Ullan

Dear, Ullan...


Agaknya, aku harus banyak-banyak belajar darimu perihal perjalanan ini. Aku tahu, jalanmu bukan mulus-mulus saja. Sebab, kau pun punya berbagai hambatan yang barangkali membuatmu takut untuk melangkah. Tapi aku sungguh mengagumi bagaimana caramu berjalan dengan itu semua. Kau seperti bebas, beriringan dengan matahari cerah, hingga kau selalu tampak bersinar.

Lan, kita sama-sama paham betapa memulai semua ini tidaklah mudah, terutama bagiku. Tentu saja kau adalah saksi bagaimana aku selalu yang paling sering mengeluh setiap sesi curhat bersama kita. Iya, karena kita dimentori oleh Fasil yang sama. Pun setelahnya, kita juga sering berbagi segala ketakutan yang kita rasakan. Betapa kita merasa sulit sekali untuk berkembang. Ah, saat itu aku malu, aku harusnya hadir sebagai yang berada di tengah lantaran usiaku lebih tua, justru aku yang paling sering mengungkapkan kelemahan. Betapa payahnya aku.


Tahukah kau bahwa aku sungguh-sungguh lega saat kita akhirnya dapat bersua di awal-awal perjalanan kemarin. Berhari-hari setelah kita merencanakan pertemuan itu, aku selalu menghitung waktu, sesegera mungkin bisa sampai pada hari kau dan aku bersua. Terlebih saat itu ada banyak sekali yang ingin kuluapkan. Berbagai ketakutan-ketakutan menumpuk dalam bentuk masalah, yang rasanya hingga kini memusingkan kepala. Entah aku harus bagaimana, sejujurnya aku ingin sekali menangis saat kau bertanya, "Mbak di sana aman, kan?" Padahal cerita di tempatmu justru lebih berbahaya, dan aku tidak pernah menjalankan tugas seorang yang lebih tua terhadap "adik"-nya.

Ah, sudahlah. Aku tak ingin memperparah tulisan ini dengan segala kegalauan tidak berguna. Aku hanya ingin menunaikan janji saja melalui tulisan ini. Selamat bertambah usia, Lan. Semoga perjalananmu selalu cerah. Aku (dan yang lain) akan senang sekali melihatmu bersinar bersama anak-anak di Talang sana.

.
.
Muara Enim, 14 Maret 2019
Ranne~

Komentar