Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan [Sepotong Donat Keju]
Hujan yang sedari tadi bernyanyi sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Aku melirik pemuda yang duduk di depanku. Sebuah sketchbook dan kotak pensil berisi peralatan menggambar terletak di atas meja di depannya, namun ia justru menatap dinding kaca di sebelah kami yang mengabur oleh embun. Ah, aku bisa merasakan tatapan menusuknya pada butiran-butiran yang turun itu. Ingin sekali aku tertawa keras melihat wajahnya saat ini. Tentu saja aku melakukannya di dalam hati saja—tak ingin membuat suasana hatinya bertambah buruk.
“Kau sedang mengejekku, eh?” suaranya sinis seperti biasa. Rupanya ia menyadari gelagatku yang dari tadi tak bisa menyembunyikan senyum geli.
“Tidak.”
Tapi kekehan kecilku malah tak bisa ditahan, dan berujung menjadi tawa geli yang susah payah kuhentikan. Wajah masamnya menjadi berkali lipat dan kini tatapan menusuknya ke arahku.
“Tertawalah sesukamu!” Kemudian ia bangkit dari duduknya menuju counter pemesanan.
Akhirnya aku berhasil meredakan tawa, dan melihat ke arahnya yang sedang mengantre. Barangkali ia lapar. Setengah jam lebih kami terjebak di kafe ini dan cangkir kopiku sudah habis setengahnya, ia hanya menatap hujan di luar sana alih-alih memesan sesuatu. Aku melanjutkan bacaan yang tadi sempat tertunda.
Bunyi tuk pelan mengaburkan fokusku pada buku tak lama kemudian. Ia telah kembali ke bangku di depanku dengan nampan berisikan secangkir kopi dan sepotong donat keju.
“Untukmu,” ia mengangsurkan donat tadi ke arahku. Aku mengernyit bingung, bukankah dia yang lapar kenapa malah memberikannya padaku?
“Kau dalam suasana hati gembira sekali sampai memberiku donat, bahkan kau tak memesannya untukmu sendiri?”
Ia malah melempar tatapan lebih sinis dari sebelumnya—menyadari kata-kataku berupa sindiran untuknya. Aku tertawa.
“Apa kau sepercaya diri itu bahwa kesukaanku adalah donat keju?”
“Oh, diamlah. Donat keju adalah favoritku asal kau tahu!” ia membuang pandangan ke dinding kaca basah itu lagi. Tawaku bertambah keras. “Aku sama sekali tidak berminat makan dalam cuaca begini,” pemuda itu menggerutu lagi.
Aku mengucapkan terima kasih sembari tertawa. “Dari pada kau memelototi hujan terus-terusan, sepertinya sketchbook-mu lebih butuh perhatian. Lama-lama aku percaya kau sebenarnya menyukai hujan,” kekehanku keluar lagi, dan benar saja, ia memasang wajah menyebalkan sekali dan gantian memelototiku.
Aku mengabaikannya dan mulai memakan sepotong kecil donat pemberian lelaki itu.
“Omong-omong, aku lebih menyukai donat cokelat sebenarnya.”
“Tidak peduli,” sahutnya, dan aku tertawa lagi.
*
Seminggu kemudian, pada terbitan di portal online komunitas creative writing yang aku dan dia ikuti, aku melihat ilustrasi seorang gadis yang menatap dinding kaca berhujan di sebelahnya—di atas meja di depan gadis tersebut ada sepotong donat keju.
.
.
Bandung, 25 September 2018
Ranne~
Komentar
Posting Komentar