sudah menghuni lokernya, lonjakan perasaan gembira menyusup, seiring dengan wajahnya yang juga memerah—sangat berbeda dengan biasanya. Ya, gadis itu Lily. 

“Alfan, aku tahu kau yang setiap hari mengirim cokelat pada Lily. Apa kau—um, kau.. menyukainya?” 

Sebuah suara diujung koridor mengalihkan perhatiannya. Lily tahu itu suara Ivanna, dan laki-laki yang berbicara dengannya itu.. Alfan? Deg! Tiba-tiba saja rasa penasaran menyelimutinya. Ada apa gerangan antara sahabatnya itu dengan Alfan? Gadis itu menajamkan pendengarannya sambil mengamati kedua remaja tersebut dari depan lokernya. 

“Kalau kau memang suka padanya, sebaiknya kau tak perlu sembunyi-sembunyi seperti itu, Al. Kau bisa saja langsung mengatakan padanya.” 

Entah kenapa, Lily menemukan kesenduan dibalik suara Ivanna barusan. 

“Hah? Kau pikir aku menyukai Lily? Yang benar saja! Kau benar, akulah yang meletakkan cokelat itu di lokernya. Tapi itu kulakukan karena aku benci melihat sikapnya yang seolah-olah cokelat akan membunuhnya. Daripada itu.. aku sebenarnya menyukaimu, Van.”  

END 

***
Story only: 777 word. 

Komentar