Dik
Dear,
Dik...
Apalagi yang bisa kukatakan kepadamu selain petuah-petuah
orang tua membosankan—bahwa saat ini kau menginjak satu tangga kedewasaan jikalau
kita merujuk pada usia. Apapun itu, jalanmu terbentang luas dan kau bebas
memilih pada persimpangan mana kau ingin melangkah, juga persinggahan seperti
apa tempat kau ingin berhenti. Kau sendiri lah yang memegang kendali.
Dik, barangkali selama perkenalan kita, aku tidak
pernah menjadi contoh yang cukup baik buatmu—juga mereka. Terbukti dari setiap
apapun “kelakuan” tidak baik yang kau lakukan, pasti disetai dengan kalimat, “Ah,
ini kan ajaran dari Kakak..” Aku tidak akan menyangkalnya. Toh, dari dulu aku
belumlah menjadi sosok Kakak yang bisa dijadikan panutan. Entah, jika pada
akhirnya hal demikian yang bisa membuat kita mengulang kenangan, aku cukup
senang pernah menghabiskan waktu-waktu berharga bersama orang-orang dalam
lingkaran kita dahulu. Sampai sekarang, aku tidak pernah menyesal.
Selamat mendewasa, Dik. Aku yakin kau dapat memilah apapun
yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jika nanti saatnya kita berjumpa di masa
depan, semoga aku, kau, juga mereka telah menjadi pribadi yang lebih baik dari
sebelumnya.
.
.
Padang,
17 Desember 2018
Ranne~
Komentar
Posting Komentar