Sebotol Bintang


Ilustrasi

Kala lalu, kau mengirimkan sebotol penuh bintang-bintang redup untuk aku tunggui sampai masanya berkilau nanti. Pesanmu waktu itu, “Sekali-kali kau bukakan tutupnya di malam hari, agar mereka terbiasa dengan kelam nanti.” 

Mencoba paham, aku tak berniat sedikitpun menanyaimu. Kudekap erat-erat botol kaca keberuntungan itu—kuharap kau tak keberatan kunamai demikian. Sebab dengan begitu, aku menjadi punya alasan untuk berbicara denganmu lebih banyak, sekalipun tentang bintang-bintang titipanmu. 

.

Bintang-bintang itu bertumbuh dengan pesat. Mereka memakan terlalu rakus cahaya dari lampu-lampu. Kilau-kilau mereka yang menyesaki botol kacamu, menjadi pertanda tersendiri bagiku; apakah waktuku dengan bintang-bintangmu tak lagi lama?

Saat kau kukabari perihal ini, responmu serasa menghimpitku. “Itu berarti aku tak merepotkanmu begitu lama,” kau menuturkannya dengan gampang, sedang hatiku menjadi tidak karuan.

.

Kali ini, aku mendapati botol kacamu sudah kosong—hanya tersisa seberkas cahaya yang berdenyut lemah. Sebelum aku sempat menormalkan diri dari upaya bagaimana mengabarimu nanti, kau terlebih dahulu menghubungiku dengan suara gembira yang tak dapat kau sembunyikan.

“Hei, bintang-bintangku sudah kembali sendiri! Entah dengan apa kubalas kebaikanmu yang menjaga mereka hingga berkilau cantik serupa ini. Sekarang malamku tak gelap lagi.”

Jikalau boleh, bisakah suaramu saja yang kubungkus tuk dijadikan sebagai pengganti bintang-bintangmu yang tak lagi ada?


.
.
Padang, 10 September 2015
Ranne~

Komentar