Perihal Kenangan

Kita tak pernah menemukan kata sepakat perihal kenangan yang semenjak satu jam lalu kita temukan teronggok di ambang jendela.

Katamu, "Barangkali ia tersesat dan mencari celah untuk keluar dari sana," wajahmu menunjukkan ekspresi geli.

Aku yang entah untuk keberapa kali, hanya bisa tergagu melihatmu tersenyum seperti yang lalu-lalu. Harus dengan apa aku meredakan debar yang mengkhianati kepala ini, sedang pendapatku sama sekali berbeda denganmu.

"Atau justru ia ingin memaksa masuk, namun kehabisan tenaga untuk memanjat. Karenanya ia terdampar di jendela," teoriku sekenanya.

Oh, tolong jangan tunjukkan senyum itu lagi! Tindakanmu itu menyebabkan hati ini merekah di luar kendali.

"Kenangan sekalipun berharga, aku tak ingin ia kembali. Jadi, sudah pasti itu kenangan yang tersesat," kamu terkekeh oleh ucapanmu sendiri.

Tiba-tiba hatiku terasa jungkir-balik. Lengkungan di wajahmu yang kian melebar itu, kini terasa memberikan efek sebaliknya. Aku merasa terhimpit sesak pekat.

"Apa kenangan tentangku tak lagi ada?" pertanyaanku tersumbat di tenggorokan.

Perihal kenangan, kita tetap tak menemukan jawaban.

.
.
Padang, 9 September 2015
Ranne~

Komentar