Creavill; Sebuah Pengalaman Istimewa

Adakalanya hal-hal menyenangkan saya titipkan lewat tulisan, agar jika memori tak mampu lagi mengingat, dengan menelusuri kata demi kata yang telah tertera, saya dapat mereguk lagi kenangan yang saat itu tercipta. Begitupun dengan kenangan tentang hari ini. 


Note: dan akhirnya tulisan ini lahir dari serangkaian memori yang kembali mencuat karena sedikit nostalgia dengan salah satu hari terbaik yang saya alami penghujung tahun lalu.

Hari itu Sabtu pagi tanggal 14 Oktober 2017. Berbekal rasa ingin tahu dan sedikit rindu kepada kegiatan yang pernah saya kecap ketika tahun akhir kuliah dulu, saya memantapkan hati untuk menempuh perjalanan yang sama sekali asing dengan menggunakan jasa ojek online. Tujuan saya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)—memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan, sudah termasuk hambatan-hambatan semisal macet. Belum genap sebulan saya tinggal di kota ini, dan saya juga tak tahu jalan, hanya memasrahkan seluruhnya pada aplikasi di ponsel yang sedang saya buka. Berulang-ulang saya meyakinkan diri bahwa saya masih ingat dengan Mesjid Kampus UPI—yang dulu pernah saya dan rombongan singgahi ketika melakukan studi media kampus dua tahun silam—dijadikan titik berkumpul. 

Pagi itu saya mendapat kesempatan menjadi relawan sebuah kegiatan peresmian rumah baca oleh sebuah organisasi, yakninya Creavill (Creative Village) atau disebut juga Desa Kreatif chapter Bandung. Sesuai namanya, Creavill adalah komunitas yang digagas oleh para pemuda yang terdiri dari mahasiswa maupun yang sudah bekerja dan berfokus pada pemberdayaan desa. Dari apa yang saya ketahui saat itu, Creavill membantu memberdayakan desa-desa dari sektor wirausaha, pertanian, dan juga pendidikan (literasi). Awalnya, Creavill berpusat dan mendirikan desa binaan di daerah Garut dan sekitarnya. Barulah beberapa tahun kemudian Creavill chapter Bandung diresmikan, dan Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat menjadi desa binaan pertama Creavill chapter Bandung dengan mendirikan sekaligus meresmikan Rumah Baca Kreatif. Dan hal itu pulalah yang membawa saya sampai di gerbang depan kampus UPI sebelum terlambat (lebih tepatnya sebelum ditinggal, sebab sudah jelas saya terlambat dan sepertinya rombongan akan berangkat). 

Tercabik antara excited dan takut, saya bergerak ke arah sekumpulan anak muda yang sepertinya sedang fokus mendengarkan intruksi salah seorang. Saya sangat senang sekali sudah sampai pada titik ini, tapi ketakutan-ketakutan juga mulai bermunculan. Bagaimana jika sebenarnya saya tidak terdaftar pada kegiatan? Bagaimana saya akan memulai komunikasi dengan orang-orang baru tanpa menciptakan kesan buruk? (I’m introvert, dan hal serupa ini adalah sebuah masalah besar). Bagaimana jika saya tidak memberikan kontibusi yang layak sebagaimana seharusnya? Setelah menepis pikiran-pikiran demikian, saya mendekati seorang laki-laki yang berdiri agak jauh dari kumpulan tersebut. “Permisi Kak, ini Creavill, kan?” saya bertanya dan anggukan serta jawaban darinya seolah bermakna bahwa pengalaman baru saya akan dimulai. Saya benar-benar excited

Memakan waktu beberapa jam perjalanan dari UPI, menjelang tengah hari, akhirnya mobil panitia yang menumpangi saya sampai di sebuah halaman luas sebuah rumah. Berjarak beberapa meter, terdapat sebuah musala. Kemudian di belakang musala tersebut ada sebuah lapangan berlantaikan beton dengan sebuah net yang tingginya melebihi kepala orang dewasa terpasang membelah lapangan tersebut menjadi dua bagian. Yang paling istimewa adalah sebuah bagunan kecil yang dibangun agak tinggi, dan bagian depannya langsung menghadap ke lapangan. Di dindingnya terpasang sebuah spanduk kecil bertuliskan “Taman Baca Al-Ikhlash 1 KKN Tematik PAUD UPI 2016 Desa Pasirlangu” diikuti ilustrasi kartun anak-anak. Ah, sepertinya tempat itulah yang akan menjadi rumah baca (rumba). 

Benar saja, setelah beristirahat dan makan siang, kami dikumpulkan di rumba untuk perkenalan dan penjelasan tentang kegiatan. Saat itulah saya berusaha mengenali satu per satu yang ada dalam ruangan tersebut. Beruntung, panitia sudah menyiapkan semacam games yang bertujuan supaya kita kenal dengan semuanya. Saya dan beberapa yang baru pertama kali dan hanya menjadi relawan pada kegiatan rumba saja disebut Relawan Program. Ada juga Relawan Resmi, yakninya mereka yang menyiapkan dan menjalankan segala kegiatan desa binaan di Pasirlangu atau Relawan Creavill chapter Bandung angkatan pertama. Sisanya adalah mereka pemakarsa terbentuknya Creavill chapter Bandung. 

Ternyata, para relawan program juga terdiri dari berbagai latar belakang. Saya yang tadinya begitu cemas sebab masih butuh beradaptasi dengan alam Sunda, ternyata tidak hanya saya yang benar-benar “awam”. Ada yang sedari subuh sudah jalan dari Tangerang—bahkan ada yang mengendarai motor sejauh itu. Ah, perjuangan saya naik ojek sejam-an tidak ada apa-apanya jika dibanding mereka. Dan, ada pula mereka yang adalah mahasiswa pertukaran pelajar kampus UPI dan Universitas Padjajaran, dari Jepang, Korea, Thailand, dan Taiwan. Wow! Lagi-lagi, saya super excited

Kegiatan selanjutnya tentu saja yang paling saya tunggu-tunggu; dekorasi rumba dan membuat perpustakaan. Para laki-laki bertugas membuat rak kayu di luar ruangan, sedangkan yang perpempuan membuat dekorasi, menyortir, dan memberi label pada buku—dan saya tentu saja langsung menyamankan diri di antara tumpukan buku-buku demi membaui aroma favorit saya yang menguar dari lembaran buku saat menyortir nanti (iya, saya setidaknya paling sedikit satu kali membalik cover buku sebelum memutuskan pada tumpukan mana buku itu diletakkan). Bersama seorang Relawan Program yang lain, kami pindah tugas menjadi Tim Labelling Majalah Bobo. Yeah~ rasanya kami ingin membawa pulang saja beratus-ratus tumpukan majalah tersebut, bernostalgia masa kecil. 

Beranjak petang, udara pun mulai mendingin. Suara serangga, tongeret, dan sejenisnya juga mulai terdengar. Damai sekali rasanya. Sayang, waktu itu saya tak dapat menjumpai kunang-kunang karena bukan musim panas. Udara malam semakin menggigit, kegiatan dekorasi pun berlanjut esoknya. Kemudian, pagi-pagi sekali sebelum subuh, saya dan beberapa yang lain sudah harus berkemas dan mandi. Suhu udara berkali-kali lipat dinginnya. Wajar saja, sebab Pasirlangu adalah salah satu desa yang terletak di kaki gunung. Dan katanya, itu belum sedingin jika musim kemarau. 

Hari Minggu kami awali dengan senam pagi kemudian dilanjutkan dengan tur ke kebun paprika. Desa dengan alam asri ini salah satu penyumbang terbesar produksi paprika di Indonesia. Beruntung sekali rasanya. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya mengambil gambar dengan kamera ponsel, dan saya juga menyaksikan matahari pagi tampak begitu indah dari balik sulur-sulur mati yang menjalar dari tiang-tiang kayu, dari balik atap-atap rumah-rumah kaca, dan juga pemandangan paprika-paprika segar bergelantungan dari pohonnya. Jarang-jarang saya dapat melihat pemandangan indah serupa itu. 

Sekembali dari tur, setelah sarapan, akhirnya saya dapat bersua dengan anak-anak Pasirlangu yang nantinya akan meramaikan rumah baca. Ah, bertemu mereka adalah salah satu motivasi saya mengikuti kegiatan ini. Saya rindu kegiatan bersama anak-anak rumah belajar di pinggiran Kota Padang sana, berharap dengan kegiatan ini saya mendapatkan rasa menyenangkan yang serupa. Dan ya, saya mendapatkannya. Bermain bersama anak-anak tentu saja menyenangkan, tak terkecuali anak-anak di Pasirlangu. Saya juga diajari sedikit bahasa Sunda oleh beberapa dari mereka, ah, bukankah saya yang seharusnya “berbagi” kepada mereka bukan malah sebaliknya? Sungguh pengalaman istimewa. 

Masih ada acara peresmian rumba, story telling untuk anak-anak, dan acara penutup sebelum kami kembali pulang. Saya mencoba yang terbaik saat menuliskan pesan dan kesan pada secarik kertas berwarna, dengan hampir seluruhnya rangkaian dua hari itu membuat saya sangat terkesan. Pengalaman baru, keramahan panitia dan teman-teman lain begitu kental terasa, kebersamaan singkat tersebut telah menyingkirkan jauh-jauh pikiran buruk dan ketakutan-ketakutan saya di awal. 

Tuhan benar-benar Maha Baik—sekalipun saya masih suka merutuki diri dan kurang bersyukur. Mendapat kesempatan belajar, bertemu kawan-kawan baru, melakukan hal-hal menyenangkan untuk ukuran introver seperti saya (bergumul dengan buku-buku, berkesempatan menghirup udara dan memandangi langit dari tanah lain) adalah sebuah hadiah luar biasa lewat tangan-tangan Creavill dan teman-teman lainnya. Tak banyak yang dapat saya sampaikan selain terima kasih dan sangat bersyukur atas kesempatan ini. Semoga suatu saat saya juga dapat berbuat demikian—berbagi dan bermanfaat untuk orang banyak. 


.
.

Bandung, 31 Mei 2018.
Ranne~

Komentar