Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan [another version: 2]



“Aku benci hujan,” cetusnya tiba-tiba. 

Aku tidak begitu terkejut. Toh, pemuda ini dari tadi tak menunjukkan gelagat menyukai titik-titik basah dari langit yang sebentar lagi akan turun itu. 

“Kalau begitu, kau tak seharusnya berada di tempat ini,” sahutku kalem. 

Lama kerutan keningnya kembali terurai. Sorot matanya serasa menghujam. Tapi aku masih tetap tenang seperti semula. Pandanganku kini tertuju pada mendung yang berangsur-angsur menebal. 

“Kau mengusirku?” 

Sekilas mataku memejam menikmati hembusan angin yang kini terasa lembab. 

“Aku hanya tak ingin saja kedamaian tempat ini terusik jika rerintik hujan mengenaimu nanti.” 

Kali ini wajahnya dua kali lebih tidak mengenakkan dari sebelumnya. Aku tertawa dalam hati melihat tatapan jengkel pemuda itu. 


#NulisRandom2015 [8] 

.
.
Padang, 11 Juni 2015
Ranne~

Komentar