Ija

Dear, Ija...


Bagaimana kabar di sana? Adakah bahagia serupa biasanya? Kuharap hari-harimu saat ini selalu cerah. Bukankah sekarang tidak lagi ada alasan untuk tak menarik sudut-sudut bibir agar merekah setiap paginya. Hehehe aku yakin kau paham apa yang aku maksudkan.

Ja, di usia sekarang ini ternyata semakin susah untuk bertingkah selayaknya biasa; mengabaikan realita dan segala kepenatannya lalu menggantinya dengan ocehan kesukaan akan dunia imajinasi kita. Walaupun di awal aku sudah berpura-pura bahwa aku adalah perempuan normal dan biasa saja. Tetap saja keabsurdan ini lebih kentara dan keluarlah jati diri yang sebenarnya; aku selalu aneh dan tidak wajar. Begitulah, di waktu sekarang haruslah realistis tentang dunia dan masa depan, sedang isi kepala ini hanyalah cerita dongeng dan impian kanak-kanak dibalut dengan kegalauan.

Andai saja saat ini kita masih dalam lingkaran yang sama serupa dulu, barangkali tak akan sesusah ini menemukan kawan yang mengerti dan memaklumi sosok anehku. Bukannya aku menyesali keadaan sekarang, sama sekali bukan. Hanya saja aku tidak ingin memaksakan diriku yang seperti ini berbaur dengan keramaian dan berujung ketidaknyamanan orang-orang sekitarku kini.

Entah, tiba-tiba saja terbersit sebuah dugaan bahwa dari dulu mungkinkah kau hanya memaklumiku saja? Hahaha aku hanya bergurau saja. Terlepas dari kau seperti apa, saat ini aku cukup merindukan orang sepertimu yang mau kuajak melakukan hal-hal gila apa saja. Berkeliling jalan kaki demi mencari spot foto "terbaik" ala kita, membantuku mencuri reranting bonsai cantik di depan gedung Pascasarjana demi merangkai crown, atau berjalan di sepanjang pantai demi mencari kerang atau rumah keong untuk dibawa pulang. Dan aku juga tidak akan melupakan bantuanmu saat aku mencari paket buku yang salah alamat. Bersama Mai, kau menemaniku jalan kaki dari satu gang ke gang lainnya keliling kompleks. Aku ingat saat itu langit senjanya cantik sekali. Aku merasa itu adalah hadiah dari Tuhan buat kebaikan kalian waktu itu. Kau tahu, banyak lagi momen-momen serupa itu yang ingin kuulang.

Dalam hitunganku, waktu berlari benar-benar cepat sekali. Usia kita kini tak bisa sepenuhnya memikirkan hal-hal yang menyenangkan, bukan? Dalam kebersamaan di waktu lalu kita, aku terkadang masih merasa membawa sesal hingga detik ini. Termasuk perasaan bersalah tentang aku yang tak pernah menjadi seorang Kakak yang baik. Malah mungkin aku seringkali menumbuhkan kekecewaan padamu, juga mereka yang lain. Tapi, untuk kau ketahui, kebersamaan serupa dahulu bagiku selalu yang terbaik. Dan aku banyak belajar dari segala penat dan jatuh dari perjalanan lalu. Hal itu pulalah yang mengantarkanku hingga berada pada mimpi yang sekarang. Walaupun hari ini aku masih seorang pecundang serupa dulu, tapi kupikir aku tak akan menyerah. Kuharap kau juga, ya?

Tulisanku sudah melantur kemana-mana. Aku yakin kau yang membaca ini sudah pasti bosan haha maafkan~ Selamat bertambah usia ya, Ija. Tetaplah cerah seperti sosok yang kukenal. Ah ya, aku sangaaaaat senang perihal kau dengan Adik favoritku yang lain bersama saat ini haha bahagia terus ya, bersama-sama. Sampai jumpa di lain kesempatan.

.
.

Lahat, 27 April 2019
Ranne~

Komentar