Delapan Belas


Teruntuk nama-nama yang tertanam pada masa Delapan Belas, terima kasih telah bersamaku berjuang. Harapku, kita melakonkan peran hingga usai. Sampai pada akhir kita mengecap bersama-sama buah dari perjalanan panjang yang dihadiahkan oleh Tuhan. 

 

Adalah kita; pelakon-pelakon yang dipertemukan tak sengaja pada sebuah peran. Bersama, kita bermula dengan saling mengenal satu dan yang lainnya dalam-dalam, bergerak dan tumbuh beriringan. Sedapat mungkin aku menyemai doa-doa kepada pucuk-pucuk yang bersemu di sekeliling kita agar selalu tercurah bahagia.

Kita tetaplah kita. Dengan semangat yang masih menggebu, kita selalu berpacu bersama waktu. Terkadang kita saling mendahului, bertengkar, kemudian menjadi satu lagi. Serupa siklus berulang-ulang yang mesti terlewati hingga kita berhasil sampai di titik pertama. Gerbang penentu awal mula perjalanan peran kita yang masih panjang. Satu kisah terjalani sudah. Bersama tawa yang ditempuh dengan terjatuh dan bangkit yang berkali-kali. Kala itu, dedaun yang acap kali menjadi saksi bisu kita mengering, terserak merapuh dengan indahnya terhampar untuk kita.

Kita masih memainkan peran semula. Namun, kita tak lagi bergerak seimbang. Karena kita sudah berpencar, secara tak sadar kita berjauhan. Mendalami peran masing-masing untuk menjadi pelakon tangguh. Dinding kuat pengikat kita dulu perlahan merenggang. Aku berharap seorang diri pada daun-daun serupa dahulu. Mencari sisa-sisa memori usang pada sela-sela rerimbunnya. Toh, belum saatnya untukku menuai kelegaan yang aku inginkan.

Kali ini, cerita kita selanjutnya hampir menyudahi alur. Kita masih menunaikan peran masing-masing dengan teramat apik. Tanpa sadar bersama-sama kita telah saling menyakiti. Luka-luka yang dulu tumbuh, belum sepenuhnya menyembuh. Tak seorang pun berani membaui bahwa luka kita sudah begitu menganga. Kita hanya diam menahan perih. Kita teramat gentar, dibalik topeng-topeng yang melindungi sebagai pemain peran yang baik. Daun-daun kering itu seutuhnya sudah merapuh, melebur bersama tanah tempat persinggahan akhirnya.

Setelah kisah ini akan menjemput akhir, akankah tawa menggema masih yang lama? Dan teruntuk duka juga amarah, akankah terasa sama?

Terlalu banyak yang tersembunyi di sekitar kita. Terkadang, mata kita sendiri sudah menipu, diam-diam mengalihkan pandangan agar tak tampak apa yang sesungguhnya tersedia. Aku berusaha menampik sekerasnya. Bahwasanya yang sedang berlangsung sekarang adalah bagian dari mimpi-mimpi buruk yang menjadi pengganggu saat tidur. Jauh dari sebelum kita merenggang demi menjadi pelakon tangguh, mimpi-mimpi tak mengenakkan seperti ini sudah lebih dulu terjadi. Menyita separuh sadarku untuk tak merasai rajutan hari-hari bahagia menjalani peran ini.

Dugaanku tak berkesesuaian dengan harapan, serta kenyataan. Ternyata tak sampai di sana. Sekarang mimpi-mimpi itu menjelma nyata, mencekik, menjegal langkah ke depan, dan aku serasa lumpuh. Aku belum sanggup tiap kali terjaga, mimpi buruk itu terasa begitu menghantui. Padahal aku masih menjejak kaki pada dunia yang sama, sebelum aku dihadapkan dengan mimpi buruk itu.

Kini, tak ada lagi pelakon-pelakon tangguh. Kita telah dikalahkan oleh luka-luka yang ada. Sebagian dari kita menarik diri dari peran ini, dan berujung pada perih yang telah bertumpuk-tumpuk. Dan aku tak lagi sanggup menjaga luka yang kumiliki—sekalipun untuk sekadar membasuh, hingga tak begitu terinfeksi. Nyatanya aku hanya bergeming di tempat, sembari menutup perih-perih itu dan menyimpannya jauh-jauh. Seharusnya aku menyembuhkan luka, pun dengan cedera-cedera asing yang menimpa kita bersama.

Dalam lingkaran kita, aku serupa orang dalam yang berdiri jauh-jauh di luar. Dengan diam mengamati, tanpa berbuat apa, pun aku ragu apakah aku memahami setiap liku dalam lingkar kita. Adalah bentuk kepengecutan lain yang aku pilih. Serupa perlindungan diri yang kubangun karena tak lagi sanggup terluka, dan akan kembali melukai. Entahlah, disaat seharusnya kita sekali lagi akan menyelesaikan akhir dengan indah, justru kita terbentur pada picisan yang sama sekali remeh.

Perihal terluka dan melukai, tak seharusnya kita terjatuh karena ini. Padahal kita sudah ditempa, apapun yang lebih sulit dari ini dulu pun kita bisa taklukan—karena kita adalah pelakon-pelakon hebat. Dan aku ingin kembali bernapas lega tanpa dihantui bayang-bayang mimpi buruk yang entah sampai kapan berkesudah. Aku ingin kita bermain peran bersama-sama lagi. Merampungkan bagian cerita kita yang belum utuh, sebagai teman, sahabat, saudara, sekaligus rival tempat berpacu ke titik tertinggi.


Padang, 19 September 2014. 
Ranne~ 

Komentar

  1. mungkin salah satu pelakon lagi lelah.
    mungkin ia takut menyeret pelakon lain dalam kelelahannya.

    mungkin saja ia terlalu terusik,
    mungkin selama ini ia terlalu banyak mengambil peran
    Dan mungkin semua ini salahnya pula.

    Mungkin saja tidak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata "mungkin" adalah samar-samar. Suatu bentuk ketidakpastian yang dapat menyilaukan ketetapan yang sudah lebih dulu ditentukan. Adalah aku yang tak ingin (lagi) memercayai bayang-bayang. Tak ingin (lagi) menggantung permohonan pada ketidaktentuan. Terlebih pada kenyataan yang mengandung makna mengaburkan. Karena, ketika waktu menjawab tak sesuai dengan harapan, semuanya tak akan lagi sama :''''')

      Hapus
  2. Namun baginya -si pelakon-, mungkin adalah harapan.
    Harapan atas ketidakpastian itu sendiri.
    Tentu kamu pernah berharap bukan?

    Semua tergantung pada keadaan dan waktu

    Percayalah!
    Ada hal terbaik dari lakon yang dimainkannya.

    BalasHapus

Posting Komentar