Sevti
Dear, Sevti...
Tentu, kau tak pernah kuberi tahu, bahwa hari-hari pertama penempatan aku cukup merasa "bertanggung jawab" atas dirimu. Kupastikan alasannya bukan karena kau yang paling bungsu di antara semuanya, bukan pula kau yang paling care sedari sebelum mulai pelatihan, tapi karena kau sama sekali tak menunjukkan kabar apa-apa. Pada saat kami yang desanya tak ada sinyal pun masih bisa menyahut di grup bersama, kau sekalinya berkabar malah muncul dengan emoticon menangis.
Aku sangat paham, kita semua tertatih-tatih melangkah di awal, hanya saja masing-masing sesuai porsinya. Masing-masing juga sudah tahu bagaimana mengayun langkah dengan gayanya, sehingga kita berjalan dengan irama yang tak senada. Saat itu suara langkahku begitu suram, pun kakiku juga teramat lemah untuk menjejak dengan indah. Aku sungguh khawatir dengan diriku ke depannya, pun kau juga. Kau selalu terpikir olehku, apakah di sana baik-baik saja?
Untunglah kekhawatiranku atasmu tak berlangsung lama. Nyatanya, setelah itu kau mampu berlari dengan irama pasti. Rasanya dirimu yang sebelumnya kukenal sudah kulihat kembali ada pada dirimu. Sosokmu yang walaupun diperlakukan seperti (karena kau memang) yang paling kecil, rasanya lebih dewasa dibandingkan diriku. Jika kau masih ingat, sewaktu kita masa transisi dan kau kebagian tempat ikut ke calon desaku, teman-teman lain berpesan, "Sev, jagain Ranti, ya. Kalau-kalau dia nanti ngilang." Sekembali dari desaku, kau malah terus-terusan bilang khawatir padaku karena sudah tahu gambaran bagaimana di sana. Atau saat hari terakhir socio-survival saat kita buang sampah, kau jatuh sampai pakaianmu kena lumpur semua. Aku benar-benar tak bisa membantumu apa-apa, disaat seharusnya akulah yang menjaga kau si Adik Kecil hahaha -__-
Sev, waktu kita memang dijatah sama per masing-masingnya. Barangkali yang membedakan adalah diri kita sendiri, bagaimana kita bertumbuh pada jalan yang tengah kita susuri. Aku selalu berharap langkahku, langkah kita semua selalu mudah. Hingga pada ujung jalan yang akan menunggu kita nanti, terpancar rona-rona bahagia bahwa langkah kita usai tanpa menyisakan beban apa-apa. Sungguh, aku teramat berharap kita seperti itu di kemudian. Terlepas dari kenyataan bahwa kendala yang menghadang, bukan sesederhana kerikil yang bertebaran di jalan. Sudahlah, langkah kita sudah pasti tak akan luput dari pengawasan Yang di Atas.
Sayangnya, Sev, tulisan beralamat kepadamu kali ini sampai terlambat datangnya. Aku telah melewatkan hari lebih dari sepekan untuk mengucapkan selamat atas bertambahnya umurmu. Yang lebih fatal, ini sudah bukan lagi bulan kelahiranmu, mohon dimaafkan, ya.
Kebaikanmu selama di Palembang saat sekembalinya dari liburan sehabis pelatihan tak akan kulupa. Semoga lain kali aku ada waktu untuk membalasmu serupa. Sekali lagi, selamat bertambah umur, Sev. Semoga kau lebih tangguh ke depannya.
.
.
Muara Enim, 5 Oktober 2019
Ranne~
Aku sangat paham, kita semua tertatih-tatih melangkah di awal, hanya saja masing-masing sesuai porsinya. Masing-masing juga sudah tahu bagaimana mengayun langkah dengan gayanya, sehingga kita berjalan dengan irama yang tak senada. Saat itu suara langkahku begitu suram, pun kakiku juga teramat lemah untuk menjejak dengan indah. Aku sungguh khawatir dengan diriku ke depannya, pun kau juga. Kau selalu terpikir olehku, apakah di sana baik-baik saja?
Untunglah kekhawatiranku atasmu tak berlangsung lama. Nyatanya, setelah itu kau mampu berlari dengan irama pasti. Rasanya dirimu yang sebelumnya kukenal sudah kulihat kembali ada pada dirimu. Sosokmu yang walaupun diperlakukan seperti (karena kau memang) yang paling kecil, rasanya lebih dewasa dibandingkan diriku. Jika kau masih ingat, sewaktu kita masa transisi dan kau kebagian tempat ikut ke calon desaku, teman-teman lain berpesan, "Sev, jagain Ranti, ya. Kalau-kalau dia nanti ngilang." Sekembali dari desaku, kau malah terus-terusan bilang khawatir padaku karena sudah tahu gambaran bagaimana di sana. Atau saat hari terakhir socio-survival saat kita buang sampah, kau jatuh sampai pakaianmu kena lumpur semua. Aku benar-benar tak bisa membantumu apa-apa, disaat seharusnya akulah yang menjaga kau si Adik Kecil hahaha -__-
Sev, waktu kita memang dijatah sama per masing-masingnya. Barangkali yang membedakan adalah diri kita sendiri, bagaimana kita bertumbuh pada jalan yang tengah kita susuri. Aku selalu berharap langkahku, langkah kita semua selalu mudah. Hingga pada ujung jalan yang akan menunggu kita nanti, terpancar rona-rona bahagia bahwa langkah kita usai tanpa menyisakan beban apa-apa. Sungguh, aku teramat berharap kita seperti itu di kemudian. Terlepas dari kenyataan bahwa kendala yang menghadang, bukan sesederhana kerikil yang bertebaran di jalan. Sudahlah, langkah kita sudah pasti tak akan luput dari pengawasan Yang di Atas.
Sayangnya, Sev, tulisan beralamat kepadamu kali ini sampai terlambat datangnya. Aku telah melewatkan hari lebih dari sepekan untuk mengucapkan selamat atas bertambahnya umurmu. Yang lebih fatal, ini sudah bukan lagi bulan kelahiranmu, mohon dimaafkan, ya.
Kebaikanmu selama di Palembang saat sekembalinya dari liburan sehabis pelatihan tak akan kulupa. Semoga lain kali aku ada waktu untuk membalasmu serupa. Sekali lagi, selamat bertambah umur, Sev. Semoga kau lebih tangguh ke depannya.
.
.
Muara Enim, 5 Oktober 2019
Ranne~

Komentar
Posting Komentar