Sulis

Dear, Mbak Sulis...


Sepanjang perjalanan ini, tak sedikit yang melabeli kita pada banyak kesamaan. Padahal jika ditilik lebih jauh, justru banyak hal dari kita yang sebetulnya berseberangan. Aku bisa dibilang yang paling terakhir membaur dalam lingkaran, sedang kau tipikal memulai duluan seperti memimpin pasukan. Aku seorang yang menghindari basa-basi dan selalu ingin menghilang dari jumpa awal mula yang sekelilingnya tak kukenal sebelumnya, dan kau adalah pembuka jalan untuk memulai obrolan kemudian begitu saja membaur dalam keramaian. Atau hal kecil seperti aku yang tak suka makanan dan minuman mengandung gula, kau justru menggemarinya.

Barangkali dengan begitulah kita justru menemukan sesuatu yang bisa diperdebatkan. Sesuatu yang pada akhirnya memicu pembicaraan panjang lebar dan tak satupun menemui pembenaran, selain kita bertahan pada ego masing-masing. Ah, bukan. Dalam hal ini, seseorang dengan ego tinggi dan tak mau mengalah sepertinya hanya tepat dialamatkan kepadaku. Ya, segala sifat burukku yang masih saja membuat sebal siapa saja, dan kau sepertinya korban yang paling sering terkena.

Mbak, kau pun tahu bahwa tak ada satu cerita dariku yang luput kau ketahui. Semuanya, apa saja, selalu kutumpahkan dengan beragam emosi yang menyertainya. Seringnya adalah perihal langkah yang mengurai lelah. Dan sepertinya kita sama-sama sepakat bahwa topik ini adalah favorit walaupun membahasnya akan berujung penat di kepala dan lagi-lagi membuat hati patah. Di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, selalu berkesan sama.

Kabar baiknya, dari sana justru aku belajar banyak hal, terutama perihal menyembuhkan diri sendiri. Belajar menata perasaan supaya hati tak lagi tersakiti akibat tak mampu mengatur ekspektasi. Juga belajar agar tak melulu mengedepankan sisi negatif sehingga lupa bahwa banyak hal-hal baik yang membersamainya. Kau lah yang mengambil peran besar dalam hal berproses ini.

Entah jika kau ingat, obrolan-obrolan panjang yang kita rajut pada waktu-waktu semisal di dalam bus yang kita tumpangi hingga malam, di sepanjang perjalanan dengan motor, pada malam-malam lengang di desa saat aku menginap, di sela-sela perpisahan ketika akan pulang, dan masih banyak lagi. Bagi seorang introver sepertiku, yang demikianlah yang paling berkesan. Sebab, selalu tak mudah untukku mengurai obrolan dengan orang-orang, tak mudah untukku menemukan seseorang yang mau memahami kemelut kepala dan susah untuk diungkapkan, dan sangat tak mudah untukku yang terlanjur dilabeli sebagai orang aneh untuk bersikap normal di mata orang kebanyakan. Maka, terima kasih untuk banyak hal.

Ah, tulisan ini sudah keluar jalur dari yang seharusnya ucapan bertambah usia. Persis seperti aku yang selalu kau ulang; akan berputar kemana-mana terlebih dahulu, sebelum sampai ke tujuan. Jadi, tak banyak kata-kata selamat atau kalimat sejenisnya yang dapat kusampaikan, Mbak. Semoga tersampaikan lewat doa-doa. Semoga dipermudah ke depannya, terutama yang menyangkut hati dan logika. Setelah semua cerita perjalanan ini, semoga hari cerah menunggu di ujung langkah.
.
.

Muara Enim, 10 November 2019
Ranne~

Komentar