Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan (--new side)

Source: pinterest.

Ada yang berbeda dari pemandangan sore hari di luar ruangan. Kulihat pemuda itu alih-alih berwajah masam seperti biasa, seluruh perhatiannya terfokus pada benda di tangannya. Setelah menutup tas, aku keluar dari pintu kaca ruangan ini dan menghampirinya. Ah, yang sedang ditekuninya adalah sebuah buku sketsa ukuran kecil.

"Kau sedang menggambar hujan, eh?" aku mulai mengurai lipatan payung di tanganku.

Ia mendongak dan menampilkan wajah masam yang kukenal. "Kaukira aku akan repot-repot melakukan itu, huh?"

Aku tersenyum simpul, "Barangkali kau berubah pikiran dan mulai berdamai dengan hujan."

Tampangnya lebih masam dari sebelumnya. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatapku terang-terangan dengan pandangan jengkel. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar melihat reaksinya.

Kurang lebih satu bulan ini aku benar-benar berinteraksi dengan pemuda itu. Sebelumnya dia adalah mahasiswa yang selalu menempati bangku kayu di sudut taman yang kulewati setiap akan pulang ke kos-kosan pada petang hari. Bersama kertas dan peralatan menggambar, ia seperti menjaga jarak dari penghuni taman lainnya--dan jangan lupakan wajah masam itu. Beberapa kali jika melihatku lewat di taman itu, ia akan mengerutkan dahinya beberapa saat sebelum mukanya kembali masam. Aku seperti sudah maklum saja. Padahal kami tidak saling kenal, ah, mungkin pernah berpapasan di kampus juga, mengingat gedung fakultas kami tetanggaan. Dia mahasiswa Seni Rupa, sedangkan aku mahasiswa Sastra. Itu saja.

Kemudian barulah kami benar-benar dipertemukan lewat kelas tiga kali seminggu pukul empat sore selama dua jam. Semacam komunitas untuk portal online kampus khususnya creative writing. Ketika rekrutmen angkatan baru dibuka pada awal semester ini, aku mendaftarkan diri, dan sedikit terkejut menemukan dia di antara calon-calom anggota lainnya. Ah, mungkin dia tertarik dengan bidang ilustrasinya. Begitulah mulanya hingga kami--dalam pandanganku--"cukup akrab" untuk saling melempar ucapan sarkastis, seperti petang ini.

Payungku sudah terkembang, seketika timbul keinginan untuk meminjami pemuda ini, dan aku akan berlari-lari di bawah hujan kedengarannya menyenangkan. Membayangkan bagaimana kesalnya ia jikalau aku benar-benar meminjaminya payung--aku tersenyum geli. Ide buruk baginya.

"Kau sangat suka tersenyum, ya?" diucapkannya dengan nada jengkel.

"Sama denganmu yang suka sekali berwajah masam," balasku. Kali ini aku benar-benar tergelak melihat protes di wajahnya.

"Sudah ya. Aku pulang."

Tak kusangka, aku kembali melipat payung dan menyodorkan kepadanya yang sekarang wajah masamnya berubah menyeramkan--anehnya dia tetap menerima payungku.

"Sampai besok!" teriakku.

Aku telah berlari-lari kecil menembus hujan, dan merasakan tatapan menusuk dipunggungku, aku menahan godaan untuk tidak berbalik melihat ekspresinya. Sudah pasti aku bermasalah dengannya besok. Aku tak hentinya tertawa sampai tiba di rumah.

***

Fin (this part) on May 6, 2018

.

Trying to fix these-randomly-things-on-my-head~ -.-)

Ranne~ 

Komentar