Sajak-Sajak Februari
Err, ini saya bikin karena terinspirasi dari ‘30 Bait Puisi November’-nya Kak Dewi. Waktu itu saya mikirnya tiap hari ‘harus’ bikin puisi, waah untuk ukuran ehemamatirehem kayak saya rasanya belum sanggup, tapi Kak Dewi bilang nulis satu bait puisi itu sama saja dengan update status tiap hari, tinggal dibiasain aja :D Yaudah deh, saya langsung termotivasi! Saya menargetkan bikin ‘sajak-sajak’ bulan Februari ntar, karena waktu itu udah pertengahan bulan Januari :p *plak
Buat Kak Dewi maap ya, aku niru-niru Kakak -/\- Bikin puisi tiap hari itu ternyata asli susah, padahal saya udah bikin memo di ponsel supaya gak lupa. Yang ada saya kelupaan terus, bisa dipastiin saya ngetiknya nyaris tengah malam terus ==’
Yaudah, kebanyakan prolog deh saya, and this my poems of February (?), enjoy! :D
#1
Mengawalimu membuatku ragu
Adakah pertanda baik untukku?
Kini aku memunguti puing-puing harapan yang kembali terserak
Semestinya aku menelan tekad itu
Hei Februari, tunjukkan keajaibanmu!
#2
Waktuku berlari cepat
Menyisakan sekelebat memori dan mengakar penat
Meski ragaku berteriak memberontak
Namun tidak dengan jiwaku
Tersenyum ia bersama mega yang merona, tatkala bintang berpijar turun keperaduannya
Februari, hari keduamu seindah perjalananku
#3
Entah apa..
Aku tak ingin berkisah
Perih itu ada kala aku mendulang asa
Semua kupasrahkan begitu saja
Pada hujan yang diakhir menyapa
#4
Aku menggantung harap pada titik-titik basah
Turun dan tertanam abadi sampai ditanah
Dibalik hujan itu aku merajut rasa
Dibalik hujan itu aku merangkai cita
Hari keempatmupun berlari sudah
#5
Aku berbelok dari jalur yang biasa
Belum selangkahpun, kakiku serasa patah
Sudahlah..
Menyerah adalah cerita lama
#6
Ragaku nyaris menyerah
Keenam harimu sungguh tak mudah
Aku lemah
Dijejali bermacam aksara membuatku pasrah
Oh, Februari.. aku sudah lelah
#7
Rasa takut itu memenuhi rongga dada
Tak ingat aku waktu mengumpulkan harapan yang tersisa
Ternyata hujan menyampaikan pesan kesedihan
Hari ketujuh..
Hei Februari, seperempatmu berlalu jemu
#8
Aku jatuh cinta
Lewat syair lagu, ayunan dan sepeda
Lewat seuntai pesan pada selembar kertas sederhana
Dia.. dalam duniaku
#9
Aku menemukan sedikit celah pada kenangan itu
Sesungguhnya aku belum sepenuhnya lupa
Dan kembali aku terjebak bersama cerita lama
Februari, padahal ini sudah sembilanmu..
#10
Diam-diam aku berharap lebih pada hamparan pasir yang sama
Meskipun hilang terbawa angin berbeda
Tetap tak bisa..
Aku terlalu larut dalam pesonanya
#11
Bagaimana jika aku kehilangan kendali untuk berlari
Sedang sajak-sajak ini masih belum tertata rapi
Napasku terenggut, tersungkur, lantas mati?
Terperangkap aku dalam dimensi hitam-putih
Sebelas hari.. aku tertampar mimpi-mimpi
#12
Aku terpanggang oleh keangkuhan sang surya
Aku layu, mengangkat kepalapun aku malu
Lalu sang kontra muncul berwujud hujan, mengambil alih semua
Dan aku terombang-ambing di tengah-tengah
Duabelasmu datar-datar saja
#13
Rintik-rintik diluar sana terlalu berkuasa
Mengaburkan seluruh jejak-jejak yang dulu tertera
Mendadak aku lupa segalanya
#14
Ternyata hatiku masih belum berubah
Tak berdaya di awal membuat aku harus membayar lebih diujungnya
Mau tak mau, aku membuka mesin waktu
Memilah memori yang tertimbun jauh
Separuh rupamu telah kusibak, wahai Februari
#15
Ini adalah puncaknya menyerah
Setiap inci jiwaku menjerit-jerit putus asa
Aku sudah tak lagi mengenal lelah
Tinggal menunggu waktu kapan tubuh ini meledak, hancur terpecah belah
#16
Lelah masih menjambangiku jua
Tersendat-sendat aku tuk melangkah
Kilasan mimpi-mimpi itu menari-nari di ujung sana
Dan aku tak berdaya, masih terpancang di tanah
#17
Lagi-lagi aku mengulang kesalahan lama
Terperosok aku ke lubang yang sama
Rasanya masih seperti saat kali pertama
#18
Anganku tersampai melalui butir-butir bening itu
Meski sekelebat dan tersamar terang, sinarnya masih menawan
Dipenutup delapanbelasmu, kembali aku titipkan harapan
Kepada hujan yang mengawani berdendang
#19
Perjalanan ini masih terasa jauh
Disini aku mulai terasa jenuh, beringsut pelan, nyaris tak bergerak
Terperosok, hanya mampu merutuki waktu
Semuanya bagiku terasa abu-abu
Februari.. kapan kau berlalu?
#20
Andai aku diberi kesempatan oleh waktu, akan aku kunjungi masa lalu
Akan kujemput, lalu kubungkus rapi kenangan itu
Hanya aku sendiri yang akan tahu
#21
Ternyata sajak-sajakku cukup letih untuk berbagi
Percuma jika diujung sana aku dihadang perigi
Mendung yang menggantung dari pagi juga tak urung pergi
#22
Kilasan-kilasan memori itu masih berdenyut perih
Tak ada hak aku untuk merintih
Hanya terkadang aku merasa risih
Februari.. akankah penghujungmu berakhir sedih?
#23
Bolehkah aku sedikit mengecap secuil rasa?
Seharusnya aku cukup jika hanya menyelami sampai ke dasarnya, tanpa pernah merasa
Tapi kali ini aku ingin meminta, mungkinkah masih bersisa?
#24
Dua puluh empatmu terasa kelabu
Berkali-kali aku diterjang debu-debu
Menuntunku sampai pada jelaga hitam pekat
Gelap, dan aku kepayahan mencari permukaan
#25
Napasku terasa satu-satu
Dan aku serasa di ambang mati
Mengapa harus sekarang disaat semuanya takkan lama lagi?
#26
Puing-puing harapku yang dulu masih tersebar
Sanggupku lenyap jika harus berpencar lagi dan lagi
Pun aku semakin menjadi-jadi
Membiarkan mereka perlahan-lahan hilang mengubur diri
#27
Di detik-detik waktu penghabisan itu..
Segalanya takkan pernah padu
Dengan helaan napas yang tinggal satu-satu ..
Aku tergugu, tak mampu sekalipun beringsut kaku
Aku terlanjur malu pada lembaran lalu
#28
Dan kini, aku sampai pada penghujungmu, wahai Februari
Masih tertambat aku pada memori-memori
Lari dari mimpi yang entah kapan jadi sejati
Sajak-sajakku belum jua mampu mengecap abadi
Februari.. kau pergi dengan separuh aku masih padamu
Jembatani aku dengan jejak-jejakmu
Akan aku tapaki saat hari baru menjelang nanti
18 Mei 2013
Ranne ^^
Komentar
Posting Komentar