Rima

Dear, Rima...


Memang, kesan pertama tak pernah bisa memberikan penilaian untuk seseorang. Sialnya aku seringkali terjebak dengan kondisi ini, pun begitulah ketika aku pertama mengenalmu.

Dulu, aku selalu mengkhawatirkan bagaimana nantinya aku akan memulai hubungan yang akrab bersamamu. Aku adalah seorang yang cenderung paling lambat masuk ke dalam lingkaran, paling sering menarik diri dari kerumunan, dan juga selalu mencipta batas duniaku sendiri dengan orang-orang. Sedang kau adalah kebalikan.

Namun perlahan, justru kutemukan sosok berbeda. Ada celah-celah yang ternyata bisa kita isi satu sama lain. Bukan sekadar kita membahas musik dan idol Korea, tentu saja. Aku, kerap meminta solusi terkait kelemahanku untuk muncul ke permukaan. Entah, mungkin kau tidak ada yang dimintai saran kepadaku, iya, karena aku aneh di mata kalian, bukan?

Rim, barangkali pada malam kita mengawani malam berjaga adalah seauatu yang teramat berkesan, buatku terutama. Aku selalu suka mendengar kisah orang-orang, tentang apa saja. Terlebih jikalau dia menceritakan tentang dirinya dengan kemelut picisan yang mendera. Ya, aku akan menjadi pendengar yang paling setia. Sebab, itu sama saja dengan aku membaca cerita dari setumpuk bacaan kesukaan. Dan yang kita lakukan hingga larut malam waktu itu adalah mengurai kisah-kisah tersebut. Aku senang sekali.

Ah selalu, seperti kebiasaanku pada siapa saja, aku melupakan apa yang seharusnya dikatakan melalui sepenggal tulisan tak seberapa ini. Sebelum Februari benar-benar meninggalkan, selamat ulang tahun, Rim. Kali ini umur kita sama, kuberi kesempatan kepadamu silakan manfaatkan momen ini untuk benar-benar tidak menganggapku lebih tua, HAHAHA -__-

Selamat berkembang, Rim, terutama pada pengabdian kita yang barangkali saat ini masih belum terasa apa-apa. Sedari awal aku tahu kau hebat. Apapun yang merintang langkahmu di sana, kau pasti bisa melewatinya. Ada yang bilang padaku, niat baik kita tidak selalu diterima dengan baik, tapi Tuhan lebih tahu setiap yang kita lakukan. Percayalah, akhir perjalananmu (kita) akan indah. Satu lagi pesanku, kau lah yang menentukan kemana alur ceritamu sendiri, semoga kau memilih kisah dengan akhir yang bahagia.

.
.
Muara Enim, 28 Februari 2019
Ranne~

Komentar