Kepala

Bolehkah aku bertanya seperti apa isi kepalamu yang seringkali kau sebut “pengendali ulung” itu? Aku bukannya meragukanmu, tapi kenyataan yang kau perlihatkan kepadaku kadang tak sama seperti apa yang kau gembor-gemborkan selalu. Dan kali ini aku sungguh penasaran dengan isi kepalamu.
Seperti pagi tadi, kau mendatangiku membawa wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mendadak kau terlihat seperti dianiaya beratus-ratus soal Matematika. Hei, kau tinggalkan dimana otak jeniusmu itu? Ini tidaklah seperti biasanya. Kau yang merupakan penakhluk angka, perkara eksakta begimu adalah hal yang mudah.
Lalu kau mulai meluapkannya semua padaku. Bahwa formasi kepalamu sudah dikacaukan oleh sebentuk virus yang kau tak tahu. Dan semalam kau kelimpungan kerena itu. Belum habis disitu, kau juga mengaku sosok lain juga muncul di kepalamu dan ikut menyiksamu. Kaupun tak bisa menghilangkannya dari pikiranmu.
Aha, aku paham penyebab gundahmu! Tanpa kau sadari, kau sudah dikendalikan oleh organ lainmu yang bernama hati. Memberikan dampak lain yang aku yakin tak bisa diterka kepalamu. Ini perkara sederhana saja sebenarnya. Dan aku tak heran orang sepertimu tidak mengerti tentang ini. Yah, untuk perlu kau ketahui, tidak semua hal di dunia bisa dipecahkan lewat kepala. Seperti masalahmu saat ini, kau tidak perlu menanyakan ataupun mengalkulasikan penjabaran yang tepat untuk persoalan demikian. Karena hal itu takkan sanggup diterka oleh kepala dan tak ada rumus pastinya. Tak peduli sejenius apa dirimu. Percayalah, logikamu akan kalah jika kau terus memaksa.
Kau boleh saja bilang akan menundukkan dunia dengan isi kepala. Tapi haruslah kau ingat, bahwa kepala bukanlah penguasa segalanya atas kendali raga. Bisa saja pikiranmu tidak bekerja sebagaimana mestinya, kaupun lupa bahwa hatimu bisa mengambilalihnya, dan kau akan kehilangan segalanya. 
Padang, 11 April 2013 
Tulisan ini bermula kala aku mulai menjejak langkah—berbelok dari jalur yang biasa. 
Ranne

Komentar

  1. jiah, ranne..
    ayo kita ramaikan blogger.
    kita lawan yg wordpress.
    gimana? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo Bang! Soalnya Blogger udah terlanjur melekat kuat di hati, sekalipun kalah saing (?) oleh Wordpress :p
      #baruliatkomenini --> efek lama gangeblog -__-'

      Hapus

Posting Komentar