Andi-Heri-Agung
Dear, Bro...
Entah apa jadinya jika kalian tak menjadi bagian dari lingkaran kita saat ini. Barangkali sekeliling kami hanya dipenuhi suasana perempuan yang sangat kental maupun ritme kekhawatiran yang serupa. Karena kalian lah feminin itu sedikit bisa ditawar.
Aku sangat bersyukur sewaktu kita socio-survival dulu kalian mengizinkanku bergabung "boys time"-nya kalian. Walaupun harus dengan paksaan dan kalian benar-benar menganggapku ada setelah setengah perjalanan saat itu. Perjalanan singkat saat itu benar-benar membayar "rencana" hari sebelumnya yang gagal dan membuat suasana hatiku berantakan. Terima kasih sudah mengajakku menjelajah desa hingga ke danau dan kita menemukan basecamp keren--tempat terbaik melihat pemandangan danau dan desa dari ketinggian.
Kak Andi... Dari kita pelatihan, kau benar-benar seperti sosok Bapak. Kadang kau beranggapan aku seperti Bocah SMP, dan lebih sering aku dianggap seperti anak kecil. Kau tahu Kak, semakin kesini, justru aku merasa kau lebih memiliki jiwa "keibuan" dibanding teman-teman perempuan kita yang lebih dewasa hahaha *peace*
Aku seringkali kesal karena jadwal "sesi mengeluh"-ku berkali-kali batal. Padahal, berkali-kali juga aku merasa sudah menjelaskan sebisanya, dan ujung-ujungnya kau tetap tidak paham, bukan? Sudahlah, toh aku sudah berjanji untuk tak peduli lagi hahaha. Satu pesanku, jika kau merasa kesulitan entah karena masalah apa, kita semuanya bisa dijadikan tempat sampah. Jangan saja karena kau merasa bertanggung jawab dengan "curhatan" semua orang, dan kau lebih memilih untuk tak mengungkapkan masalahmu juga.
Heri... Barangkali kau adalah teman paling pertama kukenal di antara yang lainnya. Sejak itu pun kau menunjukkan tindak-tanduk yang tak sejalan dengan kewarasanku, pun dengan yang lain sepertinya hahaha.
Tapi semakin hari, kau menunjukan sisi lain yang justru sebaliknya mudah melebur dengan sekitar. Dan kau juga salah satu rekan yang penempatannya berdekatan denganku. Aku tak akan lupa bagaimana kau membantuku dalam menyikapi masalahku di awal-awal. Seperti yang selalu kubilang, kau seperti Bapak-bapak yang menitipkan anak perempuannya sewaktu kau menemaniku menemui kepala sekolahku. Aku sangat terbantu karena itu. Sekalipun kau lebih sering mem-bully keanehanku dan seolah aku ini anak kecil sehingga bisa disuruh ini-itu, kuakui kau kadang teman yang baik--walaupun lebih banyak menyebalkannya.
Agung... Aku selalu tak paham apakah kau gabungan tukang bully dan pelawak. Sebab kau ada selalu diikuti tawa, padahal kau sedang mengejek seseorang misalnya. Anehnya, aku (tentu saja kita semua) tak pernah keberatan tentang itu.
Barangkali aku sedikit iri dengan kemampuanmu bisa disukai oleh siapapun. Kau bebas menjadi dirimu sendiri dan semuanya menyenangimu. Terlebih dengan prinsipmu yang seperti "mengalir apa-adanya", seolah kau tak pernah pusing memikirkan segala masalah. Bagimu cukup dijalani saja sebagaimana mestinya, dan tak perlu menambah masalah dengan berlarut-larut di dalamnya. Aku sungguh salut padamu perihal itu. Ah ya, aku senang pada akhirnya kau memanggilku dengan "Mbak" haha sebab dulu kau enggan walau kupaksa. Sepertinya aku ketularan "Emak" kita yang semakin kau bully justru semakin bahagia. Iya, sebegitu "receh"-nya aku sekarang setelah mengenal kalian.
Kalian tahu, walaupun aku selalu bilang bahwa aku tak menganggap kalian seperti laki-laki, semata-mata karena aku sudah tidak peduli lagi seburuk atau seaneh apapun sikapku di depan kalian (semuanya). Dan aku cukup bahagia kalian sepertinya menerimaku yang seperti ini. Baik-baik sampai akhir perjalanan ini ya, Guys. Jika kalian lebih dahulu tumbang, maka kemana lagi para perempuan ini mencari pegangan yang memang pada kodratnya berada pada kalian. Ah, sampai lupa, selamat ulang tahun ya. Boleh saja tanggalnya berbeda, tapi suatu keuntungan bagiku kalian lahir pada bulan yang sama, sehingga aku bisa menulis ini untuk ditujukan pada kalian bertiga hehe.
.
.
Muara Enim, 29 Februari 2019
Ranne~
Entah apa jadinya jika kalian tak menjadi bagian dari lingkaran kita saat ini. Barangkali sekeliling kami hanya dipenuhi suasana perempuan yang sangat kental maupun ritme kekhawatiran yang serupa. Karena kalian lah feminin itu sedikit bisa ditawar.
Aku sangat bersyukur sewaktu kita socio-survival dulu kalian mengizinkanku bergabung "boys time"-nya kalian. Walaupun harus dengan paksaan dan kalian benar-benar menganggapku ada setelah setengah perjalanan saat itu. Perjalanan singkat saat itu benar-benar membayar "rencana" hari sebelumnya yang gagal dan membuat suasana hatiku berantakan. Terima kasih sudah mengajakku menjelajah desa hingga ke danau dan kita menemukan basecamp keren--tempat terbaik melihat pemandangan danau dan desa dari ketinggian.
Kak Andi... Dari kita pelatihan, kau benar-benar seperti sosok Bapak. Kadang kau beranggapan aku seperti Bocah SMP, dan lebih sering aku dianggap seperti anak kecil. Kau tahu Kak, semakin kesini, justru aku merasa kau lebih memiliki jiwa "keibuan" dibanding teman-teman perempuan kita yang lebih dewasa hahaha *peace*
Aku seringkali kesal karena jadwal "sesi mengeluh"-ku berkali-kali batal. Padahal, berkali-kali juga aku merasa sudah menjelaskan sebisanya, dan ujung-ujungnya kau tetap tidak paham, bukan? Sudahlah, toh aku sudah berjanji untuk tak peduli lagi hahaha. Satu pesanku, jika kau merasa kesulitan entah karena masalah apa, kita semuanya bisa dijadikan tempat sampah. Jangan saja karena kau merasa bertanggung jawab dengan "curhatan" semua orang, dan kau lebih memilih untuk tak mengungkapkan masalahmu juga.
Heri... Barangkali kau adalah teman paling pertama kukenal di antara yang lainnya. Sejak itu pun kau menunjukkan tindak-tanduk yang tak sejalan dengan kewarasanku, pun dengan yang lain sepertinya hahaha.
Tapi semakin hari, kau menunjukan sisi lain yang justru sebaliknya mudah melebur dengan sekitar. Dan kau juga salah satu rekan yang penempatannya berdekatan denganku. Aku tak akan lupa bagaimana kau membantuku dalam menyikapi masalahku di awal-awal. Seperti yang selalu kubilang, kau seperti Bapak-bapak yang menitipkan anak perempuannya sewaktu kau menemaniku menemui kepala sekolahku. Aku sangat terbantu karena itu. Sekalipun kau lebih sering mem-bully keanehanku dan seolah aku ini anak kecil sehingga bisa disuruh ini-itu, kuakui kau kadang teman yang baik--walaupun lebih banyak menyebalkannya.
Agung... Aku selalu tak paham apakah kau gabungan tukang bully dan pelawak. Sebab kau ada selalu diikuti tawa, padahal kau sedang mengejek seseorang misalnya. Anehnya, aku (tentu saja kita semua) tak pernah keberatan tentang itu.
Barangkali aku sedikit iri dengan kemampuanmu bisa disukai oleh siapapun. Kau bebas menjadi dirimu sendiri dan semuanya menyenangimu. Terlebih dengan prinsipmu yang seperti "mengalir apa-adanya", seolah kau tak pernah pusing memikirkan segala masalah. Bagimu cukup dijalani saja sebagaimana mestinya, dan tak perlu menambah masalah dengan berlarut-larut di dalamnya. Aku sungguh salut padamu perihal itu. Ah ya, aku senang pada akhirnya kau memanggilku dengan "Mbak" haha sebab dulu kau enggan walau kupaksa. Sepertinya aku ketularan "Emak" kita yang semakin kau bully justru semakin bahagia. Iya, sebegitu "receh"-nya aku sekarang setelah mengenal kalian.
Kalian tahu, walaupun aku selalu bilang bahwa aku tak menganggap kalian seperti laki-laki, semata-mata karena aku sudah tidak peduli lagi seburuk atau seaneh apapun sikapku di depan kalian (semuanya). Dan aku cukup bahagia kalian sepertinya menerimaku yang seperti ini. Baik-baik sampai akhir perjalanan ini ya, Guys. Jika kalian lebih dahulu tumbang, maka kemana lagi para perempuan ini mencari pegangan yang memang pada kodratnya berada pada kalian. Ah, sampai lupa, selamat ulang tahun ya. Boleh saja tanggalnya berbeda, tapi suatu keuntungan bagiku kalian lahir pada bulan yang sama, sehingga aku bisa menulis ini untuk ditujukan pada kalian bertiga hehe.
.
.
Muara Enim, 29 Februari 2019
Ranne~


Komentar
Posting Komentar