Puji
Dear, Puji...
Pertemuan pertama kita bukanlah di bandara dan berlanjut dengan perjalanan drama menyedihkan menggembel seharian di tempat-tempat umum semisal stasiun, mesjid, dan jalanan Palembang sewaktu hari pertama kita akan memulai pelatihan--karena sewaktu Direct Assessment kita sudah bertemu sebelumnya, tentu saja. Namun, sebelum hari itu barangkali kamu lah yang kuanggap orang terdekat untuk kukeluhi macam-macam, terutama tentang keyakinanku memilih jalan ini, tentang kecemasan orang tua beserta keluarga, tentang ketakutan akan sanksi dari penyelenggara kegiatan karena kita meminta waktu undur beberapa hari datang ke pelatihan. Baiknya kamu mengingatkan, "Jangan terlalu panik, Ranti. Tuhan tahu niat kita baik dan Insya Allah kita akan baik-baik saja."
Begitulah, kamu orang pertama disini yang selalu kurepotkan apa saja, karena ketidakmampuanku beradaptasi dengan cepat di antara teman-teman kita yang lain di camp. Aku beruntung karena kamu teman kamar pertama; yang lebih gesit dan ampuh dari alarm pagi, yang tidak masalah jika kamar selalu kuberantaki, dan secara tidak langsung jadi panutanku untuk memulai kebiasaan baru yang baik semenjak bangun subuh sampai pada waktunya bersiap untuk kelas pertama.
Ji, barangkali aku tidak tampak cemas atau membantu jika kamu sakit, seperti waktu di perjalanan kita socio-survival. Pun begitu juga aku pada teman-teman lainnya. Aku hanya terlalu takut yang kulakukan malah berujung kekacauan. Kamu tahu sendiri aku seperti apa hahaha dan semoga kamu memakluminya.
Ah, hampir saja terlupa bahwa tujuanku sebenarnya menuliskan ini adalah ingin mengucapkan selamat bertambah umur. Aku tahu ini sudah lewat sembilan hari dari tanggal seharusnya. Kupikir tak apa dan kau memaklumi, sebab di desa penempatanku aku sama sekali tidak bisa berkomunikasi apapun yang melibatkan ponsel, termasuk internet tentu saja. Dan juga karena hari ini masih bulan kelahiranmu juga hehe.
Bahagia selalu, ya Ji. Terutama melewati hari-harimu bersama anak-anak di desa pinggiran sungai sana. Tak ada yang bisa kujanjikan selain menitip doa. Malah, kemarin kamu yang memberiku "hadiah" hanya karena sepertinya kamu sering melihatku menyelipkan bebunga dan daun pada ID Card pelatihan kemarin, dan aku kali ini mendapatkan awetan daun kering cantik sebagai pembatas buku. Kamu juga menunaikan janji membawa buku misteri pesananku seusai liburan kemarin. Rasanya terima kasihku tidak akan cukup. Dan kita tahu Tuhan akan membalas lebih lagi dari segala kebaikanmu, bahkan lebih dari apa-apa yang dipinta dalam doa.
.
.
Muara Enim, 29 Januari 2019
Ranne~
Begitulah, kamu orang pertama disini yang selalu kurepotkan apa saja, karena ketidakmampuanku beradaptasi dengan cepat di antara teman-teman kita yang lain di camp. Aku beruntung karena kamu teman kamar pertama; yang lebih gesit dan ampuh dari alarm pagi, yang tidak masalah jika kamar selalu kuberantaki, dan secara tidak langsung jadi panutanku untuk memulai kebiasaan baru yang baik semenjak bangun subuh sampai pada waktunya bersiap untuk kelas pertama.
![]() |
| Kita dalam momen "menggembel" seharian. |
Ji, barangkali aku tidak tampak cemas atau membantu jika kamu sakit, seperti waktu di perjalanan kita socio-survival. Pun begitu juga aku pada teman-teman lainnya. Aku hanya terlalu takut yang kulakukan malah berujung kekacauan. Kamu tahu sendiri aku seperti apa hahaha dan semoga kamu memakluminya.
Ah, hampir saja terlupa bahwa tujuanku sebenarnya menuliskan ini adalah ingin mengucapkan selamat bertambah umur. Aku tahu ini sudah lewat sembilan hari dari tanggal seharusnya. Kupikir tak apa dan kau memaklumi, sebab di desa penempatanku aku sama sekali tidak bisa berkomunikasi apapun yang melibatkan ponsel, termasuk internet tentu saja. Dan juga karena hari ini masih bulan kelahiranmu juga hehe.
Bahagia selalu, ya Ji. Terutama melewati hari-harimu bersama anak-anak di desa pinggiran sungai sana. Tak ada yang bisa kujanjikan selain menitip doa. Malah, kemarin kamu yang memberiku "hadiah" hanya karena sepertinya kamu sering melihatku menyelipkan bebunga dan daun pada ID Card pelatihan kemarin, dan aku kali ini mendapatkan awetan daun kering cantik sebagai pembatas buku. Kamu juga menunaikan janji membawa buku misteri pesananku seusai liburan kemarin. Rasanya terima kasihku tidak akan cukup. Dan kita tahu Tuhan akan membalas lebih lagi dari segala kebaikanmu, bahkan lebih dari apa-apa yang dipinta dalam doa.
.
.
Muara Enim, 29 Januari 2019
Ranne~


Komentar
Posting Komentar