Diary GP; Talang [1]
Januari 2019: awal mula perjalanan...
Kali pertama saya ke desa penempatan sebenarnya ketika masa pelatihan awal Desember 2018. Namun, ketika itu saya hanya sempat ke sekolah induk di desa saja, sedangkan seharusnya saya mengajar nanti adalah di kelas jauh yang terletak di Talang Tomi. Talang sendiri adalah istilah untuk pemukiman warga yang tinggal di dekat hutan, bisa berupa dusun kecil juga. Barulah setelah saya dan teman-teman dilepas secara resmi di kabupaten, kami berangkat menuju penempatan masing-masing.
Desa penugasan saya terletak di Kecamatan Lubai Ulu, bersama dua orang kawan, Sulis dan Heri, yang bertugas di Kecamatan Lubai, kami menuju ke desa dengan lumayan banyak barang-barang. Masing-masing membawa satu carrier sedang dan satu ransel berisi pakaian dan perlengkapan lain. Ditambah juga beberapa tas jinjing yang berisi keperluan sekolah dan juga buah tangan untuk nanti keluarga angkat di desa. Desa saya adalah yang paling jauh. Dari angkutan (orang-orang di sana menyebutnya taksi) yang membawa kami, Heri turun duluan, dilanjutkan dengan Sulis setelah melewati dua desa lagi. Terakhir adalah saya, setelah satu jam kurang lebih masih di atas taksi dari terakhir berpisah dengan Sulis.
Seketika turun, saya menyamankan diri dan bawaan saya di sebuah bale-bale di pinggir jalan. Ya, tumpangan saya berakhir di persimpangan jalan masuk ke desa, Simpang Barito, kurang lebih belasan kilo lagi ke dalam.
Tak ada tumpangan. Pendahulu saya sudah memberi tahu tentang angkutan buat masuk ke dalam satu-satunya ojek yang tinggal di dekat situ. Namun, Bapak-bapak ojek tersebut sedang tidak ada. Saya memutuskan untuk menunggu saja.
Semenjak di jalan tadi, Bapak Sidik (guru sekaligus menjadi orang tua angkat di Talang juga) sudah beberapa kali menghubungi, dan beliau juga yang akan menjemput saya di desa untuk masuk ke Talang nanti. Saya sudah mengabari juga guru di desa untuk mampir sebentar saja lantaran saya akan langsung ke Talang. Dalam rencana, hari esok sudah bisa masuk sekolah.
Namun, semakin sore, saya masih saja terdampar dalam ketidakpastian. Jarak dari simpang ke desa sudahlah jauh, lebih jauh lagi jarak dari desa ke Talang. Saya sudah mulai gelisah. Lewat pesan Bapak terakhir kali, beliau memutuskan untuk menjemput saya di simpang saja, kalau-kalau ojeknya belum datang juga.
Bapak akhirnya tiba dengan motor. Dan saya sepakat untuk langsung ke Talang saja tanpa mampir ke desa, sebab sudah terlalu sore. Belum lagi jika nanti turun hujan, tambah repotlah nanti. Di tengah jalan, saya mengabari guru di desa perubahan rencana ini.
Perjalanan mulai memasuki hutan. Jalannya sudah tidak beton, apalagi aspal. Jalanan tanah merah dan becek berlumpur. Iya, pada Januari hujan masih gemar-gemarnya berkunjung. Saya menjadi cemas. Ditambah tas berat di pundak dan barang tentengan, membuat saya kewalahan di atas motor dengan medan seperti itu lantaran belum terbiasa.
Dan, motor tiba-tiba saja rusak. Padahal kami belum ada separuh jalan pun. Untung saja ada pondok dan beberapa orang di sana, sehingga kami bisa menumpang. Bapak kemudian menelpon seseorang untuk minta jemput, kemudian beliau mencoba memperbaiki motor.
Saya benar-benar kehabisan ide. Tak tahu ingin berbuat apa. Sebentar lagi senja tiba, sedang saja masih belum sampai juga. Saya sepenuhnya percaya saja pada Bapak, karena beliau sudah jauh-jauh dan pastilah sangat kerepotan untuk menjemput saja.
tbc.
.
.
Sijunjung, 28 Maret 2020
Ranne~
![]() |
| Pict: halaman rumah siswa di Talang |
Kali pertama saya ke desa penempatan sebenarnya ketika masa pelatihan awal Desember 2018. Namun, ketika itu saya hanya sempat ke sekolah induk di desa saja, sedangkan seharusnya saya mengajar nanti adalah di kelas jauh yang terletak di Talang Tomi. Talang sendiri adalah istilah untuk pemukiman warga yang tinggal di dekat hutan, bisa berupa dusun kecil juga. Barulah setelah saya dan teman-teman dilepas secara resmi di kabupaten, kami berangkat menuju penempatan masing-masing.
Desa penugasan saya terletak di Kecamatan Lubai Ulu, bersama dua orang kawan, Sulis dan Heri, yang bertugas di Kecamatan Lubai, kami menuju ke desa dengan lumayan banyak barang-barang. Masing-masing membawa satu carrier sedang dan satu ransel berisi pakaian dan perlengkapan lain. Ditambah juga beberapa tas jinjing yang berisi keperluan sekolah dan juga buah tangan untuk nanti keluarga angkat di desa. Desa saya adalah yang paling jauh. Dari angkutan (orang-orang di sana menyebutnya taksi) yang membawa kami, Heri turun duluan, dilanjutkan dengan Sulis setelah melewati dua desa lagi. Terakhir adalah saya, setelah satu jam kurang lebih masih di atas taksi dari terakhir berpisah dengan Sulis.
Seketika turun, saya menyamankan diri dan bawaan saya di sebuah bale-bale di pinggir jalan. Ya, tumpangan saya berakhir di persimpangan jalan masuk ke desa, Simpang Barito, kurang lebih belasan kilo lagi ke dalam.
Tak ada tumpangan. Pendahulu saya sudah memberi tahu tentang angkutan buat masuk ke dalam satu-satunya ojek yang tinggal di dekat situ. Namun, Bapak-bapak ojek tersebut sedang tidak ada. Saya memutuskan untuk menunggu saja.
Semenjak di jalan tadi, Bapak Sidik (guru sekaligus menjadi orang tua angkat di Talang juga) sudah beberapa kali menghubungi, dan beliau juga yang akan menjemput saya di desa untuk masuk ke Talang nanti. Saya sudah mengabari juga guru di desa untuk mampir sebentar saja lantaran saya akan langsung ke Talang. Dalam rencana, hari esok sudah bisa masuk sekolah.
Namun, semakin sore, saya masih saja terdampar dalam ketidakpastian. Jarak dari simpang ke desa sudahlah jauh, lebih jauh lagi jarak dari desa ke Talang. Saya sudah mulai gelisah. Lewat pesan Bapak terakhir kali, beliau memutuskan untuk menjemput saya di simpang saja, kalau-kalau ojeknya belum datang juga.
Bapak akhirnya tiba dengan motor. Dan saya sepakat untuk langsung ke Talang saja tanpa mampir ke desa, sebab sudah terlalu sore. Belum lagi jika nanti turun hujan, tambah repotlah nanti. Di tengah jalan, saya mengabari guru di desa perubahan rencana ini.
Perjalanan mulai memasuki hutan. Jalannya sudah tidak beton, apalagi aspal. Jalanan tanah merah dan becek berlumpur. Iya, pada Januari hujan masih gemar-gemarnya berkunjung. Saya menjadi cemas. Ditambah tas berat di pundak dan barang tentengan, membuat saya kewalahan di atas motor dengan medan seperti itu lantaran belum terbiasa.
Dan, motor tiba-tiba saja rusak. Padahal kami belum ada separuh jalan pun. Untung saja ada pondok dan beberapa orang di sana, sehingga kami bisa menumpang. Bapak kemudian menelpon seseorang untuk minta jemput, kemudian beliau mencoba memperbaiki motor.
Saya benar-benar kehabisan ide. Tak tahu ingin berbuat apa. Sebentar lagi senja tiba, sedang saja masih belum sampai juga. Saya sepenuhnya percaya saja pada Bapak, karena beliau sudah jauh-jauh dan pastilah sangat kerepotan untuk menjemput saja.
tbc.
.
.
Sijunjung, 28 Maret 2020
Ranne~

Komentar
Posting Komentar