Resti
Dear, Res...
Adakah yang patut dipersalahkan ketika kita sudah saling berjauhan, pun segala bentuk komunikasi juga jarang dilakukan? Kita sama-sama tidak memperumit hal demikian sehingga menjadi masalah, bukan? Toh saat ini kita melangkah pada jalan yang kita pilih.
Apa kabar? Kuharap kau selalu "menyenangkan" seperti biasa. Terlebih beberapa hari lalu kau sudah menginjak umur kedewasaan di mata banyak orang. Selamat, sudah dua puluh lima tahun. Jelas-jelas lebih tua dibanding aku, tapi kau akan selalu kuanggap adik. Hahaha.
Res, terkadang aku sering merindukan segala aktivitas kita pada masa-masa itu. Hampir setiap malam kita begadang sampai dini hari bahkan tidak tidur bersama kerjaan masing-masing. Jika aku pusing dengan segala bahan tulisan atau editan, sedang kau harus selalu awas di depan layar yang lebih bikin sakit mata. Setelahnya pada malam-malam sakral ketika cetak majalah, pekerjaan kita "berpindah" pada ruang yang lebih profesional. Ah, aku benar-benar merindukan suara mesin cetak yang berisik, angin malam, dan jalanan sepi Kota Padang menjelang subuh saat kita naik motor bersama kawan-kawan lain yang juga bekerja pada malam sakral itu. Seolah jalanan punya kita saja.
Dan juga, hari-hari kita menjemput senja pada sebuah gang dan kamar kos-kosan Kakak Senior untuk les, dan seringkali pulangnya kemalaman terus jalan kaki. Kau akhirnya menyerah saja untuk ikut ke kontrakanku menginap, dan beberapa kali kau dan seisi kontrakan menjadi "korban" nasi goreng atau sayur yang kumasak haha. Ah, kapan lagi kita akan mengulang momen serupa itu?
Sekali lagi, selamat ulang tahun. Sekalipun di mataku kau selalu kuanggap lebih muda, nyatanya kedewasaanmu terpancar dari setiap caramu "bekerja". Aku selalu mengakuinya, sebab aku tak mampu seperti itu. Seburuk apapun hasilku dari tahun-tahun kita berkarya, kuharap yang baiknya juga membekas dalam kepalamu. Sebab sampai sekarang pun aku masih mencari jalan agar tidak terjebak pada lubang yang sama.
Barangkali kau bahagia karena kini kau tak perlu berjauhan dengan keluarga, tak seperti kuliah dulu. Sekiranya nanti kau sudah menentukan hari bahagia juga, aku disini menunggu kabar darimu. Sekalipun kau "melangkahi" Kakakmu ini (walau sebenarnya aku tidak dilangkahi sebab kau tetap lebih tua) hahaha. Entah kapan pun itu nanti, sampai jumpa lagi~
.
.
Muara Enim, 27 Februari 2018
Ranne~
Adakah yang patut dipersalahkan ketika kita sudah saling berjauhan, pun segala bentuk komunikasi juga jarang dilakukan? Kita sama-sama tidak memperumit hal demikian sehingga menjadi masalah, bukan? Toh saat ini kita melangkah pada jalan yang kita pilih.
Apa kabar? Kuharap kau selalu "menyenangkan" seperti biasa. Terlebih beberapa hari lalu kau sudah menginjak umur kedewasaan di mata banyak orang. Selamat, sudah dua puluh lima tahun. Jelas-jelas lebih tua dibanding aku, tapi kau akan selalu kuanggap adik. Hahaha.
Res, terkadang aku sering merindukan segala aktivitas kita pada masa-masa itu. Hampir setiap malam kita begadang sampai dini hari bahkan tidak tidur bersama kerjaan masing-masing. Jika aku pusing dengan segala bahan tulisan atau editan, sedang kau harus selalu awas di depan layar yang lebih bikin sakit mata. Setelahnya pada malam-malam sakral ketika cetak majalah, pekerjaan kita "berpindah" pada ruang yang lebih profesional. Ah, aku benar-benar merindukan suara mesin cetak yang berisik, angin malam, dan jalanan sepi Kota Padang menjelang subuh saat kita naik motor bersama kawan-kawan lain yang juga bekerja pada malam sakral itu. Seolah jalanan punya kita saja.
![]() |
| Kita pada malam-malam sakral menjelang cetak. |
Dan juga, hari-hari kita menjemput senja pada sebuah gang dan kamar kos-kosan Kakak Senior untuk les, dan seringkali pulangnya kemalaman terus jalan kaki. Kau akhirnya menyerah saja untuk ikut ke kontrakanku menginap, dan beberapa kali kau dan seisi kontrakan menjadi "korban" nasi goreng atau sayur yang kumasak haha. Ah, kapan lagi kita akan mengulang momen serupa itu?
Sekali lagi, selamat ulang tahun. Sekalipun di mataku kau selalu kuanggap lebih muda, nyatanya kedewasaanmu terpancar dari setiap caramu "bekerja". Aku selalu mengakuinya, sebab aku tak mampu seperti itu. Seburuk apapun hasilku dari tahun-tahun kita berkarya, kuharap yang baiknya juga membekas dalam kepalamu. Sebab sampai sekarang pun aku masih mencari jalan agar tidak terjebak pada lubang yang sama.
Barangkali kau bahagia karena kini kau tak perlu berjauhan dengan keluarga, tak seperti kuliah dulu. Sekiranya nanti kau sudah menentukan hari bahagia juga, aku disini menunggu kabar darimu. Sekalipun kau "melangkahi" Kakakmu ini (walau sebenarnya aku tidak dilangkahi sebab kau tetap lebih tua) hahaha. Entah kapan pun itu nanti, sampai jumpa lagi~
.
.
Muara Enim, 27 Februari 2018
Ranne~


Komentar
Posting Komentar