Diary GP; Talang [2]
Januari 2019: awal mula perjalanan (bagian 2)...
Sekitar setengah jam menunggu, seorang laki-laki dengan motornya tiba dan langsung menghampiri Bapak. Ia menyerahkan semacam alat untuk memperbaiki motor. Rupaya, Bapak menelepon seseorang di Talang untuk menjemput kami.
Setelah motor dirasa telah diperbaiki seadanya, kami melanjutkan perjalanan. Saya tidak lagi naik motor Bapak, karena masih belum benar betul, jika banyak beban takutnya kembali rusak lagi. Salah satu ransel saya dititip ke Bapak. Saya membonceng motor satunya, yang kemudian saya ketahui salah seorang Karang Taruna di Talang, dan banyak membantu pendahulu saya sebelumnya juga selama di Talang. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Bandit, saya tidak tahu nama sebenarnya.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali saya harus turun karena jalannya berlumpur parah. Haruslah hati-hati melewatinya jika tidak ingin motor terpeleset. Saya pun juga takut dengan jalanan becek seperti itu, sebab pengalaman bermotor saya selalu jatuh jika jalanannya becek, walaupun cuma sedikit saya. Yah, separah itu saya.
Senja tiba, dan motor kami melewati dereta hutan eukaliptus yang sungguh cantik sekali pohon-pohonnya berderet rapi sejauh mata memandang. Itu kali pertama juga saya melihat pohon eukaliptus. Sebelumnya, saya mendapat kabar bahwa desa (talang) penempatan saya nanti dikelilingi hutan eukaliptus. Hutan eukaliptus itu adalah milik PT Musi Hutan Persada (MHP) perusahaan kayu kertas terbesar, katanya se Asia Tenggara kalau saya tidak salah.
Sampai pada akhirnya kami berbelok ke sebuah persimpangan. Tempat di mana sudah mulai tampak pemukiman warga walaupun tak seberapa. Masih dikelilingi hutan eukaliptus, dan ada juga deretan pohon karet, kebun milil warga. Tak lama, kami sampai di rumah Bapak Sidik, dan hari gelap sudah.
Ibunya Bapak sudah menunggu, dan langsung menyuruh saya naik ke atas rumah. Beliau menambah satu lagi penerangan dari kaleng susu yang sudah diberi bensin. Saya pun tak kaget lagi, sudah dikasih tahu sebelumnya juga bahwa di Talang belum masuk listrik. Begitupun dengan sinyal telepon sama sekali tak ada. Namun ada juga di beberapa spot bisa menemukan sinyal, seperti di sekitar rumah si Bandit, makanya Bapak bisa meneleponnya tadi.
Kami langsung disuguhi teh hangat, sebab di luar sudah turun hujan. Sebetulnya saya tidak minum teh atau minuman manis lainnya, tapi saya tidak enak menolak. Ah iya, saya disuruh memanggil Ibunya Bapak dengan Mbah saja, sebab anak-anak di sana pada umumnya memanggil beliau dengan Mbah saja. Tak lama, kami disuruh langsung makan malam saja oleh Mbah. Saya menurut saja, memang sudah lapar juga dari tadi. Setelah makan, saya pamit untuk bersih-bersih, dan diantar Mbah ke sumur di belakang rumah. Dan setelah selesai, saya diantar ke kamar kecil bekas kamar Kak Puji, Guru Pengabdi (GP) angkatan sebelumnya dan rumah ini adalah tempat tinggalnya dulu.
Bapak tinggal hanya bertiga saja dengan Mbah dan anaknya, Ica yang baru kelas satu. Istrinya dan anak bungsunya kebetulan sedang berada di kota sebelah. Mbah sangat ramah dan baik sekali. Beliau dan Bapak banyak bercerita tentang Talang, sekolah, dan juga tentang Kak Puji. Bandit sudah pulang. Kemudian Bapak membicarakan perihal tempat tinggal saya setahun ke depan. Tadinya saya akan tinggal di rumah Ibu Guru yang mengajar di Talang juga selain Bapak, namun ternyata, katanya kemarin ada sedikit masalah. Saya tidak paham persisnya seperti apa. Bapak dan Mbah memyarankan saya untuk sementara di sini saja dulu. Lagi-lagi saya menurut saja.
Setelah lama mengobrol, Mbah menyarankan supaya saya istirahat saja. Selama di jalan tadi pasti capek, ujar beliau. Saya pun pamit ke dalam kamar.
Mbah membantu saya memasang kasur dan kelambu dengan benar. Ah, saya ingat cerita Kak Puji dulu, keluarga Mbah sangat baik sekali walau keadaannya sederhana. Rumah Mbah adalah rumah panggung, di kiri kanan dan juga belakangan adalah kebun karet milik Mbah. Memang sampai sekarang Mbah masih menyadap karet, istilah di sana adalah nakok. Tapi Mbah memang terkenal baik, beliau membelikan kelambu khusus buat Kak Puji, sebab kalau malam banyak nyamuk. Dan sekarang saya lah yang memakainya.
Hujan di luar bertambah deras. Saya merasakan ketakutan-ketakutan sudah mulai muncul dalam diri saya, entah bagaimana. Mendadak saya tak siap untuk segalanya yang akan dilakukan. Belum lagi teringat cerita Bapak dan Mbah perihal masalah tempat tinggal tadi, seperti ada informasi yang sebaiknya tak saya dengar. Saya menjadi semakin takut. Apakah saya bisa bertahan di sini?
tbc.
.
.
Sijunjung, 29 Maret 2020
Ranne~
![]() |
| pict: jalan menuju Talang hari pertama masuk |
Sekitar setengah jam menunggu, seorang laki-laki dengan motornya tiba dan langsung menghampiri Bapak. Ia menyerahkan semacam alat untuk memperbaiki motor. Rupaya, Bapak menelepon seseorang di Talang untuk menjemput kami.
Setelah motor dirasa telah diperbaiki seadanya, kami melanjutkan perjalanan. Saya tidak lagi naik motor Bapak, karena masih belum benar betul, jika banyak beban takutnya kembali rusak lagi. Salah satu ransel saya dititip ke Bapak. Saya membonceng motor satunya, yang kemudian saya ketahui salah seorang Karang Taruna di Talang, dan banyak membantu pendahulu saya sebelumnya juga selama di Talang. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Bandit, saya tidak tahu nama sebenarnya.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali saya harus turun karena jalannya berlumpur parah. Haruslah hati-hati melewatinya jika tidak ingin motor terpeleset. Saya pun juga takut dengan jalanan becek seperti itu, sebab pengalaman bermotor saya selalu jatuh jika jalanannya becek, walaupun cuma sedikit saya. Yah, separah itu saya.
Senja tiba, dan motor kami melewati dereta hutan eukaliptus yang sungguh cantik sekali pohon-pohonnya berderet rapi sejauh mata memandang. Itu kali pertama juga saya melihat pohon eukaliptus. Sebelumnya, saya mendapat kabar bahwa desa (talang) penempatan saya nanti dikelilingi hutan eukaliptus. Hutan eukaliptus itu adalah milik PT Musi Hutan Persada (MHP) perusahaan kayu kertas terbesar, katanya se Asia Tenggara kalau saya tidak salah.
Sampai pada akhirnya kami berbelok ke sebuah persimpangan. Tempat di mana sudah mulai tampak pemukiman warga walaupun tak seberapa. Masih dikelilingi hutan eukaliptus, dan ada juga deretan pohon karet, kebun milil warga. Tak lama, kami sampai di rumah Bapak Sidik, dan hari gelap sudah.
Ibunya Bapak sudah menunggu, dan langsung menyuruh saya naik ke atas rumah. Beliau menambah satu lagi penerangan dari kaleng susu yang sudah diberi bensin. Saya pun tak kaget lagi, sudah dikasih tahu sebelumnya juga bahwa di Talang belum masuk listrik. Begitupun dengan sinyal telepon sama sekali tak ada. Namun ada juga di beberapa spot bisa menemukan sinyal, seperti di sekitar rumah si Bandit, makanya Bapak bisa meneleponnya tadi.
Kami langsung disuguhi teh hangat, sebab di luar sudah turun hujan. Sebetulnya saya tidak minum teh atau minuman manis lainnya, tapi saya tidak enak menolak. Ah iya, saya disuruh memanggil Ibunya Bapak dengan Mbah saja, sebab anak-anak di sana pada umumnya memanggil beliau dengan Mbah saja. Tak lama, kami disuruh langsung makan malam saja oleh Mbah. Saya menurut saja, memang sudah lapar juga dari tadi. Setelah makan, saya pamit untuk bersih-bersih, dan diantar Mbah ke sumur di belakang rumah. Dan setelah selesai, saya diantar ke kamar kecil bekas kamar Kak Puji, Guru Pengabdi (GP) angkatan sebelumnya dan rumah ini adalah tempat tinggalnya dulu.
Bapak tinggal hanya bertiga saja dengan Mbah dan anaknya, Ica yang baru kelas satu. Istrinya dan anak bungsunya kebetulan sedang berada di kota sebelah. Mbah sangat ramah dan baik sekali. Beliau dan Bapak banyak bercerita tentang Talang, sekolah, dan juga tentang Kak Puji. Bandit sudah pulang. Kemudian Bapak membicarakan perihal tempat tinggal saya setahun ke depan. Tadinya saya akan tinggal di rumah Ibu Guru yang mengajar di Talang juga selain Bapak, namun ternyata, katanya kemarin ada sedikit masalah. Saya tidak paham persisnya seperti apa. Bapak dan Mbah memyarankan saya untuk sementara di sini saja dulu. Lagi-lagi saya menurut saja.
Setelah lama mengobrol, Mbah menyarankan supaya saya istirahat saja. Selama di jalan tadi pasti capek, ujar beliau. Saya pun pamit ke dalam kamar.
Mbah membantu saya memasang kasur dan kelambu dengan benar. Ah, saya ingat cerita Kak Puji dulu, keluarga Mbah sangat baik sekali walau keadaannya sederhana. Rumah Mbah adalah rumah panggung, di kiri kanan dan juga belakangan adalah kebun karet milik Mbah. Memang sampai sekarang Mbah masih menyadap karet, istilah di sana adalah nakok. Tapi Mbah memang terkenal baik, beliau membelikan kelambu khusus buat Kak Puji, sebab kalau malam banyak nyamuk. Dan sekarang saya lah yang memakainya.
Hujan di luar bertambah deras. Saya merasakan ketakutan-ketakutan sudah mulai muncul dalam diri saya, entah bagaimana. Mendadak saya tak siap untuk segalanya yang akan dilakukan. Belum lagi teringat cerita Bapak dan Mbah perihal masalah tempat tinggal tadi, seperti ada informasi yang sebaiknya tak saya dengar. Saya menjadi semakin takut. Apakah saya bisa bertahan di sini?
tbc.
.
.
Sijunjung, 29 Maret 2020
Ranne~

Komentar
Posting Komentar