Dian

Dear, Kak Dian...


Barangkali kau sudah lupa, tapi ingatan tentang pertama kalinya aku memulai obrolan denganmu masih segar dalam kepalaku. Padamu waktu itu, kusampaikan keinginan akan penempatanmu kala itu semoga berjodoh dengan perjalananku selanjutnya. Aku pun masih ingat dengan jawabanmu, "Silakan jalani dulu seminggu disini, kemudian lihat nanti, apakah kamu masih menginginkan tempat ini." Aku menyanggupinya. Rasanya pemikiranku pun tak berubah. Setelah socio-survival usai pun aku masih berharap ditempatkan di sana, tapi Tuhan menuliskan takdirku di tempat berbeda. Cerita harus berlanjut, bukan?

Hampir setengah perjalanan ini terlewat sudah. Tak banyak sekiranya momen-momen yang kita lalui bersama dan berujung pada kedekatan seperti mereka-mereka yang sudah lebih dahulu melewati perjalanan serupa ini. Atau seperti kau dan delapan orang lain yang menjadi pendahulu kami. Sebab aku masihlah seorang selalu terlambat dalam sebuah lingkaran, dan kau, sepengamatanku adalah orang yang selalu berjalan di depan. Barangkali kau sudah terlalu paham alur perjalanan ke muka, kau sudah tak lagi canggung untuk melewati semuanya. Sejujurnya ingin sekali aku bisa sekuat itu untuk meneruskan langkah lambanku ini.

Entah kau sepakat atau tidak, seringkali hal-hal bodoh nan receh justru yang paling melekat kuat dalam kepala. Seperti beberapa kejadian yang pernah kita alami, rasanya aku tak akan lupa begitu saja. Kita pernah berbantah-bantahan dalam kesalahpahaman di awal pertemuan sebagai tim. Kemudian, sewaktu menjemput mereka yang terlambat datang ke desamu, akhirnya kau menyadari sosokku yang tak pernah normal di mata orang-orang, hanya karena aku teramat bergembira membaui aroma hujan yang saat itu dengan derasnya dan membuat kita terjebak berjam-jam menungguinya reda. Dan jangan lupakan insiden kunci bersama Rima! Aku rasa itu kebodohan paling memalukan karena turut menghebohkan Bapak-Ibuk tetangga kamar kala itu. Untungnya mereka baik sekali, begitupun Mamang-mamang yang lapaknya di depan tempat aku meminjam palu. Juga momen ketika kau akhirnya menceritakan kisah masa lalumu di desa Mba Sulis, aku minta maaf telah melabeli "teman"-mu itu dengan panggilan paling brengsek hahaha tapi aku belajar banyak dari ceritamu.

Kak, semoga saja kau tidak terbebani aku menulis seperti ini. Sebab ini janji kepada diri sendiri untuk berkisah tentang mereka yang berada dalam lingkaranku semenjak memulai semua perjalanan ini. Dan kau termasuk di dalamnya. Walaupun lama sekali aku menuliskannya untukmu, sebenarnya ini sebagai ucapan selamat bertambah umur. Sekalipun aku sedikit lebih tua, entah kenapa panggilan "Kak" rasanya tidak salah sebab di mataku kau tetap saja orang tua wkwk *peace*

.
.
Muara Enim, 24 Juni 2019
Ranne~

Komentar