Diary GP; Talang [3]

Januari 2019: awal mula perjalanan (bagian 3)...

pict: kegiatan senam bersama

Pagi-pagi sekali saya terbangun. Rupanya masih gelap, dan terdengar suara orang sedang berkegiatan di dapur. Rupanya Mbah sudah memasak. Karena sedang berhalangan solat, saya langsung ke dapur membantu Mbah.

Sebenarnya saya masih sangat canggung sejak tiba kemarin. Belum terbiasa memang. Dan juga entah kenapa saya merasakan ketakutan tak berdasar tentang beberapa hal. Ditambah lagi saya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, bahkan untuk memulai obrolan biasa saja misalnya, saya selalu canggung. Makanya saya kebanyakan diam saja.

Setelah semuanya beres (saya benar-benar tidak membantu banyak karena dilarang Mbah), Mbah langsung menghidangkan nasi dan lauk, lalu disuruh sarapan. Saya agak kaget karena terlalu pagi untuk makan berat, saya tidak terbiasa. Tapi ya akhirnya makan juga. Bapak dan Ica juga bergabung.

Setelahnya saya mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Saya berangkat bersama Ica. Jarak dari rumah Mbah dan sekolah tidaklah jauh. Kurang dari lima menit jika berjalan kaki. Namun karena semalam hujan, jalanan menuju sekolah menjadi licin dan berlumpur. Sampai di sekolah sepatu saya menjadi tebal beberapa centi karena tanah haha.

Seperti informasi yang lain, tentang sekolah pun saya sudah mengetahui keadaanya, bahkan sudah melihat fotonya pula. Sekolah kami hanya terdiri dari bangunan kayu dan lantainya dibiarkan tanah, dengan tiga ruangan yang disekat. Tidak ada kantor atau ruangan untuk guru, perpustakaan, maupun toilet. Masing-masing ruangan dipakai bersama dua rombongan belajar (rombel), dan guru yang otomatis mengajar kelas rangkap. Ya, kelas 1 dan 2 dalam satu ruangan, 3 dan 4 satu ruangan, begitupun 5 dan 6. Ah iya, ruangan milik kelas 1 dan 2 disekat lagi dengan dinding kayu. Kata Guru di sana, mereka agak sulit jika digabung satu ruangan hehe.

Kondisi ini bisa dikatakan memang harus seperti itu. Sebab sekolah di Talang ini adalah kelas jauh, pecahan dari sekolah induk di desa. Guru yang mengajar hanyalah dua, Bapak Sidik dan Ibu Erda, menjadi tiga jika ditambah dengan GP. Kelas yang harus digabung-gabung juga tidak masalah, lantaran muridnya hanya 36 orang sewaktu saya pertama tiba. Setidaknya mereka cukup ditempatkan di dalam ruangan kelas seadanya tersebut.

Sebenarnya sudah ada bangunan baru di sebelah timur ruangan sekolah. Dua buah kelas permanen yang dibangun tahun lalu ketika Kak Puji masih bertugas di sana. Namun, karena belum diresmikan entah belum diserahterimakan, kelas tersebut belum bisa dipakai. Hanya untuk kegiatan tertentu saja kelasnya dibuka.

Halaman sekolah cukup luas. Sebuah tiang bendera terpasang di depan tengah halaman, agak dekat ke depan kelas sebetulnya. Tonggak itu adalah pemberian dari komunitas Satu Orang Satu Buku (SOSB) kota Baturaja yang tahun kemarin berkunjung. Di halaman itu pula segala kegiatan sekolah seperti upacara dan apel pagi berlangsung. Di sana juga anak-anak melakukan aneka permainan olahraga semisal kasti, atau bermain tradisional lainnya.

pict: suasana kelas 3 dan 4

Persisnya saya akan menggantikan Kak Puji mengajar kelas 3 dan 4. Setelah apel pagi (karena hari itu adalah selasa), saya berkenalan seadanya dengan anak-anak, lalu kami masuk kelas. Saya tiba-tiba menjadi bingung tidak tahu mau melakukan apa. Sepertinya ketakutan saya kembali mendera. Ditambah dengan saya rasanya belum beradaptasi dengan sekolah. Sepertinya saya benar-benar panik dalam situasi tersebut.

Entah, banyak yang bilang sebuah kewajaran karena itu hari pertama saya. Tapi kebingungan saya melahirkan kecemasan berlebihan dan pikiran-pikiran buruk mudah sekali datang. Rasanya, sebulan penuh bekal selama pelatihan tiba-tiba menguap dan hilang. Ah, sudahlah, saya memang selalu seperti itu.

Hari pertama pertemuan itu saya manfaatkan dengan berkenalan lebih lanjut dengan anak-anak di kelas saya. Kelas 3 terdiri dari enam siswa, dan kelas 4 hanya ada tiga siswa. Ternyata, anak-anak ini cukup hiperaktif, terlebih kelas 3 yang didominasi laki-laki. Selama pelajaran, di awal saja mereka tenang, mungkin karena guru mereka baru. Namun tak lama sudah ribut lagi sampai-sampai kelas sebelah (5 dan 6) menjadi terganggu. Saya sangat bersyukur karena suasananya cair, sehingga dapat menutupi kecanggungan saya.

tbc.

.
.

Sijunjung, 31 Maret 2020
Ranne~

Komentar