Gadis Angin dan Lelaki Perutuk Hujan; Langit

source: pinterest

Aku bertemu dengannya pertama kali ketika talkshow kepenulisan yang diselenggarakan oleh pengurus BEM Fakultas-ku pada semester pertama sebagai mahasiswa. Entah karena apa, aku menjadi yang paling pagi datang, bahkan panitia acaranya belum tampak satupun! Oke, aku hanya satu jam lebih awal, beberapa petugas kebersihan pun masih tampak menyapu dedaunan gugur di sudut selatan gedung perkuliahan.

Samar-samar aku mendengar suara samar petikan gitar. Walaupun hanya melodi-melodi asal, suara itu seolah menuntut telinga untuk terus mendengarkan. Terlebih belum ada suara apa-apa selain gesekan sapu lidi dan lantai di ujung sana.

Barulah kemudian aku menyadari seseorang memainkan gitar di tengah pendopo persis di depanku. Aku memang duduk di bangku-bangku besi yang tersebar di sekeliling pendopo ini, seingatku pendopo itu tadi kosong, kapan orang itu muncul? Lagipula dia tampak seperti bangun tidur, apakah dia tidur di bilik yang disediakan untuk menyimpan perlengkapan pementasan dan juga ruang ganti pendopo. Cukup masuk akal juga, kemungkinan aku tidak menyadari kehadirannya karena akses pandangku ke pendopo sedikit terhalang oleh tetumbuhan di pot tinggi besar di samping bangku kosong di depanku.

Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku gelagapan, tertangkap basah dari tadi memerhatikannya. Cepat-cepat kualihkan pandangan ke arah petugas kebersihan yang sedang memindahkan guguran daun hasil sapuannya ke gerobak. Sial! Dia pastilah mengira aku orang aneh.

*

Pada sesi hiburan acara talkshow, aku kembali melihatnya. Kali ini bukan dalam penampilan bangun tidur yang kusaksikan tadi. Bersama gitarnya, ia tampak paling bersinar di antara personil lainnya di atas panggung. Dari teriakan-teriakan yang didominasi oleh perempuan para peserta talkshow, aku baru tahu namanya Langit, pemain gitar untuk band besutan mahasiswa Fakultas Seni.

Aku terlalu larut dalam permainan mereka (atau permainan gitarnya?) hingga tak sadar bahwa pertunjukan mereka sudah usai. Tiba-tiba ia melihat ke arahku, dan sekali lagi melempar senyum seperti tadi pagi. Ah, barangkali ini benar-benar halusinasiku saja. Aku melihat kiri-kanan barangkali ia tersenyum kepada kenalannya, yang ada hanya cewek-cewek histeris karena penampilan mereka. Aku kembali meliriknya di atas panggung, ternyata ia masih melihat ke arahku--bahkan ia tampak tertawa geli, sembari berjalan undur diri bersama yang lain.

Apa yang barusan itu? Kemudian aku merasakan pipiku memanas.

*

Sore ini aku kembali melihatnya. Bersama teman-teman anggota band-nya, ia berjalan menuju pendopo untuk melakukan pertunjukan kecil-kecilan. Yah, anak-anak kuliah musik atau tari memang sering unjuk kebolehan di sana sehabis kuliah usai. Kali ini giliran dia bersama band-nya. Pendopo sudah pasti ramai jika mereka yang tampil. Tak peduli jika langit mendung siap menumpahkan hujan.

Sudah dua tahun semenjak pertemuan pertama itu. Tak diragukan lagi, dia semakin bersinar dari hari itu. Kadang aku berpikir sosoknya terlalu menyilaukan.

"Sudah hampir hujan, ayo segera berkemas."

Suara datar namun terkesan menuntut itu tiba-tiba saja mengganggu lamunanku. Aku melemparkan pandangan masam kepada pemuda di sebelahku.

"Apa? Kau mau kita kehujanan?" tukasnya ketus dan berwajah menjadi menyebalkan.

Aku membereskan buku-bukuku yang berserakan di atas meja. Aku memang melewatkan istirahat sehabis kuliah terakhir di bangku taman sekitar pendopo ini sambil menunggu jadwal rapat mingguan di komunitas. Dan pemuda perutuk hujan ini malah menemukanku dan memaksa cepat-cepat berangkat, padahal aku ingin melihat konser mini sore ini dulu. Toh rapatnya juga masih setengah jam lagi, dan perjalanan ke ruang rapat hanya memakan waktu paling lama lima menit.

"Aku akan sangat senang jika sekali saja kau tidak berwajah menyebalkan!"

"Bukannya kau selalu sangat bersenang-senang dengan tertawa mengejekku, eh?" tukasnya tak sabar.

Aku mengabaikannya selagi menutup risleting tas ranselku dan menyampirkannya ke pundak kanan.

"Ayo, kau tak ingin bertemu hujan di jalan, kan?" aku mencemoohnya lantaran masih sebal.

Giliran dia yang mengabaikanku dan berjalan duluan padahal aku baru saja berdiri. Dasar!

Entah kenapa aku justru tertawa geli membayangkan wajahnya akan menjadi masam bahkan mungkin selama rapat nanti. Yah, sepertinya hujannya akan lama. Haha rasakan dia.

"Hei, kau meninggalkanku!" aku menyusulnya setengah berteriak.

Aku sangat yakin dia mendengar, tapi tetap mengabaikanku. Aku tertawa lagi.

.
.

Sijunjung, 27 Maret 2019
Ranne~

Komentar

Posting Komentar