Selamat Ulang Tahun, Uti
Teruntuk kamu..
Sosok Kakak, sahabat, juga orang tua
bagiku..
.
.
Di sini detik waktu bergulir begitu
cepat, dan aku selalu kepayahan untuk mengejarnya. Kenangan berlari serupa film
yang diputar berulang-ulang. Memunculkan kembali memori yang mengendap dan
mencoba abadi.
Pernahkah kamu benar-benar merasai
hujan merintik hanya untukmu. Disaat itu kamu tahu sejatinya alam turut
berbahagia untukmu. Dan tahukah kamu, tak hanya hujan yang memberimu pelangi
setelahnya. Sebisanya aku turut merajut doa-doa untukmu.
Entah bagaimana jadinya aku tanpa
kamu. Sosok yang selalu kukejar sedari aku kecil. Hingga kamu dua puluh empat
tahun kini. Aku tak berusaha menyamai langkah, karena aku hanya ingin kamu
lebih sering melihat ke belakang.
Hari-hari selalu berganti dengan
cepat. Dengan cepat pula melunturkan segala kenangan yang ada. Rasanya aku
masih seorang bocah dengan seragam sekolah yang setengah mati kesal kepadamu,
lantaran kamu tak mengajari pekerjaan
rumahku. Ketika itu umur kita masih belasan. Setiap hari selalu kita
lewati dengan pertengkaran, kenakalan, juga tangisan. Karena kamu tidak akan
pernah bisa, sekalipun kamu yang seharusnya mengalah. Pun tawa kita selalu
pecah mengimbangi segalanya.
Lumrahnya, saat waktu menuntut kita
harus dewasa, tak ada yang dapat kita lakukan selain menerimanya. Tahun-tahun
kanak yang telah terlewati, harusnya aku simpan rapi dalam memori. Entahlah kadang
malah berceceran dan meluber keluar. Sosok Kakak menyebalkan masa kecilku masih
yang sama. Dengan sama menyebalkannya ketika kamu mengharuskanku ini dan itu. Segala
hal yang harus dilakukan oleh seorang yang bukan lagi anak kecil, begitu
katamu.
Selamat
ulang tahun untukmu.
Semoga
Tuhan mengaminkan segala doa-doa yang ditujukan padamu.
.
.
Padang, 30 November 2014
Ranne~
Komentar
Posting Komentar