Serupa Gelembung Sabun
Memori setahun belakangan serasa sebentar saja lewat di depan mata. Layaknya
mimpi panjang, aku hanya punya waktu sekejap
untuk mengecap. Seperti yang kukatakan, aku kalah—waktu begitu cepat merenggutnya
dariku.
Aku terbangun dari lelap dengan mimpi panjang. Begitu sadar,
ternyata aku tak lagi menapak pada detik waktu seperti yang sudah-sudah. Yah,
aku tahu, waktu tak pernah berubah—selalu bergerak teratur pada rel masa. Hanya
saja terkadang manusia merasa waktu berlalu begitu lama atau bahkan mungkin
sangat cepat dan nyaris tertinggal olehnya.
Sekali lagi, kesadaran itu menampar, menyadarkan ternyata
kali ini aku kalah lagi. Entah, aku tak pernah menghitung, apakah pernah sekali
saja aku menang atas waktu yang kupunya. Nyatanya, kini ditengah euforia orang-orang
menebar harapan dan semangat baru, aku malah terkungkung di tempat. Tak mampu
rasanya bergerak. Ketakutanku lebih dulu naik kepermukaan—memecahkan gelembung
harapan yang bahkan belum sepenuhnya kutiup.
Memori setahun belakangan serasa sebentar saja lewat di
depan mata. Layaknya mimpi panjang, aku
hanya punya waktu sekejap untuk mengecap. Seperti yang kukatakan diawal, aku
kalah—waktu begitu cepat merenggutnya dariku.
Semalam adalah bagian dari mimpi panjang yang masih segar
dalam ingatanku. Dentuman musik keras yang mendominasi ruangan, suara-suara
berisik sekitar, dan juga aroma lezat panggangan yang merambat lewat udara
sebelum nantinya disantap jua. Ah, iya, aku melupakan kembang api beragam warna
yang melukisi langit malam. Seindah langit merona kala senja yang kukagumi
diam-diam.
Langit cantik malam tersebut menyadarkanku bahwa ini kali
pertama aku melewatkan pergantian tahun tidak di kamar. Tahun-tahun sebelumnya,
ketika dentuman “duarr” keras terdengar di kejauhan, aku akan mengintip letusan
kembang api warna-warni itu lewat jendela kamar. Lalu, aku melewati detik-detik
sakral tersebut dengan menghenyakkan diri pada kasur sembari membaca komik,
atau memutuskan mengalah pada kantuk lalu terlelap. Ritual datar—begitu aku
menyebutnya.
Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri juga aku turut merajut
harapan—membuat goresan impian-impian samar pada ritual datarku. Kemudian mengukir
ulang goresan tersebut dengan memotivasi diri. Memasang target-target, berharap
lebih baik lagi di hari-hari kedepannya. Namun harapanku tak pernah terbang
lebih tinggi dari langit-langit kamar. Usahaku kalah cepat dari waktu. Kemudian
aku menyadari detik menjelma jadi hari, hingga setahun berlalu sudah.
Betapapun banyaknya gelembung-gelembung harapan itu aku
tiupkan di hari-hari yang sudah berlalu, kenyataannya gelembung tersebut tak lebih
lama meliuk-liuk di udara, sebelum kemudian lenyap. Padahal aku tahu,
kesempatan sudah berbaik hati mau berlama-lama disekelilingku. Dasar akunya
yang bebal, selalu saja membiarkannya begitu saja, hingga kemudian kesempatan
bosan mendekat. Benar, aku kalah.
Ah, sudahlah.. meratapi sama saja dengan aku masih terperangkap
pada kekalahan lagi. Semestinya aku tahu, setahun belakangan aku cukup berani berbelok
dari jalur-jalur yang biasa aku susuri. Menjajal hal-hal baru dan mendulang lebih
banyak kesempatan-kesempatan lainnya lagi. Namun sekali lagi, aku tertinggal
waktu. Entah aku terlalu terkejut dengan perubahan, atau karena masih terpesona—sebab
setiap langkah yang akan kujejakkan, senada dengan impian gelembung sabunku. Aku
tak bisa menahan kesempatan tinggal lebih lama untuk bisa memenangkan diri dari
waktu setahun lalu, hingga ia berlalu begitu saja.
Seremoni malam tadi merupakan penutup mimpi panjang setahun
belakangan, dan aku tak berani meniup gelembung lagi. Hanya berpikir apakah
sisa sabun lama yang kuubah jadi gelembung-gelembung, masih bisa kugunakan
untuk hari-hari kedepannya. Mungkin, yah.. pada akhirnya kugunakan untuk meniup
gelembung lagi—mencipta gelembung yang lebih apik. Semoga saja ia bertahan lama
melayang-layang anggun di udara.
.
.
1 Januari 2014
Ranne

sip..
BalasHapusAyo move on bareng! hehe
Yup Bang, gamau kalah lagi :D
Hapus