A Short Tale [Untuk Cimut]

Kepada Cimut [Mutiara Kurniati]—untuk janji masa purba yang tak sempat mengudara.


Satu-dua titik cahaya kecil berkerlapan, hilang-timbul diantara semak-semak belukar di tepi telaga kecil itu. Lama kelamaan, titik-titik cahaya itu bertambah. Tidak lagi satu-dua, mereka berpendar seperti kunang-kunang di musim panas. Memantul-mantul bertabrakan dengan beberapa pasang sayap perak kecil berkilauan, dilatarbelakangi cahaya matahari petang. 
Jika  kau memerhatikan lebih saksama, cahaya tersebut berasal dari tubuh-tubuh mungil makhluk cantik bersayap perak—sebut saja mereka peri. Mereka terbang meliuk-liuk, berputar, berkeliling diantara bebunga dan dedaunan semak-semak. Cahaya kecil yang menguar dari tubuh mereka berkerlap-kerlip, bertabrakan dengan sayap-sayap perak-transparan yang terpancang di punggung mereka. Sungguh indah. 
Tiba-tiba, sebuah gerakan kecil bersumber dari rumpun semak paling ujung, kontan menghentikan aktivitas para peri tersebut. Mereka seketika panik dan bergegas menyelinap bersembunyi ke dalam bunga-bunga semak yang menyerupai terompet, melindungi diri dari bahaya. Seketika, cahaya cantik yang tadi menyelimuti semak-semak tersebut lenyap.
Seorang gadis keluar dari rumpun semak bermasalah itu. Tangannya menenteng keranjang anyaman rotan yang berisi bulu-bulu unggas halus berwarna putih. Gadis tersebut lantas sedikit membungkuk di depan rumpun semak tempat para peri bermain sebelum ini.
“Hei, tak apa. Keluarlah, ini aku. Eve,” gadis tadi berseru pelan.
Satu per satu, kelopak bunga yang menyembunyikan para peri terbuka. Kepala-kepala mungil mereka menyembul, menolehkan ke kiri serta kanan dengan canggung. Memastikan bahwa keadaan di luar aman.
“Selain kau, tidak ada yang datang kan, Eve?” peri yang paling dekat dengan Eve bertanya takut-takut dengan suara halusnya. Ia mengeluarkan tubuhnya dari lindungan bunga lonceng dan terbang rendah di sekitar itu.
Eve menganggukkan kepalanya tersenyum lembut. Sekaligus memberi isyarat kepada peri lainnya untuk keluar dari persembunyian.
Mereka serentak keluar. Bunyi kepak sayap ditingkahi dengan suara halus namun nyaring dari para peri tersebut membuat bising keadaan sekitar. Sebentar saja, semak-semak tersebut kembali dipenuhi oleh kerlap-kerlip cahaya seperti semula. Eve menyamankan posisinya dengan mendudukkan diri persis di sisi semak-semak itu. Gadis itu meletakkan keranjang anyamannya di tanah, kemudian mengambil salah satu bulu terpanjang dari dalamnya. Lalu, ia akan menggoda peri-peri tersebut dengan membuat gerakan sembarang dengan bulu yang dipegangnya—mengayun-ayunkannya kearah peri-peri yang terbang riuh rendah. Whuss! Para makhluk mungil kembali berputar-putar menghindari serangan gelitikan dari Eve sembari tergelak-gelak dengan cicit halus nyaring. Lantas membuat gadis pelaku ikut tertawa.
Eve merupakan seorang gadis sebatang kara yang tinggal terpencil di pinggir desa. Sehari-harinya gadis ini mengumpulkan bulu-bulu angsa yang berserakan di sekitar telaga di hutan. Bulu-bulu tersebut dibuatkannya bantal-bantal yang kemudian dijual di pasar. Selain itu Eve juga mengumpulkan bunga-bunga liar di dalam hutan, dirangkainya sedemikian rupa—tentu saja untuk dijualnya juga. Para peri sudah menjadi temannya sehari-hari ketika berada di dalam hutan. Mengawaninya mengumpulkan bulu angsa, memetik bunga-bunga, atau mencari biji-bijian dan bebuahan untuk dibawanya pulang juga. Walaupun kerap kesepian karena jauh dari penduduk desa, Eve masih bersyukur mempunyai teman-teman mungilnya tersebut.
“Hahaha.. sudah ya, sebentar lagi senja dan aku harus pulang,” Eve menyudahi gerakan tangannya—mukanya memerah kebanyakan tertawa akibat menjahili peri-peri tersebut.
Tak jauh beda dari Eve, para peri juga masih tergelak-gelak riang. Masing-masing dari mereka terbang sambil memegangi perut.
“Hihi, i-iya. Perut kami kram karena kegelian,” sahut peri yang terbang paling rendah. Kemudian ia mendudukan dirinya di salah satu daun lebar. Sisa-sisa tawa masih terpeta di wajahnya yang juga digelayuti kelehan karena ulah main-main Eve tadi. Peri-peri lainnya juga menirunya—mereka membubarkan diri dari udara dan menyamankan diri mereka pada dedaunan semak-semak, maupun pada kelopak-kelopak bunga di sana. Sontak suara nyaring berisik tadi tidak terdengar lagi.
“Kalian istirahatlah, aku pulang dulu,” Eve menegakkan tubuh dan mengangkat keranjang nya. “Lihat, hari ini aku mendapat banyak bulu angsa,” pamernya senang.
Peri-peri tersebut kembali ribut—mereka bersorak senang karenanya. Masing-masing meneriakkan kata-kata penyemangat dengan suara nyaring mereka.
“Ahaha, iya, iyaa,” Eve kembali tergelak. “Sampai jumpa besok, bye..” gadis itu beranjak meninggalkan rumpun semak para peri tersebut—melambaikan tangan sekilas, kemudian ia berbelok di jalan setapak yang akan membawanya keluar dari hutan—
—tanpa tahu pandangan seorang pemuda dibalik sebatang pohon besar mengikutinya sejak dari semak-semak, hingga gadis itu menghilang dibalik tikungan jalan setapak.
.
.
Adalah Danny—seorang pemuda pemburu rusa yang tinggal di pinggir hutan dengan pamannya. Setiap hari ia bersama pamannya memburu hewan-hewan seperti rusa, atau mereka juga menjerat kelinci-kelinci hutan untuk dijual. Kadang mereka menjual hidup-hidup untuk dipelihara, namun tak jarang mereka menjual dagingnya saja.
Hampir setiap hari pulalah pemuda itu melihat Eve di hutan. Danny sering mengamatinya diam-diam dari kejauhan tatkala gadis itu berkutat dengan bulu-bulu angsanya di tepi telaga. Atau sedang bersenandung riang memetiki bunga-bunga liar segar. Gadis kesepian, namun senyuman tak luput hinggap di wajahnya—begitulah simpul Danny.
“Hei, kau melamun lagi,” seseorang menepuk pundak pemuda itu dari belakang. Pamannya. “Gadis yang kau pandangi dari tadi sudah hilang,” terkekeh geli, lelaki paruh baya itu menunjuk ujung tikungan jalan setapak tempat terakhir Eve terlihat.
Danny masih bergeming di tempatnya, matanya masih terpancang pada ujung jalan setapak itu. Selang beberapa detik kemudian, pemuda itu menghela napas. Berbalik menghadap pamannya dengan memasang tampang datarnya. Sontak pria yang lebih tua itu terbahak lagi.
“Ah, dasar kau ini. Kalau kau suka gadis itu—”
“Aku tak bilang begitu, Paman!” tukas Danny cepat-cepat. Ia membuang mukanya, menghindari tatapan geli pria di depannya.
“Aku.. aku hanya memikirkan suasana hatinya—kau tahu apa maksudku,” pemuda itu melirik pamannya serius. “Gadis itu selalu tersenyum pada setiap orang ketika menjual bantal dan bunga-bunganya di pasar, juga sewaktu di hutan ini ia selalu tampak bahagia. Tapi aku tahu gadis itu sebenarnya kesepian. Ia selalu sendirian, kadang aku sering melihat wajahnya meredup sewaktu kembali dari pasar.”
Danny melihat pamannya tak menunjukkan reaksi apa-apa. Ah, tatapan pria itu seolah menunggu penjelasan lainnya keluar dari mulut keponakannya.
Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Err, Paman—aku hanya ingin jadi temannya saja.”
Ia melirik pamannya lagi, setengah berharap pamannya tak menunjukkan wajah dengan seringai menggodanya seperti biasa. Alih-alih begitu, nyatanya ia mendapati senyuman tulus tersungging hangat. Membuat pemuda itu sedikit terperangah.
“Kau sudah dewasa, Nak,” pamannya menepuk-nepuk pundaknya sekali lagi. Senyumanya melebar—membuat Danny turut menaikkan sudut-sudut bibirnya.
.
.
Sebuah telaga di dalam hutan dengan air yang bening, memantulkan langit biru muda dengan awan-awan bergulung-gulung lembut pada permukaan tenangnya. Kadang-kadang, sehelai dua helai daun dari ranting pohon tepi telaga berayun-ayun turun dan mendarat di sana, sebelum kemudian menimbulkan gelombang-gelombang kecil dipermukaannya. Membuat pantulan-pantulan tadi bergoyang-goyang seirama riakan halusnya.
Suasana di sekitar telaga tersebut tak sepenuhnya sepi. Selain cicitan burung dari kejauhan, Eve kerap bersenandung kecil sembari ia mengumpulkan bulu-bulu angsa putih yang bertebaran di sekeliling telaga. Tak banyak, bulu-bulu tersebut juga mengapung di telaga, yang untunglah di pinggir-pinggirnya, sehingga Eve tidak kepayahan saat menjangkaunya.
Masih bersenandung, gadis itu membungkuk memungut sebuah bulu angsa yang lumayan besar dan tergeletak agak jauh dari bibir telaga. Setelah bulu tersebut ia simpan di dalam keranjangnya, Eve berdiri dan tiba-tiba berhenti. Beberapa meter di depannya berdiri seorang pemuda sedang menggaruk tengkuk belakangnya—kikuk.
“Err.. hai,” sapanya canggung. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah Eve, kemudian berhenti. Menyisakan dua langkah diantara mereka.
Sang gadis tak berubah, diam dan menyiratkan wajah kebingungan mendapati pemuda asing yang tiba-tiba menyapa. Membaca gelagat gadis di depannya, pemuda tersebut mengambil ancang-ancang untuk bergerak kembali. Ia menggaruk kepala belakangkangnya—yang lagi-lagi tidak gatal—nyengir kikuk.
“Err—kubantu,” pemuda tersebut beranjak kearah telaga, memunguti bulu-bulu angsa yang dicapainya pada setiap langkah.
Eve tersentak begitu menyadari pemuda tadi sudah tak lagi di depannya. Dengan kebingungan yang masih bersarang, ia turut meninggalkan tempatnya, kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Eve membuntuti pemuda tersebut seraya memungut bulu-bulu yang luput dikumpulkan pemuda di depannya.
“Kau.. siapa?”
Setelah keheningan yang tidak lama, Eve akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang wajar untuk situasi saat ini.
Pemuda tersebut membalikkan badannya. Ia melempar cengiran kikuknya lagi. “Err, aku Danny. Aku tinggal di pinggir hutan ini dengan Pamanku. Kami tiap hari berburu rusa, err—aku juga sering melihatmu di hutan ini,” pemuda bernama Danny mengucapkannya dengan sangat cepat. Kemudian ia meringis—matanya sampai menyipit.
Eve seolah takjub dengan pemuda di hadapannya itu. Sedari tadi pemuda bernama Danny tersebut tak hentinya bertingkah tidak wajar—setidaknya itu menurut Eve. Muncul dengan tiba-tiba dan juga membantunya dengan tiba-tiba. Ia menyebutkan nama serta tempat tinggalnya, belum sampai disitu, ia juga mengaku sering melihat Eve di hutan. Pernyataan yang dituturkannya tersebut sewajarnya membuat gadis itu sedikit ragu, mungkinkan dia tidak akan berniat jahat? Namun, tingkah kikuk pemuda tersebut menghapus keraguaan Eve. Lagian sepertinya dia orang yang baik, pikirnya.
Mengakhiri pergulatan di kepalanya, Eve tersenyum. “Salam kenal, Danny. Aku Eve.”
Seketika air muka Danny seperti menyiratkan kelegaan luar biasa. Ia tersenyum lebar sekali kepada Eve. Tiba-tiba ia membungkuk—memungut sebuah bulu angsa berbaur dengan dedaunan kering di dekat kaki Eve. Sontak membuat gadis itu mundur dua langkah.
“E-eh?”
“Ah, maaf. Mari kita lanjutkan ini,” Danny mengangkat bulu-bulu angsa di tangan kanannya. Wajahnya berseri cerah.
Gadis itu kembali menyunggingkan senyumnya, mengangguk, dan menyejajarkan langkahnya dengan Danny yang sudah duluan berjalan.
Tepat ketika bulu terakhir yang mereka pungut, mereka sama-sama berhenti di bawah sebuah pohon sedikit jauh dari telaga. Danny menyerahkan hasil pungutannya, menaruh tiga helai bulu terakhir pada keranjang yang disodorkan Eve.
“Terima kasih sudah membantuku,” Eve mengedikkan dagunya pada keranjang yang penuh dengan bulu-bulu berwarna putih tersebut.
“Tidak masalah,” Danny nyengir. Eve balas tersenyum.
Keduanya masih berdiri di bawah pohon, memandang ke arah telaga yang berkilauan. Matahari sudah naik, hampir seluruh permukaan telaga terkena sinarnya.
“Err, Eve..” tiba-tiba suara Danny memecah keheningan.
Gadis itu menghadapnya dengan alis terangkat, “Hm?”
Tangan pemuda itu sudah bersarang lagi di tengkuknya. “Maaf kalau perkataanku menyinggungmu—” Eve mengernyitkan keningnya. “—seperti yang kukatakan tadi, aku sering melihatmu di hutan ini sendirian, juga saat kau di pasar. Jika kau tidak keberatan, kau boleh menganggap aku sebagai temanmu.”
Gadis itu sedikit terperangah mendengarnya. Juga ekspresi wajah pemuda itu saat berkata demikian—sama sekali jauh dari kesan kikuk yang selalu diperlihatkannya dari tadi, dan terpancar ketulusan. Tiba-tiba hati Eve dibuncahi oleh rasa haru. Baru kali ini ada orang yang mau menawarkan pertemanan kepadanya. Gadis itu lantas tersenyum setulus mungkin, kemudian mengangguk, merespon pemuda itu.
“Teman,” tersenyum, Danny mengulurkan tangan ke arah sang gadis.
Eve menyusut setitik bulir bening yang hampir lolos dari matanya. “Teman..”
Sepasang tangan milik mereka bertautan—
.
.
—detik itu juga seberkas sinar putih menyilaukan tiba-tiba muncul di atas tautan tangan mereka, kemudian menyebar hingga membutakan pandangan sekitar. Sontak mereka saling melepaskan diri, dan memicingkan mata.
Selang beberapa detik yang terasa lama, Danny membuka mata—seketika menganga tak percaya lantaran irisnya menyaksikan apa yang di depannya. Tubuh Eve menguarkan sinar putih serupa yang mereka alami baru saja. Bedanya, kilauan cahaya dari tubuh gadis itu tak membuat Danny sakit mata. Sebaliknya pandangan takjub pemuda itu belum lepas, seakan tersihir oleh tubuh berpendar di hadapannya.
Eve—yang masih terpejam—tiba-tiba merasakan kepak-kepak halus disertai suara cicit nyaring disekujur tubuhnya, langsung membuka mata. Belasan peri-peri mungil mengerubunginya terbang berputar-putar di sekeliling. Gadis itu tak tahu apa yang tengah dialaminya. Serupa Danny tadi, ia menganga karenanya. Entah, Eve merasa kepalanya merasa buntu untuk mencerna apa yang terjadi.
Danny-lah yang pertama menemukan suara di antara mereka berdua. “Eve—kau..”
Tiba-tiba seorang wanita dengan tubuh yang diselimuti sinar seperti Eve turun dari langit.
Ia melayang-layang anggun. Ujung-ujung gaunnya yang sewarna pucuk daun melambai-lambai seiring gerakannya, sebelum kemudian menjejakkan kakinya di tanah. Wanita tersebut berjalan ke arah Eve dan Danny, wajahnya yang bercahaya memamerkan senyuman sangat cantik kepada mereka berdua. Untuk kedua kalinya dalam menit yang belum lama, Danny kembali terpana melihat wanita berkilauan itu. Begitupun Eve, wanita asing yang sangat cantik itu tak luput membuatnya terpesona juga.
“Kalian tak perlu memandangku seperti itu,” suara wanita itu. Halus, namun berwibawa. “Aku Willia. Penjaga dan pelindung hutan ini—mereka menyebutku Ratu Hutan,” ia mengulang senyum cantiknya kembali.
Whiiingg~” gelombang kepak halus peri-peri mungil yang tadinya mengelilingi Eve, kini mengerubungi Ratu Hutan tersebut.
Senyumnya melebar menjadi tawa—peri-peri mungil gantian kini menyerbunya. Kedua remaja yang masih melongo itu mengerjap salah tingkah. Buru-buru mereka membungkuk dengan muka sama-sama merah.
Setelah peri-peri mungil yang bercicit nyaring itu tak lagi mengelilinginya—melainkan hanya terbang rendah di sekitar Sang Ratu Hutan—wanita itu gantian memandang Eve dan Danny dengan raut yang tak bisa dipahami kedua remaja tersebut. Satu tarikan napas, Ratu Hutan kembali menguasai keadaan normalnya. Ia tersenyum lembut sekilas, kemudian melangkah mendekat menghadap Eve.
“Aku mengetahui dengan baik bagaimana situasi di hutan ini. Dan kau, telah menganggap hutan beserta isinya sebagai rumah juga temanmu. Aku tahu sedikit banyaknya hutan ini pun beranggapan demikian. Walaupun mereka tak bisa berlaku seperti halnya manusia, tapi mereka dapat merasakan ketulusanmu, Eve. Mereka juga melindungimu dari ancaman yang mungkin saja kaudapat ketika di hutan ini.” Ratu Hutan berkata dengan ketenangan yang anggun. Sedang Eve dan Danny menyimak masih belum paham apa tujuan Sang Ratu.
Wanita itu melanjutkan, “Karena itu.. kau kuangkat menjadi salah satu penjaga hutan ini. Walaupun secara keseluruhan akulah yang paling bertanggung jawab terhadap semuanya.”
Mata Eve melebar. Rasanya ia tidak percaya dengan ucapan Ratu Hutan.
Melihat reaksi gadis itu, Ratu Hutan tersenyum. “Mungkin ini mengejutkanmu, Eve. Dan mungkin situasi ini menjadi sulit karena hari ini seorang yang baik hati sudah menjadi temanmu, artinya kau tak akan sendiri lagi menjalani hari-harimu berikutnya,” ia melirik dan tersenyum ke arah Danny. “Tapi, kau sudah menanggung kesendirian terlalu lama. Kau sangat baik hati. Penjaga di atas awan selalu memerhatikanmu dan sangat ingin membantumu.”
Ratu Hutan memberi jeda sejenak sebelum kemudian melanjutkan, “Sesuai hukumnya, ia yang baik akan mendapat balasan, begitu juga sebaliknya. Dan, sudah kuputuskan untuk menjadikanmu salah satu bagian dari mereka, di Istana Awan.”
Begitu penjelasan dari Ratu Hutan selesai, Eve malah melirik Danny di sebelahnya. Jikalau ingin jujur, gadis itu pun tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan. Baru saja ada seorang yang tulus menawarkannya sebuah pertemanan—hal yang diinginkannya selama ini dalam kesendiriannya—lalu, ia diberitahu akan menjadi bagian dari peri-peri. Oh, begitu sulit. Sedikit kaget, ia merasakan sentuhan Danny pada tangannya.
“Itu sungguh bagus, Eve!” Danny mengeratkan pegangannya. “Sangat bagus! Jika aku menjadi kau, aku tak akan menolak sama sekali!” Pemuda itu tersenyum tulus, walau Eve menangkap ekspresi lain dari wajahnya—sama seperti yang sedang dirasakan oleh hati gadis itu kini.
“Aku.. aku tidak tahu, Danny,” kemudian ia melempar pandangan tidak enak hati pada Sang Ratu.
“Tapi—”
“Aku tahu,” selanya. “Aku tahu ini seperti mengakhiri kesendirian yang selama ini kupunya. Dan sama sekali tak terduga, aku menjadi bagian dari... peri-peri itu?” Eve nyaris berbisik di akhir kalimatnya, lantaran tidak bisa menahan haru yang menyekat kerongkongannya—persis ketika mendengar pengakuan Danny sebelumnya.
Danny diam saja menunggu gadis itu.
“Tapi bagaimana denganmu, Danny? Kita baru berteman. Dan  dan aku akan meninggalkanmu..” gadis itu malah terisak, dan buru-buru mengusap air mata sembari memaksakan sebuah senyum.
“Sudahlah Eve, aku tak apa,” dengan canggung ia memberanikan diri mengusap pundak gadis itu.
Keduanya kini sama-sama terdiam.
Kemudian, Ratu Hutan melangkah mendekat ke arah keduanya. Raut wajahnya masih mempertahankan ketenangan dan senyumnya seolah sudah lekat permanen pada wajahnya.
“Untuk itulah aku menempatkanmu bersama para penjaga di atas awan, Eve,” Ratu Hutan berkata, kemudian melebarkan senyumnya. “Supaya kau masih bisa melihat pemuda ini berburu di dalam hutan.”
Eve lagi-lagi menoleh pada pemuda di sebelahnya.  Entah bagaimana, kebingungan masih bersarang di benaknya. Sampai kemudian, Danny membalasnya dengan selulas senyum yang cukup menenangkan gadis itu—Eve menirunya dengan melebarkan sudut-sudut bibirnya sekaligus mengusap lelehan yang masih jatuh dari matanya.
Gadis itu menarik napas, kemudian menenangkan dirinya—termasuk meredakan degup jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. Sejurus kemudian, dirasakannya tangan Danny kembali menggenggam jemarinya. Sikap pemuda itu membantunya untuk memantapkan pilihan.
“Kalau begitu aku terima,” Eve menghadap sang Ratu, kemudian memberikan tatapan menyesal pada Danny.
“Sampai jumpa Danny,” ujar Eve. Ia melepaskan tautan tangan pemuda itu padanya, dan berjalan mendekat pada Ratu Hutan.
Danny mengangguk mantap. Ia menyunggingkan senyum sembari melambaikan tangan sekilas, sebelum kemudian ia berbalik badan berjalan menjauhi tempat itu.
Aku akan merindukanmu, Eve.
.
.
Setelah hari itu, ketika sedang berburu di hutan, Danny selalu menengadah ke arah langit. Memerhatikan gumpalan awan-awan yang kerap memayunginya, sekalipun matahari sedang terik-teriknya. Pemuda itu tahu Eve di sana. Dan ia selalu tersenyum pada langit saat ia menyudahi perburuannya dan keluar dari hutan—
—tempatnya menyimpan kenangan akan gadis itu.

[End]

Komentar