Diary GP; Pindah Kelas

Menjelang pengujung Juli... 


Minggu kedua pada tahun ajaran baru, saya—yang semula mengajar di kelas 3 dan kelas 4—dipindah untuk mengajar di kelas 5 dan kelas 6. Tak apa sebenarnya. Toh anak-anak kelas tinggi idealnya sudah lebih dewasa dibandingkan adik kelasnya. Pun sama menyenangkannya ketika saya beberapa kali mengajar di kelas mereka. Selain itu juga kelas 5 sekarang adalah anak-anak saya di kelas 4 semester lalu. 

Namun, entah kenapa saya dilanda campuran perasaan aneh yang tak saya pahami. Semacam sedih, setengah excited, setengah tidak ingin meninggalkan kelas 3 dan 4. Padahal, kelas 3 dan 4 sekarang adalah kumpulan anak-anak yang luar biasa hiperaktif dengan tipe yang rata-rata kinestetiknya meluap-luap. Saya seringkali geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka, tak jarang pula marah-marah, dan tentunya yang paling sering adalah membiarkan mereka saja atau meladeni semua cerita dan pertanyaan ini-itu dari mereka. Setelah dirasa mereka “cukup aman”, barulah saya mengembalikan arus kelas yang seringkali keluar jalur itu.

Barangkali, saya hanya terlalu sentimen saja. Bisa jadi melankolis yang berlebihan, mengingat saat ini apa-apa terasa baper. Kemudian saya sadari, ternyata saya hanya ingin terus mendengar ocehan mereka di sela-sela pelajaran, ingin memarahi mereka setiap kali ribut, ingin tiba-tiba tertawa karena tingkah polos mereka padahal dalam kondisi sangat emosional. Entah, rasanya drama kenakalan ini tidak akan saya temukan pada kelas 5 dan 6. Tentu saja tantangannya berbeda pula. Yang pasti satu hal, saya tidak menyesali pindah kelas. Toh, masih sebelahan dan kapanpun saya masih bisa menjumpai anak-anak kelas 3 dan 4, termasuk mengisi kelasnya. Benar, saya terlalu berlebihan. 


So, saya meminta mengulur waktu selama seminggu untuk pindah. Alasannya karena saya terlanjur berjanji untuk menghias kelas kepada anak-anak. Berhubung kami sudah memakai ruang kelas baru yang masih sangat polos. Maka, setiap hari di sela-sela pelajaran kami menyempatkan untuk berkreasi seadanya. Kemampuan seni saya juga seadanya, jadilah saya “memanfaatkan” hasil karya anak-anak untuk menghias kelas. Kami membuat origami kupu-kupu untuk ditempel di jendela. Kemudian saya meminta mereka menggambar diri sendiri pada karton yang sudah dipotong-potong berbentuk persegi panjang dan lingkaran. Gambar-gambar tersebut kami tempel di dinding kelas dan sebagai cover pada love box masing-masing. Untuk jadwal piket, saya juga meminta mereka menulis nama masing-masing dengan crayon untuk kemudian saya tempel di karton yang kemudian juga dihiasi ini-itu. Intinya, hampir seluruh kegiatan saya melibatkan mereka juga. Tujuannya, selain mereka berkreasi sebebasnya, saya ingin hiasan kelas adalah hasil karya mereka juga. Dengan begitu mereka akan lebih merawatnya, bukan? 


.
.
Ranne~ 

Komentar