W


Kepada Wici,

Kita dalam suatu kebetulan sama dalam warna; Wici dengan garis-garis, Ranti dengan kotak-kotak ^^,

Rasanya tak perlu mengulang memori klise seperti awal mula berjumpa dan sejenisnya—karena kita sama-sama paham bahwa tak ada yang spesial pada kesan pertama itu dan cukuplah drama pertemuan pertama milik novel-novel saja.

Suatu ketika di sebuah tempat di Jawa Tengah.
Sepanjang ingatanku, kau ibarat dua sisi yang berseberangan. Dua kesan berlawanan, namun hidup sejalan. Sampai saat ini pun jika disuruh mendeskripsikan sosokmu, kepalaku membayangkan sosok dengan aura perempuan yang sangat kental, lengkap dengan rupa yang kau tampilkan; seorang kemayu yang sepertinya hampir selalu mengenakan merah jambu. Aku benar, bukan? Sebaliknya dalam dirimu tumbuh sosok tangguh yang tidak mudah patah. Kepribadian yang hampir tak pernah kubayangkan melebur dengan penampilanmu. Sungguh berbanding terbalik denganku. Jika kau adalah teladan, aku selalu mendapat peringatan karena kelakuan. Dulu aku sering menemukan bisikan-bisikan kepada junior di bawah kita untuk jangan meniru perilakuku, berbedan denganmu yang adalah seorang panutan. Kenyataannya kau memang demikian. Kau berjuang demi impianmu, dan kau dapatkan itu. Keliahatannya sederhana memang, namun siapapun tak akan pernah mengerti apa saja yang sudah kau korbankan demi sampai pada titik ini. Termasuk perihal menemukan seseorang..

Ya, aku turut menjadi pendengar bagaimana kisah-kisahmu dituturkan. Kala itu sehabis mengulang kebiasaan lama semasa berjalan bersama dalam satu organisasi; menghabiskan senja di pantai belakang kampus, sembari menyantap penganan khasnya, apalagi kalau bukan kerupuk leak dan pisang bakar keju. Mengatasnamakan reuni—padahal hanya sebagian dari kita yang tiba—ada saja yang terlontar, termasuk siapa di antara kita yang akan mengawali perjalanan hidup ke tingkat selanjutnya. Dan entah kebetulan atau apa, kala itu kau membawa serta seseorang yang sudah menemukanmu atau sudah kau temukan. Hingga kemudian pembahasan kita berlanjut hingga malam menjelang—dengan menjadikan kontrakanku tempat menjemput lelap. 

Kita; yang menamai diri dengan SULUAH--tempat dimana semua cerita bermula. 

Pada saat itu semuanya kau ujarkan. Tentang bagaimana kau jatuh dan patah hanya karena seseorang. Tentang bagaimana kau bangkit dari kedalaman—yang kelihatannya dari luar kau baik-baik saja, bahwa ceritamu tampak manis seperti yang sudah-sudah. Aku yang tak sepenuhnya paham dan belum pernah merasakan, hanya bisa meresapi kisahmu diam-diam. Tanpa bisa memberi saran dan penghiburan sejenisnya. Sudah kukatakan bukan, bahwa pengalamanku dengan hal-hal demikian hanya dari novel-novel roman yang kubaca, hahaha tidak usah pula kau tertawakan. 

Perjuangan itu berbuah manis, bukan? Hari kemarin, saat seluruh negeri bersuka cita merayakan hari kemerdekaannya, kau juga tentu yang paling berbahagia pula. Perjalanan panjangmu selanjutnya akan segera bermula—kali ini dengan seseorang yang bersedia bersama langkahmu selamanya. Barangkali dia adalah pangeran dari dongeng-dongeng kesukaanmu. Apapun, bagaimana pun kau menyebutnya, aku turut berbahagia atas itu. Kelak, kau akan menciptakan perjalanan-perjalanan yang menyenangkan bersamanya. Dan jadilah perempuan yang selalu bahagia dan hidup untuk terus menciptakan kenangan indah—lagi-lagi, bersamanya. Dan Tuhan selalu bersama doa-doamu. Ah, jangan lupa doakan aku agar juga dipertemukan dengan seseorang yang bersedia memaklumi keabsurdanku, yang tidak akan bosan mendengar ceritaku tentang warna langit ataupun wewangian rumpun ilalang (psst, kau harus berdoa untukku setelah membaca buku dongeng, ya!) HAHAHA.

.
.
Bandung, 18 Agustus 2018 
Ranne~ 


Komentar