Tentang Kisah [Angin]


Mencintai angin harus menjadi siut—Sapardi Djoko Damono. 

.  

Aku tak punya alasan khusus untuk jatuh cinta pada gejala alam yang satu ini, itu kau, Angin. Dalam wujud yang tak teraba mata, kau selalu saja berhasil menarikku dalam lingkaran pesona. Pun aku tak ingat kapan sekiranya perkenalan hingga kemudian kau memerangkapku dengan tiupan. Sampai saat ini, yang aku tahu, aku begitu menikmati suguhan yang kau hembuskan. Sesederhana itu. 

Entah dengan mantra apa, semua seolah tunduk kala kau lewat. Nyaring siulanmu begitu memikat. 

Tahukah kau, betapa ilalang menatapmu penuh damba. Gelisah menunggui, kapan sekiranya mereka akan kautemui. Di setiap sela-sela rumpunnya, mereka saling mengucap rindu. Begitu resah menanti lantaran kau seperti lupa waktu, bertamu pada pucuk-pucuk pepohon di ujung sana. 

Daun-daun rela berguguran demi sebuah mimpi untuk berdansa denganmu di udara. Sungguhpun pada akhirnya mereka menemui ajal, dan terserak di tanah. 

Begitu pula kuncup-kuncup yang bersemu saat embun mengecup. Mereka menunggu kau tuk dikabarkan warta gembira. “Angin, peluklah wewangi kami!” teriakan bahagia mereka menggema. 

Kau, Angin. Berulang-ulang nyanyian kausiulkan. Kemudian aku, di sini, bersembunyi juga menanti. Senada keinginan jiwa-jiwa yang tengah mengagumi, impianku terbang tuk bersua denganmu. 

Angin, perihal cinta, begitu absurd jika mengurai penjabarannya. Serupa menulikan logika, namun jangan sampai akal tak serta. Entahlah, bagiku di dalamnya tak hanya sekadar meramu rasa. Mencintai sama saja menunggu sembari merajut bertumpuk rindu-rindu. 

Kau tak perlu tahu, bahwa penat enggan datang dengan permisi. Seringkali aku tergugu mencarimu di sela rerimbun dedaun, juga di antara reranting kayu. Seraya mengucap doa pada langit, agar mengulur waktu tuk menemui senja. Sebab berkali-kali, merdu desinganmu berdengung saat terik menjalar. Karenanya aku mengerti bahwa prahara yang kau tebar bukan untukku semata. 

Jika mencintaimu harus bersiut dengan lantang, Angin, sekiranya aku belum mampu menjelmamu. 

15 Mei 2014 


Ranne. 

Komentar