Kisah Kita

Bahwa akan ada akhir pada setiap halaman sebuah kisah yang bermula. Begitu pula dengan kisah kita. Tak peduli bagaimana kita memulai atau menyudahi, yang paling berharga adalah setiap rasa yang pernah kita tuliskan pada lembar-lembarnya.

.
.

Desember akan pergi meninggalkan. Hanya tinggal hitungan hari saja. Detik-detik yang didentangkan oleh waktu, begitu keras menghantui. Ini adalah pertanda bahwa lembar-lembar kisah manusia yang telah tertuangkan, sebentar lagi menemui akhirnya. Desember akan mengakhiri semuanya. Kemudian menggantinya kembali dengan lembar baru untuk ditulisi bermacam-macam yang diinginkan.

Adalah sebuah kisah tentang serangkaian pelakon-pelakon yang berperan di dalamnya. Bagian kecil dari untaian cerita panjang keseluruhan kisah ini bermula. Kisah ini seperti kisah klasik kebanyakan—memulai hingga mengakhiri. Hanya sebuah perjalanan singkat yang jika diukur dengan waktu. Terlalu singkat malah. Karena mungkin dahulu aku menandai pada lembar awal mula, dan dengan pongahnya untuk meramal kelanjutan kisah hingga mendekati klimas, padahal masih terlalu dini untuk itu. Aku dengan sangat berani menebak-nebak seperti apa alur di muka, dan selalu percaya bahwa semua akan berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, aku hanyalah bagian dari cerita. Bukan kuasaku untuk menentukan perjalanan karakter-karakter pemeran di dalamnya. Apalagi untuk membaca ending cerita yang nyatanya masih samar-samar. Sayangnya, aku masih memelihara “mereka” dalam bentuk khayalan dalam kepala. Kadangkala kujadikan sebagai tempat pelarian jika kisah ini terantuk kerikil kecil yang bertebaran. Mungkin dengan begitu aku dapat bertahan. Tak seperti pelakon yang lain, aku tak mampu melukiskan senyuman saat kerikil-kerikil itu melukai kaki, membuat langkah ke depanku sedikit tertatih-tatih. Pun nyatanya seringkali aku menangis diam-diam.

Bahkan sampai kisah ini akan menemui penghabisannya, aku tak banyak berubah. Peranku masih seperti biasa, sedangkan cerita ini semakin berbelok jauh dari dugaan-dugaanku dahulu. Aku kepayahan dalam menjalani alur kisah yang mulai menanjak. Dengan semua luka yang mulai mengemuka, seiring pula dengan peran kita yang saling menjauhkan. Aku terlalu takut untuk melanjutkan sisanya, dan menulikan diri dengan tak mengindahkan apa-apa. Karena akhir cerita yang tak kuinginkan sudah memanggil-manggil. Bertalu-talu keras dalam telinga.

Dengan denyut-denyut lemah, kita masih berusaha mengembalikan alur serupa dahulu. Menghapus sedikit demi sedikit rasa tak mengenakkan yang terlanjur tertoreh. Dan memperoleh cahaya kembali pada lembar-lembar usai.

Ini adalah akhir Desember. Aku menuliskannya, pada pengujung Desember tahun lalu, kisah kecil kita merampungkan bagian akhir ceritanya dan memulai kisah pada babak baru lagi. Dan kini, tepat satu tahun lagi kita mengakhiri. Serupa kebiasaanku, aku juga menuliskan ini pada lembar halaman cerita. Bahwa kali ini aku menyudahi kisah kita dan melanjutkan dengan cerita baru. 

Aku tak akan menyesali. Menjadi bagian dari rangkaian kisah ini telah memberiku banyak pengalaman. Ada mimpi yang berdenyut kencang, kadang malah tak terdengar. Ada harapan pada wajah-wajah yang selalu ingin kulukisi. Ada banyak tawa yang menggantung di langit-langit. Ada beragam rasa yang telah kita semai. Dan juga ada luka yang kerap kali bersembunyi dan berusaha tuk tak dikenali. Kisah ini mungkin bukanlah salah satu dari kisah terindah yang pernah ada. Tapi percaya atau tidak, lembaran kisah ini telah kubungkus rapi-rapi, dan kusimpan bersama memori. Supaya kelak menjadi kenangan yang abadi. 

.
.

Padang, 24 Desember 2014
Ranne~ 

Komentar