Dear Clop [2]

Barangkali aku harus kembali mengeja dari awal. Mencerna benar-benar alur cerita yang sudah diterakan. Supaya aku kembali menikmati debar-debar yang diciptakan oleh kejutan dalam setiap lembarnya. Karena sebagaimana mestinya, halaman-halaman milikku sudah dituliskan oleh Tuhan sebegitu detailnya.


Dear Clop, 

Jikalau menilik usia, haruskah aku kembali berkaca pada impian dahulu kala, bahwa saat ini aku telah melemparkan diri teramat jauh dari realita. Aku seharusnya sudah selesai pada lembar halaman ini. Sudah memenuhi setiap bidangnya dengan coretan-coretan. Sudah menghiasinya pula oleh warna-warna terang kesukaan. Barangkali aku selipkan juga gambar-gambar, supaya halaman tersebut tak hanya berisikan tulisan belaka. Karena aku sepakat bahwa gambar serupa ilustrasi adalah pendamping yang pantas untuk monotonnya barisan kata-kata. Sayang, halaman ini terabaikan, usang begitu lamanya. 

Hari ini entah lembar keberapa. Aku tak pernah lagi menghitung semenjak atensiku seringkali terpecah. Padahal dulunya aku begitu sering menandai waktu. Tentang hari-hari yang berlalu tanpa tahu menahu. Tentang ada banyak kisah yang ingin aku ceritakan. Juga tentang memori yang aku harapkan bisa terperangkap bersama waktu, supaya bisa abadi. Namun kini, kegitatan serupa itu seolah mati suri.

Kuharap kalian memakluminya, Clop. Bahwasanya, sepenggal ocehan keluh kesah serupa ini adalah pengganti sapaan “Apa kabar?” yang tak pantas. Penebus hutang-hutang yang keluar lewat janji yang tak pernah terlaksana. Entah terbang kemana mereka sekarang? Agaknya kala lalu aku terlalu senang mengumbar perkara terlebih jika sudah menyangkut kesukaan kita bersama. Pada akhirnya, aku jua yang sering menggagalkannya. Ah, semoga balon-balon janji itu tersangkut di reranting, agar mudah memanjatnya kembali.

Pada kisah tua yang kita gemari bersama, saat ini kita tengah mempersiapkan akhir yang akan menjadi penentu selanjutnya. Apakah nanti kita akan bertemu di kemudian, bertukar tawa sembari menggenggam surat-surat kita yang dulu tak pernah sampai. Jika kita meyakininya, aku sangat yakin Tuhan akan mengaminkannya.

Namun keadaannya kini, justru aku tertinggal di belakang. Jika hari lalu aku terjebak pada lubang yang aku gali, maka fokusku yang sekarang terbagi. Aku masih tetap berjalan. Tapi jarak yang terbentang cukup menunjukkan betapa aku sudah jauh tertinggal. Sejatinya aku sama sekali tak ingin mengukur bentangan apa-apa. Karena semakin aku mengerti, semakin mudah untukku terperangkap kembali. Anggap saja saat ini aku tengah berjuang menyelesaikan lembar-lembar halaman usang, karena sudah terlalu lama aku tinggalkan. Maka, maukah kalian mengajari untuk tetap menuntaskan sembari aku menghirup aroma lembaran-lembaran ini? Karena favoritku adalah membaui halaman-halaman pada buku tua, selain rumput yang baru saja dipangkas dan aroma setelah hujan, tentu saja. 

Clop, impianku saat ini sebetulnya sederhana. Kita bisa menyelesaikan akhir ini berbarengan, serupa kita memulai dahulu kala. Selanjutnya kita hanya tinggal menebus mimpi yang pernah kita umbar bersama, yah, sekalipun hanya tercipta dari tawa-tawa yang menggema. Setidaknya hal tersebut adalah alasan kita untuk terus berjuang, mengulang kenangan, juga memoles harapan. Supaya langkah-langkah(ku) kita kembali ringan untuk berlari hingga nanti menemukan kembali nama-nama kita ditulis oleh Tuhan pada halaman-halaman yang sama. 

.
.
Padang, 14 Mei 2016 
Ranne~ 

Komentar

Posting Komentar