Dik


Dear, Dik...

Apalagi yang bisa kukatakan kepadamu selain petuah-petuah orang tua membosankan—bahwa saat ini kau menginjak satu tangga kedewasaan jikalau kita merujuk pada usia. Apapun itu, jalanmu terbentang luas dan kau bebas memilih pada persimpangan mana kau ingin melangkah, juga persinggahan seperti apa tempat kau ingin berhenti. Kau sendiri lah yang memegang kendali. 

Termasuk perihal perempuan yang kau ceritakan kepadaku saat terakhir kali kita berbalas pesan beberapa bulan silam. Kau tahu bahwa aku tak lebih berpengalaman dari siapapun “orang tua” yang kau kenal. Jika kau kurecoki dengan pengalaman dari membaca novel roman, kuyakin kau tak akan mempan. Maka dari itu, aku berpesan supaya kau bijak mengambil keputusan—kuharap kau paham dengan apa yang kumaksudkan. 

Dik, barangkali selama perkenalan kita, aku tidak pernah menjadi contoh yang cukup baik buatmu—juga mereka. Terbukti dari setiap apapun “kelakuan” tidak baik yang kau lakukan, pasti disetai dengan kalimat, “Ah, ini kan ajaran dari Kakak..” Aku tidak akan menyangkalnya. Toh, dari dulu aku belumlah menjadi sosok Kakak yang bisa dijadikan panutan. Entah, jika pada akhirnya hal demikian yang bisa membuat kita mengulang kenangan, aku cukup senang pernah menghabiskan waktu-waktu berharga bersama orang-orang dalam lingkaran kita dahulu. Sampai sekarang, aku tidak pernah menyesal. 

Selamat mendewasa, Dik. Aku yakin kau dapat memilah apapun yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jika nanti saatnya kita berjumpa di masa depan, semoga aku, kau, juga mereka telah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. 

.
.
Padang, 17 Desember 2018
Ranne~

Komentar