Dear Clop [3]

Aku masih belum paham—apakah kita akan mengucapkan selamat tinggal untuk mimpi-mimpi lalu, atau masihkah kita bisa memperbarui kenangan bermimpi itu kembali?


Dear Clop, 

Saat ini kita telah sampai pada hari-hari yang mungkin tak pernah kita bayangkan dahulu. Atau ini hanya berasal dari pikirku saja. Dalam ingatanku, kita membangun mimpi demi mimpi dengan selingan tawa menggema. Menjadikan masa depan versi kita dulu sebegitu mudahnya. “Lima tahun kemudian kita akan menapak negeri nun jauh di sana.” Kalimat itu kita ucapkan disambut dengan tawa dan lelucon khas kita. Tanpa pernah terpikir akan beban memelihara impian demikian. Sebab yang kita tahu, kita berbahagia. Toh kita masih berusia belasan, waktu sempurna untuk mengantongi mimpi sebanyak-banyaknya. Kala itu, bangku-bangku dan meja yang kita tempati, serta separuh penghuni kelas mungkin terganggu karena ulah berisik kita. 

Lalu, apa kabar hari ini? Hari-hari yang untuk tertawa saja rasanya aku harus membayar dengan harga yang layak. Patutkah aku mengurai tawa pada kondisi diri terjebak pada rumitnya jalinan pikiran yang terkadang tak kupahami? Jujur saja, menjadi seperti ini membuatku seolah paham dengan apa yang dirasakan tokoh utama perempuan patah hati pada novel-novel picisan. Padahal aku tidak sedang mengidap virus merah jambu, tentu saja. Tapi bisakah kita menganggap rasanya sama saja? Agar aku bisa mendefinisikan keadaan menyebalkan ini. 

Aku selalu bangun dengan tidak tenang. Dihantui mimpi buruk kesalahan di masa lalu membuatku lebih cenderung menyingkir dari orang banyak. Ah, sudahlah.. tak perlu menggambarkan lebih jauh lagi seburuk apa aku. Pun beberapa waktu lalu aku telah berikrar untuk tidak menyesal atas segala keputusanku yang melahirkan berbagai keadaan yang salah. Sebab, segala sesuatu yang terjadi adalah campur tangan Tuhan, bukan? Dan aku juga menemukan kita akan selalu seperti sedia kala—tak peduli minimnya intensitas pertemuan, atau keadaan kacauku yang sering mengakibatkan rencana-rencana indah yang sudah kita susun menjadi tak terlaksana. 

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada menemukan nama kita masih terukir pada halaman-halaman bahagia kemudian. Di tengah kesibukan masing-masing, di tengah kubangan masalah yang untuk bangkit kembali harus terengah-engah (mungkin ini dalam kasusku saja), kita beberapa kali melewatkan waktu bersama untuk menebus segala janji. 

Pernah satu kali kita berkeliaran di kampus malam-malam usai menonton pertunjukkan teater—yang sayangnya aku bermain hari esoknya. Pernah juga kita melewatkan waktu seharian berburu momen untuk diabadikan, walaupun kala itu sedang kabut asap—bunyi mesin kereta api, pasir-pasir yang menempel di sepatu kita, juga kerang-kerang yang kita kumpulkan, bukankah kita berhasil mendapatkan momen yang indah? Ah, jangan lupakan ketika pergantian umurku yang beberapa kali aku pernah “dipaksa” untuk terharu. Dibandingkan kejutan ulang tahun orang kebanyakan, versi kita jauh dari kata luar biasa. Tapi bagiku momen itu membuatku terlempar kembali ke masa-masa istimewa yang serupa—tahun ketiga SMA, pada teraan tanggal yang sama, kenangan pertambahan usia adalah salah satu dari hal luar biasa yang kulalui selama ini. Lalu, kita juga menyempatkan untuk berbuka puasa bersama di tahun akhir kita bergelut dengan kuliah. Keputusan kita memilih opsi makanan dan berujung menyesali setelahnya, kerap membuatku tertawa geli hingga kini. Kita juga mengulanginya beberapa waktu lalu dengan kejadian yang lebih absurd lagi. Yah, anggap saja kita menghabiskan waktu menikmati malam hari di tempat yang sama dengan yang sering kita lakukan dulu di masa sekolah—meskipun sebenarnya perut kita meronta minta diisi. Pun kita mendapat bonusnya, ditraktir senior dan diberi oleh-oleh pengalaman menghadapi kehidupan kerja. Ah, kurasa sudah seharusnya (aku) kita sadar bahwa umur kita sudah termasuk kategori dewasa. 

Namun, setelah ini, apa lagi? Hari-hari terasa panjang dan kosong setelah masa-masa itu berlalu. Keresahanku masih berlanjut hingga kini. Terlebih ketika momen menyenangkan itu berputar di sekelilingku, memunculkan impian-impian dahulu yang tak tersentuh, sedangkan waktuku tak lagi ada. Mungkin bagiku sudah cukup untuk berangan-angan menyenangkan pada keadaan sekarang. Sejujurnya beban dari mempunyai mimpi kala lalu sangat menghimpit dada, lebih-lebih jalan yang kuciptakan beberapa tahun belakang justru memaksaku melenyapkan mimpi itu satu per satu. Apa lagi yang bisa kuharapkan? 

Clop, seharusnya aku telah kembali pada realita jauh sebelum hari ini. Barangkali kesenangan mendapat tambahan nama beberapa waktu lalu membuatku luput bahwa dunia nyata sesungguhnya telah dimulai, dan aku masih terlena kala itu. Jikalau masih disuguhi mimpi itu kembali, kali ini aku akan menikmati saja dalam bentuk kenangan istimewa kita. Bagiku cukup demikian saja. Tapi tidak denganmu. 

Teruslah bermimpi, Clop. Terutama untuk usaha terdekat yang baru saja dilakukan. Aku yakin, hal itu akan mengantarkanmu pada mimpi-mimpi selanjutnya. Dan aku, cukup dari sini saja menyaksikan impian-impian cerah kita dulu akan menjelma. 

.

Lubuk Tarok, 29 Juni 2017 

Ranne~ 

Komentar