G


Dear, Kak Gumala... 



Rasanya baru kemarin kita mengonsep ini itu hingga tak sepaham, berselisih pendapat, dan menumpahkan segala kejengkelan di atas bis yang membawa kita menuju Kota Kembang. Aku masih bisa merasakan udara menggigit Lembang, gerimis membekukan di Tangkuban Perahu, juga rajutan yang kita beli untuk menghangatkan leher kita. 

Aku masih bisa merasakan cuaca panas membakar kejengkelan di dada yang ketika itu proposal permohonan yang kita ajukan ditolak bahkan baru sampai pos satpam. Kita kemudian balas dendam dengan berteriak-teriak di dalam box karaoke sampai suara serak. 

Aku masih bisa merasakan wangi rerumputan lapangan kampus lengang pada petang hari. Saat kita entah kerasukan apa bersemangat sekali hunting spot-spot berfoto untuk diunggah. 

Aku masih bisa merasakan deru angin saat kita berkendara pada rute Padang-Bukittinggi juga sebaliknya, dengan diboncengi rekan-rekan lainnya. Kita harus sudah menyiapkan segalanya sebelum rombongan dengan bis tiba, dan harus merelakan ditinggal jalan-jalan ke tempat wisata oleh rombongan karena harus membereskan segalanya sebelum kembali pulang. 

Aku masih bisa merasakan sepoi angin laut berpadu debur ombak mengiringi jejak kaki kita di atas pasir ketika memunguti rumah keong dan juga kerang—kegiatan yang kita berdua tidak pernah lupa jika rute wisata rombongan adalah pantai.   

Monokrom (at February, 14th)
Aku masih bisa merasakan dentuman musik di dalam angkot setiap menjelang maghrib menuju kos-kosan-mu untuk berguru. Aku sering kemalaman dan tidak tahu bagaimana untuk pulang, bersama seorang kawan yang juga muridmu, tak jarang aku menginap saja untuk mengabsen satu per satu koleksi tontonan dalam memori penyimpananmu. 

Aku masih bisa merasakan berisiknya suasana kampus pada suatu pagi hari libur, dan kita sibuk dengan laptop masing-masing—kurasa saat itu kita mengunduh entah apa dari sebuah animasi kesukaan. 

Aku masih bisa merasakan petualangan kita menuju rumah seorang kawan yang akan menikah, dan kita sama sekali awam cara menuju kesana. Setalah berjam-jam terguncang-guncang di bus, kita dapat bernapas lega karena bukan tersesat di tempat yang salah. 

Aku pun masih bisa mengingat bermacam yang sering kukeluhkan kepadamu. Ketidaksanggupan tentang ini-itu, ketakutan tentang berbagai hal, juga sederet keanehan yang kuanggap kau sudah kebal terhadapnya haha. 

Ah, aku juga masih mengingat hari jadimu yang jatuh pada tanggal ini. Aku tak pernah pintar menuturkan berbagai doa yang tepat. Semoga kau selalu bahagia, dan segera bertemu dengan mimpi-mimpimu, apapun itu. 

.
.
Bandung, 30 September 2018

Ranne~

Komentar