Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan (another ver-)
![]() |
| source: pinterest |
Hujan lagi.
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah hampir menunjukkan pukul lima sore. Padahal tadi sepertinya sudah akan reda dan hanya menyisakan gerimis tipis. Entah mengapa hujannya tiba-tiba kembali deras.
Aku menguap. Suasana begini memang waktu terbaik untuk merebahkan diri di atas kasur. Namun sialnya aku masih terjebak di salah satu bangku taman di depan perpustakaan fakultas. Untung saja bangku-bangku ini dipayungi kanopi transparan. Jika tidak, aku mungkin akan terkurung di dalam gedung perpustakaan sejak dua jam lalu.
Aku sudah tidak berminat lagi membaca buku. Melanjutkan tugas yang tadi aku kerjakan di perpustakaan juga tidak tertarik. Alhasil, aku hanya memandangi tetesan hujan yang kian lama bertambah deras dengan menopang dagu di atas meja taman. Lama-lama aku ingin merebahkan kepala saja. Melihat air hujan jatuh dengan posisi kepala miring begini sepertinya membuat kelihatan lebih menarik. Apalagi suara tetesan di atas atap kanopi ini terdengar merdu. Berbunyi teratur dan sangat nyaman di kuping. Ah, sedikit lagi sepertinya aku bisa-bisa tidur di sini.
Satu notifikasi di ponsel membuat kantukku buyar. Aku cepat-cepat memeriksa pesan yang masuk. Rupanya pemberitahuan di grup pada aplikasi chatting tentang pembatalan rapat bagi yang mengikuti kelas fotografi di komunitas menulis yang aku ikuti.
“Mengganggu saja,” gerutuku. Ya, aku tidak bergabung dalam kelas tersebut omong-omong. Aku cepat-cepat mematikan notifikasi sebelum pesan-pesan lainnya mengganggu lagi.
Entah kenapa aku teringat pada pemuda itu. Seingatku dia bergabung di kelas fotografi tadi. Apa dia sudah datang ke ruang pertemuan? Berani taruhan, dia pasti sedang super kesal karena kelasnya dibatalkan. Seorang pembenci hujan sepertinya, terpaksa harus keluar saat hujan begini saja dia akan bertingkah menjadi sangat menyebalkan. Apalagi jika kelasnya batal, sama saja baginya dengan menuduhnya melakukan dosa yang tak diperbuatnya.
Tiba-tiba saja aku ingin tertawa akan gagasan tersebut. Taruhan lagi, wajahnya saat ini pastilah menyebalkan seratus kali lipat hahaha oke, aku berlebihan. Tapi kalau dia sih wajar saja, memgingat hujannya masih saja awet. Dia tak punya pilihan selain menunggu entah di suatu tempat di kampus ini, sampai hujannya benar-benar berhenti, dan akan terus-terusan berwajah masam memelototi hujan. Aku benar-benar tertawa kecil sekarang. Sungguh suatu penghiburan yang baik.
Aku menguap lagi. Kupikir kantukku sudah hilang, tapi yang terjadi malah mataku ingin terpejam. Hujannya tidak sederas tadi, dan sekarang tiupan angin sepoi-sepoi terasa meninabobokan. Huaah, apa aku tidur sebentar di sini saja?
“Ketemu.”
Suara seorang laki-laki. Cenderung datar, namun entah kenapa terdengar menuntut kepalaku untuk tegak melihat sosoknya.
Ternyata dia, berdiri tepat di depan meja tempat kepalaku rebah barusan. Jaket yang dikenakannya sedikit lembab, dan dari rambutnya tetesan air luruh merembes ke kaosnya.
Dia yang beberapa menit yang lalu aku tertawakan ternyata muncul begitu saja. Tidak mungkin kan dia menyerah pada hujan hanya demi mencariku, kemudian seperti yang sudah-sudah, dia menampilkan wajah menyebalkannya seolah aku mengejeknya pada saat hujan tiba.
Kali ini kantukku benar-benar lenyap sudah.
.
.
Ranne~
Sijunjung, 26 Maret 2020

Komentar
Posting Komentar